Masteng

Masteng
20. Perpisahan


__ADS_3

"Ayo kita keluar," Bujuk Pongki kepada Berta.


"Aku tidak mau." Tegas Berta.


"Ayo lah, biar aku ceraikan dia sekarang juga."


"Kamu juga ikut ya Ugi," Ucap Pongki kepada Ugi sang bodyguard.


"Baik pak," Sahut Ugi.


"Ayolah Berta." Dengan wajah memohon, Pongki mencoba meraih tangan Berta.


"Ngapain kamu menceraikan dia? Bukan nya aku yang meminta cerai?"


"Aku tidak mau menceraikan kamu Berta, aku sangat mencintai kamu. Aku akan menceraikan dia, demi kamu."


"Hahahaahhaha...! Sudah gila kamu rupanya ya Pongki. Aku tidak mau!" Berta terus menolak.


"Ugi, tolong bawa nyonya kedalam," Ucap Pongki.


Bodyguard tersebut mengangguk paham dan turun dari mobil tersebut. Lalu, menggendong Berta yang meronta karena tidak mau di bawa masuk untuk bertemu dengan Anna. Tetapi, bodyguard tersebut tidak mau melepaskan dirinya. Berta hanya bisa pasrah dirinya di gendong masuk dan di bawa ke apartemen Anna, wanita yang telah merebut suaminya.


.


Ting! Tong!


Anna yang sedang duduk bersantai di atas sofa, mendengar bell apartemen nya berbunyi. Bibir nya langsung tersenyum, matanya penuh dengan kerinduan. Ia tahu betul, itu adalah suaminya, Pongki.


Selama ini, tidak ada yang berkunjung ke apartemen nya selain Pongki seorang. Karena Anna adalah wanita baik-baik dan tidak memiliki teman seorang pun di Ibukota.


Anna beranjak dari duduknya dan bergegas membuka pintu apartemen nya. Senyum nya langsung semringah setelah melihat Pongki yang berdiri di depan nya.


"Bapak!" Serunya bahagia. Saat itu juga ia beranjak akan memeluk Pongki. Namun, langkahnya tertahan saat melihat Pongki datang bersama Berta dan seorang bodyguard yang berdiri di samping Berta.


"Ibu," Ucap nya seraya tertunduk penuh dengan rasa bersalah.


"Bawa nyonya masuk," Perintah Pongki.

__ADS_1


Ugi mengangguk dan menuntun Berta yang terlihat pasrah, masuk kedalam apartemen tersebut.


Setelah semuanya masuk kedalam apartemen nya, Anna menutup rapat pintu apartemen tersebut dan menyusul Pongki, Berta dan Ugi yang sudah berdiri di ruang tamu itu.


Suasana canggung pun mulai terasa.


"Silahkan duduk, saya akan.....,"


"Anna, aku hanya sebentar saja," Potong Pongki.


Anna menatap Pongki dengan mata yang teduh. Lalu, ia berusaha tersenyum kepada Pongki.


"Kalau begitu, silahkan duduk dulu.." Pinta Anna.


Berta dan Ugi yang baru tahu drama rumah tangga majikan nya hanya diam membisu.


"Anna," Pongki melangkah menghampiri Anna dan memegang kedua pundak Anna.


"Ya pak," Sahut Anna.


Berta membuang pandangannya ke luar jendela yang terletak di tengah dinding ruangan tamu tersebut.


"Maksudnya pak?" Tanya Anna, tak mengerti.


"Anna, mulai hari ini, kamu saya ceraikan."


Duarrrrrrrrr...!


Seperti bom waktu yang meledak di dasar hati Anna. Ia tidak menyangka bila hari yang pernah ia bayangkan, secepat ini akan terjadi. Mata wanita muda itu memerah dan terus menatap wajah Pongki dengan bibir yang gemetar.


"Anna, maafkan saya. Saya tidak bermaksud mempermainkan kamu. Saya sangat mencintai istri saya, Berta. Saya sangat mencintai anak saya Bella. Daya tidak ingin kehilangan mereka berdua."


"Anna, hiduplah dengan lebih baik. Maafkan saya yang tidak pernah berniat untuk selamanya dengan mu. Saya mohon, lupakan lah saya. Tetapi, kamu jangan khawatir. Saya akan memberikan hak kamu sebagai mantan istri saya." Sambung Pongki.


Air mata Anna terjun bebas dari sudut matanya. Tubuhnya terasa lemas dan ia memegangi dadanya yang sesak.


Berta menatap Anna yang terlihat sangat terpukul. Disitu Berta tahu, bila Anna benar-benar mencintai Pongki. Bukan karena harta dan tahta. Berta juga melihat, Anna begitu polos dan sederhana. Membuat dirinya sedikit merasa iba.

__ADS_1


"Aku saja yang kau ceraikan Pongki," Pinta Berta.


"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Aku cinta mati dengan mu Berta. Aku salah, aku mengakuinya. Apa pun itu aku salah. Aku mohon maaf mu Berta." Tanpa ada rasa malu, Pongki bersimpuh di kaki Berta dan mencium kaki istri yang sudah mendampingi dirinya di masa sulit dan senang, selama ini.


Anna pun bersimpuh di kaki Berta, ia menyentuh kaki wanita yang telah ia rebut kebahagiaan itu.


"Bu, Anna minta maaf. Anna mencintai bapak. Anna minta maaf, karena telah menyakiti hati bu Berta. Anna terima, segala konsekwensinya. Anna akan pergi jauh dari kehidupan ibu dan bapak. Asalkan ibu memberikan maaf untuk Anna."


Berta terpaku, ia melihat dua orang yang sangat ia benci bersimpuh di kakinya. Air mata tidak mampu ia bendung lagi. Berta menangis hingga bahunya terguncang. Lalu, ia duduk di atas sofa dan terus menangisi keadaan ini.


"Pak, bila memang itu keputusan bapak. Anna ikhlas. Terima kasih tiga tahun kebersamaan kita ya pak," Ucap Anna dengan suara yang bergetar.


Pongki menatap Anna dan memeluk wanita yang begitu tulus mencintai dirinya itu.


"Maafkan saya, maafkan lah saya Anna," Ucap Pongki.


Suasana di apartemen itu begitu memilukan. Antara 3 hati yang menghadapi dilema yang luar biasa. Diantara 2 hati yang merasa tersakiti, hanya gara-gara keputusan yang bodoh dari Pongki.


"Bapak jaga kesehatan ya pak, jangan lupa makan," Ucap Anna di sela tangisan nya.


Pongki mengangguk pelan dan melepaskan pelukan nya dari tubuh wanita yang kini bukan lagi bagian dari hidupnya itu.


"Tetapi, izinkan saya untuk tinggal dua hari saja disini ya pak. Sebelum saya mengemasi barang-barang saya dan mencari tiket untuk kembali ke Desa." Ucap Anna.


Pongki dengan air mata di pipinya mengangguk dengan perlahan.


"Terima kasih pak," Ucap Anna dan ia pun beranjak dari hadapan Pongki.


"Bu, terima kasih," Ucap Anna kepada Berta. Berta yang duduk di atas sofa, mengangkat wajahnya dan menatap Anna dengan seksama. Setelah itu, ia kembali menundukkan wajahnya.


"Aku akan pulang, setelah ini. Kita tidak bisa bertemu lagi. Urusan lain nya, biar di wakilkan Ugi saja dan pengacara saya, namanya bapak Agus. Mungkin mereka akan datang besok, untuk menyerahkan tiket dan segala yang kamu butuhkan." Jelas Pongki.


Anna tersenyum dan mengangguk perlahan.


"Berta, ayo kita pulang," Ucap Pongki seraya mengulurkan tangannya kepada Berta di hadapan Anna dan Ugi.


Berta menatap tangan Pongki, lalu ia menatap wajah Anna yang tampak terluka. Meskipun Anna sudah mengikhlaskan Pongki.

__ADS_1


Berta beranjak dari sofa, tanpa menyambut tangan Pongki. Lalu, ia berjalan menuju pintu keluar apartemen tersebut. Di susul oleh Pongki dan Ugi.


Kini, disana hanya tinggal Anna yang diam terpaku. Hatinya pilu dan lidahnya kelu. Hanya air mata yang terus mengalir di pipinya lah yang mampu mengatakan betapa hatinya merasa sangat terluka. Tetapi, dirinya harus sadar diri dan menerima segala yang terjadi. Ia hanya wanita kedua dalam hidup Pongki. Dia hanya pelarian sementara dan Pongki hanya merasa iba kepada dirinya, dan ia sudah tahu itu semua sebelum Pongki meninggalkan dirinya hari ini.


__ADS_2