Masteng

Masteng
107. Biarlah..


__ADS_3

Bella baru saja memarkirkan mobil di halaman parkir Lapas. Sebuah mobil berwarna silver juga menyusul masuk ke halaman parkir tersebut. Bella dan Berta melepaskan sabuk pengaman nya dan beranjak keluar dari mobil milik Topan tersebut. Saat itu juga, Bella dan Berta melihat seorang wanita cantik dengan gaun berwarna krem, bermotif bunga-bunga yang baru saja keluar dari mobil silver yang terparkir tak jauh dari mereka.


Berta mengerutkan keningnya, ia merasa mengenal wanita itu. Merasa tidak yakin dengan apa yang ia lihat, Berta bergegas menghampiri wanita yang hendak melangkah menuju pintu masuk Lapas.


"Kamu!" Berta memanggil wanita tersebut, yang tampak sedang terburu-buru.


Wanita itu menoleh dan tampak terkejut saat melihat Berta dan Bella.


"I-ibu.." Ucap nya dengan wajah yang canggung.


"Bukan nya kamu..."


"Maafkan saya bu.." Anna meraih tangan Berta dan menundukkan wajahnya.


"Ada apa kamu kesini? Bukan nya kamu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan suami saya?"


Anna menelan salivanya dan memberanikan diri menatap Berta.


"Izinkan saya berbicara dengan ibu sebentar saja." Pinta Anna.


Berta terus menatap Anna dengan tatapan yang masih kurang bersahabat. Lalu, ia menatap Bella dan memberikan kode kepada Bella, agar Bella menjauh untuk sebentar dari dirinya.


"Baiklah, aku akan menunggu di mobil," Ucap Bella, sambil menatap Anna dengan tatapan yang tidak suka. Lalu, ia beranjak meninggalkan dua wanita yang sama-sama mencintai Pongki itu.


"Kita berbincang disana," Ucap Berta, sambil menunjuk ke sebuah bangku yang terdapat di bawah pohon rindang, tepat di depan Lapas tersebut.


Anna mengangguk dan mengikuti langkah kaki Berta yang berjalan menuju ke bangku tersebut. Kini, mereka berdua duduk berdampingan. Dua wanita berbeda generasi, tetapi mencintai lelaki yang sama itu duduk tanpa menatap satu dengan lain nya.


"Mau ngomong apa kamu?" Tanya Berta dengan nada suara yang terdengar sangat dingin.


"Sebelumnya saya sangat berterima kasih pada ibu, yang mau memberikan saya kesempatan.."


"Langsung saja, mau apa kamu kesini?" Tanya Berta.


"Ba-baik bu... Sa-saya hanya merasa terkejut saat mendengar dari berita kalau bapak di tangkap."


"Tahu dari mana kamu, bila Pongki ditahan disini?" Tanya Berta lagi.


"Sa-saya..." Tiba-tiba Anna teringat bila dirinya sudah berjanji kepada pengacara Pongki, bila tidak akan menyeret nama sang pengacara dalam keputusan nya untuk mengunjungi Pongki.


"Saya apa?" Desak Berta.


"Saya lihat di televisi bila bapak di pindahkan ke Lapas ini," Ucap Anna.


"Oh, lalu.."

__ADS_1


"Bu... saya sangat merasa bersalah.."


"Tentu saja.. lalu kamu mau minta maaf lagi? Bukankah kamu sudah melakukan nya?" Potong Berta.


"Ya, mungkin kesalahan saya tidak akan termaafkan..."


"Tentu saja tidak akan pernah. Kamu telah merebut suami saya dan hidup bersama dengan nya dibelakang saya."


"Saya tahu bu, tetapi... bila ibu tahu, setiap hari bapak sangat merindukan ibu dan Bella. Ia terus bercerita betapa ia mencintai Ibu dan Bella."


Berta tertegun, ia menoleh dan menatap Anna dengan seksama.


"Omong kosong apa yang kamu bilang Anna..?"


"Bukan omong kosong bu, itu kenyataannya. Bapak tidak pernah berhenti mencintai ibu. Bahkan, dia tidak menyentuh saya selama hampir setengah tahun, sesudah ia menikahi saya."


Berta terdiam, apa yang dikatakan Pongki tidak ada kebohongan sama sekali. Semua sama dengan apa yang dikatakan Anna kepada dirinya.


"Lalu, mengapa kamu bertahan dengan nya?" Tanya Berta.


Anna terdiam sejenak, lalu ia menghela nafas panjang.


"Seperti yang pernah saya ceritakan kepada ibu, sebelum saya kembali ke Kampung. Kalau saya sangat mencintai bapak."


Berta tertawa sinis dan membuang pandangannya jauh ke arah pagar Lapas tersebut.


"Bu," Anna menahan tangan Berta dan menatap Berta dengan tatapan memohon.


"Saya yatim piatu bu. Saya sangat merindukan sosok ayah. Semua yang saya inginkan ada pada bapak. Tetapi, bapak tetap memilih ibu kan? Bapak sangat mencintai ibu. Hatinya tidak pernah berkhianat kepada ibu. Justru dirinya rela menceraikan saya dan memulangkan saya ke kampung halaman."


Berta tertegun dan kembali duduk disamping Anna.


"Saya tahu, saya lah yang harus pergi dari hidup ibu dan bapak. Saya ikhlas dan tidak berniat sama sekali merebut bapak dari ibu. Semua terjadi begitu saja. Saya minta maaf ya bu. Semua yang bapak impikan bukan tentang saya, melainkan tentang ibu. Semuanya tentang ibu. Mulai dari hidup yang mewah dan indah, impian masa tua bersama. Semua ia ceritakan."


"Saya merasa bahagia saat ibu dapat menerima dan memaafkan bapak kembali. Memang seharusnya seperti itu. Tetapi, kali ini saya mohon sama ibu. Izinkan saya bertemu dengan bapak untuk yang terakhir kalinya," Ucap Anna dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Berta menatap Anna dengan seksama. Lalu, ia menghela nafas panjang. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa kasihan kepada Anna yang begitu tulus mencintai Pongki. Tetapi, rasa sakit hati pada wanita itu membuat dirinya merasa ingin menampar wanita itu dengan sekuat tenaganya.


"Mungkin saya egois, karena sudah melanggar perjanjian yang saya tandatangani sendiri. Tetapi, saya hanya ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya. Saya tahu, bapak di tuntut ancaman hukuman mati kan bu? Setidaknya berilah saya kesempatan bu, untuk melihat bapak. Saya mohon bu..." Anna memegangi tangan Berta dengan tatapan memohon.


"Pergilah,"


Anna menatap Berta dengan wajah yang kecewa.


"Pergilah terlebih dahulu. Setelah itu baru aku," Ucap Berta.

__ADS_1


Seketika, wajah Anna terlihat antusias. Ia tersenyum dan mengecup punggung tangan Berta.


"Terima kasih bu.. Terima kasih..!"


"Aku bukan ibumu, pergi kamu sana! Jangan sampai aku berubah pikiran." Ucap Berta.


Anna melepaskan tangan nya dari tangan Berta. Lalu, ia mengusap air matanya dan beranjak dari duduknya.


"Baik bu.. sekali lagi terima kasih bu.."


Berta bergeming. Matanya terus menatap ke lain arah.


"Saya masuk dahulu ya bu.."


Anna beranjak dari sana dan bergegas memasuki pintu gerbang Lapas tersebut. Sedangkan Berta, dia hanya bisa menatap punggung Anna yang kian menjauh, hingga menghilang di balik gerbang Lapas tersebut.


"Mami.. kenapa dia mami izinkan bertemu dengan daddy?" Tiba-tiba saja Bella muncul di belakang Berta.


Berta menoleh dan menatap Bella dan memberikan senyuman nya kepada anak semata wayangnya itu.


"Biarlah.. Bagaimana pun, dia adalah mantan istri daddy mu. Kita tidak tahu, dukungan moral darinya, mungkin saja bisa membuat daddy mu semangat menjalani hari-harinya di dalam sana."


"Tetapi mi.." Bella terlihat tidak ikhlas dengan keputusan yang Berta ambil.


"Bella, kalau kita mencintai seseorang, dan kita tahu dia mencintai dan memilih kita juga. Buat apa kita merasa khawatir? Saat tubuh daddy mu bebas, dia tetap memilih mami. Dan sekarang, saat dia di penjara pun, dia tetap memikirkan mami. Tanpa banyak bicara pun, mami adalah pemenang nya. Mami bisa merasakan, cinta daddy mu hanya untuk mami. Jadi, untuk apa mami memikirkan mantan istrinya daddy mu itu? Lagi pula, justru mami merasa kasihan padanya.."


"Kenapa?" Bella tampak sangat penasaran.


"Dia masih muda, cantik dan baik. Tetapi, dia masih bertahan dengan hati yang tidak memiliki hati kepadanya."


"Baik? Baik darimana?" Tanya Bella lagi, dengan kerut di keningnya.


"Bella, memang dia bersalah. Tetapi, hatinya yang baik, kita bisa merasakan nya. Dia cantik, muda dan itu modal untuk dia bisa mengambil hati daddy mu. Menguras harta daddy mu. Memperalat daddy mu. Nyatanya, dia selalu terima semua apa yang di putuskan dan yang di bilang daddy mu tanpa ada drama sedikitpun. Dari situ, mami yakin dia orang yang baik. Hanya saja, dia salah menitipkan hatinya."


Bella mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Berta.


"Semoga saja, setelah ini dia bisa melupakan daddy mu dan hidup dengan baik bersama lelaki yang baik dan menjadikan dirinya satu-satunya ratu dalam hidup lelaki itu."


"Dan kita... juga harus ikhlas dengan apa yang menjadi keputusan hakim nantinya. Mungkin saja, daddy mu di hukum seumur hidup. Itu tandanya, sampai mati dia berada di tahanan. Tidak mungkin daddy mu keluar di usia lebih dari seratus tahun. Atau, bisa saja dia di hukum mati..." Berta menghentikan ucapan nya.


"Mami... jangan begitu... aku yakin kok kalau daddy akan di hukum ringan," Ucap Bella.


Berta tertawa kecil, lalu dia mengusap puncak kepala Bella.


"Terdengar joke sayang.. Tetapi, andaikan benar, mami akan sangat bersyukur."

__ADS_1


Bella memeluk Berta dengan erat, mereka saling menguatkan untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi pada Pongki.


__ADS_2