Masteng

Masteng
103. Anna


__ADS_3

Tepat pukul 9 malam, akhirnya rumah peninggalan orangtua Berta sudah layak dihuni. Semua terlihat berbeda dari awal mereka masuk kedalam rumah tersebut. Kini, rumah tersebut sudah terlihat bersih dan rapi. Mulai dari lantai satu hingga lantai dua rumah itu. Halaman rumah nya pun sudah terlihat indah. Semua dedaunan kering sudah Topan singkirkan. Masih terlihat kepulan asap bekas bakaran dedaunan kering di sudut halaman tersebut.


Topan duduk di teras rumah itu, sambil menikmati sebatang rokok yang ba.ru saja ia bakar. Bella yang baru saja selesai mandi dan berpakaian, menyusul Topan yang duduk sendirian di teras, dengan membawakan segelas kopi, handuk dan alat mandi lain nya.


"Hai," Sapa Bella.


Topan yang terlihat lusuh dan wajah yang cemong pun menoleh. Bella hampir tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Topan yang cemong.


"Ini kopi untuk mu, dan ini alat-alat mandi yang bisa kamu pakai," Ucap Bella.


"Aduh, kopi itu lagi," Batin Topan sambil menatap gelas kopi yang baru saja Bella taruh di sebelahnya.


"Te-terima kasih," Ucap Topan, seraya tersenyum manis kepada Bella.


"Mandi gih," Bella beranjak duduk di samping Topan.


"Hmmm bau..." Seketika Bella menutup hidungnya.


"Bau ya?" Topan mengangkat ketiak nya dan mengendusnya dengan perlahan.


"Harum kok, laki banget wanginya." Seloroh Topan.


"Apaan... bau gitu.. ih.." Bella mengerutkan keningnya.


"Hahaha... ya sudah, aku mandi dulu ya. Sebentar, aku ambil baju ganti di mobil dulu." Topan merogoh saku celananya dan untuk mengambil kunci mobilnya dan beranjak menuju ke mobilnya yang terparkir tepat di depan bagian dalam gerbang rumah tersebut.


Bella tersenyum menatap Topan yang terlihat lusuh hanya demi membantu dirinya. Disitulah ia seperti melihat sosok Masteng, lelaki yang lusuh yabg sempat menjadi supirnya dulu.


"Masteng, mas-mas tengik," Gumam nya seraya tersenyum geli.


Sosok Masteng sudah tidak ada lagi. Bagaikan seekor katak yang berubah menjadi pangeran tampan di dalam sebuah dongeng. Itulah yang Bella rasakan. Ia berani mengambil resiko mencintai seekor katak buruk rupa, yang ternyata adalah seorang pangeran yang sangat tampan dan baik hati.


Bella terus menatap Topan yang kembali dengan membawa baju yang masih bersih untuk ia pakai setelah mandi nanti. Lalu, ia tersenyum kepada Topan.


"Kenapa?" Topan ikut tersenyum dan terlihat salah tingkah.


"Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan seseorang."


"Siapa?" Tanya Topan lagi, seraya meraih handuk dan peralatan mandi yang disodorkan oleh Bella.


"Masteng," Bella tertawa geli.


Topan ikut tertawa dan memperhatikan penampilan nya yang kacau.


"Masteng begini ya?" Tanya nya.

__ADS_1


"Iya. Hahahaha..!" Bella terus tertawa geli.


"Tapi kamu suka kan? Suka Topan apa Masteng?"


"Hmmmm, dua-duanya." Celetuk Bella.


Topan tertawa dan mengusap lembut pipi Bella.


"Aku mandi dulu ya sayang."


Bella mengangguk dan tersenyum kepada Topan.


"Jangan kangen ya.."


"Kangen..?" Tanya Bella.


"Iya, barangkali kamu kangen, kalau aku lama dikamar mandi."


"Lama di kamar mandi ngapain aja? Bukankah lelaki tidak berlama-lama di dalam kamar mandi. Mereka kan simpel, tidak perlu ini itu seperti wanita." Ucap Bella dengan polos.


"Nggg...." Topan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya ada juga yang lama di kamar mandi."


"Oh.. sambil poop?" Tanya Bella.


"Ya sudah, aku menunggu disini. Lebih baik jangan lama-lama, nanti kopi mu dingin," Ucap Bella.


"I-iya," Sahut Topan.


"Ngapain juga gue bahas mandi lama. Dasar bodoh!" Topan memukul kepalanya sendiri. Lalu, perlahan ia tersenyum sambil berjalan menuju ke kamar mandi. Bella itu polos atau gimana sih? Masa gak ngerti?" Gumam nya.


.


.


.


.


.


Anna terbelalak saat ia menonton berita di televisi. Sudah beberapa hari ini, televisi miliknya rusak, dan hari ini baru saja selesai di servis. Setelah televisi miliknya menyala, Anna mencoba menonton beberapa channel sambil mencari posisi yang pas dari antena televisi, untuk dapat menangkap semua channel televisi dengan baik dan kualitas gambar yang bersih.


"Mas Pongki!" Jeritnya. Hampir saja ia terjatuh, karena tubuhnya perlahan terasa melemas.

__ADS_1


"Ada apa bu?" Ucap asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Anna.


"Ti-tidak apa-apa," Ucap Anna, seraya memijat pelipisnya yang terasa pusing. Lalu, ia beranjak duduk di atas sofa dan termenung disana.


"Mas.. kok bisa?" Gumam Anna lagi.


Anna meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi pengacara Pongki.


"Halo," Sapa nya saat panggilan nya di jawab oleh pengacara Pongki yang pernah mendampingi dirinya untuk kembali ke kampung halamannya itu.


"Halo, selamat malam bu Anna," Sapa pengacara tersebut.


"Maaf pak, malam-malam seperti ini saya mengganggu. Apakah benar berita di televisi tentang bapak Pongki?" Tanya Anna dengan nafas yang sesak.


Pengacara Pongki sempat terdiam beberapa saat. Sebenarnya dirinya sudah berjanji kepada Pongki, bila hubungan dirinya dengan Anna hanya sebatas mengurus Anna sampai ke Kampung halaman Anna, dan membelikan beberapa aset untuk Anna dapat membuka usaha selama di Kampung. Dan berjanji tidak akan memberikan kabar apapun tentang Pongki lagi kepada Anna. Semua tertulis dalam surat perjanjian kerja antara dirinya dan Pongki, dan juga perjanjian antara Pongki dan Anna. Tetapi, kini Anna mengetahuinya lewat media. Tidak ada yang bisa ia hindari, begitulah kenyataan yang ada.


"Hmmm, betul bu," Ucap pengacara Pongki.


"Astaghfirullah...!" Tangan Anna gemetar. Bagaimana tidak, ia sangat mencintai Pongki, mantan suaminya itu.


"Pak, bisakah bapak carikan tiket untuk saya? Saya tidak bisa memesan tiket pak, saya tidak mengerti. Nanti semua uang nya saya ganti. Saya ingin bertemu dengan bapak Pongki." Anna terdengar sangat memohon.


"Tetapi bu, perjanjian itu...."


"Persetan dengan perjanjian pak! Saya ingin bertemu dengan bapak Pongki!" Anna mulai menangis, karena merasa emosi dengan keadaan.


Pengacara Pongki pun terdiam membisu.


"Bagaimana bila saya tanyakan dulu pada...."


"Tidak perlu, saya ingin menjenguk nya pak, saya mohon... tolonglah saya... dia pasti butuh dukungan moril dari siapa saja, tolong lah.."


Pengacara Pongki tidak memiliki pilihan lain, selain melanggar perjanjian yang tertulis diantara dirinya, Pongki, dan Anna.


"Baiklah bu. Tetapi, saya mohon, jangan bawa-bawa nama saya, bila ibu bertemu dengan bapak. Tolong hargai profesi dan nama baik saya. Cukup kita yang tahu. Nanti saya akan berikan tiket penerbangan pesawat untuk esok hari." Janji pengacara itu.


"Terima kasih pak! Percayalah pada saya, saya akan datang dengan membawa nama pribadi," Ucap Anna.


"Baik bu. Saya pesankan tiketnya dan bersiap-siaplah malam ini. Karena besok, ibu akan terbang pagi-pagi sekali."


"Terima kasih pak,"


"Sama-sama,"


Percakapan itu pun berakhir.

__ADS_1


Anna mengusap air matanya yang terus mengalir di pipinya. Lalu, ia beranjak dari depan televisi dan bergegas untuk mengemasi pakaian yang akan ia bawa ke Jakarta, untuk mengunjungi Pongki. Cinta pertama dan mantan suami terindah bagi dirinya.


__ADS_2