
Dua tahun kemudian.
"Mas, bangun.." Bella menyentuh lengan Topan dengan lembut.
Topan terbangun dan membuka matanya secara perlahan.
"Ya Allah, cantik sekali istri ku," Ucap nya seraya menatap Bella yang berdiri di samping ranjang. Bea tersipu malu dan mengecup kening Topan.
"Ayo bangun mas, kopi nya sudah aku siap kan."
"Ya Allah... nikmat yang mana lagi yang mau aku dusta kan? Pagi-pagi sudah melihat istri cantik, sudah dandan, sudah di buatkan kopi lagi. Hmmmm, terima kasih ya sayang..."
"Sama-sama mas," Sahut Bella, seraya beranjak untuk melipat selimut.
"Oh iya, pukul berapa sekarang?" Tanya Topan, seraya beranjak dari ranjang.
"Pukul sepuluh mas,"
"Loh, kok aku tidak di bangunkan pukul tujuh? Aku kan ingin bermain dengan Jagat di luar,"
"Mas, kamu itu baru tidur setelah subuh loh, karena bekerja. Masa aku tega membangunkan kamu secepat itu? Lagi pula kamu masuk sore kan? Masih ada kesempatan main bersama Jagat. Makanya ini aku bangunkan pukul sepuluh." Terang Bella seraya melipat selimut dan membereskan bantal.
Topan tersenyum dan mendekati Bella, lalu ia memeluk Bella dari belakang.
"Terima kasih ya pengertian nya.." Ucap Topan seraya mengecup pipi Bella.
"Iya... sudah mandi sana.."
"Mau mandi bareng gak?" Tanya Topan.
"Ya enggak lah, aku kan sudah mandi," Bella menatap Topan sambil tersenyum.
"Mau di kotorin gak? Biar ada alasan mandi bareng," Topan mengecup leher belakang Bella.
"Ishhh... mas... apaan sih... Aku sedang buru-buru ini loh... Kasihan mami, dia menunggu ku Jagat sendirian di depan."
"Kan sama mami, aman lah. Memang nya gak kepengen apa ngasih Jagat adik?"
Lagi-lagi Bella menatap Topan dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Baru dua tahun loh si Jagat, belum saat nya dikasih adik. Nanti kalau dia sudah lima tahun, baru di kasih adik..."
"Ya sudah proses nya saja dulu," Topan masih berusaha menggoda Bella.
"Apa sih mas..." Bella menepis tangan Topan yang sudah mulai bergerilya di tubuhnya.
__ADS_1
"Ayo dong...." Bisik Topan dengan wajah yang memohon.
"Mandiiiii..."
"Berdua.."
"Dasar...!"
"Sebentar saja..."
"Apanya yang sebentar? Lama tau.."
"Jadi kamu mengakui durasi ku ya..." Topan mendekati wajahnya ke wajah Bella. Refleks, Bella mencondongkan tubuhnya ke belakang.
"Memang kapan aku tidak mengakui durasi mu?"
"Pernah... di dalam mimpi." Topan mengerutkan dagunya dan menatap Bella dengan seksama.
"Mimpi?"
"Iya, dulu waktu di Bali. Yang kamu maksa-maksa aku untuk melakukannya."
Seketika wajah Bella memerah. Ia ingat betul saat itu dirinya sedang mabuk. Beruntung Topan telah menyelamatkan dirinya dari tempat yang penuh bahaya tersebut, untuk wanita seperti dirinya.
"Memang gimana mimpinya?" Tanya Bella lagi.
"Kita melakukannya, lalu baru sebentar aku sudah tidak tahan. Kamu marah-marah dan menghina aku. Kamu bilang durasi ku payah.." Topan kembali mengerutkan dagunya.
"Hahahahaha..! Parah iyu mimpi. Lagian, bisa-bisanya kamu mimpi begitu sama aku. Hiiiii.." Bella bergidik ngeri.
"Ya, siapa yang tahan lihat wanita secantik kamu bermanja-manja dan meminta untuk di sentuh. Untung aku dan si Jhony dapat mengendalikan nafsu!"
Bella kembali tertawa geli dan menatap Topan yang terlihat kesal.
"Jadi, ceritanya kamu menikahi ku karena dendam kesumat gara-gara mimpi?"
"Ya enggak lah sayang... Aku cinta mati sama kamu. Sangat-sangat mencintai kamu dan aku yakin, kamu tahu itu." Topan tersenyum dan mengecup kening Bella.
Bella pun tersipu malu, lalu ia memeluk tubuh Topan dengan erat.
"Jadi mandi bareng?" Tanya Bella.
"Serius?"
"Ya.." Bella mengangguk dengan pasti.
__ADS_1
"Kok tiba-tiba mau?"
"Siapa yang bisa menolak dengan durasi yang luar biasa..?" Tanya Bella seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Nakal kamu ya..."
Dan... mereka pun memulai hari dengan cinta.
...
"Opa-opa!" Jagat meronta dari gendongan Berta sambil menunjuk kuburan Pongki yang berjarak tiga meter dari dirinya.
Berta tersenyum dan menurunkan Jagat, lalu bocah laki-laki itu pun berlari menghampiri makam Pongki. Sesampainya di makam Pongki, bocah itu langsung berjongkok dan mengadahkan kedua tangan nya. Berta tersenyum melihat tingkah Jagat yang sangat menggemaskan.
Bocah yang baru berusia 2 tahun itu mungkin belum mengerti apa yang tengah ia lakukan. Ia hanya meniru Berta yang kerap berdoa di makam Pongki. Jagat memang sering di ajak oleh Berta untuk singgah ke makam Pongki. Baginya, hanya Jagat lah teman yang setia di hari tuanya ini. Kehadiran Jagat sangat berarti bagi Berta. Karena Jagat juga lah, Berta mampu mengenyampingkan kesedihan nya saat kehilangan Pongki.
Pongki tidak bisa menepati janjinya tentang masa tua yang bahagia. Tetapi, Tuhan maha adil. Tuhan menghadirkan Jagat secepat mungkin, untuk menggantikan sosok Pongki dan mewarnai masa tua Berta yang nyaris saja suram.
Berta menatap Jagat yang masih berdoa dengan suara yang tidak jelas. Lalu ia tersenyum sembari mencabuti rumput liar di sekitar makam Pongki. Jagat adalah Matahari bagi Berta, yang menyinari hari-hari mendung nya tanpa Pongki. Seperti orang yang sedang jatuh cinta lagi. Berta benar-benar melimpahkan rasa cinta dan kasih sayang nya pada makhluk kecil itu.
"Mas, apa kabar kamu di sana? Lihatlah, cucu kita sudah besar. Dia adalah anugerah saat aku kehilangan dirimu. Walaupun sebenarnya, menyaksikan tumbuh kembang cucu kita berdua, adalah impian ku bersama dengan mu. Tetapi, tidak apa. Tuhan tahu mana yang terbaik untuk kita. Mas... aku selalu dan masih terus merindukan dirimu. Tunggu aku ya mas..." Ucap Berta, seraya mengusap baru nisan Pongki.
"Oma... cedih?"
"Enggak sayang, oma bahagia karena ada kamu." Sahut Berta.
"Oh ya udah. Aku bantu oma cabut lumput ya..." Ucap Jagat seraya mencabut rumput liar di sekitar nya.
"Nanti tangan nya sakit loh... Biar oma saja ya.."
"Telus aku ngapain?" Ucap Jagat seraya mengerutkan dagunya.
"Berdoa lagi saja, doakan opa sabar menunggu oma. Doakan opa bahagia di surga. Doakan opa terhindar dari siksa api neraka ya nak. Karena doa dari Jagat itu sangat di tunggu loh sama opa."
"Memang opa dengal?" Tanya bocah lucu tersebut.
Berta tersenyum dan mengusap puncak kepala Jagat.
"Pasti dengar, Tuhan pun mendengarkan nya. Setiap doa dari anak sholeh kayak Jagat, pasti di dengar dan sampai loh."
"Ya cudah, Jagat doa lagi."
Berta tersenyum dan kembali memperhatikan Jagat yang sedang berkomat kamit tanpa terdengar suaranya.
"Ya Allah.. Terima kasih sudah menghadirkan Jagat di dalam hidup ku. Terima kasih sudah memberikan cucu yang soleh. Ternyata hari tua ku sangat menyenangkan. Kau ambil kebahagiaan ku, agar aku dapat bersyukur lebih banyak lagi. Dapat semakin mendekatkan diri kepadamu. Ternyata, rencana-rencana mu sangat luar biasa. Kau bayar air mataku dengan cinta yang teramat sangat luar biasa." Batin Berta.
__ADS_1
.
Manusia-manusia yang tidak bersyukur, adalah manusia yang paling menderita. -De'rini-