Masteng

Masteng
179. Ziarah


__ADS_3

Langkah kaki Topan berhenti di sebuah gundukan tanah berukuran 2x1 meter yang bertabur kan bunga-bunga yang mulai layu. Matanya menatap lurus ke sebuah nisan yang bertuliskan nama Pongki Susilo. Ingatan nya kembali kesatu bulan yang lalu, dimana Pongki sedang meregang nyawa saat terikat di sebuah tiang eksekusi. Topan mulai menangis dan berjongkok memeluk nisan tersebut.


"Maafkan saya pak," Gumam nya.


Bella yang berada di samping Topan, langsung menenangkan Topan dan memeluk Topan dengan erat.


"Saya akan memegang teguh janji saya kepada bapak. Saya akan melakukan apa pun demi kebahagiaan anak dan istri saya, juga mami, pak!"


"Sabar ya mas," Lagi-lagi Bella mencoba menenangkan Topan. Sedangkan hatinya sendiri pun teriris melihat nisan itu.


Topan menatap Bella, lalu ia memeluk Bella dengan erat.


"Maafkan aku.." Ucap Topan.


"Untuk apa?"


Topan terdiam mendengar Pertanyaan dari Bella.


"Untuk... hmmm.. untuk... untuk tidak bisa di samping kamu saat masa sulit dan tidak bisa mendampingi daddy saat itu," Topan mencoba berbohong kepada Bella.


"Sudahlah mas, kamu sedang dalam tugas. Mau di kata apa lagi, kalau tugas sudah memanggil?"


Hati Topan semakin terpukul mendengar ucapan bijak dari istrinya itu.


"Maaf.. maafkan aku, hanya itu yang ingin aku katakan kepadamu." Bisik Topan.


Topan terdiam di depan kuburan Pongki, bibirnya terus mengucapkan segala doa untuk Pongki yang sudah terpisah alam dengan dirinya. Sejujurnya, memiliki sosok ayah pertama ia rasakan saat ia bertemu dengan Pongki. Karena saat itu, dirinya tidak pernah akur dengan Amoroso, lelaki yang menjadi ayahnya karena terikat pernikahan dengan Erna, ibunya.


Bertambahnya beban mental di diri Topan setelah ia menangkap Pongki adalah, di jatuhkan nya hukuman mati kepada lelaki paruh baya itu. Dan yang semakin membuat Topan gila adalah, di tangan nya juga Pongki meregang nyawa. Itu semua adalah masa-masa terberat bagi Topan, walaupun dirinya tahu bila Pongki sudah ikhlas atas semua yang terjadi.


Topan mengusap wajahnya, setelah membaca doa. Lalu ia mengusap nisan milik Pongki dan membersihkan kuburan tersebut.


"Mas, kita mau ada acara empat puluh harian daddy."


Topan mengangguk dan tersenyum.


"Kamu tenang saja, selama aku ada di rumah, aku yang mengurus nya. Lagi pula ini lah saatnya aku menebus segala kesalahan ku," Ucap Topan.


"Kesalahan apa sih mas, kamu tidak salah, kamu hanya bertugas." Tegas Bella.


Topan menatap wajah istrinya itu dengan seksama. Ya, itulah yang dikatakan psikolog dan psikiater maupun ahli agama yang mendampingi dirinya di masa pemulihan. Semua itu hanya tugas yang harus di emban. Sebagai lelaki yang memiliki pekerjaan dengan tugas yang sangat berat, dirinya sudah sangat hebat, karena mampu menyelesaikan tugas-tugas nya.


Topan mengangguk dan menghampiri Bella. Ia memeluk tubuh Bella dengan erat. Sama seperti Bella yang bangga dengan dirinya. Topan pun sangat bangga memiliki Bella yang begitu baik dan pengertian kepada dirinya.


"I love you sayang," Bisik Topan.

__ADS_1


"I love you too mas," Bella tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi.


"Ayo kita pulang mas, Jagat menunggu,"


"Ayo.. "


Topan kembali menghampiri baru nisan Pongki. Lalu ia mengusap kembali batu nisan itu.


"Pak, saya pulang dulu. Saya berjanji akan rajin melihat kuburan bapak," Ucap Topan.


Bella tersenyum melihat Topan yang begitu menyayangi daddy nya, walaupun daddy nya sudah tak ada lagi di dunia ini.


Dengan bergandengan tangan, Topan dan Bella kembali pulang. Melanjutkan hidup mereka sebaik-baiknya. Dan Topan, lelaki itu berusaha dan terus berusaha untuk tetap memegang janji nya kepada Pongki. Yaitu, untuk mencintai dan tidak pernah melukai hati anak dan cucunya.


...


"Assalamu'alaikum!" Seru Antok saat ia baru saja memasuki ruangan kantornya.


Topan mengangkat wajahnya dan menatap sahabatnya itu.


"Waalaikumsalam," Sahut semua yang sedang berada di sana.


"Pan, belum patroli kau?" Tanya Antok.


"Iyah! Jadi jadwal siapa?" Tanya Antok lagi.


"Kau lah," Sahut Topan tanpa menoleh.


"Oh aku.. hahahha lupa aku." Antok menepuk dahinya.


"Eh, kemana saja kau? Tugas apa? Kau habis menangkap bandar lagi?" Tanya Antok seraya menarik kursi yang berada tepat di depan meja Topan.


Topan menatap Antok dengan tatapan yang mematikan.


"Eh, kok kek gitu tatapan mu?" Tanya Antok yang merasa terheran-heran melihat tatapan Topan.


"Gak usah kau tanya-tanya lah. Rahasia ini.."


"Kok sensi kau sekarang Pan?"


"Diam lah kau Tok, aku lagi kerja ini. Lagi lihat riwayat target yang mau kita brantas berikutnya."


"Memang ada tugas apa?" Tanya Antok sambil meraih gelas kopi milik Topan. Dengan cepat, Topan langsung memukul tangan Antok yang nyaris saja mengangkat gelas kopi nya.


"Kau pesan sendiri! Jangan kau minum punya ku!"

__ADS_1


"Pelit kau!"


"Bukan pelit, kau jarang sikat gigi! Bau mulut mu membekas di gelas ku!"


Antok menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Lalu ia mencoba mencium aroma nafasnya sendiri.


"Eh iya, bau naga ya... Ya sudah, aku pinjam sikat gigimu yang di kamar mandi itu ya.."


"Gila kau! Jorok! Beli sana sendiri ke warung!" Topan terlihat panik.


"Alahhh.. biasanya aku pakai punya mu itu. Yang warna biru itu kan sikat giginya?"


Topan terdiam dan melebarkan kedua matanya, seraya menatap Antok dengan tak percaya.


"Iya kan? Sering ku pakai itu." Tegas Antok.


"Najis! Hoeeeeeekkkkkk..!" Topan nyaris saja memuntahkan isi perutnya.


"Gimana? Secara gak langsung kita pernah berciuman kan?" Ucap Antok lagi.


Kali ini Topan benar-benar akan memuntahkan isi perutnya. Ia berlari ke kamar kecil dan memuntahkan semua isi perutnya yang baru saja ia isi dengan beberapa potong goreng pisang buatan Bella, sebelum ia berangkat bekerja.


"Baru ciuman sama aku saja sudah hamil kan kau Pan," Celetuk Antok yang baru saja menyusul Topan ke kamar kecil.


"Setannnnnnnnnn!" Teriak Topan.


Antok tertawa geli dan beranjak dari depan kamar kecil tersebut.


"Oh iya, aku mau kasih kau sesuatu. Aku taruh di meja mu ya... Aku mau patroli dulu!" Ucap Antok sambil berjalan menuju ke meja Topan.


"Iya!" Ucap Topan yang baru saja berkumur-kumur.


Setelah Topan selesai membersihkan mulut nya, dan menyiram bekas muntah nya, ia pun kembali ke mejanya sambil terus menggerutu tentang konyolnya kelakuan Antok. Tiba-tiba saja, ia melihat selembar undangan yang tergeletak di atas mejanya.


"Apa ini?" Gumam Topan.


Topan meraih undangan tersebut dan mulai membacanya.


Join Us For A Wedding Party


Lestari & Antok


Topan tertawa membaca undangan tersebut,


"Semoga Lestari tidak sakit jantung menghadapi Antok. Aamiin," Batin nya.

__ADS_1


__ADS_2