Masteng

Masteng
180. Ngambek


__ADS_3

"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam," Sahut Berta yang sedang menonton televisi di ruang keluarga sambil menimang Jagat.


"Eh, anak mami sudah pulang kerja..." Berta tersenyum kepada Topan yang berjalan mendekati dirinya.


"Iya mi, kok Jagat sama mami?" Tanya Topan, seraya menatap Jagat yang sedang tertidur di buayan Berta.


"Iya, tidak apa-apa. Tadi si Bella menitipkan kepada mami. Katanya dia mau mandi dan sholat dulu."


"Oh begitu," Ucap Topan seraya mengecup punggung tangan Berta.


"Sudah sana, mandi dulu... terus makan malam ya. Sekalian panggil Bella untuk makan malam bersama. Makanan sudah di hidangkan sama Ijah di atas meja, nanti keburu dingin."


"Iya mi," Sahut Topan.


Topan pun berjalan menuju ke kamarnya. Saat dirinya baru saja membuka pintu, kening nya berkerut saat mendapatkan lampu kamar yang tidak menyala.


"Loh," Gumam nya. Lalu tangan nya mencoba mencari tombol saklar lampu yang terletak di samping pintu. Setelah mendapatkan nya, Topan pun menekan saklar tersebut dan seketika lampu pun menyala.


Topan langsung menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari Bella yang kata Berta sedang berada di kamar. Hingga matanya terpaku ke sudut ruangan, tepat nya di sebelah jendela kamar dirinya dan Bella.


Di sana, Bella sedang berdiri menata dirinya. Yang lebih membuat Topan takjub adalah, saat ia melihat apa yang membalut tubuh indah istrinya itu.


"Sayang," Topan tersenyum semringah dan berjalan menghampiri Bella yang juga sedang tersenyum nakal di sudut ruangan itu.


"Hai Mas, baru pulang?" Ucap Bella yang terlihat sangat sexy dengan balutan sebuah lingerie cantik berwarna hitam. Bahan lace yang transparan dan di kombinasi dengan renda yang berwarna senada, membuat tubuh Bella terlihat begitu menggoda. Riasan tipis dengan lipstik berwarna nude membuat wajah Bella terlihat begitu sangat menawan di mata Topan.


Ada apa ini?" Tanya Topan yang terlihat bingung dengan penampilan Bella pada malam ini.


"Ada apa?" Tanya Bella seraya mengerutkan keningnya.


"Iya, ada apa? Kok tumben.." Topan mengaitkan tangan nya di pinggang Bella yang sudah mulai ramping, pasca melahirkan Jagat.


Kali ini, Bella mengerutkan dagu nya.


"Loh, kok cemberut?" Tanya Topan dengan wajah yang bingung.


"Gak ingat dia. Ya sudah lah.." Bella melepaskan tangan Topan dari pinggang nya.


"Loh... ada apa sih sayang?"


"Gak ada apa-apa," Bella mulai membungkus tubuhnya dengan daster kebanggaan nya.


"Lah, kok di tutup daster sih? Sudah pas mantap tadi tuh.. pakai lingerie," Ujar Topan.


"Males, sudah aku mau ke depan dulu." Bella menghentakkan kaki nya dan bergegas berjalan menuju ke pintu kamar nya.


"Sayang tunggu," Topan menarik tangan Bella dan mencoba menghadang Bella.


Bella menatap Topan dengan tatapan yang mematikan.


"Ada apa sih? Tadi cantik banget, sekarang malah garang kayak ibu kos yang nagih uang kos."


"Tuh kan, bete ah!" Bella menghempaskan tangan Topan dan berusaha untuk kembali berjalan menuju ke arah pintu kamar nya.

__ADS_1


"Sebentar sayang... ada apa? Jawab dong... ngajakin anu-anu ya?" Topan tersenyum semringah.


"Dasar gak peka!"


"Lah... kok ngamuk?" Topan tercenung dan membiarkan Bella yang beranjak ke luar kamar mereka. Topan tampak kebingungan, perlahan gairah di dirinya pun surut dan tergantikan overthinking yang luar biasa.


"Dia kenapa?"


"Aku tidak peka?"


"Tidak peka dalam hal apa?"


"Tidak langsung menyerang dia saat dia memakai baju sexy?"


"Atau apa sih... ah... bingung,"


Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul saat Topan melakukan aktivitas nya, saat mananggalkan seragam nya, mandi, memakai baju, menyisir, dan berjalan ke arah meja makan. Bahkan saat di ruangan makan pun, Topan masih bertanya-tanya tentang sikap Bella yang tiba-tiba ngambek dengan dirinya.


"Ya Allah ada apa sih?" Batin Topan, saat Bella tidak mau menatap dirinya saat makan bersama di meja makan.


Setelah makan pun, Bella langsung menggendong Jagat dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sikap seperti itu tidak pernah di perlihatkan oleh Bella sebelumnya. Tentu saja Topan semakin penasaran dengan sikap istrinya itu. Lalu ia pun menyusul ke dalam kamar.


"Sayang, kamu kenapa? Aku pijat ya? Capek?"


"Pikir aja sendiri!" Sahut Bella dengan ketus.


"Lah... Aku bukan dukun sayang... Yang bisa tiba-tiba tahu apa yang ada di pikiran mu. Please kalau ada apa-apa ngomong ya sayang. Aku memang kurang peka."


Bella menatap Topan dengan kerut di dagunya. Lalu ia melengos dan membuang pandangan nya ke sudut ruangan itu.


"Ya Allah... ada apa sih?"


"Allahu Akbar...! Ya Allah.. berikan lah aku mukjizat bisa mendengar dan membaca pikiran Ya Allah..!" Topan mengadahkan kedua tangan nya.


"Dasar gak peka!" Bella pun merebahkan dirinya di atas ranjang, lalu memunggungi Topan yang duduk di tepi ranjang itu.


"Pernikahan itu tidak segampang yang terlihat Pan, terkadang kau akan terlihat bodoh di depan istri. Terkadang kau di tuntut menjadi dukun, agar kau tau apa isi kepala dan hatinya. Lebih rumit dari pada rumus Fisika!"


Topan teringat apa yang pernah di ucapkan Suprapto kepada dirinya.


"Mau tidur?" Tanya Topan, sambil menatap punggung Bella yang sedang memunggungi dirinya.


Bella tidak menyahut, ia diam seribu bahasa.


"Innalillahi..." Batin Topan.


Topan melirik jam di dinding. Jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Topan pun menghela nafas panjang dan beranjak dari duduk nya, lalu melangkah keluar dari kamar itu.


"Dasar gak peka!" Ucap Bella.


Topan yang hendak menutup pintu kamar, sejenak menahan tangan nya dan menatap Bella yang masih terbaring di atas ranjang.


"Ya, apa kata bang Suprapto itu ada benarnya," Batin Topan. Lalu ia menutup pintu kamar itu dan berjalan menuju ke beranda rumah. Di beranda rumah, Topan termenung sejenak, lalu ia pun bergegas meraih ponsel nya yang berada di saku celananya.


"Aku harus menghubungi bang Suprapto! Dia master of istri ngambek. Barangkali dia paham," Batin Topan. Topan pun langsung mencari nama Suprapto di daftar kontak nya. Setelah mendapatkan nya, ia pun bergegas menghubungi lelaki yang sudah ia anggap sebagai abang kandung nya tersebut.

__ADS_1


Beberapa kali nada panggil terdengar di telinga Topan, sebelum lelaki berusia empat puluh dua tahun itu menerima panggilan dari dirinya. Hal pertama yang di dengar oleh Topan adalah suara benda yang terhempas di lantai.


Prakkkkkkkk...!


Di susul oleh suara istri Suprapto yang sedang mengomel dengan kecepatan 200 kilometer per jam.


"Tunda dulu ngomel nya ya darling, aku ada panggilan dari pusat." Topan hampir tertawa mendengar alasan Suprapto saat baru saja menerima telepon nya.


Tak lama kemudian, Terdengar suara Suprapto yang setengah berbisik.


"Ada apa Pan?"


"Aku mengganggu gak bang?" Tanya Topan seraya menahan tawanya.


"Menurut kau? Dengar kan kau istri ku lagi konser?"


Topan tidak dapat menahan tawanya. Akhirnya tawa itu pun pecah begitu saja, di susul tawa Suprapto dari ujung sana.


"Untung lah kau nelpon aku. Jadi bisa aku pause sebentar mulut nya itu," Ucap Suprapto sambil terkekeh.


"Ternyata ngeri ya bang kalau kakak ipar ngamuk."


"Bukan ngeri lagi, kayak di medan perang ku rasa," Timpal Suprapto yang terus tertawa geli.


"Jadi, ada apa kau telepon aku. Tumben kau!"


"Gak enak aku ngomong nya bang. Lanjut lah bang perang nya," Ucap Topan.


"Eh, jangan gitu. Aku bersyukur kau telepon aku. Jadi bisa aku merokok sebatang dulu sebelum maju ke medan perang lagi,"


Perut Topan terasa kaku saat mendengar ucapan Suprapto yang begitu menggelikan.


"Kenapa? Bilang lah... Mau curhat kau, mau bahas kerjaan atau apa.. bilang saja. Aku lebih baik mendengar kau bicara dari pada istri ku itu. Mau sejam, dua jam, sampai subuh pun aku layani kau bicara. Asal aku bisa menghindar sementara waktu."


Topan tertawa lepas, hingga suara nya memecah keheningan malam.


"Gak lah bang, segan aku mau curhat, abang sendiri saja sedang butuh curhat," Ucap Topan di sela tawanya.


"Alaaaahhh... jarang-jarang nya kau curhat sama aku. Bilang lah." Desak Suprapto.


"Gimana ya bang, istri ku sedang ngambek. Aku gak tahu kenapa."


"Hah? Hahahahahaha...! Benar-benar, kita garang layaknya Singa di lapangan, di rumah kayak Kucing!" Suprapto tertawa geli.


"Iya, betul kata abang. Masa aku di suruh menebak pikiran nya. Mana lah aku tahu!" Keluh Topan.


"Itu lah, aku yang sudah belasan tahun sama istri ku saja aku gak tahu apa yang ada di pikiran nya. Apa lagi kau yang baru saja setahun menikah. Apa harus kita menuntut ilmu membaca pikiran wanita di Gunung Kemukus?"


"Kok Gunung Kemukus pula?" Topan terkekeh, di susul tawa geli dari Suprapto di ujung sana.


Tiba-tiba saja tawa Topan terhenti. Dirinya terdiam dengan wajah yang terlihat pucat.


"Satu tahun pernikahan?" Topan langsung melirik arloji nya dan memperhatikan tanggal yang tertera di arlojinya.


"Ya Allah! Bang, sudah dulu ya!" Topan mengakhiri panggilan telepon nya dan beranjak masuk kedalam rumah itu. Lalu ia menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi untuk mencari kado untuk Bella.

__ADS_1


Ya, saking sibuknya bekerja, Topan nyaris saja melewatkan anniversary pernikahan nya dengan Bella. Hari terpenting bagi dirinya dan Bella. Rasa bersalah mulai membuat dirinya panik.


"Semoga masih ada toko yang buka," Batin Topan.


__ADS_2