Masteng

Masteng
75. Janji tetaplah janji


__ADS_3

"Jadi, bagaimana pekerjaan mu kemarin?" Tanya Amoroso, lelaki yang sangat berkharisma dengan wajah yang tegas dan tubuh yang terlihat masih kokoh, walaupun dirinya sudah berumur hampir mendekati usia pensiun.


"Lancar pak," Sahut Topan yang sedang makan siang bersama dengan seluruh keluarganya.


"Topan juga sudah menemukan kekasih loh pak," Ucap Erna dengan wajah yang semringah.


"Oh ya?" Sahut Guntur dan Pinky, adik-adik kandung Topan.


"Iya..." Erna membenarkan apa yang baru saja ia katakan.


"Siapa gadis itu?" Tanya Amoroso.


Topan terdiam, ia tampak berpikir bagaimana ia menyampaikan siapa Bella sebenarnya.


"Ah, baru dekat saja." Sahut Topan.


"Katamu kemarin kekasih mu Pan," Erna tampak mengerutkan keningnya.


"Ya, bisa dibilang seperti itu bu. Tapi, sudah dewasa begini kan yang penting keseriusan. Bukan kata-kata jadi pacar atau bagaimana," Terang Topan.


"Walahhhh... tahu begitu, ibu setujui pertemuan dengan ibu Mela."


"Mela siapa bu?" Tanya Amoroso.


"Itu loh pak, bu Mela istri rekan mu, bapak Agus."


"Oh... kenapa memangnya?" Tanya Amoroso lagi.


"Jadi begini, waktu acara kemarin bu Mela bertanya sama ibu tentang Topan. Dia berniat mau besanan sama kita. Soalnya anak nya yang dokter itu, si Lestari... bapak masih ingat kan?"


Amoroso mengangguk sambil terus mendengarkan istrinya membicarakan tentang keluarga rekan nya.


"Nah, Lestari itu kan masih gadis. Tepat nya perawan ya.... Usianya kan dua tahun dibawah Topan. Sudah usia menikah loh. Sayangnya, Lestari belum memiliki kekasih. Jadi, bu Mela bertanya sama ibu, apa Topan sudah menikah atau sudah punya calon istri. Kalau belum, dia berniat mau menjadikan Topan menantunya."


Topan menatap Erna dengan tatapan yang datar. Sedangkan Amoroso mengangguk-angguk kan kepalanya. Tanda ia paham dengan apa yang dikatakan istrinya.


"Dokter loh Pan, cocok dengan mu," Ucap Amoroso.


Topan tersenyum canggung, dihatinya hanya ada Bella. Dia tidak membutuhkan gadis manapun untuk mendampingi dirinya.


"Kamu mau? Kenalan saja dulu..." Ucap Erna dengan wajah yang tampak bersemangat.


"Tidak bu." Ucap Topan dengan tegas.


Erna dan semua yang berada disana terdiam sambil menatap Topan yang tampak kurang nyaman bila dirinya harus dijodohkan dengan gadis yang bernama Lestari itu.


"Kapan-kapan aku akan membawa gadis ku sendiri bu." Sambung Topan.


"Kalau kamu serius dengan nya, coba ceritakan sama bapak, siapa gadis itu?"


Topan menatap Amoroso dengan tatapan gelisah.


"Siapa namanya, dimana tinggalnya, apa pendidikan nya dan bagaimana orangtuanya."

__ADS_1


Degggggg!


Topan semakin merasa terpojokkan dengan pertanyaan Amoroso. Tetapi, ia tahu betul siapa bapaknya itu. Topan tidak ada pilihan lain, selain menceritakan siapa Bella yang sebenarnya.


"Namanya Bella."


"Dimana tinggalnya?" Tanya Amoroso dengan ekspresi wajah yang masih terlihat datar.


"Jujur saja, dia anak dari bapak Pongki."


"Pongki? Pongki siapa?" Tanya Erna.


"Pongki, target ku kemarin," Ucap Topan dengan ujung suara yang tercekat.


Amoroso, Erna dan kedua adik Topan terdiam. Mereka hanya dapat saling berpandangan dengan wajah yang tampak shock.


"Sejak kapan kamu bertugas memakai perasaan?" Tanya Amoroso.


Topan terdiam membisu. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Topan, apa tidak ada wanita lain? Mengapa harus gadis itu?"


Topan menatap Amoroso dan satu persatu anggota keluarganya.


"Aku jatuh cinta kepadanya pak. Dia gadis yang baik dan menyenangkan," Ucap Topan.


"Pak, bagaimana ini?" Erna terlihat tidak suka dengan pernyataan Topan.


"Ingat Topan, jaga nama baik bapak."


"Yang bersalah hanya bapak nya saja pak, bukan gadis itu."


"Tetapi, apa kata orang-orang, terutama rekan-rekan bapak yang tahu siapa Pongki. Berita tentang Pongki sudah seantero negeri. Semua orang tahu siapa dia."


"Tapi pak,"


Amoroso mengangkat tangan nya, tanda dirinya tidak mau lagi membahas tentang Bella.


Topan hanya bisa terdiam, dirinya tahu betapa kerasnya Amoroso. Bila dirinya mengatakan tidak, maka apa pun tidak akan bisa meruntuhkan keyakinan nya.


"Bu, tolong bayar tagihan nya. Saya tunggu di mobil," Ucap Amoroso, seraya beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan restoran tersebut.


Satu persatu meninggalkan meja dimana Topan dan keluarganya baru saja bercengkrama sambil santap siang. Kini, tinggal lah Topan sendiri dengan pikirannya yang tak menentu.


.


"Bella..." Topan menatap nomor ponsel Bella yang tertera di layar ponselnya. Sudah 30 menit dirinya berdiam di tepi ranjang kamarnya, mengumpulkan keberanian untuk menghubungi kekasihnya itu.


Perasaan bersalah, dan janjinya kepada Pongki untuk melindungi Bella kian berkecamuk dihatinya. Baru kali ini Topan merasakan dirinya adalah seorang pecundang yang pengecut. Entah mengapa, ia merasa takut sekali untuk menghubungi Bella.


"Pengecut kamu Topan!" Makinya kepada dirinya sendiri.


"Tidak, aku sedang memberikan dirinya waktu untuk menenangkan diri," Ucap sisi lain dihatinya.

__ADS_1


"Hubungi dia Topan..! Dia sedang membutuhkan kamu." Jerit hati Topan dari yang terdalam.


Topan menghela nafas panjang dan kembali menatap nomor ponsel Bella.


"Ya, aku harus menghubungi Bella. Aku telah berjanji kepada bapak Pongki, untuk melindungi Bella dan bu Berta."


Saat itu juga Topan mencoba menghubungi Bella.


Nada panggil berbunyi saat Topan menunggu Bella mengangkat panggilan telepon darinya. Seiring dengan degup jantung nya yang tak beraturan.


Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali...


"Halo," Akhirnya Bella menerima panggilan telepon dari Topan.


"Halo,"


Dan hening...


Bella mengingat suara Topan, hingga ia pun tak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun. Sedangkan Topan, ia menunggu gadis pujaan nya itu untuk mengucapkan sepatah kata saja untuk dirinya.


Setelah hampir satu menit, akhirnya Topan kembali menyapa Bella.


"Halo,"


Bukan jawaban yang Topan terima, melainkan suara isak tangis dari ujung sana.


"Bella, jangan menangis... dapatkah kita bertemu?"


Bella masih diam membisu, hanya tangisan saja yang dapat di dengar oleh Topan.


"Bella, aku minta maaf," Ucap Topan lagi.


Masih tanpa jawaban, hanya isak tangis yang semakin terdengar pilu.


"Kamu dimana? Katakan kepadaku. Aku akan kesana," Ucap Topan.


"Untuk apa kamu menghubungi aku? Bukankah tugas mu memenjarakan daddy sudah selesai?" Tanya Bella di sela isak tangis nya.


"Bella aku..."


"Kamu tidak mencintai aku kan? Apa yang kamu ucapkan semua bohong. Kamu hanya bertugas, tidak lebih! Kamu menipu kedua orangtuaku dan kamu permainkan perasaanku!"


"Bella, kamu pasti ingat apa yang pernah aku katakan, aku mencintaimu, aku akan selalu ada untukmu, jangan lupa itu,"


"Cinta? Selalu ada? Apakah patut aku percaya? Sedangkan kamu membuat daddy di tahan dan akan terancam hukuman mati!"


"Bella, aku mohon... tolong pahami, aku benar-benar dilema. Aku hanya menjalankan tugas, Bella.... Aku tidak bisa berkhianat dengan tugas ku sendiri. Tetapi, masalah perasaan ku padamu, itu bukan salah satu bagian dari tugas ku. Aku tidak pernah berdusta atas perasaan ku padamu, Bella."


"Cukup! Cukup...! Aku tidak mau mengenal mu lagi. Siapa pun namamu, siapa pun kamu, aku tidak mau mengenal mu lagi," Tutup Bella.


Tut...! Tut..! Tut...!


Topan terdiam, ia memejamkan kedua matanya dan memijat pelipisnya yang terasa pening dengan masalah percintaan yang sedang ia jalani.

__ADS_1


"Tidak, janji tetap janji. Aku mencintaimu, dan aku berjanji akan melindungi kamu dan bu Berta. Walaupun harus mengemis, aku akan mengemis maaf padamu. Agar kamu bisa bersama ku lagi," Batin Topan.


__ADS_2