Masteng

Masteng
90. Perdebatan


__ADS_3

"Dari mana saja kamu!" Pertanyaan dengan nada membentak terdengar dari ruang tamu yang gelap, saat Topan baru saja memasuki rumah orangtuanya.


Topan menyalakan lampu ruang tamu dan mendapati Amoroso yang duduk di sofa ruang tamu berwarna cokelat tua tersebut.


Topan membuang pandangannya dan menghela nafas panjang.


"Dari pagi, hingga pukul dua belas malam, kamu baru pulang?"


Topan menatap Amoroso dan berjalan mendekati bapak kandungnya itu. Lalu, ia meletakkan tas miliknya di atas meja dan duduk dihadapan Amoroso.


"Aku ada urusan sendiri pak," Ucap Topan.


"Urusan? Urusan apa? Kamu mengeluarkan narapidana itu hanya untuk anak narapidana itu!"


Topan menatap Amoroso dengan tatapan tidak suka. Ia mengerutkan keningnya dan matanya mulai memerah.


"Apa yang kamu harapkan dari seorang anak narapidana. Dia bukan siapa-siapa, yang ada, kamu hanya melemparkan kotoran ke wajah bapak dan ibumu!"


"Pak!"


"Diam kamu Topan! Menikahlah dengan Lestari. Tinggalkan wanita gak jelas itu. Lestari adalah wanita yang paling pantas untuk mu. Dia dokter spesialis dan juga seorang gadis yang sangat cantik, lembut dan memiliki attitude yang baik."


Topan tersenyum hambar, lalu ia beranjak dari duduknya.


"Mau kemana kamu! Bapak belum selesai!"


Topan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu ia menyambar tas nya dan melangkah menuju ke kamarnya.


"Topan!" Panggil Amoroso.


Topan bergeming, ia terus melangkah meninggalkan ruang tamu tersebut. Saat ia melintasi ruang keluarga, terlihat Erna yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar keributan di ruang tamu, antara suaminya dan anak lelakinya.


"Topan!" Panggil Erna.


Topan menghentikan langkahnya dan menatap Erna dengan tatapan yang tajam.

__ADS_1


"Kemana saja kamu!" Erna berjalan menghampiri Topan dengan wajah yang marah. Terlihat juga Amoroso menyusul Topan dan Erna ke ruang keluarga.


Topan menatap ibu dan bapaknya itu dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


"Topan!" Panggil Amoroso.


"Sudah pak," Pinky yang baru saja keluar dari kamarnya pun mencoba menenangkan Amoroso.


"Tidak bisa! Anak itu harus diberikan pelajaran!" Amoroso berjalan cepat kearah Topan, dan menarik baju anak laki-laki nya itu.


Topan menghentikan langkahnya dan menatap Bapaknya yang terkenal sangat keras dan disiplin tersebut.


Plakkkkkk!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Topan. Topan bergeming, ia terus menatap kedua mata Amoroso yang terlihat begitu emosi kepada dirinya.


"Kamu! Kamu benar-benar anak durhaka dan kurang ajar!"


"Pak! Sudah!" Jerit Pinky.


"Ingat pak, bapak kurang sehat..." Ucap Pinky dengan nada suara yang sangat memohon.


"Aku bukan anak kecil lagi pak. Aku lelaki, aku yang memilih siapa yang pantas menjadi pendampingku. Aku tidak peduli dengan masa lalu seseorang, siapa dia dan bagaimana jalan hidupnya. Selama dirinya manusia, dia berhak untuk dicintai dan mencintai!" Ucap Topan dengan sorot mata yang menantang Amoroso.


Amoroso memegangi dadanya yang terasa nyeri. Ia benar-benar terkejut dengan ucapan Topan yang begitu menyakiti hatinya.


"Topan, kamu saya didik dan saya sekolahkan hingga kamu bisa menjadi seperti ini. Begini kah balasan mu? Setidaknya kamu menuruti orangtuamu untuk hidup mu yang lebih baik. Tidak satupun orangtua yang ingin anak nya salah memilih jodoh!"


"Apa menurut kalian semua Lestari itu pantas buat ku? Apakah dia lebih baik dari pada Bella! Bella di didik dengan baik oleh kedua orangtuanya. Hingga aku jatuh cinta dengan personal dirinya. Sedangkan Lestari, gadis itu arogan dan tidak tahu malu!"


"Diam kamu!"


"Diam? Apakah seorang lelaki harus diam saja saat dirinya di paksa menikahi gadis yang tidak ia cintai? Sedangkan gadis yang dia cintai harus ia tinggalkan demi gadis yang arogan?"


"Arogan dari mana?" Tanya Erna.

__ADS_1


"Lestari tidak seperti yang kalian pikirkan. Walaupun pendidikan nya tinggi dan dia adalah seorang dokter spesialis, nyatanya tidak menjamin attitude nya!"


"Tahu apa kamu tentang Lestari?" Tanya Amoroso.


"Aku sudah bertemu dan berdebat dengan nya sebelum kalian mengenalkan aku dengan nya. Pribadinya tidak menarik sama sekali. Arogan dan selalu menyalahkan orang lain atas kesalahan nya sendiri. Ok lah, dari segi pendidikan dan keluarganya tidak mengecewakan. Tetapi, yang akan aku nikahi adalah pribadinya. Apa kalian cukup mengenal pribadi dia? Yang kalian kenal hanya keluarganya saja!"


Erna, Amoroso dan kedua adik Topan terdiam.


"Mobil di garasi itu, di serempet oleh Lestari beberapa hari yang lalu. Dia memarahi saya dan mengatakan hal-hal yang tak baik. Saya tidak suka wanita seperti dirinya. Walau secantik apa pun dia, pribadinya membuat nilai dirinya turun drastis dimata saya. Kesan pertama saja saya langsung merasa muak dengan nya. Lalu, kalian menyuruh saya menikahi dia? Tidak akan. Saya lelaki, restu tidak penting bagi saya. Apa yang menjadi pilihan saya, sampai mati pun akan saya perjuangkan. Bukan kah begitu yang bapak ajarkan kepada saya?"


Amoroso tercenung mendengar ucapan Topan yang begitu menampar dirinya.


"Saya mau istirahat, selamat malam," Ucap Topan. Lalu, ia memasuki kamar nya dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


Erna berjalan menghampiri Amoroso dan mencoba menenangkan Amoroso yang mulai terlihat sulit bernapas. Sedangkan Pinky, gadis itu mencoba mencari alat kesehatan dan obat-obatan milik Amoroso di dalam kamar orangtuanya. Sedangkan Guntur, adik lelaki Topan tersebut masih mematung, menatap pintu kamar Topan yang tertutup rapat.


Sebagai sesama lelaki, dengan usia yang masih muda, perkataan Topan sangat masuk diakal Guntur. Tetapi, bagaimanapun, dirinya tetap tidak bisa membela kakak lelakinya itu. Ia tahu, Amoroso sangat keras dan tidak terbantahkan. Siapa saja akan menghindari perdebatan dengan Amoroso. Termasuk rekan-rekan kerjanya.


Pinky datang dengan membawa alat kesehatan dan obat-obatan. Wajah nya terlihat panik saat wajah Amoroso sudah terlihat sangat pucat.


"Guntur! Jangan diam saja! Ambilkan minum untuk bapak!" Teriak Pinky.


Guntur tersadar dari lamunan nya, lalu ia menghampiri Pinky dengan wajah yang terlihat bodoh.


"Apa?"


"Ambilkan air minum! Kamu ini kenapa sih! Bengong saja dari tadi..!"


Guntur mengangguk paham dan berlari kearah dapur untuk mengambil air minum untuk Amoroso.


"Pak...! Pak..!" Panggil Erna disela tangisan nya.


Topan yang mendengar keributan di ruang keluarga, hanya bisa menyenderkan punggungnya ke daun pintu kamarnya. Lalu, ia memejamkan kedua matanya dengan perasaan yang sangat merasa bersalah. Tetapi, ia tidak merasa menyesal, karena sudah menjadi tugasnya untuk mengemukakan pendapat dan apa mau nya di hadapan kedua orangtuanya.


Topan terus mendengarkan kondisi di ruang keluarga. Hingga akhirnya kondisi kembali tenang. Amoroso kembali baik-baik saja. Beruntung karena Pinky yang bisa menangani Amoroso.

__ADS_1


Topan menghela nafas lega, lalu ia melangkah menuju ke ranjangnya dan melepaskan penat nya dengan merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu.


__ADS_2