Masteng

Masteng
31. Dasar penghianat!


__ADS_3

"Jo... Paijo...!" Panggil Pongki yang sedang berdiri di depan pintu kamar Topan. Topan yang baru saja melaksanakan sholat Isya, bergegas membukakan pintu kamarnya.


"Eh, pak boss," Sapa nya seraya tersenyum canggung.


"Kopi Jo.." Ucap Pongki, tanpa merasa sungkan sedikitpun kepada Topan.


"Oh, ngeh pak," Sahut Topan seraya melipat sajadah nya.


"Kamu mau sholat?" Tanya Pongki.


"Baru selesai pak,"


"Wah, saya mengganggu dong ya?"


"Tidak pak, kan sudah selesai," Ucap Topan seraya tersenyum dan meletakan sajadah nya di tepi ranjang.


Berbicara dari hati ke hati bersama Topan, kini menjadi candu bagi Pongki. Entah mengapa, ia selalu ingin mendatangi Topan ke kamar anak muda tersebut. Mungkin juga, karena sosok Topan sebagai Paijo, sangat menarik dan nyambung di ajak berbicara oleh Pongki.


"Tidak saya sangka, anak muda seperti kamu, taat beribadah," Ucap Pongki saat Topan akan beranjak ke dapur.


Topan tersenyum dan menundukkan wajahnya.


"Saya salut dengan mu Paijo, saya saja..... hmmmmm.. sudah sangat jauh dari Tuhan," Ucap Pongki.


Topan kembali tersenyum, lalu ia menatap wajah Pongki yang terlihat malu kepada dirinya.


"Tenang pak, meskipun pak boss merasa sangat jauh, tetapi Tuhan tetap di samping pak boss kok. Kalau begitu, saya buatkan kopi dulu ya pak boss.." Ucap Topan.


Pongki terdiam mendengar ucapan Topan, lalu ia menatap Topan dengan seksama dan tersenyum kepada Topan.


"Ya.." Sahut nya.


Topan pun meninggalkan kamarnya dan bergegas menuju ke dapur. Sedangkan Pongki , terus mencerna kata-kata yang baru saja Topan lontarkan kepada dirinya.


"Tenang pak, meskipun pak boss merasa sangat jauh, tetapi Tuhan tetap di samping pak boss kok."


Kata-kata itu terus terngiang di telinga Pongki. Ia benar-benar merasa malu dengan dirinya sendiri.


Tidak berapa lama, Topan muncul dengan dua gelas kopi di dalam gelas yang ia bawa. Lalu, ia meletakkan nya di hadapan Pongki yang terus menatap dirinya.

__ADS_1


"Jo, saya bingung mau ngapain. Anak dan istri saya sedang berlibur. Bagaimana kalau kamu mengajarkan saya mengaji," Ucap Pongki sambil tersenyum tulus.


Topan terperangah, ia tidak menyangka bila Pongki mengatakan hal itu kepada dirinya.


"Mengaji?" Tanya Topan. Ia memastikan ucapan Pongki, agar ia yakin bila benar adanya Pongki meminta dirinya untuk mengajarkan lelaki paruh baya itu untuk mengaji.


"Iya, kamu bisa mengaji kan?"


"Bi-bi-bisa sih pak boss." Sahut Topan.


"Ya sudah, ajarkan saya. Saya bukan tidak bisa mengaji. Tetapi, sudah sangat lama saya vakum mengaji. Mungkin, sejak saya menikah dengan nyonya. Jadi, mungkin saya ada kesalahan dan alpa. Tolong di ingatkan dan di perbaiki."


Topan terus menatap Pongki yang terlihat sangat bersungguh-sungguh.


"Ya.. saya tahu apa yang ada di pikiran mu. Saya bukan imam yang baik untuk istri saya yang mualaf, serta anak saya satu-satunya. Mungkin, sudah saatnya saya berhenti mengejar duniawi. Saya sudah tua, dan harusnya kembali memikirkan akhirat," Sambung Pongki.


"Jadi bagaimana Jo?"


"Ah... hmmmmm," Pertanyaan Pongki membuyarkan lamunan Topan akan sosok Pongki itu sendiri.


"Ba-ba-baik pak boss," Sahut Topan, seraya bergegas meraih kitab suci Al-Qur'an yang berada di atas meja di kamarnya.


Malam itu, Topan mengajarkan Pongki tang sudah lama tidak mengaji. Hingga perlahan, Pongki mulai kembali lancar membaca ayat-ayat suci yang tertulis di dalam kitab suci Al-Qur'an tersebut.


...


Suara musik disko melantun dengan keras di sebuah villa pribadi milik seorang teman Frans yang menetap di Pulau Dewata. Mereka sedang mengadakan acara pesta untuk menghabiskan malam minggu mereka. Terlihat Frans, dengan santai meneguk minuman keras yang diracik oleh seorang bartender yang betugas pada pesta tersebut. Sedangkan disamping Frans, terlihat seorang gadis berambut pirang, dengan pakaian yang sexy, sedang bergoyang menikmati lantunan musik yang begitu memekakkan telinga.


Gadis itu terus berada di samping Frans. Gadis bernama Erna tersebut memang kekasih Frans yang lain, selain Bella dan gadis yang lain nya. Frans sengaja mengajak Erna untuk menghabiskan waktu dan uang yang baru saja ia terima dari Bella, di Bali. Ia sengaja jauh-jauh mengajak Erna ke Bali. Agar, ia dapat bersembunyi dari Bella. Siapa sangka, bila semua orang yang memiliki mata di keramaian, salah satunya adalah orang yang dapat mengenali dirinya dan juga mengenal Bella. Walaupun sejauh apa pun Frans terbang, serapi apa pun rahasia yang ia simpan, pada akhirnya akan terkuak, di sengaja ataupun tidak disengaja.


"Babe, yuk joget..." Rengek Erna sambil menarik lengan Frans yang baru saja menghabiskan minuman keras di gelas ketiganya.


"Yuk lah," Sahut Frans. Lalu, mereka berdua berjoget di tepi kolam renang. Acara tersebut memang mengusung konsep pool party. Dimana, siapa pun bebas bersenang-senang dengan memakai bikini atau pun berenang dan berbuat apa pun sesuka mereka. Tidak semua anak muda yang setuju dengan gaya pergaulan yang seperti ini. Sebagian hanya menikmati, atau hanya menghadiri karena merasa tidak enak karena sudah di undang. Sebagian lagi, merasa wajib untuk hadir, karena bersenang-senang adalah merupakan gaya hidup mereka, dan sebagian lagi, gaya pergaulan seperti ini, memang bukan menjadi selera pergaulan mereka. Semua tergantung dengan siapa dan seperti apa pergaulan yang di pilih.


Frans memeluk pinggang Erna begitu erat. Bibir mereka saling bersentuhan, hingga Frans begitu larut dalam suasana yang begitu panas diantara mereka. Sedangkan yang lain nya, melihat itu semua sudah tidak asing lagi bagi mereka. Sebagian dari mereka juga melakukan hal yang sama di dalam acara tersebut.


Di luar Villa, terlihat dua buah mobil menghentikan lajunya tepat di luar pagar Villa tersebut. Di susul keluar nya supir dan penumpang yang berada di mobil tersebut.


Terlihat Berta, Bella, Noel, dan Satrio dari mobil sedan pertama. Lalu, disusul oleh Agung dan kawan-kawan nya dari mobil kedua yang berjenis minibus. Mereka beranjak mendekati gerbang Villa tersebut dan di cegat oleh seorang seorang yang bertugas menjaga Villa tersebut, selama acara berlangsung di dalam Villa itu.

__ADS_1


"Selamat malam, apakah ada undangan nya?" Tanya petugas yang keamanan di Villa itu, sambil menatap Berta dan kawan-kawan nya dengan tatapan yang menyelidik.


"Ada," Sahut Agung. Lalu, ia mengeluarkan lencana nya dan menunjukkan kepada petugas keamanan Villa tersebut.


Petugas keamanan tersebut pun terperangah, lalu ia memberikan hormat kepada Agung.


"Maaf pak, ada apa ya?" Tanya petugas keamanan tersebut.


"Mbak ini akan menemui kekasihnya dan juga tersangka penipuan yang ada di dalam." Sahut Agung.


"Apakah ada surat perintah nya pak?" Tanya petugas keamanan tersebut.


"Ada," Sahut Agung. Ia mengeluarkan sebuah kertas dari kantung jaket nya, dan memberikan nya kepada petugas keamanan tersebut.


Petugas itu, meraih surat tersebut dan membaca nya dengan teliti. Lalu, dengan pasrah ia mempersilakan Agung dan yang lain nya untuk sejenak menghentikan acara yang sedang ia jaga.


Di dampingi oleh petugas keamanan tersebut, Agung dan kawan-kawan, memasuki Villa yang megah tersebut. Lalu, mereka di sambut oleh sang pemilik Villa.


Sang pemilik Villa bernama Edward, sempat merasa terkejut dengan kehadiran orang-orang yang tidak di undang oleh nya. Tetapi, setelah mereka berkomunikasi beberapa saat. Akhirnya, Edward pun bersedia mengizinkan Agung dan kawan-kawan untuk masuk ke area kolam renang yang menjadi tempat mereka berpesta.


Dari jauh, di tepi kolam, Bella melihat dengan mata kepalanya sendiri, bila Frans sedang asik bermesraan dengan wanita lain. Emosi dan perasaan di khianati pun langsung memuncak. Ia beranjak mendekati Frans dan wanita di dalam pelukan kekasih nya itu. Lalu, ia mendorong mereka berdua, hingga terjatuh di dalam kolam renang tersebut.


"Penghianaaaaattttttt...!" Hardik Bella.


Frans dan Erna terkejut, mereka berusaha untuk timbul di permukaan air kolam dan melihat siapa pelaku yang sudah mendorong mereka dan meneriakkan kata "Penghianat" Kepada mereka.


Saat itu juga, Frans terkejut melihat Bella yang berdiri di tepi kolam sambil menatap dirinya dengan mata yang memerah penuh amarah.


"Keluar kau bajingan!" Pekik Bella.


"Be-be-bella..!" Seru Frans.


"Kenapa? Lu gak nyangka ya, gue bisa sampai disini? Lu pikir gue bodoh! Kembalikan semua yang pernah gue berikan kepada lu! Dasar pengangguran! Penipu! dan buaya!"


"Be-be-bella, semua tidak seperti yang kamu lihat! Aku... "


"Keluar lu bangsattttt..!"


"I-i-iya..."

__ADS_1


Dengan pasrah, Frans keluar dari kolam renang tersebut.


__ADS_2