
Suasana di ruang makan, begitu canggung pada pagi ini. Di hadapan Pongki, terdapat dua wanita yang paling ia cintai di dalam hidupnya. Yaitu, Berta dan Bella yang tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Bahkan, mengucapkan selamat pagi pun tidak.
"Kami mau ke Bali, nanti siang," Ucap Berta.
Pongki mengerutkan keningnya, lalu ia menatap Bella dan Berta yang terlihat acuh kepada dirinya.
"Mengapa mendadak sekali?" Tanya Pongki.
"Tidak mendadak, kami sudah merencanakan nya kemarin," Ucap Berta.
"Aku tidak diajak?" Tanya Pongki.
Bella melirik Pongki, sedangkan Berta meraih gelas yang berisi air putih di sampingnya, lalu ia meneguk air putih tersebut hingga meninggalkan setengah gelas di dalam gelas itu.
"Daddy tidak diajak Bella?"
Bella bergeming, lalu ia menyudahi sarapan nya dan bergegas kembali ke kamarnya.
"Bella!"
"Bella!"
Bella terus mengabaikan panggilan Pongki, hingga ia menghilang dari pandangan Pongki.
Pongki menghela nafas panjang. Ia sedikit merasa kesal kepada Bella. Tetapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia paham, bila Bella saat ini sedang marah kepada dirinya.
"Berapa lama kalian di Bali?" Tanya Pongki.
"Seminggu," Sahut Berta.
"Lama sekali..!"
"Lama? Apa kabar saat kamu meninggalkan aku dengan alih-alih keluar negeri, ternyata kawin lagi? Berapa bulan kamu meninggalkan aku dengan Bella?"
Pongki terdiam mendengar ucapan Berta.
"Jangan manja Pongki, mau berbulan-bulan pun aku pergi, aku tidak akan menikah lagi dengan siapa pun."
"Hmmmm... bu-bukan seperti itu Be-berta.."
Berta beranjak dari duduknya dan bergegas meninggalkan ruangan makan tersebut. Kini, tinggallah Pongki sendiri di meja tersebut. Terdiam, merenungi kesalahan nya selama ini kepada anak dan istrinya.
Tak berapa lama, Pongki menyusul ke kamar. Ia memandangi Berta yang sedang sibuk memasukan pakaian yang akan dia bawa ke Bali, kedalam kopernya yang berukuran sedang.
Tanpa kata, Pongki mendekati Berta, dan memeluk Berta dari belakang, dengan erat. Berta terdiam, entah mengapa, ada perasaan sesak di dadanya saat Pongki memeluk dirinya. Antara rasa benci dan cinta, yang sedang bertarung untuk saling mengalahkan, seakan berkecamuk di dadanya.
"Tolong lepaskan pelukan mu, aku tidak bisa bernafas," Ucap Berta.
Pongki bergeming, ia terus memeluk Berta dengan rasa hati yang bercampur aduk.
"Pongki.."
Pongki masih diam saja, ia tidak mempedulikan ucapan Berta.
"Pongki!" Kali ini Berta membentak Pongki. Namun, Pongki tak kunjung melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Lepaskan!" Berta meronta dan berusaha melepaskan tangan Pongki yang melingkar di perutnya.
Pongki melepaskan pelukannya dan menatap Berta sambil tersenyum.
"Hati-hati ya.." Ucap nya seraya mengecup kening Berta dengan lembut. Lalu, ia berjalan menuju ke meja rias, lalu meletakkan kartu kredit miliknya di atas meja rias tersebut.
"Pakai kartu ini, jangan pakai uang mu. Kamu dan Bella liburan, itu termasuk tanggung jawab ku." Ucap nya. Lalu, Pongki beranjak keluar dari kamar tersebut dan bergegas meninggalkan rumah tersebut, untuk pergi ke kantor nya.
"Pagi pak boss," Sapa Topan, saat dirinya melihat Pongki keluar dari dalam rumah tersebut.
"Pagi," Sahut Pongki, sambil melemparkan senyum nya kepada Topan.
Lalu, Pongki beranjak masuk kedalam mobil tersebut dan pergi meninggalkan rumah itu.
Setelah Pongki pergi, Topan tersenyum penuh arti.
Pagi-pagi sekali, Topan yang sedang berolahraga di depan kamarnya, di minta oleh supir senior, yang merupakan supir pribadi Pongki, untuk mencuci mobil milik Pongki. Maksud hati ingin berbuat semena-mena kepada supir junior, supir Pongki tidak menyadari, bila itulah saat yang di tunggu-tunggu oleh Topan. Topan pun langsung menyanggupi untuk mencuci mobil Pongki.
Kunci mobil pun diserahkan kepada Topan. Tidak lupa, Topan langsung mengambil alat sadap nya yang akan ia pasang di mobil Pongki.
Topan memasang alat sadap tersebut tepat di bawah kursi penumpang, dimana Pongki selalu duduk disana. Topan berusaha setenang mungkin, walaupun tidak jauh darinya, ada seorang bodyguard yang terus mengawasi dirinya. Setelah ia memasang alat penyadap, ia juga memasang alat GPS di bawah mobil Pongki. Semua itu bertujuan untuk mencari tahu, kemana saja Pongki pergi, dan tidak menutup kemungkinan, dengan alat itu, Topan dan team nya dapat melacak dimana pabrik barang haram tersebut berada.
Topan memeras kanebo basah yang sedang ia pegang, lalu ia bergegas kembali ke kamarnya.
Saat Topan tiba di kamarnya, ia pun langsung menghubungi team nya, melalui pesan singkat.
Clear
Lalu, ia mengirim pesan tersebut ke nomor salah satu team nya.
.
Seorang petugas menerima pesan singkat dari Topan, lalu ia segera membaca pesan tersebut.
"Kita bergerak! Lacak mobilnya segera, dan ikuti dia!" Perintah nya kepada beberapa orang rekan nya.
"Siappp!" Seru mereka.
...
Tepat pukul 10 pagi, Bella dan Berta beranjak menuju ke beranda rumahnya. Di belakang nya terlihat dua orang asisten mengiringi ibu dan anak tersebut, dengan koper di tangan mereka.
"Paijoooooo...." Panggil Berta, saat ia tiba di beranda rumah nya.
Terlihat Topan yang sedang duduk di pos kedua, langsung bergegas menghampiri Bella dan Berta.
Bella melihat Topan yang sedang berjalan menghampiri dirinya dan Berta pun terperangah, hingga ia menurunkan kaca mata hitam nya hingga ke cuping hidung nya.
"Paijo?" Gumam nya, seraya terus menatap Topan yang semakin mendekat.
"Gimana gaya Paijo sekarang? Keren kan?" Bisik Berta.
Bella bergeming, ia terus menatap Topan dari atas hingga ke bawah.
Pagi ini, Topan memakai celana jeans panjang, berwarna deep blue, serta kaos berlengan pendek berwarna putih dan sepatu sneaker, juga topi yang berwarna senada dengan kaos nya. Topan terlihat sangat luar biasa dimata Bella. Kini, terlihat jelas otot lengan Topan yang biasa tersembunyi dibalik kemeja berukuran XXL berlengan panjang, yang biasa Topan pakai, semenjak Topan bekerja di rumah Bella.
__ADS_1
"Pagi kanjeng mami dan non Bella." Sapa Topan saat ia baru saja menghentikan langkahnya di depan kedua wanita tersebut.
"Pagi Paijo.., antar kan kami ke bandara ya," Pinta Berta.
"Siap kanjeng mami," Sahut Topan seraya tersenyum ramah kepada Berta. Lalu, ia melirik Bella yang masih terpana menatap dirinya.
"Pagi non," Sapa Topan.
Lidah Bella terasa kelu, ia merasa terpaku dan tak bisa menggerakkan anggota tubuh nya.
"Bella, kamu kok diam saja di sapa sama Paijo?"
Bella mengerjapkan kedua matanya saat Berta menegurnya dan menyenggol lengan nya.
"Ah.. hmmm.. iya.." Bella terlihat salah tingkah.
Lalu, ia kembali menatap Topan yang sedang membuka bagasi mobil nya. Tersingkap sedikit otot di lengan atas Topan yang membuat jantung Bella berdegup kencang.
"Sini kopernya," Ucap Topan kepada kedua asisten yang sedang memegang koper milik Berta dan Bella.
"Kamu kenapa sih? Kaget ya lihat Paijo?" Berta dengan nada suara yang meledek.
"Gak, gak kenapa-kenapa kok mam.. Ah... enggak kok, biasa saja," Ucap Bella.
"Alah..." Berta tertawa dan beranjak masuk kedalam mobil tersebut.
Bella kembali melirik Topan yang baru saja menutup pintu bagasi. Lalu, ia berusaha untuk biasa saja dan menyusul Berta masuk kedalam mobilnya.
"Astagaaaa! Kenapa dia lebih keren dari pada di dalam foto kemarin," Batin Bella.
"Sudah siap kanjeng mami dan non Bella?" Tanya Topan yang baru saja duduk di balik kemudinya.
"Sudah kok," Sahut Berta.
"Kamu?" Tanya Berta kepada Bella yang terus menatap Topan dari belakang lelaki itu.
"Ah..." Bella tampak terkejut saat Berta merusak lamunan nya yang terpaku saat menatap sosok Paijo dalam versi yang baru.
"Apa tadi?" Tanya Bella.
"Ada yang ketinggalan tidak?" Tanya Berta.
"Tidak," Sahut Bella seraya menatap kedua mata Topan yang terlihat jelas dari pantulan cermin spion tengah di mobil tersebut.
"Ok, kita jalan ya," Ucap Topan.
"Iya," Sahut Bella.
"Eh, kenapa suaranya juga terasa berbeda ya? Kenapa kali ini terasa lebih ngebass dan terdengar laki banget!" Batin Bella lagi.
Bella kembali menatap kedua mata Topan yang kebetulan sedang melirik dirinya dari pantulan cermin spion. Beberapa detik, mereka bertemu pandang, sebelum Topan kembali menatap kedepan.
"Astagaaaaaa...! Kenapa si Masteng mulai meresahkan!!!!!!... Ada apa ini? Ya Allah! Dia operasi plastik apa di make over sih? Kenapa bisa kayak begini! Gila ini mah! Masa dia lebih tampan dari pada Frans? Eh... bukan, Frans tetap lebih tampan dari pada si Masteng kampungan dan katrok ini!" Bella menggelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk tidak melirik Topan lagi, dari pantulan cermin. Tetapi, matanya tidak bisa ia kendalikan, Bella tetap melirik lelaki yang tidak lagi senorak yang selama ini ia lihat.
"Duh..! Mata gue benar-benar deh! Mata kurang ajar!" Bella memasang kembali kaca mata hitam nya dan membuang pandangannya ke luar jendela.
__ADS_1