
Ditengah-tengah persiapan pernikahan antara Topan dan Bella, ada satu rencana lain yang tengah di susun oleh Topan dan adik-adiknya. Setelah perbincangan yang panjang, akhirnya adik dan kakak itu sepakat untuk menjodohkan Erna dan Galang. Bukan karena tidak menghargai almarhum bapak mereka. Hanya saja, apa yang tertulis di surat wasiat menandakan bila Amoroso memang benar-benar menyerahkan Erna kepada Galang yang selama ini menanti erna tanpa ada rasa lelah dihatinya.
Hari ini, keluarga Topan dan keluarga Bella sedang berlibur bersama di sebuah villa di pinggir Kota Jakarta. Villa mewah dengan banyak kamar tersebut sengaja di pesan oleh Topan untuk menghabiskan waktu bersama dengan calon istri dan juga keluarganya. Disamping itu, mereka ingin melepas stress sejenak, karena waktu pernikahan yang sudah tinggal satu bulan lagi, sudah pasti begitu banyak pikiran yang memenuhi kepala kedua keluarga dan calon pengantin tersebut.
Bella, Berta, Erna dan kedua adik Topan Pinky dan Guntur, terlebih dahulu pergi ke villa itu. Sedangkan Topan berjanji akan menyusul, setelah pekerjaan nya selesai nanti malam.
Dalam satu bulan ini, Erna sudah dekat dengan Berta. Terkadang, tak jarang mereka saling menceritakan masalah pribadi mereka. Sebagai sesama wanita yang sudah tidak memiliki pasangan lagi. Ya, Berta kini bagaikan tidak memiliki pasangan, karena dirinya harus hidup dengan mandiri. Tak jarang juga, mereka berdua keluar mencari hiburan bersama dengan anak-anak mereka. Benar-benar sudah seperti keluarga yang sangat kompak. Tidak ada lagi perasaan tidak enak dan tidak ada lagi hal yang mengganjal di batin masing-masing. Mereka sudah benar-benar seperti layaknya dua orang sahabat baik.
"Bagus ya villa nya jeung," Ucap Berta saat dirinya menyusul Erna yang tengah duduk di taman belakang villa itu. Terlihat juga Pinky, Guntur dan Bella sedang memanggang jagung untuk mereka nikmati pada sore hari ini.
"Iya jeung. Tenang suasananya ya.."
"Iya.." Sahut Berta yang beranjak duduk disamping Erna.
"Hmmm, bagaimana kabar bapak Pongki Jeung?" Tanya Erna berbasa-basi.
"Alhamdulillah baik, tapi untuk sementara dia tidak mau di jenguk dulu. Katanya bulan depan saja. Saat Bella dan Topan menikah." Wajah Berta terlihat murung saat membicarakan Pongki.
Erna menghela nafas panjang dan menatap Berta dengan seksama.
"Bagaimana bila menikah siri dulu Jeung?"
Degggggg!
Berta tidak menyangka bila Erna menyarankan hal itu kepada dirinya.
"Maksudnya?" Tanya Berta.
"Saya rasa, bapak Pongki sedang bersedih. Sudah pasti dia sangat menginginkan menikahkan putri semata wayangnya. Tidak kuta atau orang lain, sudah pasti punya cita-cita ingin menikahkan anak nya sendiri."
Berta terperangah dan terus menatap Erna dengan seksama.
"Jeung, saya rasa itu tidak pantas untuk Topan yang seorang abdi Negara."
"Tidak ada yang tidak pantas untuk cinta Jeung,"
Berta benar-benar terharu saat mendengar Jawa dari Erna.
"Andaikan itu dilaksanakan, bagaimana caranya jeung?" Tanya Berta.
__ADS_1
"Itu gampang, saya mengerti bagaimana caranya. Yang terpenting adalah, jeung Berta bersedia terlebih dahulu. Juga, biar kita tidak risih juga membiarkan Topan dan Bella pergi berdua, saat mempersiapkan pernikahan mereka."
Berta hampir saja menangis mendengar ucapan Erna. Ia sekuat tenaga menahan air matanya yang hampir saja terjatuh.
"Jangan khawatir jeung, Topan tidak akan meninggalkan Bella. Mereka pasti akan menikah resmi setelah menikah dibawah tangan. Nanti, di hari pernikahan mereka tinggal simbolis saja. Sebagaimana normalnya kita melaksanakan pernikahan anak-anak kita yang bertujuan untuk memberitahukan kepada khalayak bila anak kita sudah resmi menikah."
"Jeung... ya Allah.." Akhirnya air mata tidak dapat Berta tahan lagi. Ia menangis di hadapan Erna yang sangat bijak sebagai seorang besan dan juga sahabat baginya.
"Biar kuta atur ya Jeung. Sekalian kita sekeluarga ke Nusakambangan. Saya gang atur segalanya." Janji Erna.
"Iya jeung, nanti malam kita bahas sama anak-anak ya jeung." Berta terlihat sangat bersemangat.
Erna mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia mengusap punggung Berta yang sedang menghapus air matanya.
"Kalau bisa lebih cepat lebih baik jeung. Kita tidak tahu, seperti apa impian bapak Pongki. Sudah pasti dia tidak mau berterus terang untuk mengutarakan niat dan cita-citanya. Tetapi, saya sebagai besan juga harus mengerti. Saya dan pak Pongki sama-sama orangtua. Sudah pasti kami mempunyai impian yang sama jeung," Ucap Erna.
"Iya jeung, terima kasih... terima kasih banyak," Raut wajah Berta begitu berseri dan bersemangat. Lalu, mereka berdua kembali menatap Bella, Pinky dan Guntur yang sedang tertawa bersama, entah sedang membahas hal lucu seperti apa.
...
Pesawat yang ditumpangi Galang, sudah mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, di Cengkareng. Pria paruh baya yang masih terlihat sangat gagah itu, beranjak keluar dari terminal kedatangan domestik. Ya, dirinya di undang oleh Topan untuk datang ke Jakarta. Disela kesibukan nya, Galang menyempatkan dirinya demi memenuhi permintaan dari anak semata wayangnya, yaitu Topan Alexander.
Galang memakai kacamata hitam dengan model wrap around, yang terlihat sangat cocok dengan bentuk wajah yang dimiliki oleh Galang. Galang juga memakai celana panjang dengan potongan regular fit jeans, kemeja slim fit berwarna putih dan sepatu kulit berwarna hitam shine. Sungguh penampilan yang sangat luar biasa dimata Topan.
Topan benar-benar tidak menyangka bila ayah kandungnya itu memiliki selera busana yang luar biasa, tidak kolot dan sangat fashionable. Ditambah dengan tubuh Galang yang tidak pernah berubah dari masa ke masa. Galang tetap memiliki tubuh yang ideal, tidak membuncit dan tetap terlihat sangat rutin berolahraga.
"Assalamualaikum ba," Sapa Topan.
"Waalaikumsalam, anak ku, apa kabar kamu? Ada apa baba dipaksa untuk kemari?" Tanya Galang.
"Sebentar, sebelum saya menjawab pertanyaan baba, saya boleh tanya sesuatu?" Tanya Topan.
"Silahkan, ada apa?" Galang melepaskan kaca mata hitamnya dan menegakkan koper miliknya tepat di samping dirinya yang berdiri di hadapan Topan.
"Baba kok keren banget ya..? Gayanya seperti sugar daddy," Celetuk Topan.
Galang tertawa geli dan menggandeng bahu Topan. Sambil berjalan, ia terus tersenyum menatap Topan.
"Mau tua nya seperti baba?" Tanya Galang.
__ADS_1
"Mau lah!" Seru Topan dengan bersemangat.
"Rajin olahraga, stop merokok, jaga pola tidur dan pola makan. Positif thinking dan beribadah tepat waktu."
Topan mengerutkan keningnya.
"Oh iya, jangan lupa rajin-rajin lihat perkembangan fashion," Imbuh Galang.
"Waduh berat nih," Topan menepuk dahinya.
"Memang berat, tapi kamu tahu tidak mengapa baba lakukan ini?"
Topan menggelengkan kepalanya.
"Alasan baba, karena baba ingin terlihat tidak berubah sama sekali kala bertemu kembali dengan ibumu." Galang tersenyum getir.
"Oh ya?" Tanya Topan dengan ekspresi wajah yang tak percaya.
"Ya, baba tidak ingin ibumu melihat baba hancur. Baba ingin saat pertemuan kami, baba masih ganteng, tidak botak, tidak buncit dan tidak menggelambir."
Topan tertawa geli menanggapi ucapan Galang.
"Ini benar anak muda. Soalnya baba pernah berjanji kepada ibumu, baba tidak akan merusak diri sendiri walaupun baba hancur dalam penantian. Baba ingin dia melihat baba dengan tatapan yang bangga. Baba sukses, baba tidak terlihat buruk dimata ibumu, hanya itu yang dia inginkan sebelum perpisahan kami terjadi."
Topan terdiam, ia benar-benar merasakan cinta sejati itu memang ada. Galang benar-benar memegang segala janjinya yang pernah terucap kepada Erna. Tanpa memikirkan apakah nantinya dirinya bisa bersatu atau tidak dengan Erna sang pujaan hati.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu meminta baba datang?" Tanya Galang lagi. Karena merasa pertanyaan nya sebelumnya belum di jawab oleh Topan.
"Pokoknya, baba ikut saja, ada sesuatu untuk baba, dan saya pastikan baba akan bahagia malam ini," Janji Topan.
"Wah, ada apa ini?" Galang tersenyum dan terlihat penasaran saat mendengar ucapan Topan.
"Kita lihat nanti ya ba. Pokoknya baba ikut saja," Topan tersenyum dan meraih koper milik Galang, lalu memasukkan nya kedalam bagasi mobilnya.
"Kamu jangan buat baba jantungan ya..."
"Tidak ba, tenang saja. Pokoknya baba keren malam ini."
"Apa yang direncanakan oleh bocah ku ini?" Batin Galang.
__ADS_1