Masteng

Masteng
163. Bulan madu yang indah


__ADS_3

"Ah... akhirnya.. kita kembali ke Bali sebagai suami istri," Ucap Topan seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang sebuah hotel yang telah di pesankan oleh Antok untuk dirinya dan Bella.


Bella tersenyum dan melirik Topan yang sedang menatap dirinya di atas ranjang. Lalu, ia menghampiri Topan dan ikut merebahkan tubuhnya di samping suaminya itu.


"Bang Antok baik sekali ya. Oh iya, kenapa dia bisa sama dokter Lestari?" Tanya Bella yang terlihat sangat penasaran.


"Ah.. anu... Hmmm.." Topan seperti tidak punya ide untuk menjawab pertanyaan dari Bella. Sedangkan Bella tampak membulatkan matanya dan menatap Topan dengan seksama, menunggu jawaban dari bibir suaminya itu.


"Kok bingung begitu jawab nya?" Tanya Bella lagi.


"Hmmmm, begini... Waktu pelantikan ada Lestari disana. Dia kan anak nya bapak Agus, jadi dia datang untuk memberikan selamat untuk ku. Yah... kita sudah kenal sebelumnya. Karena ibunya adalah teman satu arisan dengan ibuku," Terang Topan.


"Oh... begitu..." Bella mengangguk paham.


"Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Semoga mereka berdua jodoh, seperti kita berdua," Topan menatap Bella dan menyentuh dagu Bella dengan jarinya.


Bella tersenyum dan mengecup lembut kening Topan. Lalu ia kembali menatap Topan dengan seksama.


Perlahan Topan mulai mengecup bibir indah Bella dan memeluk istrinya itu dengan erat.


"Aku sayang banget sama kamu. Cinta banget sama kamu. Alhamdulillah kisah kita direstui oleh sang pencipta. Aku tidak bisa membayangkan bila apa yang terjadi pada baba, akan terjadi juga pada diriku."


Bella menghela nafas panjang dan semakin merapatkan tubuhnya di pelukan Topan.


"Iya mas, sudah pasti kita tidak akan sekuat mereka."


"Kalau aku pasti kuat, karena baba adalah panutan ku," Ucap Topan sambil tertawa kecil.


"Terus maksudmu aku tidak akan kuat gitu?"


"Bukan begitu, ya sudah tidak usah di bahas. Toh, kita dipersatukan oleh Allah."


"Sebentar, tidak bisa begitu, ini harus di bahas!"


"Loh kok?" Topan beranjak duduk dan menatap Bella dengan seksama.


"Jadi maksudmu, aku itu tidak akan kuat menunggu kamu gitu?"


"Ngapain menunggu, aku bawa lari saja, gitu saja kok repot!" Jawab Topan.


Bella tertegun dan menatap Topan dengan seksama.


"Toh daddy kaku sudah merestui kita. Apa yang terjadi padaku lebih mudah dari pada apa yang terjadi pada kedua orangtuaku. Aku sangat bersyukur karena itu semua. Yang jadi pembahasan, kalau.... kisah kita terjadi seperti baba dan ibu."


Bella tertawa dan menundukkan wajahnya.


"Mereka akan menikah,"


"Kata siapa?" Tanya Topan yang belum mendengar rencana pernikahan Erna dan Galang.


"Pinky tadi, saat aku packing barang-barang kita."


"Wow...! Mengapa tidak ada yang memberitahukan aku?"


"Kamu masih tertidur tadi pagi mas, kamu tampak begitu lelah. Jadi, aku tidak membangunkan kamu."


Topan tersipu mendengar ucapan Bella. Lalu ia mengusap lembut pipi Bella.


"Ya aku sedikit lelah. Karena semalam kita..."


"Husssss.." Bella tersipu malu.


"Mau lagi?" Tanya Topan sambil mengusap bibir Bella dengan ibu jarinya.


"Nanti ah mas.. Kamu ini..." Bella beranjak dari ranjang dan hendak mengganti pakaiannya. Tiba-tiba saja ia merasa pusing dan kembali terduduk di atas ranjang.


"Kamu kenapa?" Tanya Topan seraya menyambut tubuh Bella yang nyaris saja terhempas di atas ranjang.

__ADS_1


"Gak tahu nih mas, aku kok pusing sekali ya? Dari pagi rasanya lemas dan tidak enak badan."


"Kamu masuk angin barangkali. Soalnya kan jarang memakai baju," Goda Topan.


"Apaan sih...!" Bella tersenyum malu.


"Fakta kok," Topan beranjak dari duduknya dan bergegas untuk memanaskan air di alat pemanas air minum yang berada di pantry hotel berbintang lima itu.


"Mau ngapain mas?"


"Mau buat teh untuk istri tercinta. Sudah, kamu duduk saja. Kamu ratunya.. Nanti, sambil aku pijat, kamu minum teh ya... Kita duduk di balkon saja."


Bella tersenyum, lalu ia mengangguk dengan cepat.


"Iya mas, terima kasih ya.."


"Anytime sayang.." Topan mulai menuangkan air minum ke dalam teko pemanas. Lalu, ia bergegas menaruh sekantong teh dan juga menuangkan gula ke dalam gelas yang tersedia di pantry kamar itu.


Beberapa menit kemudian, Topan menuangkan air yang baru saja mendidih ke dalam gelas, dan mengaduk teh tersebut, agar gulanya tercampur dengan sempurna. Lalu ia menaruh gelas tersebut di atas meja yang terletak di balkon kamar itu. Setelah itu, ia bergegas menyusul Bella yang masih terbaring di atas ranjang.


"Teh sudah siap ratu ku, ayo kita ke balkon..."


Tidak ada jawaban dari Bella, Topan pun bergegas melihat wajah Bella yang ternyata sedang tertidur lelap.


"Yah tidur.., ya sudah. Sleep well sayang," Topan mengecup lembut kening Bella dan bergegas menyelimuti istri tercinta nya itu. Lalu ia beranjak ke balkon dan menikmati segelas teh yang seharusnya ia buatkan untuk Bella.


Topan menatap lurus ke arah pantai yang terlihat jelas dari atas balkon kamarnya.


"Pinter si Antok, dia pilih hotel yang benar-benar bagus. Benar-benar sahabat yang luar biasa," Gumam Topan.


Lalu Topan meraih ponselnya dari dalam saku celananya dan mencoba menghubungi Erna, untuk bertanya tentang rencana pernikahan ibunya itu dengan Galang.


"Halo ibu?" Sapa Topan, saat panggilan nya langsung di terima oleh Erna.


"Ya le... kamu sudah sampai Bali?"


"Sudah bu, oh iya.. ibu mau menikah dengan baba?" Topan langsung bertanya tentang maksud dirinya menghubungi ibu nya itu.


"Alhamdulillah bu, aku senang mendengar nya." Terlihat raut bahagia dari wajah Topan yang terlihat sedikit lelah.


"Terima kasih anak ku. Ibu mohon doa restu mu. Doakan, kali ini ibu tidak akan pernah terpisah lagi dengan baba mu."


"Aamiin bu..." Sahut Topan sambil tersenyum semringah.


"Oh iya le, Bella mana? Kok kamu telepon ibu? Kalian kan bulan madu, masa iya sibuk sendiri?"


"Hmmm, Bella katanya masuk angin. Dia sedang tidur bu."


"Masuk angin?"


"Iya..."


"Apa kamu yakin dia masuk angin? Pernikahan kalian sudah satu bulan lebih loh sebenarnya. Apa tidak ada niat mengecek kehamilan?"


Topan terdiam, darahnya mendesir deras di tubuhnya.


"Ke-ke-kehamilan?"


"Iyo le... bisa jadi Bella sebenarnya tidak masuk angin. Bisa jadi dia sedang mengandung anak mu. Coba di tes..."


Topan kembali terdiam. Memang benar, semenjak dirinya menikah dengan Bella, belum sekalipun dirinya absen melakukannya karena Bella sedang datang bulan. Andaikan absen pun, hanya karena Bella sedang lelah atau lembur untuk menyusun materi ujian untuk para mahasiswa nya.


"Apa iya?" Gumam Topan.


"Mumpung Bella tidur, belikan testpack toh le..."


"Gitu ya bu?"

__ADS_1


"Iyo... kamu jadi suami, harus pengertian. Kamu harus tahu kondisi istrimu, apa kebutuhan istri kamu. Ya sudah sana... belikan dia testpack."


"Oh.. iya bu... Sudah dulu ya bu, assalamualaikum..!"


"Waalaikumsalam," Sahut Erna.


Panggilan telepon itu pun diakhiri oleh Topan. Lalu ia beranjak ke kamar dan kembali menatap Bella yang sedang tertidur pulas.


"Apa iya istriku sedang mengandung?" Gumam nya lagi.


"Kalau iya, luar biasa sekali si Jhoni!" Topan tampak bersemangat, lalu ia menyambar dompetnya yang terletak di atas meja, dan langsung bergegas menuju ke apotek terdekat dari hotel tersebut.


...


Bella tersentak dari tidur lelapnya. Matanya menyapu ke seluruh ruangan kamar hotel itu, mencoba untuk mencari sosok Topan, suaminya.


"Mas?" Panggil Bella.


"Hai," Topan muncul dari arah balkon dan tersenyum kepada Bella yang sedang mengusap kedua matanya.


"Maaf, aku tertidur. Pukul berapa ini?" Tanya Bella yang masih terlihat lemas.


"Pukul enam sore," Sahut Topan.


"Astaga mas, kenapa aku tidak dibangunkan?" Bella beranjak dari ranjang dan bergegas menuju ke kamar mandi.


"Sssttt..."


Bella menoleh dan menatap Topan dengan seksama.


"Bawa ini," Ucap Topan sambil berjalan menghampiri Bella dan menyerahkan testpack kepada Bella.


"Apa ini mas?" Tanya Bella dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat polos.


"Coba di tes ya.."


Bella meraih alat tersebut dan memperhatikan bungkus dari alat tersebut.


"Tes kehamilan?" Tanya Bella dengan ekspresi wajah yang tak percaya.


"Ya,"


"Apa mas yakin?"


"Biar yakin di tes saja. Kamu kapan terakhir haid?"


"Seminggu sebelum kita menikah, sudah berhenti," Sahut Bella.


"Ya, kalau begitu... coba tes saja."


Dengan ragu, Bella mengangguk dan membawa alat tersebut bersamanya kedalam kamar kecil. Sedangkan Topan terlihat gelisah menunggu Bella yang masih berada di kamar kecil tersebut.


Di dalam kamar kecil, Bella terlihat bingung saat akan menggunakan alat tersebut. Bagaimanapun, itu adalah pengalaman pertama baginya. Bella membaca petunjuk cara menggunakan alat itu, lalu ia mencoba menampung urine nya, sama seperti apa yang tertulis didalam petunjuk alat tersebut. Setelah itu, Bella menyobek segel yang membungkus alat tes kehamilan tersebut dan mulai mencelupkan nya kedalam urine miliknya yang telah ia tampung di wadah khusus yang ia temukan dari bungkus alat itu.


Semenit, dua menit. Akhirnya muncul lah dua garis di atas alat tersebut. Bella tercengang. Ia tidak percaya dengan apa yang tengah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Bella buru-buru mengambil bungkus alat tersebut dan kembali membacanya.


"Positif?" Gumam nya.


"Maaaaaaaasssss!" Teriak Bella dari dalam kamar kecil itu.


"Ada apa? Kenapa?" Topan mengetuk-ngetuk pintu kamar kecil tersebut.


Bella membuka pintu dan menyerahkan alat uji kehamilan tersebut kepada Topan. Saat itu juga Topan terbelalak dan menatap Bella dengan tatapan tak percaya.


"Positif?" Tanya dengan raut wajah yang bahagia.


Bella mengangguk dengan bersemangat.

__ADS_1


"Alhamdulillah!" Topan langsung memeluk Bella dengan erat. Mereka berdua tampak menangis bahagia penuh syukur. Ya, Bella mengandung anak Topan, tepat satu bulan setengah setelah pernikahan siri mereka.


Bahagia yang tak dapat mereka ucapkan dengan kata-kata. Bulan madu kali ini menjadi bulan madu yang paling indah bagi mereka. Bagaimana tidak, mereka menikmati bulan madu bertiga dengan calon buah hati mereka, yang kini sedang tumbuh di rahim Bella.


__ADS_2