Masteng

Masteng
33. Perasaan apa ini?


__ADS_3

"Sebentar ya pak, saya mau mencari makan dulu di depan. Saya kebetulan belum makan pak," Ucap Topan.


"Loh, belum makan? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi Jo?" Pongki terlihat khawatir dengan Topan.


"Ya tadi belum lapar pak," Topan tersenyum canggung.


"Ya sudah, kamu cari di depan komplek. Pakai sepeda motor saja.. di belakang ada sepeda motor."


"Ngih pak, saya mohon maaf, meninggalkan pak boss sendirian nih. Jadi tidak enak," Topan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah, tidak apa. Saya tunggu disini saja."


"Beneran pak boss?"


Pongki mengangguk sambil tersenyum kepada Topan.


"Oh iya, pak boss mau sekalian saya carikan makanan?" Tanya Topan.


"Tidak usah, saya sudah makan tadi."


"Ok baik pak boss, saya pergi dulu ya.."


"Iya, hati-hati Jo.."


Topan mengangguk dan tersenyum, lalu ia melangkah ke bagian belakang bangunan paviliun tersebut untuk mengambil salah satu sepeda motor yang berada disana. Disana terdapat banyak sekali sepeda motor, sudah persis seperti show room di tempat penjualan sepeda motor. Sepeda motor itu semua milik Pongki, yang sengaja membeli banyak sepeda motor untuk alat transportasi para karyawan nya, bila diminta untuk membeli sesuatu, ke jarak yang tidak terlalu jauh.


Topan memilih sepeda motor sederhana, lalu ia mengendarai sepedanya motor tersebut untuk membeli makanan.


"Jo.. mau kemana kamu malam-malam begini?" Tanya penjaga gerbang.


"Anu pakde, saya mau mencari nasi goreng, atau makanan berat lain nya. Saya loh belum makan," Ucap Topan.


"Owalah Jo... Jo... saya nitip sebungkus rokok ya.." Ucap penjaga gerbang itu, seraya menunjukan bungkus rokok milik nya.


"Siap pakde," Sahut Topan.


Penjaga gerbang, membuka pintu gerbang itu, dan mempersilahkan Topan untuk keluar.


Sebenarnya, Topan tidak berniat untuk membeli nasi goreng atau apa pun itu. Ia hanya ingin menemui team nya yang sedang menyamar menjadi penjual nasi goreng di depan komplek perumahan tersebut. Bukan karena apa, mereka hanya ingin tetap berada di sekitar Topan, agar Topan aman dari segala kemungkinan. Bila terjadi sesuatu, team nya akan dengan mudah sampai dengan cepat untuk membantu Topan.


Topan memarkirkan sepeda motor yang ia pinjam di samping gerobak nasi goreng. Lalu, ia duduk di sebelah rekan nya yang sedang menyamar tersebut.


"Buatkan nasi goreng, yang pedas ya," Canda Topan.


Rekan nya hanya tersenyum dan mulai membuatkan nasi goreng untuk Topan bawa kembali ke rumah Pongki.


"Bagaimana?" Bisik lelaki bernama Jajat itu.


"Payah," Sahut Topan, seraya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Barusan aku jadi guru ngaji," Sahut Topan sambil tersenyum masam.


"Hahahahah... pahala untuk mu," Ucap Jajat yang terkekeh mendengar curhatan Topan.

__ADS_1


"Pahala sih pahala, tapi mas Suprapto sudah mengeluh," Sesal Topan.


"Oh, istrinya mau melahirkan ya?"


Topan mengangguk dan menundukkan wajahnya.


"Sabarlah Pan, walaupun kami semua sangat bergantung dengan kamu. Kami pun paham, kamu yang terjun langsung di sarang nya, pasti tidak akan mudah," Ucap Jajat.


Topan tersenyum hambar, ia memandangi langit mendung malam itu. Tiba-tiba saja, ia terbayang wajah Bella yang belakangan ini cukup mengusik pikiran nya.


"Kamu kenapa Pan?" Jajat yang sedang membuat nasi goreng, melirik Topan yang tampak sedang gelisah.


"Jat, jujur.. aku menilai, pak Pongki itu orang nya baik loh."


Jajat mengerutkan keningnya, sambil terus meracik nasi goreng yang sedang ia buat.


"Baik bagaimana?" Tanya Jajat penasaran.


"Ya baik saja, selain pengertian, dia juga orang yang bijak. Tampaknya dia akan berhenti dari bisnis haram nya itu," Ucap Topan dengan setengah berbisik. Walaupun keadaan di sekitar gerobak nasi goreng tersebut sedang sepi.


"Itu bukan urusan kita Pan, yang penting, kita fokus sama tugas," Jajat mencoba mengingatkan Topan.


"Iya sih.. Bahkan tidak hanya pak Pongki yang baik. Ternyata istrinya sangat baik. Tidak tahu, mengapa mereka bisa menjadi produsen ya.." Topan menghela nafas panjang dan berat. Lalu, ia menata Jajat yang sedang mengangkat nasi goreng yang baru saja ia buat, dan meletakkan nya di atas kertas bungkus nasi.


"Kalau anak nya?" Tanya Jajat.


Topan tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


"Cantik ya katanya Pan?"


Topan kembali tersenyum, ia mengigit bibirnya yang tipis dan menundukkan pandangan nya.


Topan menatap Jajat dan menggelengkan kepalanya.


"Gak lah.. Lagi pula, dia juga tidak akan mau dengan ku,"


"Hahahaha.. minder gitu.. Kata orang nih ya, orang yang minder, sebenarnya bukan gak suka, tapi suka banget. Hanya saja ya gitu, gak percaya diri!"


"Apaan sih!" Topan tertawa dan mengambil sebatang rokok dari bungkus rokok yang baru saja ia keluarkan dari dalam saku celananya.


"Pakai acar gak?" Tanya Jajat.


"Terserah deh," Sahut Topan, seraya membakar rokok tersebut. Lalu, ia menghisap rokok itu dalam-dalam dan menghembuskan nya ke udara.


"Tetapi, dia memang cantik."


Jajat terdiam dan menatap Topan dengan seksama.


"Jadi benar? Kamu suka sama anak nya?" Tanya Jajat.


"Ya tidak, hanya mengagumi kecantikan nyam Selama ini, aku belum pernah bertemu dengan gadis secantik dia. Andaikan dia bukan anak dari target ku...." Topan menghentikan ucapan.


"Lantas? Kamu mau menikahi dia?" Celetuk Jajat.


Topan kembali tersenyum dan kembali menghisap rokok nya.

__ADS_1


"Iya lah, cantik banget gitu..Rugi kalau di anggurin,"


"Hahahaha.. buaya kamu Pan..." Ledek Jajat.


"Bukan buaya, mata lelaki tidak bisa bohong." Ucap Topan seraya menyerahkan selembar uang dua puluh ribu rupiah, kepada Jajat.


Jajat menerima uang tersebut, layaknya penjual dan pembeli pada umumnya. Lalu, ia menyerahkan sebungkus nasi goreng yang sudah ia taruh di dalam plastik berwarna bening, kepada Topan.


"Cabut dulu ya, mau sekalian beli rokok," Ucap Topan.


"Iya Pan, hati-hati," Ucap Jajat. Lalu, ia terus menatap Topan yang sedang menyalakan mesin sepeda motor itu dan beranjak pergi meninggalkan dirinya.


"Pan.. Pan... kasihan kamu. Kelamaan jomblo, jadi begitu deh.." Ucap Jajat sambil tersenyum sendiri.


.


Beberapa menit kemudian, Topan pun kembali ke rumah Pongki. Setelah ia menyerahkan rokok titipan penjaga gerbang dan mendapatkan uang ganti pembelian rokok tersebut, Topan pun memarkirkan sepeda motor tersebut kembali ke tempat asal nya. Lalu, ia bergegas menuju ke kamarnya.


Sesampainya Topan di kamar, ia terkejut melihat Pongki yang tertidur di lantai kamarnya. Topan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana seorang Pongki bisa dengan nyaman tidur di atas lantai yang hanya beralaskan tikar?


Topan melangkah masuk, ingin sekali ia membangunkan Pongki. Namun, saat ia melihat wajah lelah lelaki paruh baya itu, ia pun mulai merasa iba.


"Aku kenapa sih? Kok jadi begini?" Batin nya.


"Di bangunkan, apa langsung aku ikat tangan nya dan memaksa dia mengaku ya?"


"Ah, nanti keluar dari sini, aku yang mati pula nanti," Batin nya lagi.


Topan hanya bisa duduk di depan Pongki yang sedang berbaring di atas lantai.


"Ya Allah, melihatnya aku jadi teringat bapak ku. Bagaimana bila dia masuk penjara di usia yang sudah senja? Dia orang baik, tetapi satu sisi, dia orang yang jahat. Ah... sebenarnya dia baik apa jahat?" Topan kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku bangunkan saja kali ya,"


Topan mencoba menyentuh tangan Pongki.


"Pak... pak boss..." Topan menyentuh nya dengan perlahan.


Pongki bergeming, justru dengkuran nya semakin kencang. Menandakan lelaki itu cukup lelah dengan apa yang sedang ia pikul saat ini.


"Ya sudah, sekali-kali merasakan tidur dengan target sendiri," Batin Topan, sambil membuka bungkus nasi goreng nya. Ia pun menyantap nasi goreng itu sambil terus memperhatikan wajah Pongki yang tidur dengan lelap.


"Enak juga masakan si Jajat. Rada asin sih, apa dia mau nikah lagi," Batin nya sambil tersenyum geli.


Setelah nasi goreng yang Topan santap, habis, ia pun membakar sebatang rokok sambil terus memperhatikan Pongki, yang tertidur dengan nyaman di kamar orang yang akan menyeret nya kedalam hotel prodeo.


"Ayo dong pak, besok ke pabrik ya.. biar misi saya selesai," Batin Topan.


"Berta... a-aku janji, aku akan bertaubat Berta... aku tidak akan mau mengecewakan kamu lagi.. Aku akan insaf, dan tidak akan menyentuh bisnis itu lagi. Be-berta... aku mohon ampun... Jangan tinggalkan aku Berta."


Topan terdiam, ia tidak percaya bila baru saja Pongki mengigau dengan mengatakan kata-kata yang baru saja ia dengar.


Topan kembali memperhatikan wajah Pongki yang terlihat cemas di dalam tidurnya.


"Pak, aku pun tak ingin bapak di penjara. Tetapi, apakah aku harus pura-pura buta, karena selama ini bapak sudah banyak merusak generasi muda, dan membiarkan bapak lolos begitu saja? Atau...." Topan berhenti membatin.

__ADS_1


Tiba-tiba Topan teringat wajah Berta dan Bella.


"Arghhhh... perasaan apa ini!" Keluh nya di dalam hati.


__ADS_2