
5 jam sebelum sidang keputusan.
Berta dan Bella bersimpuh di atas sajadah mereka masing-masing. Memohon kepada sang pencipta agar memberikan segala yang terbaik untuk Pongki. Termasuk hukuman yang tidak begitu berat. Terlihat Berta menangis di dalam doanya. Hatinya terasa pilu, bila mengingat bila kemungkinan terburuk lah yang akan Pongki terima. Saat ini, hanya Allah yang bisa membalikkan keadaan, dan hanya hal itulah yang sangat diharapkan oleh Bella dan Berta.
"Mam, sudah.. kita hadapi bersama ya.." Ucap Bella, saat mereka berdua selesai berdoa untuk Pongki.
Berta menoleh kearah Bella, lalu ia mengangguk dengan wajah yang sendu.
"Ya, hanya itu yang bisa kita lakukan. Ya sudah, kita bersiap-siap untuk berangkat ke pengadilan."
Bella mengangguk dan beranjak dari atas sajadahnya.
Detik dan menit yang begitu menyiksa bagi Pongki, Berta dan Bella. Bagaimana tidak, Pongki tidak ingin mengajukan banding. Dia tetap bersikukuh untuk menerima saja apa pun keputusan hakim saat di akhir persidangan.
Matahari mulai menunjukkan diri di ufuk timur. Sinarnya mulai menerangi ke seluruh pelosok Kota Jakarta. Suara dan asap kendaraan mulai mengalahkan udara pagi yang bersih dan damai. Semua orang mulai beraktivitas dengan kesibukan nya masing-masing. Pun di Lapas, tempat dimana Pongki di penjarakan. Lelaki itu sudah siap untuk di bawa ke lokasi sidang, setelah ia menyelesaikan sarapan paginya.
Terlihat dua orang sipir memasuki ruangan dimana Pongki menghabiskan sarapan paginya. Pongki memang di pisahkan dari narapidana lain nya. Karena hari ini adalah hari persidangan nya, maka pengawasan ketat sengaja diberikan untuknya, untuk menghindari hal-hal buruk yang kerap terjadi di antara satu narapidana dengan narapidana lain nya.
"Sudah siap untuk berangkat pak?" Tanya Sipir itu.
Pongki tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Pagi ini Pongki terlihat sangat rapi. Ia menggunakan kemeja putih dan celana bahan berwana hitam, serta peci hitam yang berada di kepalanya.
"Baik, bus sudah siap. Ayo kita berangkat," Ucap sipir itu lagi.
Pongki mengangguk dan beranjak dari duduknya. Ia pun digiring ke arah gerbang penjara. Disana terlihat Polisi berseragam hitam-hitam dan bersenjata lengkap, sedang menunggu Pongki dan tahanan lain nya, untuk dibawa ke lokasi persidangan.
Setelah sipir menyerahkan Pongki kepada Polisi yang akan membawa Pongki dan narapidana lain nya ke persidangan, para Polisi yang tidak terlihat wajahnya itu pun menggiring para tahanan ke bus yang sudah siap untuk berangkat. Pongki terus menundukkan wajahnya, berharap beberapa jam kedepan, nasib baik akan menghampiri dirinya. Walaupun dirinya bersalah, bukankah setiap manusia berhak untuk meminta keringanan kepada sang pencipta? Bus itu pun beranjak meninggalkan Lapas, dan menuju ke arah lokasi persidangan.
Bella dan Berta yang baru saja sampai di lokasi persidangan yang sudah dipenuhi oleh para pencari berita, langsung di serbu oleh para wartawan. Hingga mereka tidak bisa masuk kedalam gedung pengadilan, saking banyaknya wartawan yang menghadang. Beruntung, saat itu juga Topan dan Galang datang. Mereka berusaha menghalau para wartawan yang sedang haus akan berita tentang Pongki.
"Nanti ya... nanti kan kalian boleh masuk keruang persidangan," Ucap Topan.
Topan langsung melindungi Berta dan Bella, pun dengan Galang yang berjalan di depan mereka dan berusaha untuk membuka jalan untuk Topan, Bella dan Berta.
Akhirnya, mereka pun bisa memasuki gedung tersebut. Bella dan Berta menghela nafas lega dan juga terlihat resah, karena menunggu kehadiran Pongki yang masih di perjalanan.
Beberapa menit kemudian, bus yang ditumpangi Pongki dan narapidana lain nya pun sampai. Pongki dan narapidana lain nya pun turun dan bernasib sama dengan Bella dan Berta. Dirinya di berondong dengan puluhan pertanyaan yang dirinya sendiri pun sangat enggan untuk menjawabnya.
"Mohon doanya saja," Ucap Pongki dengan wajah yang lesu.
Pongki dan belasan narapidana lain nya pun memasuki gedung persidangan. Mereka langsung digiring ke ruangan khusus untuk para narapidana yang akan menjalani sidang. Disana juga, Pongki bertemu dengan Bella, Berta, Topan dan Galang. Setelah memeluk dan mencium anak dan istrinya, Pongki menghampiri Topan yang menatap dirinya dengan wajah yang terlihat sangat merasa bersalah. Pongki memeluk Topan dengan erat beberapa saat sebelum ia kembali melepaskan pelukan tulusnya untuk Topan.
"Terima kasih nak, kamu sudah menghadiri persidangan bapak,"
__ADS_1
Ucapan Pongki terasa begitu menyakitkan di telinga Topan. Ia menelan salivanya dan menundukkan pandangan nya. Dada Topan terasa sesak dan tak sanggup untuk terus menatap Pongki.
"Aku dengar, kamu sudah melamar anak ku, Bella."
Topan mengangkat wajahnya dan menatap Pongki dengan seksama.
"Iya pak," Ucap Topan, seraya menganggukkan kepalanya.
Pongki menghela nafas panjang dan membalas tatapan Topan.
"Bagaimana dengan orangtuamu? Apakah mereka setuju?" Tanya Pongki lagi.
"Hmmm, pak, kenalkan ini adalah bapak kandung saya."
Pongki terperanjat, ia menatap Topan dengan tatapan tak percaya.
"Bapak kandung?" Tanya Pongki.
"Ya, ini bapak Galang Artana, dia bapak kandung saya. Bapak saya sengaja ikut kesini untuk melamarkan Bella untuk menjadi istri saya, langsung kepada bapak," Terang Topan.
Pongki mengalihkan pandangannya ke arah Galang.
"Halo pak, perkenalkan saya Galang, bapak kandung dari Topan."
"Ah, iya, saya Pongki, daddy nya Bella."
"Bisa pak," Sahut Pongki.
Pongki, Berta, Bella, Topan dan Galang, kini duduk bersama di ruangan itu. Sedangkan Erna, wanita itu tidak hadir ke persidangan tersebut. Dikarenakan dirinya tidak mau menampakkan diri disana. Terlebih, ada Galang dan juga menghindari pertanyaan para wartawan bila melihat dirinya. Cukuplah Galang saja yang mewakilkan dirinya sebagai orangtua dari Topan.
"Jadi begini pak, kita tahu bila Topan dan Bella memiliki hubungan spesial, dan Topan juga sudah melamar anak bapak secara pribadi kurang lebih satu bulan yang lalu. Saya sebagai orangtua dari Topan, hanya ingin mengikuti apa kemauan dari anak saya yang ingin segera menghalalkan anak bapak. Jadi, saya sengaja datang kesini, untuk meminta secara langsung kepada bapak, untuk menjadikan Bella menantu saya dan menikah dengan Topan." Terang Galang.
Pongki menatap Galang, lalu ia menatap Topan dengan seksama. Dirinya merasa terharu, bila dirinya masih dianggap oleh keluarga Topan, terutama bagi Topan sendiri. Topan tetap melakukan tata cara melamar dengan memberikan hormat kepada dirinya sebagai orangtua Bella, walaupun saat ini dirinya bukan siapa-siapa dan hanya seorang narapidana.
"Bagaimana sayang?" Tanya Berta.
Pongki mengerjap dan menatap Berta dan Bella.
"Hmmm, kalau saya, sangat setuju bila Topan menjadi menantu saya. Terutama saya lihat, Bella sangat menyukai Topan," Ucap Pongki.
"Alhamdulillah... Jadi bapak menerima lamaran ini?"
"Iya, saya menerimanya." Tegas Pongki.
"Alhamdulillah, saya juga ingin meminta maaf kepada bapak, bila momen nya kurang tepat. Kebetulan saya bertugas di Riau. Jadi, hanya waktu ini lah yang bisa saya pergunakan untuk menemui bapak sekeluarga." Terang Galang.
__ADS_1
"Iya pak, tidak masalah. Yang terpenting saya sudah merestui mereka berdua. Jadi kapan rencana mereka menikah?" Tanya Pongki.
Bella dan Topan tersenyum, mereka saling bertatapan.
"Secepatnya pak," Sahut Galang.
"Ya, saya harap begitu pak. Karena belum tentu saya masih banyak waktu."
Semua terdiam, kecuali Berta yang langsung menatap Pongki dengan kerut dan keningnya.
"Kamu ngomong apa sih!" Bisik Berta.
Galang menghela nafas dan mengangguk paham.
"Semoga, keputusan yang diberikan hakim, adalah keputusan yang seringan-ringannya ya pak," Ucap Galang.
"Aamiin." Sahut Pongki.
Saat itu juga, Topan mengangkat Handy Talky milik nya,
"Satu, dua, tiga, tolong bawa masuk." Ucap Topan.
"Baik ndan!" Sahut suara di seberang sana.
Tak lama kemudian, muncul lah lima orang anak buah Topan dengan masing-masing barang-barang seserahan lamaran di tangan mereka.
"Ini saya bawa untuk Bella. Semoga Bella menyukainya," Ucap Topan, seraya tersenyum malu-malu.
Bella terperangah dan menatap Topan dengan tak percaya.
"Kamu ih.." Ucap Bella dengan rona merah di pipinya.
"Terima kasih Topan," Ucap Berta.
"Sama-sama mami," Sahut Topan.
Lamaran sederhana, namun sangat terasa khidmat nya bagi dua insan itu. Meskipun lamaran itu di laksanakan di gedung pengadilan, tetapi sangat terlihat raut wajah bahagia di wajah Pongki dan keluarganya. Setidaknya, Topan benar-benar tidak menghilangkan hak Pongki sebagai ayah kandung Bella. Ia memiliki inisiatif untuk Pongki dapat melihat dan memberikan restu untuk melepaskan Bella menjadi miliknya.
"Jadi kapan nikah nya?" Bisik Bella.
"Sabar ya sayang. Sebelum kita menikah, Kamu harus melalui rintangan terberat, Kamu harus menghadapi serangkaian syarat untuk menjadi ibu Bhayangkari. Gantian berjuang ya sayang, semangat.." Balas Topan.
"Terberat? Kayak plonco-plonco gitu?" Tanya Bella.
"Bukan, lebih dari itu. Nanti kamu juga tahu," Topan tersenyum penuh misteri.
__ADS_1
Bella mengerutkan keningnya, tangan dan dahinya nya mulai berkeringat.
"Apa harus?" Gumam nya.