
"Mami.. mami nangis lagi? Daddy mana?" Tanya Bella, saat melihat Berta keluar dengan mata yang sembab.
"Sssttt.. sudah, daddy mu sedang di dalam kamar. Yuk kita ke mall..." Ucap Berta, seraya menggandeng tangan Bella.
"Hmmm... mam, Bella tidak jadi ikut. Mami sama Paijo saja berdua ya."
"Loh, kamu mau kemana?" Tanya Berta penasaran.
"Bella malas ikut,"
"Kenapa? Ada apa? Kok tumben?" Cecar Berta.
"Hmmm... mam, Bella boleh ke Bali?"
"Ada apa? Kenapa kok tiba-tiba mau ke Bali?"
"Tidak ada apa-apa, hanya beberapa hari saha kok mam,"
"Sama siapa? Frans?" Tanya Berta, khawatir.
"Bukan, tepat nya menyusul dia." Ucap Bella dengan ujung suara yang tercekat.
"Oh, dia menunggu mu disana. Kalian mau liburan gitu?" Tanya Berta lagi.
Bella tidak menjawab pertanyaan dari Berta. Ia hanya tersenyum dan menundukkan pandangan nya.
"Bagaimana ya, mami bukan tidak mengizinkan kamu pergi. Hanya saja.... Hmmm.. Mami tidak percaya dengan Frans ah... Masa kalian berduaan di sana, kalau terjadi apa-apa bagaimana?"
"Ya, terus bagaimana?" Tanya Bella.
"Ya sudah, berangkat nya kapan?"
"Besok, sekarang mana ada penerbangan kesana. Lagi pula, Bella sedang menunggu kabar dari Noel,"
"Noel?" Tanya Berta, sambil mengingat-ingat nama Pria yang baru saja di sebutkan oleh Bella.
"Iya Noel, teman Bella waktu ngambil study S1."
"Ohhh, ya.. ya.. ya.. Sama Noel juga kalian?"
Bella hanya tersenyum kikuk menjawab pertanyaan Berta.
__ADS_1
"Ya sudah, boleh besok berangkat nya. Tapi sama mami,"
"Mami!"
"Ya iya lah, nanti kamu sekamar lagi sama si Frans! Tidak akan mami biarkan!" Tegas Berta, seraya berjalan menuju ke halaman rumah mereka.
"Mami.. ya enggak lah, masa iya aku sekamar sama dia, aku kan belum menikah sama dia."
"Ya bagus dong, kamu sadar kalau kamu belum menikah sama dia. Tetapi, mami tetap tidak akan membiarkan kamu pergi menyusul dia sendiri. Bagaimana pun, mami antar kan kamu kesana. Kalau kamu mau pergi berdua tidak apa-apa. Tetapi ingat, tidur tetap bersama mami!" Ucap Berta seraya beranjak masuk kedalam mobil yang akan di kendarai oleh Topan.
"Tapi mi...."
"Tidak ada tapi-tapi!" Tegas Berta, seraya menutup pintu mobil tersebut.
Bella terdiam dan menatap Berta yang melambaikan tangan nya kepadanya. Lalu, Bella menatap Topan yang bergegas masuk ke dalam mobil tersebut.
"Hhhhhhhhh...! Menyebalkan!" Pekik Bella.
Bella kembali masuk kedalam rumah nya dan berpapasan dengan Pongki yang hendak menuju ke ruang keluarga.
"Bella," Sapa Pongki. Namun, gadis itu mengabaikan panggilan Pongki. Dengan langkah nya yang terburu-buru, ia menuju ke kamarnya.
Pongki terdiam membisu. Kini, bukan hanya Berta yang membenci dirinya. Tetapi, anak nya pun tidak menyukai dirinya lagi. Dengan hati yang sedih, dan merasa sendirian, Pongki beranjak duduk di atas sofa di ruang keluarganya.
Ucapan Pongki, terdengar jelas di telinga Topan yang memakai alat khusus yang selalu tersangkut di telinganya. Selama ini, Topan selalu memakai alat itu, hanya saja tidak terlihat oleh siapa saja, karena Topan menutupi nya dengan poni nya yang panjang, yang ia sibak ke samping hingga menutupi telinganya.
"Dia ingin taubat?" Batin Topan. Sebenarnya ada rasa senang di hati Topan. Hanya saja, ia harus segera mengungkap bisnis kotor Pongki, secepatnya. Bagaimana pun, Pongki sudah menikmati hasil dari bisnis tersebut dan sudah ikut membuat rusak nya generasi muda di tanah air. Mau bertaubat atau tidak, Pongki tetap harus mendekam di dalam penjara.
"Paijo,"
"Ng...Iya kanjeng mami," Sahut Topan yaang sedang sedikit melamun memikirkan Pongki.
"Kamu tahu Mall yang dekat sama kampus nya Bella kan?"
"Ta-tahu kanjeng mami,"
"Kita kesana ya,"
"Iya kanjeng mami," Sahut nya lagi.
"Kamu kenapa Paijo? Mikirin apa? Jangan bengong ah kalau sedang menyetir," Tegur Berta.
__ADS_1
"Ah, enggak kanjeng mami. Saya hanya berpikir, bagaimana jadi orang kaya raya seperti Pak boss Pongki. Saya yo kepengen kanjeng mami, kayak pak boss gitu."
Jlebbbb..!
Berta terdiam mendengar ucapan Topan. Selama ini, ia terus membanggakan bisnis suaminya yang sukses, kepada kenalan nya. Kini, setelah ia tahu ternyata bisnis utama Pongki bukan lah bisnis yang legal, ia mulai merasa malu untuk membanggakan suaminya tersebut.
"Paijo, kalau kamu punya uang, lebih baik kamu berbisnis yang baik ya. Agar uang yang kamu dapatkan itu berkah, dan semoga kamu bisa menjadi orang yang sukses dengan hasil keringat mu sendiri."
Topan mulai menangkap, bila Berta sudah mengetahui bisnis kotor suaminya.
"Sejak kapan dia tahu, bila bisnis suami nya kotor?" Gumam Topan.
"Kaya perlahan lebih baik, dari pada kaya dengan hal yang buruk. Kamu dengar itu Paijo?"
"I-i-iya kanjeng mami," Sahut Topan.
"Saya juga mendoakan kamu, supaya suatu saat kaku bisa jadi orang sukses. Kamu itu ganteng, baik, jujur dan hormat kepada orangtua. Sebenarnya, sayang sekali kamu tidak tamat sekolah dan bekerja seperti ini. Kamu mau saya ikutkan sekolah paket? Biar kamu dapat ijazah?" Tanya Berta.
Topan terdiam, ia melirik Berta yang duduk di belakangnya.
"Ya Allah, baik sekali ibu Berta. Bagaimana bila dirinya tahu, bila aku lah yang akan menangkap tangan bisnis kotor suaminya, dan akan memenjarakan suaminya," Batin Topan.
"Kamu mau?" Tanya Berta lagi.
"Ah... masalah itu, apa bisa kanjeng mami?" Tanya Topan, berpura-pura bodoh.
"Bisa dong, kamu lulusan apa?" Tanya Berta.
"Saya, lulusan Sd kanjeng mami."
"Usiamu?"
"Tiga puluh, dua tahun. Saya sudah tua kanjeng mami. Apa iya saya bisa masuk SMP?"
"Heheheh, bukan masuk SMP Paijoooo. Tetapi, ikut ujian paket B. Tetapi, umur mu yang segitu, saya juga tidak tahu bisa atau tidak, nanti deh saya tanyakan ke teman saya ya..."
"Hehehe... Terima kasih kanjeng mami. Kanjeng mami baik sekali dengan saya."
"Sama-sama, saya sangat suka dengan kamu Paijo. Karena kamu anak yang baik, makanya saya juga baik dengan kamu,"
Topan tersenyum dari balik kemudinya. Senyum yang risau akan kebaikan hati Berta. Entah bagaimana nanti, apa yang terjadi, apakah Berta akan membenci dirinya yang sebagai Topan?
__ADS_1
Baru kali ini, Topan melibatkan perasaan saat bertugas. Ia merasa Berta sangat persis seperti ibunya. Wanita yang lembut dan tegas, juga baik hati. Sedangkan Pongki, semenjak Topan berbicara dari hati kehati pada malam itu dengan Pongki, Topan dapat menyimpulkan bila Pongki adalah lelaki yang baik hati. Walaupun bisnis nya kotor, tetapi cerminan kebaikan terlihat jelas dari wajah dan caranya bersikap. Ditambah dengan Bella, diam-diam Topan mulai merasakan perasaan nyaman dengan gadis itu. Walaupun dirinya baru beberapa hari mengenal gadis itu.
"Misi yang buat dilema!" Gumam Topan.