
"Ya sudahlah, abang pulang dulu. Kalau kau butuh bantuan, jangan segan-segan menghubungi abang. Abang ready dua puluh empat jam untuk mu. Sekarang kau dan ibu istirahat saja dulu." Suprapto beranjak dari duduknya, saat dirinya yang sedang bersama dengan Topan duduk di cafe hotel dimana Topan dan Erna menginap.
Setelah sampai di hotel, Topan duduk berdua dengan Suprapto di cafe hotel itu. Mereka melepas rindu dan berbagi cerita tentang banyak hal. Mulai dari pekerjaan, tingkah konyol rekan-rekan kerja mereka, hingga kasus yang sedang marak saat ini.
"Iya bang, aku terima kasih banget ya bang," Ucap Topan, seraya menyalami dan memeluk Suprapto yang akan kembali ke kantornya.
"Sama-sama Pan. Sekarang istirahat lah. Ibumu sudah menunggu mu di kamar,"
"Iya bang.. Jangan lupa salam untuk kakak dan anak-anak. Besok siang aku akan ke rumah abang. Abang tinggal share alamat nya saja. Aku bisa naik taksi bersama dengan ibu."
"Alah... gampang itu, aku jemput pun tak apa," Ucap Suprapto.
"Baik bang. Hati-hati dijalan,"
"Iya, iya... salam untuk ibumu ya. Abang tidak bisa pamit ke atas, sudah terlambat ini,"
"Baik bang."
Suprapto pun beranjak meninggalkan cafe tersebut. Kini, tinggal Topan yang kembali duduk di bangku cafe itu. Ia melirik arlojinya. Jarum jam menunjukan pukul 2 siang. Topan meraih ponselnya dan mencoba menghubungi nomor kantor Polda dan menunggu panggilan nya ada yang menjawab.
Setelah beberapa saat, akhirnya terdengar suara dari ujung sana.
"Halo, kantor Polda Riau, ada yang bisa kami bantu?" Tanya suara dari ujung sana.
"Selamat siang, saya Topan."
"Iya bapak Topan, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya ingin bertanya, apakah bapak Galang Artana sedang berada di kantor Polda saat ini?"
"Maaf, ada keperluan apa dengan bapak Kapolda?"
"Saya tamu dari Jakarta. Saya ingin bertemu dengan beliau. Bila memang beliau ada di kantor saat ini, saya akan kesana sekarang pak," Terang Topan.
"Oh baik, bapak ada di kantor. Apakah sudah janji sebelumnya?"
"Belum pak, tetapi saya adalah keluarganya." Topan berusaha meyakinkan lelaki di ujung sana.
"Oh begitu. Ya datang saja pak, nanti saya akan katakan kepada bapak Galang."
"Baik pak, terima kasih," Ucap Topan.
"Terima kasih kembali, selamat siang," Ucap suara di ujung sana.
Panggilan itu pun berakhir. Lalu, Topan bergegas menemui Erna yang sedang beristirahat di kamar hotel yang telah Topan booking untuk dua malam saja.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Topan menatap Erna yang telah siap untuk berangkat ke kantor Galang. Sudah dua bulan ini Topan tidak pernah melihat Erna berdandan. Baru kali ini lah Topan kembali melihat wanita paruh baya itu terlihat kembali rapi seperti saat Amoroso masih ada di dunia ini.
"Bu, aku sudah siap dengan bang Suprapto. Apakah ibu sudah siap untuk kita ke Polda?" Tanya Topan.
Erna menoleh, lalu tersenyum menatap Topan.
"Ya, ibu sudah siap." Sahut Erna.
Sebenarnya Erna tidak ingin menemui Galang. Hanya saja, isi dari surat wasiat dari Amoroso harus ia tepati. Bukan hanya karena isi dari surat wasiat itu, melainkan juga dari dorongan ketiga anaknya.
"Berangkatlah bu," Pinta Pinky dan Guntur."
Erna terdiam, baru dua bulan kepergian Amoroso, apa pantas ia menemui mantan kekasih nya yang bernama Galang tersebut?
"Tetapi..."
"Bu, bapak sudah tiada. Lagi pula, itu adalah pesan terakhir bapak untuk ibu. Dan juga... kak Topan pasti ingin bertemu dengan bapak Galang," Ucap Pinky dengan ujung suara yang tercekat.
Guntur dan Pinky akhirnya mengetahui bila Topan bukan lah anak kandung dari bapak mereka. Hanya saja, itu semua tidak perlu di sesali. Toh, Amoroso sendiri sudah sangat ikhlas menerima kenyataan. Cuma, di hati Guntur dan Pinky memang butuh penyesuaian dalam menerima kenyataan.
Satu bulan pertama, Pinky yang sangat mencintai Amoroso, tampak mendiami Erna. Sikap Pinky berubah kepada Erna. Tetapi, karena Topan yang selalu memberikan pengertian kepada dua adiknya, akhirnya Pinky dan Guntur dapat menerima kenyataan masa lalu Erna begitu mengecewakan mereka.
"Walaupun ibu bersalah, tetapi selama ini ibu adalah ibu yang baik. Ibu yang melahirkan kita, ibu juga yang membesarkan kita. Semua orang punya masa lalu dengan orang yang pernah ia cintai. Bagaimana bila posisi itu kita yang merasakan?" Tanya Topan.
Pinky dan Guntur hanya dapat terdiam membisu. Akhirnya mereka dapat memahami, bila semua orang pernah mempunyai cacat yang tidak bisa di hilangkan dalam sejarah hidupnya. Bukankah semua orang tidak ada yang benar-benar putih?
Namun, setelah acara terlaksana, Pinky dan Guntur kembali membicarakan masalah Galang, dan akhirnya Erna setuju untuk berangkat bersama dengan Topan ke Riau, untuk menemui Galang.
"Ayo bu," Topan menggandeng Erna dan membawanya keluar dari kamar hotel itu.
Di perjalanan ke arah Polda, Erna terlihat gugup, begitupun dengan Topan. Masing-masing dari mereka terlihat diam membisu. Sudah lebih dari 31 tahun, Erna tidak bertemu dengan Galang. Walaupun Galang sempat berada di Jakarta Beberapa kali, dan mengajak dirinya untuk bertemu, tetapi Erna tetap bersikukuh untuk tidak menemui Galang.
Erna lebih menahan rasa rindu dan cinta nya kepada Galang. Daripada dirinya kembali menghianati suami nya, Amoroso yang sangat baik kepada dirinya. Lagi pula, ia sudah memiliki Pinky saat itu. Tidak ada lagi yang ingin Erna lakukan selain bertaubat dan menjadi istri yang patuh terhadap suaminya dan berusaha mencintai Amoroso apa adanya. Tetapi, rasa cintanya pada Amoroso tidak kunjung datang. Hati dan pikirannya terus menjadi milik Galang, hingga sampai detik ini.
Taksi yang mereka tumpangi, berhenti dihalaman kantor Polda. Topan membayar ongkos taksi dan beranjak turun bersama dengan Erna. Lalu, mereka melangkah masuk kedalam kantor tersebut.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Seorang petugas yang berjaga di bagian depan kantor tersebut.
"Saya Topan, dari Jakarta. Saya ingin bertemu dengan bapak Galang Artana."
Petugas itu menatap Topan dan Erna dengan seksama.
"Sudah membuat janji?" Tanya Petugas itu lagi.
"Belum pak, karena memang saya tidak memiliki nomor ponsel bapak Galang. Atau menelepon dari jauh hari. Hanya saja, tadi saya sudah membuat janji bila saya akan datang pukul tiga ini."
__ADS_1
Petugas itu terus menatap Topan dengan tatapan menyelidik.
"Ada keperluan apa mau ketemu dengan bapak Kapolda?"
"Kami keluarga yang sudah lama tidak bertemu. Saya mohon izinkan kami bertemu pak. Bila memang meragukan, tolong sampaikan kepada bapak Galang Artana, bila Topan dan Ibunya datang mengunjungi dirinya."
Petugas tersebut pun mengangguk, lalu ia beranjak dari duduknya.
"Silahkan tunggu disini ya pak. Saya akan menemui bapak Galang terlebih dahulu."
"Baik pak," Topan menuntun Erna untuk duduk di bangku tunggu, tepat di samping pintu masuk kantor tersebut. Sedangkan petugas itu masuk kedalam kantor itu dan menuju ke ruangan Galang.
Topan menggenggam erat tangan Erna yang terasa berkeringat. Rasa gugup selalu menyelimuti mereka berdua.
..
..
..
Tok! Tok! Tok!
"Masuk,"
Petugas itu membuka pintu ruangan Galang dengan perlahan, lalu ia memberikan hormat kepada Galang yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Ada apa?" Tanya nya seraya menaruh bingkai foto yang berisi foto lawas Erna dan Topan yang berada di gendongan Erna kedalam laci meja kerjanya. Foto itu adalah foto satu-satunya yang ia miliki dari kekasih dan anak kandungnya itu. Galang kerap menatap foto tersebut di sela senggangnya.
"Maaf pak, ada yang mencari bapak di luar."
"Siapa?" Tanya Galang, dengan suaranya yang terdengar begitu berat dan jantan sekali.
"Katanya dari Jakarta."
"Jakarta?" Galang mengerutkan keningnya.
"Iya pak,"
"Siapa namanya?" Tanya Galang lagi.
"Namanya Topan."
Degggggg!
Jantung Galang berdegup kencang, dadanya sesak dan pandangan nya nanar. Bukan karena ia tidak merasa senang bila Topan mencari dirinya. Hanya saja, hal itu tidak pernah Galang sangka sebelumnya. Bahkan, untuk bermimpi pun ia tidak berani. Karena bagaimanapun, Erna tetap bersikukuh bila Topan adalah anak kandung Amoroso.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin?" Gumam nya.