
Mobil yang dikendarai oleh Bella, berhenti di depan rumah nya yang telah disita oleh Negara. Dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat takut, Bella menatap Berta yang sedang mengamati situasi dan kondisi di sekitar lingkungan tersebut.
Rumah itu terlihat gelap pada malam itu, tidak ada penerangan sama sekali. Berta keluar dari mobil tersebut dan kembali memperhatikan situasi rumah tersebut. Lalu, ia kembali masuk kedalam mobil dan berbicara dengan Bella yang masih berada di belakang kemudi.
"Kayaknya kita tidak bisa masuk dari depan. Soal nya ada dua gerbang yang harus kita lewati. Bagaimana kita dari belakang saja."
Bella mengerutkan keningnya. Lalu, ia ikut memperhatikan situasi di sekeliling rumah tersebut.
"Mami yakin? Di belakang kan tembok nya kan tinggi sekali," Ucap Bella.
"Dari pada harus memanjat pagar, lebih baik memanjat tembok. Lagi pula, di sana itu suasana sepi sekali. Karena kebun tetangga kita yang terbengkalai." Terang Berta.
"Tetapi memasuki kebun orang ada hukum nya mam! Kita mendingan dari depan saja. Toh apa bisa kita memanjat tembok? Lebih baik memanjat pagar saja."
Berta terdiam, ada benarnya apa yang dikatakan oleh Bella.
"Ya sudah, kamu parkir di taman saja. Terus kita masuk dengan membawa koper ini." Berta menunjuk dua koper yang berada di bangku belakang.
"Dua? Apa tidak kebanyakan? Memang uang nya berapa banyak sih mam?"
"Alahhh...! Pokoknya banyak! Kamu menurut saja," Ucap Berta.
Berta turun dengan membawa dua buah koper, sedangkan Bella memarkirkan mobil itu di taman, seratus meter dari rumahnya. Setelah memarkirkan mobil tersebut, Bella pun turun dengan wajah yang waspada. Beruntung, suasana di komplek itu benar-benar sangat sepi sekali.
Dengan berlari kecil, Bella menghampiri Berta yang sudah melemparkan dua koper miliknya ke dalam pagar rumah tersebut. Lalu, ia menatap Berta yang mulai memanjat pagar itu.
"Mam! Jangan!" Cegah Bella.
"Kalau tidak memanjat, bagaimana caranya?" Ucap Berta.
"Mami disini saja, biar aku yang masuk. Dimana letaknya?" Tanya Bella.
Berta kembali turun dari pagar dan menatap Bella dengan seksama.
"Kamu yakin?" Tanya Berta.
Bella mengangguk dan menatap Berta dengan kesungguhan.
"Aku takut mami terjatuh, biar aku saja," Ucap Bella dengan ekspresi wajah yang sangat khawatir.
"Baiklah," Ucap Berta.
"Mami tunggu saja di mobil. Nanti aku akan menelepon mami bila sudah berhasil. Tinggal mami membawa mobilnya kesini dan memasukan kopernya kedalam mobil. Bagaimana?" Tanya Bella.
Berta mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Ok," Sahutnya.
"Dimana letak nya?" Tanya Bella.
"Di ruang kerja daddy mu. Di bawah meja kerjanya, ada lantai rahasia. Kamu ketuk saja, untuk mengecek nya. Disana ada brankas dengan kode tanggal pernikahan mami dan daddy." Terang Berta.
Bella mengangguk paham. Lalu ia tampak berdoa sejenak sebelum ia memanjat pagar yang tinggi tersebut.
"Semangat Bella," Ucap Berta yang mulai melangkah menuju ke mobil yang terparkir di taman.
Bella mengangguk dan terus memanjat pagar tersebut.
Hanya butuh waktu 3 menit, Bella berhasil melewati pagar pertama. Dengan sigap, ia menyeret dua koper yang tergeletak diatas rerumputan yang berada di sisi dalam pagar. Bella berjalan menuju ke pagar kedua. Memang, di rumah Bella yang dulu, sistem keamanan nya begitu sangat terjaga. Setelah memberikan dua buah pagar di rumahnya, Pongki juga memberikan penjagaan yang sangat ketat. Tetapi kini, rumah tersebut sudah kosong dan tidak ada satu orangpun yang menjaganya.
Bella mencoba mendorong pintu kecil yang berada di pagar kedua. Beruntung baginya, pintu kecil itu ternyata tidak terkunci. Mungkin saja, dari pihak penyita lupa menguncinya. Bella hampir saja melompat girang, karena ia tidak perlu repot-repot memanjat pagar kali ini.
Bella menarik koper-koper tersebut masuk kedalam halaman rumah tersebut. Bella terlihat bergidik ngeri saat menatap rumah tersebut. Ia baru menyadari bila rumah tersebut tanpa penerangan terlihat sangat horor dimatanya.
Kini, langkah kaki Bella berhenti di depan pintu rumah tersebut. Lalu, ia mencoba membuka pintu rumah itu dengan kunci cadangan yang ia miliki. Tetapi sial bagi dirinya, kunci rumah tersebut sudah di ganti oleh pihak yang berwenang. Bella menghela nafas panjang. Ia tidak habis pikir, mengapa kunci rumah tersebut begitu cepat di ganti oleh pihak terkait.
Bella menarik kopernya menuju ke jendela. Lagi-lagi tidak mungkin ia masuk dari jendela tersebut. Jendela itu terhalang jerjak yang berada di belakang kaca jendela. Bella duduk di tangga beranda rumah itu. Ia memikirkan bagaimana cara ia masuk kedalam rumah itu.
Lalu, Bella memiliki ide untuk masuk dari pintu belakang rumah itu. Bella pun menarik koper-koper tersebut menuju ke pintu belakang. Lagi-lagi kunci pintu belakang sudah di ganti oleh pihak terkait. Bella terlihat sangat kesal karenanya. Ia terus mencoba mencari cara untuk masuk kedalam rumah itu. Namun pikiran nya menjadi buntu karena ia juga merasa panik dengan suasana yang begitu gelap.
"Sial!" Makinya.
Tiba-tiba, Bella teringat tentang gudang yang berada di samping rumahnya. Ia pun berlari ke arah gudang. Beruntung, gudang tersebut tidak di ganti kuncinya oleh pihak terkait. Dengan mudah, Bella bisa memasuki gudang tersebut, berbekal kunci di tangan nya.
Bella menatap tangga yang tersender di dinding gudang. Ia pun tersenyum puas, lalu menarik tangga tersebut keluar dari gudang itu dan membawanya ke arah balkon belakang.
Dengan susah payah, Bella memanjat satu demi satu anak tangga tersebut dengan membawa koper di tangan nya. Satu koper berhasil Bella bawa naik, kini ia harus berusaha membuka pintu balkon yang terbuat dari kaca tersebut. Bella mulai mencari kunci cadangan yang bisa membuka pintu tersebut.
"Ketemu!" Serunya, lalu ia memutar anak kunci tersebut kedalam lubang kunci pintu itu.
Cklekkk!
"Yesss..!" Bella tertawa girang dan kembali turun untuk membawa satu koper yang tertinggal di bawah sana.
Setelah 5 menit berlalu, Bella sudah berada di depan ruang kerja Pongki. Tangan nya tampak gemetar saat ia mencoba membuka pintu ruang kerja Pongki yang nyaris tidak pernah ia singgahi. Bella memutar anak kunci di pintu yang terbuat dari kayu jati tersebut, dan terbuka. Dengan ragu, Bella memasuki ruangan tersebut dan menyalakan lampu di ruangan itu. Tetapi, sialnya aliran listrik di rumah itu tidak berfungsi. Akhirnya Bella mencoba menyalakan senter yang ada di ponselnya.
Bella menatap meja kerja Pongki dan mendekatinya. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia mulai menggeser meja tersebut. Tetapi apa daya, tenaganya tidak cukup untuk menggeser meja kokoh itu.
Bella mulai menyadari bila mungkin saja lantai yang dimaksud tidak tepat di bawah meja, melainkan tepat di bawah kaki bila kita duduk di depan meja tersebut.
Bella menyingkirkan kursi kerja yang terbuat dari kulit, milik Pongki. Lalu, ia mengetuk lantai tepat di bawah meja tersebut.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan yang padat di bawah sana. Tidak mungkin ada ruang khusus disana. Bella pun berusaha terus mengetuk, tetapi ia tidak menemukan satupun ketukan yang nyaring.
Bea terdiam sejenak, lalu ia mencoba mencari tombol di sekitar meja tersebut. Ia terus mencari hingga ia membongkar laci-laci yang berada di meja itu. Namun tidak satupun tombol yang berada di sana. Bella mulai berkeringat, ia tampak putus asa. Lalu, ia pun duduk di kursi kulit milik Pongki. Dan menatap sebuah patung kuda yang berada di atas meja tersebut. Bella mengerutkan keningnya, ia pernah menonton film tentang agen khusus yang mencari ruangan rahasia. Bella mulai bersemangat. Ia mencoba menyentuh patung kuda tersebut dan mendorong nya.
Srekkkkk!
Tiba-tiba saja meja itu bergeser satu meter kedepan dengan otomatis. Mata Bella terbelalak diiringi senyum puas darinya. Tepat dibawah meja, terlihat sebuah garis yang bercahaya di dalam gelap. Bella pun merasa yakin, disitu lah Pongki menyimpan uang-uang tersebut.
Bella mulai mengetuk lantai tersebut.
Tek! Tek! Tek!
"I see you...!" Seru Bella.
Bella menarik lantai tersebut dari celah lantai dengan kukunya yang panjang. Lalu, lantai itu terbuka dan terlihat sebuah brankas berukuran 1 meter x 30 cm. Dengan cepat, Bella menekan tombol yang berada disana dengan tanggal, bulan dan tahun pernikahan kedua orangtuanya.
Klik!
Secara otomatis, pintu brankas tersebut terbuka.
Bella terkejut melihat apa yang berada di sana. Ada banyak uang cash yang bertumpuk-tumpuk, baik dalam mata uang rupiah maupun dalam bentuk dolar. Tidak hanya sampai disitu, ternyata brankas kecil tersebut begitu dalam. Hingga jumlah uang yang berada di dalam sana begitu banyak jumlahnya.
"Pantas saja, mami membawa dua koper, ternyata sudah mendapatkan spoiler dari daddy." Gumam Bella seraya tertawa geli.
Bella memindahkan uang-uang tersebut kedalam koper kosong yang ia bawa. Hingga koper pertama terisi penuh uang dari brankas itu. Bella kembali membuka koper kedua dan memindahkan uang-uang yang berada di sana kedalam koper kedua. Tidak hanya itu, di dalam brankas tersebut terdapat sertifikat aset yang tidak diketahui. Tanpa pikir panjang, Bella memasukan sertifikat yang berjumlah belasan buah tersebut kedalam koper kedua.
.
.
.
.
.
Sebuah mobil melintas di jalan perumahan tersebut. Lalu, mobil tersebut tampak berhenti tepat di depan mobil milik Topan; dimana Berta sedang menunggu Bella yang belum kunjung keluar dari bekas rumah mereka.
Berta yang sedang duduk di belakang kemudi, memperhatikan mobil tersebut dengan jantung yang berdegup kencang. Terutama, saat pintu mobil tersebut terbuka dan seorang lelaki turun dari mobil tersebut dan berjalan ke arahnya di kegelapan jalan yang minim penerangan tersebut.
"Ya Allah semoga bukan rampok," Gumam Berta yang mulai memejamkan kedua matanya. Badan nya gemetar dan ia tidak berani sama sekali melihat lelaki yang sedang menghampirinya.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Lelaki itu mengetuk kaca mobil, Berta terperanjat dan memberanikan diri melihat ke arah jendela.
"Topan!" Serunya.