Masteng

Masteng
38. Ke Bali


__ADS_3

Topan berlari di gate yang sesuai dengan yang tertera di boarding pass nya. Cukup lama ia bisa di izinkan untuk masuk ke gate penumpang, dan cukup lama juga Pongki menunggu dirinya disana.


"Pak, maaf!" Ucap Topan, dengan nafas yang terengah-engah, saat ia berhasil menemukan Pongki.


"Ada apa sih Jo?" Tanya Pongki yang baru saja tersadar dari lamunan kesedihan nya tentang Anna.


"Itu pak, mereka tidak percaya melihat foto yang di KTP, dengan wajah saya yang sekarang. Sekarang kan saya ganteng," Ucap Topan.


Pongki mengerutkan keningnya dan tertawa kecil.


"Masa sih? Segitunya?" Tanya Pongki lagi.


"Serius pak boss," Sahut Topan. Lalu, ia beranjak duduk di samping Pongki.


Topan melirik Pongki yang matanya terlihat memerah.


"Pak boss baik-baik saja?"


"Ah, iya, saya baik-baik saja," Sahut Pongki, seraya tersenyum kepada Topan.


Topan membalas senyum Pongki, dan ia membiarkan Pongki kembali larut dalam pikirannya sendiri.


Tak berapa lama, terdengar panggilan dari speaker diruang tersebut, yang meminta para penumpang tujuan ke Bali, untuk naik ke pesawat yang sudah menunggu mereka.


Topan dan Pongki pun beranjak dari duduk mereka dan bergegas melewati pengecekan para penumpang yang sesuai dengan tiket yang tertera.


Setelah melewati gate pengecekan, Pongki dan Topan beranjak masuk ke badan pesawat. Mereka mendapatkan kursi penumpang yang paling depan. Seperti biasa, Topan masih bersandiwara layak nya Paijo, pemuda kampungan yang tidak tahu apa-apa.


"Wahhh... gini toh isi dalam pesawat?" Ucap nya.


Pongki tersenyum dan melirik Topan dengan tatapan geli.


"Pakai sabuk pengaman mu Jo, jangan lupa matikan ponsel mu juga." Pinta Pongki.


"Kenapa toh pak boss, kok ponsel saya dimatikan?" Tanya Topan, berlagak polos.


"Tidak boleh menyalakan ponsel, kecuali ponselnya punya mode pesawat. Karena sinyal ponsel bisa menggangu sinyal pesawat." Terang Pongki.


Topan mengangguk paham, terlihat seperti orang yang baru mengerti dengan aturan tersebut.


"Asik, asik, akhirnya saya bisa ke Bali!" Seru Topan dengan suara yang terdengar nyaring. Beberapa penumpang menatap Topan dengan sorot mata yang aneh. Namun, Topan mengabaikan nya. Ia sudah terbiasa di tatap aneh saat sedang menjalankan tugasnya, dalam penyamaran.


Topan pernah menyamar menjadi orang dengan gangguan jiwa, pernah menjadi preman, pernah menjadi tukang sayur, tukang tambal ban, tukang bakso dan lain sebagainya. Namun, baru kali ini ia diminta menjadi supir pribadi di rumah boss nark*ba.


Terdengar doa yang khusyuk dari bibir Pongki, saat pesawat mulai beranjak ke landasan, untuk take off. Topan yang duduk disamping Pongki, melirik lelaki paruh baya itu dan tersenyum tipis saat melihat Pongki sedang berdoa.


Setelah berdoa, Pongki melirik Topan yang tampak gelagapan saat tertangkap mata sedang memandangi dirinya.

__ADS_1


"Kenapa Jo?" Tanya Pongki.


"Ng...nggak kenapa-kenapa kok pak boss," Sahut Topan seraya menundukkan wajahnya.


"Saya takut sekali naik pesawat. Kalau bisa tidak naik pesawat, saya tidak akan mau naik pesawat. Hanya saja, terkadang kita membutuhkan waktu yang cepat untuk sampai di Kota tujuan kita," Ucap Pongki.


"Oh, begitu..." Topan mengangguk paham.


"Kamu berdoa Jo, jangan sampai, gara-gara kamu tidak berdoa, pesawat ini sial, dan kita terjun bebas di lautan lepas," Canda Pongki.


Topan pun tersenyum dan mulai berdoa dengan khusyuk.


Pesawat itu pun mulai beranjak meninggalkan Kota Jakarta pada pukul 2 siang, dan akan mendarat di Pulau Bali. Dimana menjadi tujuan mereka untuk menemui Berta dan Bella.


....


Berta sedang berbincang dengan Satrio di tepi pantai. Mereka membicarakan masalah hukum yang akan menjerat Frans di kemudian hari. Satrio baru saja sampai di Bali pada sore ini, setelah ia membawa Frans kembali ke Jakarta dan melakukan laporan secara resmi ke kantor polisi di Jakarta.


"Ada apartemen atas nama Frans, mobil mewah dan beberapa benda-benda lain nya yang bersedia di serahkan kepada Bella," Ucap Satrio seraya memberikan sebuah tabel perincian harta yang dimiliki Frans.


"Kabarnya, dia memang hobby mendekati wanita-wanita kaya raya. Dia juga seorang gig*lo."


Berta terhenyak, ia menatap Satrio dengan tatapan yang tak percaya.


"Serius?"


"Astagaaaa... untung saja anak ku tidak terjerat pernikahan dengan lelaki brengsek ini!" Berta terlihat gemas dan meremas rok nya.


"Syukurlah, semua ini karena Noel, sahabatnya Bella,"


Berta terdiam, ia melihat Noel yang sedari tadi mendekati Bella yang sedang berjemur di tepi pantai.


"Sepertinya, anak itu baik sekali. Dia pasangan yang cocok dengan Bella."


Berta hanya tersenyum menanggapi ucapan Satrio.


"Yah, baik atau tidak, kita hanya tahu di kemudian hari," Ucap Berta.


"Sebenarnya ada apa kau kesini?" Satrio bertanya dengan wajah yang serius.


Berta menundukkan pandangan nya dan tersenyum tipis.


"Mas, aku tidak apa-apa,"


"Kau berbohong Berta,"


Berta kembali tersenyum dan melemparkan pandangannya kearah Bella yang terlihat mengomel kepada Noel yang terus meminta dirinya untuk membalas pertanyaan yang diajukan oleh Noel.

__ADS_1


"Berta, bercerita lah kepadaku," Pinta Satrio.


Air mata kini menggenang di pelupuk mata Berta. Ia menatap Satrio dengan tatapan yang pilu.


Sebenarnya, dulu satrio adalah lelaki yang sangat mencintai Berta. Meskipun begitu, Berta tetap memilih Pongki untuk menjadi pasangan hidupnya. Bukan karena banyak kekurangan dari Satrio, hanya saja, Berta tidak yakin dengan lelaki yang kini duduk dihadapan nya itu.


"Aku sudah katakan, aku baik-baik saja," Ucap Berta.


"Baiklah, aku tidak memaksamu untuk bercerita. Semoga, apa yang kau ucapkan, memang benar adanya dengan apa yang kau rasakan," Satrio beranjak dari duduknya dan membereskan semua berkas untuk kembali ia bawa ke kantornya.


"Aku kembali ke kantor lagi," Ucap Satrio.


Berta hanya mengangguk kan kepalanya.


Satrio pun melangkah, meninggalkan Berta sendiri di kursi pantai itu.


"Mas," Panggil Berta.


Satrio menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Berta.


"Ya?"


"Terima kasih," Ucap Berta.


Satrio tersenyum dan mengangguk dan perlahan, lalu lelaki yang masih tampan, walaupun sudah berusia senja itu pun pergi meninggalkan area tersebut.


Kini, berta hanya berdiam diri dan terus menatap Bella yang datang mendekati dirinya.


..


"Bell, izinkan aku membahagiakan kamu, hati ku belum berubah hingga saat ini kepadamu Bella,"


Bella mengerutkan keningnya dan menurunkan kaca mata hitam hingga ke cuping hidung nya.


"Lu mabuk ya Noel?" Tanya Bella.


"Jujur, aku sudah tahu lama Frans seperti itu. Tetapi, percuma aku bilang sama kamu. Kamu tidak akan percaya Bell. Dan masalah ini... hati aku.... aku sadar kok, tidak mabuk. Aku benar-benar masih mencintai kamu, sama seperti beberapa tahun yang lalu," Ucap Noel.


Bella tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Gue gak percaya laki-laki mulai detik ini Noel. Lu juga gila! Orang patah hati, bukan pernyataan cinta yang dibutuhkan. Lebih baik, lu gak usah mengungkit-ungkit cinta sama gue!" Bella yang kesal pun beranjak dari duduk nya dan berjalan menghampiri Berta yang duduk beberapa meter dari dirinya.


"Bell!"


Bella menghentikan langkahnya dan menatap Noel dengan tatapan yang kesal.


"Shut up!!! Kepala gue pusing, di tambah elu lagi Noel. Gue terima kasih ya, atas bantuan elu. Tapi, kalau lu pikir gue akan luluh setelah lu bantu gue, itu salah. Gue gak butuh cinta! Gue butuh sendiri!" Tegas Bella.

__ADS_1


Nafas Noel terasa sesak, lelaki itu tampak kesal dengan Bella. Namun, Bella tidak peduli dengan nya, Bella meninggalkan Noel begitu saja. Tanpa memikirkan perasaan Noel yang terluka, karena obsesinya sendiri.


__ADS_2