
"Kita ngapain ke restoran bu?" Tanya Topan yang sedang mengendarai mobilnya bersama dengan Erna yang terlihat sangat cantik pada malam ini.
"Sudah, kamu ikut saja toh, ojok rewel le.."
Topan tersenyum saat mendengar Jawa ibunya. Lalu, ia kembali fokus dengan kemudinya.
30 menit kemudian, mobil yang Topan kendarai memasuki sebuah halaman restoran yang bernuansa Jawa. Topan memilih tempat untuk ia parkir kan mobilnya. Setelah itu, Topan mematikan mesin mobilnya dan beranjak keluar bersama dengan Erna.
Erna, wanita Jawa yang selalu mempertahankan kultur nenek moyangnya, tampak begitu anggun dengan setelan kebaya berwarna merah dan sanggul di kepalanya. Wanita paruh baya itu, melangkah masuk ke dalam restoran tersebut bersama putra tertuanya, yaitu Topan.
Erna yang merupakan istri dari atasan para ibu-ibu yang sudah berkumpul di restoran tersebut untuk arisan, pun menyambut Erna dengan hormat dan gembira.
"Apa kabar Amoroso?" Sapa mereka.
"Baik-baik.." Sahut Erna dengan wajah yang semringah.
"Maaf loh bu Amoroso, saya mengadakan arisan di restoran. Soalnya ada keluarga yang menginap dirumah. Jadi, biar nyaman kita disini saja bu," Ucap seorang istri dari rekan seprofesi suami dari Erna, yaitu Amoroso.
"Tidak apa-apa toh yo... sama saja.." Sahut Erna dengan gaya bicaranya yang khas.
"Itu siapa bu?" Tanya seorang ibu yang duduk di sofa, yang berada di sudut ruangan itu.
"Oh iya, ini anak saya yang bernama Topan. Dia adalah orang yang sukses membongkar kejahatan obat-obatan terlarang yang lagi viral di televisi itu loh," Ucap Erna yang terlihat sangat bangga kepada Topan.
"Ooowalaaahhh... mas Topan. Kamu hebat..! Sudah punya pacar belum?" Tanya ibu yang memakai gaun berwarna putih.
"Terima kasih bu," Sahut Topan dengan malu-malu.
"Perkenalkan saya Topan," Topan memperkenalkan diri nya di hadapan seluruh wanita hebat yang berstatus sebagai istri dari para putra negara.
"Selain ganteng nya kebangetan, anak bu Erna ini juga sopan ya..." Celetuk ibu yang memakai blus berwarna kuning.
"Ibu Mela, jadi tidak kita besanan?" Celetuk Erna, kepada Mela yang memakai dress yang berbahan batik.
Mela tersenyum semringah dan menatap Topan dengan seksama.
"Boleh dong bu, saya akan sangat terhormat bila dapat berbesan dengan ibu Erna. Apa lagi, ternyata Topan itu ganteng loh." Mela terlihat begitu kagum dengan Topan yang masih berdiri disamping ibunya.
"Monggo bu Erna, duduk." Celetuk salah satu ibu yang berada disana.
__ADS_1
"Ngih.. Terima kasih," Ucap Erna. Saat itu juga Topan menarik kursi dan mempersilahkan Erna untuk menduduki kursi tersebut.
"Ya Allah... perlakuan nya dengan ibunya luar biasa sekali. Pokoknya kita jadi berbesan bu," Ucap Mela yang terlihat begitu mengagumi Topan.
Topan hanya tersenyum tipis dan beranjak duduk disamping ibunya.
"Nak Lestari mana? Kok tidak diajak? Kan kalau nak Lestari diajak kan, Topan ada tan ngobrolnya," Ucap Erna, kepada Mela.
"Lestari menyusul bu, sekarang dia lagi dijalan."
Topan terlihat canggung mendengar nama Lestari. Nama itu mengingatkan dirinya pada Dokter yang memarahi dirinya di parkiran rumah sakit.
"Dengan anak saya saja, namanya Dewi," Ucap salah satu ibu yang berada disana.
"Atau dengan anak saya, namanya Lyly. Tapi dia masih kuliah, semester dua." Sahut ibu yang satu lagi.
"Topan usia sudah siap menikah loh ibu-ibu. Jadi, dia mencari wanita dewasa yang siap untuk dia nikahi. Bukan begitu Topan?" Tanya Erna.
Topan hanya tersenyum, tanpa menanggapi pertanyaan dari Erna.
"Anak-anak bergabung saja di sana," Ucap ibu yang memakai blus kuning, sambil menunjuk ke sisi lain restoran tersebut. Terlihat satu orang lelaki yang tampak masih sangat muda dan dua orang gadis cantik yang berusia menjelang 20 tahun di meja outdoor restoran itu.
"Topan, ayo berkenalan dengan adik-adik disana," Ucap Erna.
"Saya bergabung dengan adik-adik disana dulu bu."
"Iya.." Sahut Erna dan seluruh ibu-ibu disana.
Topan pun melangkah menuju ke meja outdoor yang terdapat di tengah bangunan restoran tersebut.
"Ya ampun bu Erna, anak nya sopan banget ya... ya Allah, mimpi kali saya punya menantu seperti itu." Celetuk salah seorang ibu.
Erna tersenyum bangga, kala anak nya mendapatkan pujian dari para istri dari rekan suaminya itu.
"Ayo... arisan dimulai," Ucap Erna.
Topan menghentikan langkahnya di meja outdoor dan menatap 3 orang muda mudi yang sedang asik dengan ponselnya. Lalu, ia pun beranjak duduk di samping pemuda yang tampak serius dengan game yang sedang ia mainkan di ponselnya.
Sesaat, ketiga muda mudi itu mengalihkan pandangannya dan menatap Topan yang cukup tua bagi mereka untuk mereka ajak berbicara. Bagaimana tidak, disana ada Bagas, yang baru berusia 18 tahun. Lyly, yang berusia 19 tahun. Dan Dewi yang sedikit tampak sedikit dewasa diantara dua lainnya, yang berusia sekitar 23 tahun.
__ADS_1
Bagas tersenyum santun kepada Topan, lalu ia kembali asik dengan game di ponselnya. Sedangkan Lyly dan Dewi terpana menatap lelaki tampan di depan mereka.
"Hai kak," Sapa Lyly.
"Hai," Sahut Topan, sambil tersenyum manis kepada Lyly.
"Hai, saya Dewi," Dewi menyodorkan tangan nya untuk dapat berkenalan dengan lelaki tampan di depan nya itu.
"Topan." Topan menyambut tangan Dewi. Setelah itu, Topan mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengirim pesan kepada Bella. Sedangkan dua gadis di depannya terus menatap wajahnya yang begitu sempurna. Hingga mereka tidak lagi peduli dengan ponsel mereka.
"Ganteng sekali ya kak," Bisik Lyly kepada Dewi, yang sudah cukup akrab dengan dirinya. karena ia dan Dewi, kerap bertemu saat ibu mereka sedang berkumpul untuk mengadakan arisan.
Dewi hanya tersenyum tanpa menoleh kepada Lyly. Ia terus menatap Topan yang tersenyum sendiri saat mengetik pesan untuk Bella.
"Kamu," Terdengar suara yang tidak asing bagi Topan. Topan pun menoleh kearah suara tersebut. Terlihat Lestari tertegun menatap dirinya.
"Hai dok," Sapa Topan.
"Ha-hai," Sahut Lestari. Lalu, gadis itu beranjak duduk di samping Dewi yang terlihat bingung, karena Lestari dan Topan sudah saling mengenal.
"Kamu, kenapa ada disini?" Tanya Lestari dengan wajah yang terheran-heran.
"Saya anak dari bapak Amoroso dan ibu Erna."
Lestari terperangah, hingga ia menutupi mulutnya dengan telapak tangan nya.
"Serius?" Tanya nya, dengan ekspresi wajah yang tidak mempercayai ucapan Topan.
Topan hanya tersenyum dan kembali menatap ponselnya.
Sayang, gimana keadaan mami mu? Apakah semua baik-baik saja? Aku harap, kamu tidak marah lagi denganku. Aku mencintaimu, walau di manapun raga ku berada. Aku merindukan kamu, walaupun kamu sedang marah padaku. :)
Topan mengirim pesan tersebut kepada Bella. Lalu, ia tersenyum semringah dan meletakkan ponselnya di atas meja.
Lestari memperhatikan gerak gerik dan senyuman semringah Topan dengan ekspresi yang datar. Lalu, setelah melihat Topan meletakkan ponselnya di atas meja, Lestari pun kembali tersenyum kepada Topan.
"Saya minta maaf atas..."
"Saya sudah bilang, saya sudah memaafkan. Saya pesan minum dulu ya." Potong Topan. Lalu, Topan meraih buku menu yang baru saja di berikan oleh seorang pelayan restoran itu kepadanya.
__ADS_1
Lestari terdiam. Ia benar-benar merasa bersalah dengan sikapnya tadi pagi kepada Topan. Tetapi, di satu sisi, ia merasa kagum dan sangat menyukai sikap Topan yang terlihat tegas dan acuh tersebut.
"Hmmm, mengapa kamu terlihat menarik sekali di mataku? Tapi, sayangnya kamu sudah memiliki kekasih." Gumam Lestari dengan raut wajah yang kecewa.