Masteng

Masteng
174. Surat Bella


__ADS_3

"Bapak Pongki susilo!" Panggil seorang sipir yang baru saja membuka pintu sel milik Pongki.


"Ya?" Pongki yang sudah siap menghadapi hukuman pun beranjak dari duduknya.


Hari ini, Pongki memakai pakaian serba putih, yang memang di peruntukan untuk narapidana yang akan melaksanakan hukuman matinya.


"Ayo ikut, keluarga anda sudah menunggu."


"I-i-iya," Sahut nya seraya beranjak mendekati sipir penjara tersebut.


Pongki pun di giring menuju ke ruangan khusus. Di sana sudah ada Berta dan Galang yang ingin bertemu dengan nya untuk yang terakhir kalinya.


Cklekkk!


Pintu ruangan itu pun di buka. Pongki di izinkan masuk untuk bertemu dengan Berta dan Galang.


"Pongki!" Berta beranjak memeluk Pongki yang tersenyum kepada dirinya saat memasuki ruangan itu.


"Kamu menepati janjimu," Ucap Pongki.


"Aku sudah bilang, aku pasti datang."


Pongki tersenyum saat melihat Berta memakai gaun hitam pemberian dirinya.


"Kamu cantik sekali," Ucap nya seraya mengusap lembut puncak kepala Berta.


Berta yang sebentar lagi akan kehilangan Pongki tidak bisa tersenyum atau pun menangis, ia hanya mampu menatap lelaki nya itu dengan tatapan yang penuh duka.


"Ini ada surat dari Bella dan Topan." Berta menyodorkan surat pemberian Bella kepada Pongki.


"Topan?" Tanya nya.


"Ya, Bella dan Topan."


Pongki meraih surat itu, lalu ia menatap Galang yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang terlihat menyimpan kesedihan.


"Apa kabar pak?"


"Alhamdulillah baik," Sahut Galang dengan ujung suara yang tercekat.

__ADS_1


"Terima kasih untuk kemarin pak," Ucap Pongki.


"Tidak masalah pak," Sahut Galang seraya memeluk Pongki dengan erat.


Mereka pun duduk bertiga. Berta duduk di sebelah Pongki, sedangkan Galang duduk di depan mereka.


Tidak ada kata yang terucap diantara mereka bertiga. Semua terdiam seakan tidak ada kata yang mampu untuk di ucapkan lagi di hari terakhir Pongki ini.


"Sa-sa-saya membaca surat dari Bella dulu ya," Pongki meminta izin kepada Berta dan Galang. Mereka berdua pun hanya mengangguk dan membiarkan Pongki membaca sepucuk surat dari Bella.


Pongki membuka sampul surat itu dan mulai membacanya.


Assalamualaikum dad, Bella mohon maaf tidak bisa hadir untuk bertemu dengan daddy untuk yang terakhir kalinya. Karena Bella baru saja melahirkan. Maka, Bella tidak dapat pergi jauh. Bahkan Jagat pun belum puput pusar. Bella harap daddy mengerti dan memaafkan Bella.


Dad... Bella tahu ini sangat berat. Bahkan Bella tidak dapat berhenti menangis kala mengingat daddy. Mengapa harus jalan ini yang daddy tempuh untuk menebus segalanya? Tetapi ya sudahlah.. Bagaimanapun, Bella merasa bangga dengan daddy yang sangat berjasa di dalam hidup Bella. Karena daddy, Bella bisa sekolah yang tinggi. Karena daddy, Bella bisa mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berarti, yang mungkin tidak semua orang dapat merasakan nya.


Daddy, apa pun yang terjadi, bahkan setelah kepergian daddy nanti. Percayalah, daddy akan tetap hidup di hati Bella, Jagat dan mas Topan.


Tidak banyak yang ingin Bella sampaikan di saat-saat terakhir ini. Bella hanya ingin bilang pada daddy. Kami semua sangat menyayangi daddy. Pulang lah dengan senyuman di wajah daddy. Semoga daddy mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin.


Oh iya dad, mas Topan juga berpesan, dia mohon maaf kepada daddy atas segala yang terjadi ataupun segala kesalahan nya kepada daddy. Kemarin hanya itu yang ia katakan sebelum ia pergi menjalankan tugasnya di luar Kota. Sejak kemarin dia tidak pulang kerumah. Itu juga alasan nya mengapa ia tidak bisa hadir disana.


Opa yang tercinta, Jagat sangat bahagia sempat merasakan pelukan hangat opa. Terima kasih opa, atas permintaan opa yang ingin menemui Jagat sebelum opa pergi. Mama berjanji akan menceritakan betapa tampan dan hebatnya opa, kelak bila Jagat beranjak besar. Opa, Jagat akan selalu merindukan dan mendoakan opa. I love you opa.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.


Dari anak, menantu dan cucu daddy.


Air mata menetes di pipi Pongki, saat ia baru saja selesai membaca surat dari Bella. Lalu ia mencoba tersenyum dan menatap Berta.


"Sampaikan salam penuh cinta ku untuk Bella, Topan dan Jagat. Bilang pada mereka, tidak apa mereka tidak hadir. Bila memang yang terbaik adalah itu. Hanya saja, aku mohon, doakan aku. Hanya doa dari orang-orang terkasih lah yang mampu menyelamatkan aku di alam sana," Ucap Pongki dengan suara yang bergetar.


Galang yang terlihat kuat pun tak mampu menyembunyikan air matanya. Pun dengan Berta yang mulai terisak saat mendengar ucapan Pongki.


"Jangan menangis sayang, tersenyum lah. Biar aku tidak merasa berat untuk pergi," Pinta Pongki seraya mengusap air mata yang membanjiri pipi Berta.


Berta hanya mengangguk, lalu ia mencoba untuk memberikan senyuman terbaik nya untuk Pongki.


"Nah, begitu dong," Pongki tersenyum dan merengkuh tubuh Berta kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Berta, aku mohon maaf bila banyak kesalahan ku selama ini saat menjadi suami mu. Mohon, ikhlaskan kepergian ku."


Berta tak dapat berkata-kata. Ia hanya memeluk Pongki dengan erat.


"Pak Galang, saya juga mohon maaf bila ada kesalahan saya kepada bapak dan juga bu Erna."


"Tidak ada kesalahan apa pun pak," Sahut Galang dengan suara yang bergetar.


"Terima kasih pak," Pongki tersenyum dengan tulus kepada Galang. Lalu ia membalas pelukan Berta dengan erat.


"Pak Pongki, waktunya habis," Ucap seorang sipir yang baru saja memasuki ruangan itu.


"Iya pak," Sahut Pongki seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Berta yang tak mau melepaskan pelukannya.


"Beri waktu sedikit lagi pak," Berta menangis kepada sipir tersebut. Namun sipir itu bergeming. Sipir itu hanya menatap perpisahan yang begitu memilukan tersebut dengan tatapan yang datar.


"Pongki, jangan lepaskan pelukan mu," Ucap Berta yang terlihat begitu memohon kepada Pongki.


"Maafkan aku, waktunya sudah tiba." Pongki melepaskan tangan Berta yang semakin erat melingkar di pinggang nya.


"Setelah ini aku akan pulang denganmu. Relakan aku Berta," Ucap Pongki.


Perlahan tangan Berta melepaskan pelukannya dari pinggang Pongki. Pongki pun berlalu dari hadapan Berta sambil melambaikan tangannya dan memberikan senyuman terbaik nya kepada Berta.


"Selamat tinggal cinta ku," Ucap Pongki.


Saat itu juga Berta terduduk dilantai. Tangan nya seperti mencoba menggapai sosok Pongki yang menghilang di balik pintu ruangan itu.


"Pongki!" Panggil nya.


Galang menghampiri Berta, lelaki itu mencoba untuk menguatkan Berta yang harus bersiap melepaskan Pongki untuk selama-lamanya.


.


Bukit Nirbaya merupakan lokasi tempat eksekusi mati para terpidana yang akan melaksanakan hukuman nya. Bukit tersebut berjarak sekitar 6 kilo meter sebelah selatan Lapas Batu, Nusakambangan. Para eksekutor dan juga petugas yang berwenang sudah berada disana, menunggu hadirnya Pongki yang sedang berada di perjalanan menuju ke sana bersama dengan seorang rohaniawan yang terus mencoba menenangkan dirinya. Sedangkan Galang dan Berta, tidak ikut ke lokasi. Mereka hanya menunggu di ruangan itu hingga kabar kematian sampai di telinga mereka, dan pulang membawa jasad Pongki.


Beberapa menit kemudian, Pongki sampai di bukit Nirbaya. Dirinya di giring ke lokasi dan di persilahkan duduk di kursi yang telah di sediakan untuk nya. Sementara acara pelaksanaan pun di mulai. Disana suasana cukup mencekam, Pongki menatap satu persatu orang yang berada disana. Terlihat 12 orang dengan pakaian serba hitam dengan penutup kepala, ia mencoba mengenali salah satu dari 12 orang yang akan menjadi eksekutor untuk dirinya. Ya, dirinya mencoba mencari sosok Topan, menantunya. Tetapi, sangat sulit baginya. Karena saat personil menggunakan seragam lengkap, mereka nyaris tidak dapat di kenali. Mereka juga tidak mengeluarkan suara apa pun. Disana juga terlihat komandan pimpinan dari para eksekutor yang sedang memberikan intruksi. Disana juga terlihat para tenaga medis yang siap bertugas untuk mengurus mengecek keadaan Pongki setelah peluru menembus jantung nya, dan juga jenazah nya.


Seketika, seluruh tubuh Pongki mulai gemetar. Rasa takut menyerang dirinya. Tetapi ia sudah kepalang tanggung. Hal ini sudah menjadi pilihan nya. Untuk mengusir rasa takutnya, Pongki kembali mencari sosok Topan. Entah bagaimana pun caranya, ia mencoba memperhatikan gerak gerik satu persatu dari personil, berharap Topan memberikan dirinya tanda, bila Topan ada di sana diantara 12 eksekutor tersebut. Namun, seberapa keras pun dirinya berusaha untuk mengenali Topan, itu semua sia-sia.

__ADS_1


"Apakah kamu ingkar janji? Apakah kamu tidak ada disini saat ini? Dimana kamu Topan?" Gumam Pongki.


__ADS_2