
"Semakin kamu dingin kepadaku, semakin kamu sangat menarik Topan," Gumam Lestari dari balik meja kerjanya.
Lestari menyenderkan punggungnya di sandaran kursi dan menatap langit-langit ruang kerjanya. Ia membayangkan setiap ukiran yang sempurna di wajah Topan.
"Ahhhh.... apa dia dingin denganku karena dia masih memiliki hubungan dengan Bella?" Gumam nya lagi.
Tok! Tok! Tok!
Lestari dikejutkan oleh bunyi ketukan di pintu ruangan nya.
"Masuk," Ucap nya seraya membetulkan letak jubah dokternya.
Cklekkk..!
Terlihat Mela yang tersenyum lebar kepadanya.
"Ibu, ngapain kesini? Ganggu tahu tidak ibu..!" Ucap Lestari tanpa ada perasaan menghormati Mela, sebagai ibunya.
"Loh, kok begitu. Ibu hanya ingin melihat anak ibu saja. Kebetulan, ibu sedang menjenguk Ibu Eko yang di rawat di lantai tiga. Ya, ibu mampir dong ke ruangan kamu,"
Lestari menghela nafas panjang dan mengacuhkan ibunya.
"Eh, Tari, kayaknya kamu tidak jadi di jodohkan dengan Topan deh,"
Lestari yang sedang membereskan meja kerjanya pun tercenung dan menatap Mela dengan tatapan yang tak percaya.
"Komedi macam apa ini?" Tanya Lestari.
"Kamu tahu tidak, kata bapak mu, kalau ternyata Topan bukan anak kandung si Amoroso, jendral itu," Ucap Mela dengan wajah yang terlihat sangat serius.
"Tetapi bu.."
"Sudah, kita cari yang lain. Masih ada anak nya bu Eko. Dia juga polisi loh. Dia sekarang bertugas di Gorontalo. Masih bujangan, usianya sama dengan kamu.."
"Kalau bukan anak pak Amoroso, terus Topan itu anak siapa?" Tanya Lestari penasaran.
"Ada, namanya Galang. Gak tahu deh ini benar atau tidak. Gosip yang beredar sih begitu."
"Tapi bu, aku sudah sangat cocok dengan Topan."
"Apanya yang cocok?" Tanya Mela mencoba membantah keyakinan Lestari.
"Dia itu tampan, berwibawa, dingin dan berkelas."
"Ssssttt... sudah, kamu sama anak nya bu Eko saja. Dia gak kalah tampan kok dari Topan."
"Tidak bisa, aku mulai mencintai Topan."
Mela terpana dan menatap Lestari dengan seksama.
"Apa kamu sudah gila?"
"Ya, cinta kan membuat kita gila. Sekarang aku tanya, mengapa ibu mau sama bapak? Bukankah bapak sempat membuat ibu gila juga karena asmara?"
"Lestari... kamu!"
__ADS_1
"Sudah bu, apa yang aku pilih, aku tidak akan mundur. Terserah dia mau anak siapa. Aku hanya mau dengan nya. Aku suka dengan nya... Titik!"
Mela terdiam membisu.
"Sekarang ibu mendingan balik deh. Sebentar lagi aku mau mengecek pasien."
"Lestari... kamu tahu apa yang sedang kamu katakan?"
"Sangat tahu bu, aku sadar dan tidak mabuk. So, jangan ganggu kerjaan ku," Ucap Lestari sambil tersenyum dan melangkah keluar dari ruangan nya. Meninggalkan Mela yang termenung tak percaya dengan ucapan anak kandungnya sendiri.
..
"Kapan daddy mulai di sidang mam?" Tanya Bella yang sedang mengepak barang-barang yang akan ia bawa pindah dari istana nya.
"Katanya, mulai bulan depan." Berta yang sedang memasukkan barang-barang kedalam kadus pun menghela nafas panjang.
Bella beranjak mendekati Berta dan memeluk maminya itu dari belakang dengan erat.
"Semua akan baik-baik saja mam," Bella mencoba menenangkan Berta.
"I hope so," Sahut Berta seraya tersenyum getir.
"Oh iya mam, nanti malam aku mau pergi bersama Topan. Apakah boleh?"
"Tentu saja," Sahut Berta.
"Apakah mami baik-baik saja?" Tanya Bella lagi.
"Yah.. walaupun pasti terasa sepi. Biasanya, kalau kamu di luar rumah, ada daddy mu yang menemani mami. Tetapi, sekarang tidak ada." Berta kembali tersenyum getir.
"No, tidak apa-apa. Mami juga sedang ingin sendiri. Pergilah... kalian butuh waktu lebih banyak untuk saling mengenal satu dengan yang lain nya. Walaupun mami tidak meragukan lagi siapa Topan. Tetapi, kalian benar-benar membutuhkan untuk saling mengenal terlebih dahulu, sebelum melangkah ke jenjang yang lebih baik lagi."
Bella menatap Berta dengan tatapan haru. Lalu, ia kembali memeluk Berta dengan penuh kasih sayang.
"Ya sudah mam, sekarang sudah pukul tiga sore. Kalau begitu, aku bersiap-siap dahulu ya mam,"
"Loh, kan Topan mau datang pukul enam.. kok buru-buru sekali?"
Bella tertawa semringah, lalu ia mengecup pipi Berta dengan manja.
"Mam, aku wanita. Aku butuh waktu yang lama untuk berdandan,"
Berta tersenyum dan mengusap lembut pipi Bella.
"Ya sudah, sana. Dandan yang cantik, jangan kecewakan Topan."
"Siap mami," Dengan raut wajah yang bahagia, Bella pun beranjak menuju ke kamarnya.
"Dasar anak muda," Berta menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli.
Berta pun teringat memorinya bersama dengan Pongki, puluhan tahun yang lalu. Saat ia pertama kali berkencan dengan lelaki idaman nya itu. Berta berdandan selama enam jam!
Hampir seluruh pakaiannya yang berada di dalam lemari ia keluarkan, hanya untuk memilih gaun yang perfect untuk dirinya. Tidak lupa, Berta mandi dan menggunakan lulur agar kulitnya terasa lebih halus dan lembut dari pada biasanya. Tidak hanya itu, Berta pun menghabiskan waktu berjam-jam untuk merias wajahnya. Setelah ia rias, lantas ia hapus kembali, hanya karena merasa ada yang kurang di wajah nya.
Berta tersenyum sendiri, hanya dengan Pongki lah dirinya seperti itu. Sedangkan dulu ia juga pernah di ajak jalan-jalan dengan Satrio. Dengan acuh nya, ia memilih baju yang biasa saja, serta tidak merias wajahnya yang cantik. Memang benar, orang akan terlihat berlebihan saat sedang jatuh cinta. Tidak hanya di usia muda saja, bahkan saat usia senja pun, bila masih ada cinta yang datang, seseorang akan terlihat mulai berlebihan. Disadari ataupun tidak kita sadari.
__ADS_1
.
Topan melirik jam dinding di kantornya. Jarum jam menunjukan pukul 5 sore, dan waktu kerjanya pun sudah berakhir. Topan menyambar jaketnya dan juga kunci mobilnya. Lalu, ia beranjak dari ruangan nya.
"Mau kemana kau Pan?" Tanya Suprapto.
"Biasa bang," Sahut Topan seraya tersenyum kepada Suprapto.
"Biasanya kau ngapain? Aku gak tahu,"
"Pokoknya biasa lah," Sahut Topan lagi dengan gaya meledek.
"Gak sopan kau sama aku," Keluh Suprapto.
Topan hanya tertawa mendengar keluhan Suprapto.
"Ya sudah, aku tinggal dulu ya Bang,"
"Ya sudah, hati-hati kau Pan,"
"Siap bang, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Topan pun menghilang dari balik pintu ruangan tersebut.
"Eh, jadi anak muda itu kayak si Topan. Mau pergi saja mengucapkan Assalamualaikum, kalau kau apa..!"
Antok yang sedang asik dengan game nya melirik Suprapto yang sedang berbicara sama dirinya.
"Ya sudah, aku juga mau pulang," Ucap Antok, lalu ia mematikan ponselnya dan mengantonginya. Lalu ia beranjak dari duduknya dan menyambar jaketnya dan juga kunci mobilnya.
"Assalamualaikum ya ahli kubur!" Celetuk Antok.
"Kurang ajar kau ya Antok!" Suprapto pun melemparkan tutup gelas kopi yang berada di depan nya.
"Salah lagi saja aku. Payah ngomong sama abang lah!"
"Maksud ku gak kayak gitu Tok! Aku belum mati!"
"Ya sudah, Assalamualaikum ya calon mayat!" Ucap Antok seraya berlari keluar dari ruangan itu.
"Antok! Bajingannnnnn!" Teriak Suprapto.
Walaupun begitu, Suprapto adalah sosok abang bagi seluruh rekan kerjanya. Bukan masalah umur saja, tetapi Suprapto adalah orang yang tidak gampang tersinggung, dan selalu membela seluruh rekan kerjanya.
Suprapto kerap membuat seluruh rekan nya tertawa. Meskipun begitu, saat bertugas di lapangan, Suprapto adalah sosok yang disegani. Dirinya mampu memanage team nya dengan baik. Dirinya juga mampu membedakan mana saat santai dan saat serius. Dari situlah kehormatan dan rasa segan para sahabatnya muncul.
Suprapto tersenyum sendiri. Diam-diam dirinya sedang bersedih. Sebentar lagi, ia akan berpisah dengan sahabat-sahabat nya di kantor itu. Suprapto akan mendapatkan jabatan baru yang lebih tinggi. Ia akan di tugaskan ke Provinsi Riau, dan juga akan memboyong seluruh anggota keluarga nya ke Riau.
Walaupun ia merasa senang karena naik jabatan, tetapi meninggalkan para sahabatnya membuat hatinya merasa berat. Bagi putra negara, persahabatan adalah segalanya. Walaupun persahabatan itu tidak akan pernah putus sampai kapanpun. Tetapi, kenangan dan kebersamaan akan selalu menjadi poin yang sangat dirindukan.
Suprapto meraih gelas kopinya dan menyeruput kopi itu dengan perlahan. Lalu, ia termenung di mejanya.
"Kalian, orang-orang kurang ajar kepada ku, yang pasti akan selalu aku rindukan." Gumam nya.
__ADS_1