Masteng

Masteng
40. Apa yang kamu lakukan?


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"Pak! Pak! Pak boss!" Panggil Topan sambil mengetuk pintu kamar Pongki.


Pongki yang sedang bersiap untuk pertemuan nya dengan Berta, beranjak dengan tenang menuju ke pintu kamarnya.


"Ada apa Jo?" Tanya Pongki dengan wajah yang bingung, saat melihat ekspresi wajah Topan yang terlihat panik.


"Pak, kanjeng mami barusan keluar. Saya lihat dia di lorong menuju ke lift."


"Oh ya?" Sama Bella?"


"Tidak pak,"


"Kemana dia? Pakai baju apa? Rapi tidak?"


"Rapi, cantik, baju cokelat!" Ucap Topan, saking semangat nya, air liur nya berhamburan dari bibirnya.


"Duh! Kamu itu ya Jo." Pongki mengusap kemejanya yang terkena percikan air liur Topan.


"Maaf pak boss..," Topan tersenyum, lalu menutup bibirnya.


"Ya sudah, aku susul dulu. Kamu tunggu disini. Saya memesan bunga, tetapi belum datang. Ini, uang nya, jangan lupa bayar dan berikan tip untuk kurir itu." Pongki mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu rupiah dan memberikan nya kepada Topan.


"Ngeh pak boss."


"Saya pergi dulu." Pongki bergegas memakai sepatunya dan berlari ke arah lift.


Topan terdiam dan berdiri saja di depan kamar Pongki. Setelah situasi aman, ia pun melangkah masuk ke kamar lelaki paruh baya itu. Ia memeriksa barang bawaan Pongki yang berada di dalam koper lelaki itu.


Lalu, Topan menemukan sebuah ponsel yang tertinggal disana. Ya, itu adalah ponsel kedua milik Pongki. Ponsel itu beberapa kali pernah dilihat oleh Topan. Ponsel itu hanya berdering sesekali. Sedangkan satu ponsel lagi, itu yang biasa di bawa oleh Pongki.


Dengan jantung berdebar, Topan meraih ponsel itu, di antara tumpukan baju milik Pongki. Ponsel itu dalam keadaan mati. Topan pun berusaha menyalakan ponsel tersebut dengan terburu-buru.


Butuh waktu beberapa menit untuk ponsel tersebut menyala. Topan terus terlihat waspada dengan situasi sekitarnya, walaupun pintu kamar tersebut sudah ia kunci. Terlihat wajah tak sabar dari Topan. Ia terus mengetukkan jarinya dengan cepat, di atas meja.


Tringggggg...!


Terdengar bunyi ponsel yang baru saja aktif. Topan pun mulai memeriksa ponsel tersebut. Sayang nya, ponsel itu di butuhkan sidik jari dari Pongki. Topan terlihat gemas dan memukul meja tersebut, hingga menimbulkan suara gaduh.


Brakkkk!

__ADS_1


Topan bergegas keluar membawa ponsel itu, berniat akan membawakan ke seorang rekan yang selalu bersiaga di sekitar hotel tersebut.


Baru saja ia membuka pintu tersebut, seorang pria berdiri di hadapan nya, yang membuat Topan terkejut dan ponsel di tangan nya nyaris saja terjatuh.


"Bunga nya pak Pongki," Ucap lelaki berusia sekitar 20 tahun tersebut.


"Ah, iya, sahut Topan." Seraya mengantongi ponsel milik Pongki dan menyerahkan uang titipan Pongki kepada lelaki pengantar bunga tersebut.


"Terima kasih pak, Ini kembalian nya," Ucap lelaki itu, sambil memberikan Topan uang kembalian tersebut.


"Tidak usah, untuk mu saja," Ucap Topan dengan ekspresi wajah aslinya sebagai Topan yang sebenarnya.


"Terima kasih pak," Ucap lelaki pengantar bunga itu, seraya tersenyum semringah.


Topan hanya mengangguk dan membiarkan lelaki itu beranjak meninggalkan dirinya. Baru saja ia hendak membawa masuk bunga tersebut, pintu kamar Bella terbuka. Dengan cepat, Topan menutup pintu kamar Pongki dan bersembunyi di dalam nya. Terdengar suara langkah kaki menjauh di lorong tersebut.


Topan meletakkan buket bunga yang sedang ia pegang, keatas ranjang. Lalu, ia mengintip dari lubang intip di daun pintu kamar tersebut. Sekiranya aman, ia pun membuka pintu kamar tersebut. Suasana di lorong tersebut sangat lengang. Topan pun menyelinap keluar dari kamar tersebut.


Dengan berlari kecil, Topan menuju ke pintu darurat, dan mulai menuruni anak tangga menuju ke lantai dasar.


"Temui saya di bawah, tepat di depan pintu darurat." Perintah Topan dengan alat komunikasi nya yang terselip di balik jaketnya.


"Siap pak!" Terdengar suara dari ujung sana.


"Boss," Sapa lelaki itu.


"Bawa ini, periksa dan kembalikan sebelum tengah malam. Copy semua yang ada disana, beserta lacak apa yang ada di dalam nya. Setelah itu, laporkan ke pusat." Perintah Topan.


Lelaki itu mengangguk dan meraih ponsel tersebut dan memasukan nya kedalam plastik bening, lalu mengantonginya dan berjalan menuju ke arah mobil yang standby di samping hotel tersebut.


Topan kini dapat bernafas lega. Lalu, ia melihat Bella yang baru saja hendak memasuki sebuah taksi. Dengan seksama, Topan memperhatikan Bella yang tampak sangat cantik malam ini. Sayangnya, Bella memakai pakaian yang terlalu minim. Yang membuat Topan merasa khawatir dengan gadis tersebut.


Setelah taksi yang di tumpangi Bella beranjak meninggalkan hotel tersebut, Topan menurunkan topi nya hingga menutupi setengah wajahnya, lalu ia melangkah menuju ke sebuah taksi yang sedang menunggu penumpang di lobby hotel tersebut.


"Ikuti taksi yang di depan," Pinta Topan saat ia baru saja masuk kedalam mobil tersebut.


"Baik pak," Sahut supir taksi tersebut.


Mata Topan terus menatap ke taksi yang di tumpangi oleh Bella. Terlihat cemas diwajahnya yang tampan.


"Mau kemana dia pakai baju seperti itu! Ada-ada saja sih, kalau kenapa-kenapa bagaimana?" Gumam Topan.

__ADS_1


...


Taksi yang ditumpangi oleh Berta, berhenti di sebuah club beach, tempat dimana dirinya mengadakan pertemuan dengan Satrio. Supir taksi membukakan pintu mobil nya untuk Berta. Lalu, wanita paruh baya itu pun keluar dan mengucapkan terima kasih kepada supir taksi tersebut. Lalu, ia melangkah memasuki beach club tersebut.


Tak lama kemudian, mobil yang disewa oleh Pongki berhenti di tempat yang sama. Pongki pun bergegas turun dan menyusul Berta yang sudah memasuki beach club tersebut.


"Hai mas," Sapa Berta yang berjalan menghampiri Satrio yang menunggu dirinya di sebuah meja yang terletak di tepi pantai tersebut.


"Hai Berta," Sahut Satrio yang langsung berdiri dan mengecup kedua pipi Berta.


"Sudah dari tadi?" Tanya Berta seraya beranjak duduk, saat Satrio menarik kursi dan mempersilahkan Berta untuk duduk di sana.


"Baru lima belas menit kok,"Ucap Satrio seraya tersenyum manis kepada Berta.


"Anak dan istri kok tidak dibawa?" Tanya Berta dengan polos.


"Hmmm.. aku ingin berbicara berdua saja," Ucap Satrio.


Air muka Berta seketika berubah, tetapi ia mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Apa tidak menimbulkan fitnah bila seperti ini mas? Saya tidak enak bila ada yang melihat, istri mu atau teman-teman istri mu," Ucap Berta.


"Sudahlah, istriku tahu aku pergi dengan mu. Toh, kuta juga hanya membahas masalah kasus hukum Fra...."


"Berta!"


Belum selesai Satrio berbicara, ucapan nya tertahan karena mendengar suara yang memanggil nama Berta.


Berta dan Satrio menoleh, dan mendapati Pongki yang berdiri tak jauh dari mereka.


Terlihat wajah Pongki memerah saat menghampiri Berta dan Satrio.


"Ma-mas..." Berta beranjak dari duduknya dan menatap Pongki dengan wajah yang gelisah. Sedangkan Satrio, menghela nafas panjang dan ikut berdiri menyambut Pongki.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ke Bali hanya ingin menemui dia?" Tanya Pongki.


Pongki cukup tahu masa lalu Satrio yang sangat menyukai Berta. Bagaimana tidak, dulu mereka sama-sama bekerja di perusahaan Ayah nya Berta. Pongki sebagai karyawan biasa, sedangkan Satrio sebagai asisten dan juga kuasa hukum di perusahaan Ayahnya Berta.


"Ma-mas, aku bisa jelaskan..."


"Kamu selingkuh? Apa yang kamu lakukan Berta! Kamu ingin membalas ku? Begini kah, setelah aku memilih untuk mempertahankan hubungan kita?"

__ADS_1


Saat itu juga, Satrio paham dengan masalah yang tengah dihadapi oleh Berta dan Pongki. Bahwa, rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja. Pongki telah mengkhianati Berta. Saat itu juga, terlihat senyum tersungging di sudut bibir Satrio.


__ADS_2