Masteng

Masteng
129. Berbohong demi kebaikan


__ADS_3

Tuhan, bila saja engkau mendengar ungkapan hatiku saat ini. Aku, sangat ingin mengubah isi dari hasil test DNA ini.


Walaupun aku dan bapak, tidak pernah memiliki ikatan emosional selama ini. Tetapi, dia adalah orang yang sangat berjasa di dalam hidupku.


Tuhan, tanpa bapak, mungkin aku bukan siapa-siapa. Tanpa bapak, aku tidak bisa berada di titik ini. Tanpa bapak, aku tidak akan pernah belajar mandiri seperti ini.


Tuhan, aku mohon, aku hanya ingin dia sebagai bapak ku. Walaupun aku tidak memiliki ikatan darah dengan nya.


Walaupun dia kerap kasar kepadaku. Kerap mendiamkan ku, memarahiku, tidak ingin melihatku. Tetapi, aku hidup dari jerih payahnya. Dia lah, yang membelikan ku susu sejak aku lepas dari ASI. Dari keringatnya dan perjuangan nya lah aku dapat menikmati makanan enak setiap hari, yang sudah diolah oleh tangan lembut ibuku. Karena dia lah, aku bisa sekolah, mendapatkan tempat tinggal, membeli baju, dan lain sebagainya.


Tuhan, dia manusia bertanggung jawab, mengapa engkau memberikan dirinya cobaan melalui hadir nya aku.


Tuhan, maaf... aku tak terima.


Topan.


..


Srekkkk..!


Topan membuka pintu ruangan Amoroso, lalu ia melangkah masuk kedalam ruangan tersebut. Amoroso dan Erna, menatap Topan yang berjalan dengan wajah yang terlihat serius.


Air mata, mulai tergenang di pelupuk mata Erna yang bersiap untuk tersingkap nya tabir masa lalu yang telah ia tutup serapat mungkin.


Sedangkan Amoroso, lelaki itu tampak pasrah dengan apa pun yang terjadi. Tatapan nya begitu tegar, walaupun dirinya sedang terkulai lemas di atas ranjang.


"Bagaimana?" Tanya Amoroso.


Topan tidak menjawab pertanyaan lelaki tua itu. Melainkan, dirinya berjalan mendekati Amoroso. Lalu, ia menyerahkan amplop hasil test DNA yang masih terlihat di segel.


Amoroso menatap amplop tersebut, dan lalu ia menatap Topan dengan seksama.


"Mengapa belum kau buka?" Tanya Amoroso.


"Bapak yang berhak untuk membukanya terlebih dahulu," Jawab Topan.


Amoroso menatap wajah topan sekali lagi. Lalu, ia meraih amplop tersebut dengan tangan yang gemetar.


"Buka lah pak, aku ingin tahu isinya," Ucap Topan.


Amoroso menatap Topan yang terus menatapnya dan Erna yang sedang menundukkan wajahnya dalam-dalam.


Srekkkk!


Amoroso merobek segel amplop tersebut. Lalu, ia mengambil isi dari amplop tersebut. Amoroso mulai membuka lipatan dari selembar kertas yang sedang ia pegang.


"Tolong kaca mata saya," Pinta Amoroso.

__ADS_1


Topan bergegas mengambil kaca mata milik Amoroso yang terletak di meja tepat disamping ranjang tersebut, dan menyerahkan nya kepada Amoroso.


Amoroso menatap tangan Topan yang terlihat gemetar. Lalu, ia mengambil kaca mata itu dan memakainya.


Probability of parentage : 99,99 %


Amoroso terdiam, lalu ia menatap Topan dengan begitu dalam.


"Kemari," Amoroso merentangkan kedua tangannya.


Topan terpaku dan membalas tatapan Amoroso yang tidak dapat ia artikan.


"Kemari lah," Pinta Amoroso lagi.


Topan mendekati Amoroso, dan menerima pelukan hangat dari Amoroso.


"Bapak minta maaf, karena selama ini memperlakukan kamu dengan tidak baik. Dan... bapak sudah bilang, walaupun kau bukan anak kandung ku, namun kau tetap anak ku. Terima kasih, karena kau tumbuh sangat baik. Walaupun selama ini, aku tidak pernah bersikap baik kepadamu."


Topan meneteskan air mata mendengar ucapan Amoroso. Ia membalas pelukan Amoroso dengan erat dan menangis tersedu-sedu di bahu sang ayah.


Pun, dengan Erna. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Bukan karena ia merasa selamat dari prasangka buruk Amoroso. Melainkan, Erna tahu, bila Topan sudah memalsukan hasil dari Test DNA itu.


.


.


.


.


Topan menekan tombol lift dan memasuki lift itu setelah pintu nya terbuka. Topan kembali menekan tombol yang akan membawanya ke lantai dasar.


Sesaat kemudian, Topan sudah berada di lantai dasar rumah sakit itu. Ia berjalan dengan tatapan yang kosong, menuju ke laboratorium.


Seperti awal mula tadi, Topan mengetuk pintu laboratorium dan petugas yang sama membuka pintu untuk nya. Petugas itu menatap Topan dengan tatapan yang bingung.


"Loh bapak, ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya petugas itu.


Topan mengangguk, masih dengan tatapan yang kosong. Ia menyerahkan amplop yang berisi hasil test DNA yang sudah terbuka tersebut, kepada petugas itu.


"Saya minta tolong, tolong ubah hasil test ini. Dari 0% menjadi 99,99%."


Petugas laboratorium itu menatap Topan dengan tak percaya.


"Tapi pak, merubah hasil dari test tersebut adalah ilegal. Sertifikat saya yang menjadi jaminan nya," Ucap petugas tersebut.


"Saya minta tolong. Ini demi kebaikan keluarga,"

__ADS_1


"Maksudnya?" Tanya petugas itu dengan wajah yang terlihat bingung.


"Apa pun yang terjadi, saya yang akan tanggung jawab, dan saya pastikan tidak akan ada satupun orang yang tahu ataupun menuntut anda. Saya jamin keselamatan dan rahasia ini."


Petugas itu tetap merasa keberatan. Karena ia merasa Topan adalah Polisi yang curang. Karena seenaknya mengubah isi surat dari test DNA yang tadinya Topan katakan itu adalah sampel test DNA dari target nya.


"Pak, saya tidak bisa..."


"SAYA MINTA TOLONG! Tolong lah saya... Tolong lah... tolong..." Topan menangis di hadapan petugas tersebut.


Petugas itu terdiam, lalu ia menuntun Topan untuk duduk di bangku tunggu yang berada di depan laboratorium tersebut.


"Ada apa pak? Apakah isi dari test itu menyangkut diri bapak?" Tanya petugas itu dengan wajah yang terlihat begitu peduli dengan Topan.


Topan menyeka air matanya, lalu ia menghela nafas panjang dan menatap petugas tersebut.


"Di atas sana, ada lelaki tua yang telah membesarkan saya. Yang sedang mempertanyakan saya darah dagingnya atau bukan. Dia, terbaring lemah karena penyakit jantung yang dia derita. Saya melakukan test DNA ini, agar dia berhenti membenci saya, dan kembali menghormati ibu saya, dan juga agar ibu saya berhenti merasa bersalah kepadanya."


"Apa jadinya bila ia tahu, saya bukanlah anak kandungnya? Bukankah dia akan semakin sakit dan bahkan akan mati? Bukankah dia akan merasa di bohongi puluhan tahun lamanya oleh wanita yang begitu ia cintai?"


"Saya mohon, berbohong lah demi waktu yang hanya tinggal sedikit yang dimiliki oleh bapak saya. Agar di akhir hayatnya, dia akan tenang dan bahagia. Saya mohon, sekali ini saja." Pinta Topan.


Petugas itu terdiam, ia menatap kedua mata Topan dengan tatapan seorang ibu. Lalu, dengan perlahan ia meraih kertas hasil test DNA itu dan beranjak dari duduknya, lalu ia kembali masuk kedalam Laboratorium tersebut.


Topan terdiam, ia kembali menangis dalam diam. Walaupun ia merasa sangat berdosa, tetapi demi kedua orangtuanya yang memiliki impian masa tua yang indah, ia rela mengubur kenyataan itu dalam-dalam.


Sepuluh menit kemudian, petugas tersebut kembali keluar dengan amplop baru yang terlihat masih disegel. Lalu, ia memberikannya kepada Topan yang sedang menatap dirinya dengan tatapan penuh harapan.


"Kembali lah keatas. Dan... jadilah anak yang terbaik bagi lelaki yang bapak panggil dengan sebutan 'bapak' itu."


Topan menangis haru, lalu ia memeluk petugas itu dan menangis di dalam pelukan petugas tersebut.


"Terima kasih bu, saya tidak akan melupakan kebaikan ibu."


Petugas itu tersenyum, lalu ia membalas pelukan Topan, layaknya seorang ibu yang rela melakukan apa saja demi buah hatinya yang tercinta.


Topan melepaskan pelukannya, lalu ia bergegas untuk menemui kedua orangtuanya yang sudah tidak sabar menantikan hasil dari test DNA tersebut.


.


.


.


.


Berbohong, memang tidak dianjurkan. Tetapi, bukankah hampir semua manusia di muka bumi ini pernah berbohong? Bahkan, sebaik apapun manusia itu, ia pasti pernah berbohong.

__ADS_1


Tidak ada manusia yang benar-benar putih, atau benar-benar hitam. Semua berada diwarna yang kelabu. -De'rini-


__ADS_2