
2 bulan berlalu.
Tangan Topan menggenggam erat tangan Erna yang duduk tepat disampingnya. Tanggan wanita paruh baya itu terlihat gemetar, saat pesawat yang ia tumpangi mendarat di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, Riau.
Ya, sesuai dengan wasiat terakhir dari Amoroso, Topan ingin mewujudkan keinginan tersebut. Yaitu, menemui bapak kandungnya dan juga menemui Erna dengan Galang.
Setelah pesawat terparkir dengan baik, pintu pesawat pun dibuka. Erna dan Topan beranjak turun dan bergegas untuk keluar dari Bandara lewat pintu kedatangan domestik. Disana, sudah terlihat Suprapto yang sedang berdiri menunggu dirinya.
"Topan!" Panggil Suprapto, sambil melambaikan tangan nya kearah Topan.
"Abang!" Topan berjalan mendahului Erna dan langsung memeluk erat Suprapto, sahabat yang sudah hampir 3 bulan ini berpisah dengan nya.
"Hahaha apa kabar kau anak muda!"
"Alhamdulillah baik bang," Sahut Topan.
"Alhamdulillah, ibu apa kabar?" Tanya Suprapto, sambil menyalami dan mengecup punggung tangan Erna yang telah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Alhamdulillah baik To, kamu apa kabar?" Tanya Erna.
"Sehat bu, Alhamdulillah. Ayo kita ke mobil," Ajak Suprapto.
Mereka pun jalan ke arah parkiran mobil. Sambil merangkul Topan, senyum Suprapto terus mengembang di wajahnya. Tidak terlukiskan betapa ia sangat merindukan adik angkat nya itu.
"Bagaimana kabar kakak ipar dan anak-anak abang?" Tanya Topan.
"Ah, baik... Mereka semua sehat,"
"Alhamdulillah, nanti aku mampir ya ke rumah abang. Aku kangen masakan kakak. Apa lagi sambel pecit nya, wah.. luar biasa sekali,"
"Boleh... Boleh sekali.. Nanti aku minta dia untuk membuatkan sambal pecit ya. Oh iya, kau dan ibumu stay dimana?" Tanya Suprapto.
"Di hotel lah bang. Lagi pula, aku sebentar saja disini. Paling hanya tiga hari saja."
"Owalah... iya deh, ngapain kau pesan hotel, harusnya di rumah ku saja,"
"Tidak lah bang, aku makan nya banyak. Dari pada abang bangkrut menanggung makan ku nanti." Seloroh Topan.
"Alaaahhh.. memangnya kau si Antok! Dia yang makan nya banyak. Kalau dia yang menumpang, kayak aku menanggung makan warga satu Rt..!"
"Hahahahaha..!" Topan dan Suprapto terkekeh mengingat Antok yang memang makan nya banyak.
"Apa kabar anak itu?" Tanya Suprapto seraya membuka bagasi mobil yang ia pinjam ke salah satu rekan nya.
"Baik bang, dia lagi pusing. Maklum, semakin banyak tugasnya." Topan tersenyum saat menceritakan Antok.
Suprapto tersenyum saat mendengar cerita Topan.
"Sini bu, saya taruh tasnya di bagasi." Suprapto meraih tas Erna, saat Erna menyetujui tas yang sedang ia bawa untuk di masukkan kedalam bagasi mobil itu.
"Ini mobil abang?" Tanya Topan.
"Sssttt... minjam ini.. Hahahaahah..! Doakan abang mu ini dapat mobil dinas. Atau.. bisa membeli mobil dengan uang sendiri."
"Aamiin bang." Sahut Topan.
"Ayo lah kita ke hotel," Suprapto tersenyum dan membukakan pintu mobil untuk Erna, dan menutupnya kembali saat Erna sudah duduk di dalam kursi penumpang. Lalu, ia berjalan berputar ke arah kursi kemudi dan memasuki mobil tersebut. Topan pun menyusul masuk kedalam mobil itu dan duduk tepat di samping Suprapto.
"Jadi, kau kesini..."
"Ada urusan keluarga bang," Potong Topan, sebelum Suprapto banyak bertanya. Bagaimanapun, ia merasa harus menjaga perasaan ibunya yang duduk di bangku belakang mobil itu.
__ADS_1
"Ah.... iya.." Suprapto sudah mulai merasa curiga bila tujuan Topan kesana untuk menemui Galang. Kalau tidak, siapa lagi yang menjadi keluarga Topan di Riau, selain dirinya?
"Kita jalan ya... kasih map hotel mu Topan."
"Siap bang!" Sahut Topan, seraya membuka GPS yang menunjukan arah hotel yang akan Topan tempati.
.
.
.
.
.
"Bagaimana hubunganmu dengan Topan?" Tanya Pongki, saat Bella dan Berta mengunjungi dirinya di Lapas.
Bella tersenyum, lalu ia memberanikan diri untuk menatap Pongki.
"Dua bulan lalu, dia melamar ku dad,"
"Good news. Kamu terima?" Terlihat senyum di bibir Pongki yang terlihat kering.
Bella mengangkat tangan kirinya dan memamerkan cincin pemberian dari Topan kepada dirinya.
"Congrats sayang.."
"Terima kasih dad, maaf aku baru mengatakan nya. Padahal aku sering menjenguk daddy. Hanya saja, aku masih malu untuk mengatakan nya terlebih dahulu, sebelum daddy tanya." Terang Bella.
"Kenapa harus malu? Daddy setuju kamu bersama dengan nya. Justru, daddy ingin kamu cepat menikah, sebelum..." Pongki menghentikan ucapan nya.
"Ah, tidak." Pongki menggelengkan kepalanya.
"Tapi dad, tampaknya ibunya Topan tidak setuju denganku."
Pongki terdiam mendengar ucapan Bella.
"Kenapa?" Tanya Pongki.
"Tidak apa-apa dad, mungkin aku..."
"Ah, apa yang kalian lakukan dengan uang-uang itu?" Pongki berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin membuat hatinya dan hati Bella merasa sedih saat membahas restu orangtua Topan. Tanpa Bella menjelaskan pun, Pongki sudah sangat paham, bila tidak ada satupun orangtua yang mau menerima anak dari seorang narapidana untuk menjadi menantunya.
Bella melirik Berta yang sedang membereskan rantang bekas makanan Pongki.
"Kami memperbaiki rumah ayah ku. Sudah selesai dan sekarang sudah sangat layak untuk kami tempati. Aku juga mulai meninjau lokasi untuk membuka cafe," Ucap Berta.
"Dan Bella?" Tanya Pongki lagi.
"Bella akan membuka tempat praktek Psikolog untuk dirinya. Tempat sudah ada, tinggal mengisi nya dan mendekorasi kantor saja. Iya kan ibu dosen?" Tanya Berta.
Bella tersenyum bangga dan menganggukkan kepalanya.
"Hebat. Jangan pernah sia-siakan kesempatan apa pun itu. Asal baik untuk kalian."
"Iya dad.." Sahut Bella.
"Oh iya, akan ada sidang keputusan minggu depan. Aku harap kalian hadir,"
Berta menghentikan kegiatan nya yang sedang membereskan rantang, lalu ia menatap Pongki dengan seksama.
__ADS_1
"Kira-kira, ada kemungkinan hukuman mu ringan?" Tanya Berta.
Pongki tersenyum, lalu ia meraih tangan Berta dan menggenggam nya dengan erat.
"Apapun hukuman nya, akan aku jalani. Aku tidak ingin banding."
Berta terbelalak mendengar keputusan Pongki.
"Apa kamu sudah gila?" Berta terlihat sedikit emosional saat mendengar keputusan Pongki itu.
"Tidak, hanya ini caraku menebus dosa."
"Tapi.."
"Berta, aku sudah sangat berdosa kepada Negeri ini dan juga generasi muda. Aku sudah cukup mempermalukan kamu dan anak ku, Bella. Aku tahu, aku tidak termaafkan. Aku minta maaf,"
"Tapi bagaimana impian masa tua kita?" Tanya Berta yang mulai menitikkan air mata nya.
"Berta, berdoa saja. Aku tidak tahu hukuman apa yang aku terima nanti. Hanya saja, doamu lah yang mampu meringankan nya. Tetapi, apapun keputusan nya, itu sudah takdir."
"Tapi kita bisa merubah takdir Pongki!"
"Bisa, dari doamu. Dari doa kita semua. Bila tidak, maka itu sudah menjadi takdir yang di tetapkan. Kita harus ikhlas."
"Bagaimana kamu mau merubah takdir? Sedangkan kamu tidak mau banding, apa pun yang terjadi!" Berta terlihat sangat emosi dengan keputusan Pongki.
Pongki terdiam, ia menatap dua wanita yang paling ia cintai, yang duduk di depannya.
"Kadang aku berpikir, adanya aku disini, dan kasus ku yang begini, sudah pasti sangat menyusahkan kalian berdua. Sudah pasti membuat malu kalian berdua. Aku bersalah, namun aku tidak menerima hukuman dengan cara mengajukan banding?"
"Tetapi.."
"Berta, aku ikhlas."
Berta melepaskan tangan Pongki dan berdiri dari duduknya.
"Apa kau tidak memikirkan aku?" Tanya Berta.
"Bukan begitu..."
"Lalu!" Nada suara Berta mulai meninggi. Penjaga Lapas dan pengunjung lain nya menoleh kearahnya.
"Aku sudah tua, ini sudah menjadi keputusan ku. Aku bersalah, aku harus terima apa saja yang menjadi hukuman ku. Aku sengaja melakukan itu, juga demi kalian. Agar kalian tidak malu lagi memiliki suami dan ayah seperti aku."
"Yang bilang kami malu siapa?" Tanya Berta lagi.
"Tidak, tidak ada yang bilang. Hanya saja, aku tahu, tingkahku ini sangat memalukan. Aku juga tahu caci maki dan hinaan yang dilemparkan kepada kalian. Jangan bilang aku tidak tahu."
Berta dan Bella terdiam membisu.
"Aku hanya minta, pergunakan uang yang aku tinggalkan dengan baik. Aku sengaja mengumpulkan uang dari hasil bisnis yang lain nya di brankas itu. Walaupun modal usaha itu dari hasil bisnis ilegal ku. Tetapi, hasil dari usaha itu aku simpan."
"Aku mohon, hargailah keputusan ku." Pinta Pongki.
Berta terisak, lalu ia memeluk Pongki dengan erat.
"Kau bodoh!" Bisik Berta.
"Iya, aku manusia bodoh yang mencintai kamu seumur hidup ku,"
Mereka pun larut dalam perasaan rindu dan kecewa yang bercampur menjadi satu.
__ADS_1