Masteng

Masteng
100. Maafkan aku


__ADS_3

"Bella.." Berta menatap Bella yang terlihat lusuh, saat gadis itu baru saja tiba di rumah.


"Mam," Bella meraih tangan Berta dan mengecup punggung tangan maminya itu.


"Kamu kenapa? kok..." Berta menahan pertanyaan nya. Tanpa ia sebutkan pun, Bella pasti mengerti bila dirinya sangat lusuh pada siang itu.


"Tidak apa-apa kok mam, Bella mandi dulu ya.." Bella beranjak dari hadapan Berta begitu saja.


Berta terdiam dan hanya mampu menatap punggung Bella dengan tatapan mata yang sendu.


"Mami tahu, kamu sangat menderita saat ini Bella." Tanpa disadari, air mata pun menetes di pipi Berta.


.


Para wartawan mengerubungi Pongki yang baru saja keluar dari kantor polisi. Hari ini, Pongki dipindahkan ke lembaga permasyarakatan. Walaupun ia belum disidang, karena kondisi.


"Pak pongki...!" Panggil wartawan yang berniat ingin mewawancarai dirinya.


Pongki hanya diam membisu. Kepalanya tertunduk malu. Tangan nya di borgol dan baju yang dia kenakan membuat dirinya merasa sangat terpukul.


"Permisi! Permisi!" Teriak salah satu polisi yang sedang menggandeng Pongki.


Di depan, sudah ada bus tahanan yang siap untuk membawa Pongki.


"Pak, pak Pongki akan di pindahkan ke LP mana?" Tanya Seorang wartawan lagi.


Tidak ada satupun polisi yang membuka suara. Mereka terus melaksanakan tugas mereka untuk membawa Pongki masuk kedalam bus, bersama dengan beberapa tahanan lain nya. Termasuk Andrean, anak buah Pongki.


"Pak! Mohon keterangan nya. Pak Pongki akan dibawa kemana?" Desak wartawan yang lain nya.


Polisi bungkam, hingga akhirnya mereka berhasil menerobos para wartawan dan membawa Pongki dan tahanan lain nya ke dalam bus.


Pongki di dampingi beberapa orang personil kepolisian dengan pakaian serba hitam dan bersenjata api, duduk di bangku bus dengan wajah yang tertunduk dalam.


"Pak..!" Wartawan tetap mendesak, hingga salah satu polisi melayani mereka untuk memberikan keterangan.


Bus pun bergerak meninggalkan kantor polisi tersebut. Kini, Pongki sedang dalam perjalanan ke rumah barunya. Yaitu Lembaga permasyarakatan, yang biasa orang sebut dengan Penjara.


Sorot mata Pongki kosong menatap dunia luar yang hampir dua minggu ini tidak pernah ia lihat. Dunianya hancur berkeping-keping karena kebodohan dirinya sendiri. Sedangkan Andrean yang duduk diseberang Pongki, menatap mantan bos nya itu dengan tatapan iba. Bagaimanapun, Andrean begitu paham siapa Pongki yang sebenarnya. Lelaki itu orang yang sangat baik kepada seluruh anak buah nya.


Perjalanan terasa begitu panjang bagi Pongki. Terutama saat ia mendengar bunyi sirine yang mengiringi Bus tersebut. Hatinya semakin teriris saat bayangan dua wajah yang ia cintai muncul begitu saja tanpa meminta izin darinya. Ya, wajah Berta dan Bella.


Pongki tahu, hari ini dua orang terkasih itu tidak dapat menemaninya. Karena hari ini juga dua wanita yang ia cintai itu harus berjuang untuk pindah rumah. Pongki tahu berita itu dari Topan yang sempat mengatakan kepada dirinya, bila hari ini, Bella dan Berta akan pindah ke rumah peninggalan orangtua Berta.


Pongki tertunduk dan mulai menangis tersedu-sedu. Andrean hanya dapat menatap lelaki itu dengan sorot mata yang prihatin.


.


.


.

__ADS_1


.


.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," Sahut Bella dan Berta.


Topan melangkah masuk dan tersenyum kepada Bella dan Berta. Berta membalas senyuman Topan dengan hati yang lapang. Sedangkan Bella, gadis itu terlihat agak sedikit murung.


"Kamu sudah datang," Sapa Berta, seraya menyambut tangan Topan yang hendak mengecup punggung tangan nya.


"Maaf, saya terlambat mam, ada masalah sedikit di kantor," Ucap Topan.


"Masalah? Bukankah kamu naik jabatan hari ini?" Tanya Bella dengan nada yang sedikit sinis.


Berta dan Topan terdiam. Seketika, wajah berta terlihat canggung. Sedangkan Topan, lelaki itu mulai merasa bersalah.


"Hmmm, apakah truk nya sudah datang?" Tanya Berta yang berusaha mengalihkan percakapan.


"Sudah mam, ada di depan." Sahut Topan yang matanya terus menatap Bella yang terlihat pura-pura sibuk menatap pakaian di kopernya.


"Aku bantu ya.." Ucap Topan seraya beranjak mendekati Bella.


"Tidak usah!"


Topan terkejut melihat sikap Bella yang terlihat berbeda dari pada biasanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Topan dengan raut wajah yang khawatir.


"Entahlah," Bella beranjak dari duduknya dan mengancingkan kopernya.


"Bell.."


"Sudah, kamu diam saja!" Bella mengangkat tangan nya dan mengisyaratkan Topan untuk tidak berbicara kepada dirinya.


Topan terdiam, ia melirik Berta yang tampak sedikit bingung dengan keadaan.


"Ada yang perlu dibantu?" Tanya Petugas jasa pindah rumah.


"Ah iya, tolong pindahkan barang-barang ini ke truk ya," Pinta Topan.


"Baik pak," Beberapa orang petugas jasa pindah rumah itu pun mulai memindahkan barang-barang milik Berta dan Bella kedalam truk.


Berta pun sengaja mendampingi para petugas jasa pindah rumah tersebut, dan mencoba untuk memperhatikan pekerjaan mereka.


"Hati-hati yang di dalam kardus itu foto-foto. Nanti bisa pecah," Ucap Berta.


Sedangkan Bella, gadis itu beranjak ke dapur dan mengambil air putih untuk ia minum. Topan pun berusaha menghampiri Bella yabg masih saja tidak memberikan dirinya senyuman sedikitpun.


"Bell," Panggil Topan saat Bella baru saja meminum segelas air putih dan meletakkan gelas nya di atas meja.

__ADS_1


"Bell, kamu kenapa?" Tanya Topan lagi.


Bella menatap Topan dengan mata yang memerah. Terlihat sekali batin Bella sedang berperang hebat karena tekanan yang ia dapatkan pagi ini.


"Bell," Topan meraih tangan Bella dan menggenggam nya dengan erat.


"Aku tidak tahu, akan membencimu atau mencintai kamu,"


Topan terkejut mendengar ucapan Bella.


"Ada apa Bell?" Topan mulai terlihat panik dengan sikap dan kata-kata Bella yang terdengar sangat menakutkan baginya.


"Andaikan ini semua tidak terjadi!" Bella menangis tersedu-sedu di hadapan Topan.


Dengan wajah yang merasa bersalah, Topan meraih tubuh Bella dan merengkuhnya kedalam pelukannya.


"Bella, aku minta maaf.."


"Aku tahu bukan kamu yang salah, tetapi perasaan ini begitu tertekan Topan! Sangksi sosial dan kehidupan yang kini aku jalani begitu berat Topan. Mengapa kamu lakukan ini padaku? Bukankah kamu sidah mencintai aku saat di Bali? Mengapa kamu tidak menyelamatkan keluarga ku Topan!" Bella memukul dada Topan dengan kepalan tangannya.


Topan terdiam, ia pasrah dengan kesalahan yang dilemparkan kepada dirinya.


"Kamu tahu, semua orang menolak ku. Bahkan dunia ini tidak berpihak kepadaku!"


"Ada aku Bella! Aku pernah bilang padamu. Ada aku yang selalu disamping kamu!" Topan memegangi kedua bahu Bella.


"Tetapi kamu juga yang membuat hidupku hancur Topan! Kamu!"


Topan terdiam, ia menatap Bella yang sedang mendelik kepada dirinya.


Hati Topan tidak kalah hancur dibanding Bella. Namun, ia sadar, apa yang dihadapi Bella jauh lebih buruk dibandingkan dirinya. Memang, kesan nya Topan bersenang-senang diatas penderita Bella. Tetapi, ia hanya ingin Bella tahu, bila dirinya tidak sedikitpun merasa bahagia saat ia menerima pangkat yang baru.


"Pukul aku! Luapkan segala kesal mu, sedih mu! Kecewamu! Pukul!" Topan meraih tangan Bella dan memukulkan nya ke pipinya yang terlihat tegas dengan tulang pipi yang sempurna.


Bella menahan tangan nya dan menatap Topan dengan mata yang basah.


"Tidak!" Bella berontak dan menarik tangannya. Ia pun terduduk diatas lantai dan melipat kedua lututnya. Bella menangis lebih kencang lagi. Tidak bisa dipungkiri, tekanan batin yang sedang ia rasakan begitu hebat. Hingga ia melampiaskan nya kepada Topan.


"Aku akan selalu ada untuk mu, kamu ingat itu. Aku tahu aku bersalah. Aku minta maaf. Tetapi, walaupun dunia tidak berpihak kepadamu. Akulah orang pertama yang akan menentang dunia. Aku mencintaimu Bella. Maaf bila pekerjaan ku ini membawamu ke jurang nestapa. Tetapi, bukan maksudku mencelakai kamu dan keluarga. Aku mohon mengertilah."


"Ini bukan sekedar janji ku pada daddy mu. Tetapi, ini janji seorang lelaki yang mencintai kamu. Aku Topan, aku mencintaimu hingga maut memisahkan. Aku akan melindungi kamu dan akan terus memperjuangkan kamu. Percayalah, manusia diluar dana tidak tahu apa-apa. Perlahan, mereka akan lupa. Dunia mu akan kembali normal. Memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi aku bisa memastikan, aku akan selalu ada untuk mu."


Bella mengangkat wajahnya dan menatap Topan dengan seksama.


Topan berjongkok dan mengusap air mata Bella. Lalu, ia mengecup kening Bella dengan lembut.


"Kamu, wanita pertama dan terakhir bagiku. Aku sangat mencintai kamu, peduli padamu. Maaf bila pekerjaan ku begini. Tetapi, aku tidak merencanakan semua ini. Kamu tidak sendirian, ada aku. Aku selalu untuk kamu Bella."


Bella kembali menangis dan memeluk Topan dengan erat. Topan menghela nafas lega saat Bella memeluk dirinya.


"Maafkan aku," Ucap Bella di sela isak tangis nya.

__ADS_1


__ADS_2