Masteng

Masteng
28. Let's see later


__ADS_3

"Kemana dia?" Tanya Suprapto kepada seorang yang bertugas melihat GPS yang terpasang di mobil Pongki. Suprapto adalah teman Topan, yang bertugas dalam misi menangkap Pongki.


"Dia pergi kearah kantor meubel nya pak," Sahut Antok, yang bertugas memantau GPS.


"Ah... ck! Bisa lebih lama ini misi kita. Saya sudah tidak sabar untuk menangkap tangan si Pongki" Keluhnya seraya membanting gulungan kertas yang sedang ia genggam ke atas meja.


"Mungkin besok dia ke pabrik nya pak. Soal nya, informasi dari pak Topan, anak dan istrinya sedang keluar Kota. Jadi, mungkin saja kesempatan ini dia gunakan untuk mengunjungi pabrik nya."


"Bisa jadi, kita hanya bisa menunggu saja. Lagian, Topan juga begitu lambat. Tugas ini selesai, saya ingin cuti sementara waktu. Istri saya mau melahirkan," Ucap Suprapto, dengan raut wajah yang sedih.


"Namanya tugas pak, kita harus bersabar. Kita anak negara, keluarga nomor dua bagi kita. Kita hanya bisa berdoa, semoga tugas kita berjalan dengan lancar," Ucap Antok.


"Ya.. mau diapakan lagi. Cuma itu yang bisa kita lakukan dari hari ke hari. Berdoa dan berdoa, sedangkan rasa rindu, terus kita pendam untuk keluarga." Suprapto mengusap wajahnya dengan gusar.


...


Tepat pukul 11 siang, mobil yang dikendarai Topan, tiba di bandar udara internasional Soekarno-Hatta. Setelah mendapatkan parkiran di terminal domestik, Topan pun keluar dari mobil tersebut dan membukakan pintu untuk kedua majikan nya. Berta keluar dari mobil, dan di susul oleh Bella.


Tercium aroma parfum yang lembut dan menly dari tubuh Topan. Bella melirik Topan dari balik kacamata hitam nya, terlihat senyuman manis Topan yang begitu menggoda.


"Ya Tuhan, senyum si Masteng manis juga ya," Batin Bella.


Setelah Bella dan Berta keluar dari mobil itu, Topan pun menutup pintu mobil tersebut dan beranjak mengambil koper Berta dan Bella dari dalam bagasi. Setelah kedua koper itu di ambil nya, Topan menutup kembali pintu bagasi dan menyeret koper milik kedua majikan nya dengan kedua tangan nya.


"Mari," Ucap Topan, sambil berjalan terlebih dahulu di depan Bella dan Berta.


Bella dan Berta mengikuti Topan dari belakang lelaki itu. Bella terus menatap Topan dan otot lengan nya yang sedang menyeret koper milik mami dan dirinya.


"Duh...!" Bella terlihat salah tingkah.


Kini, mereka sudah berada di depan pintu terminal keberangkatan domestik. Topan menepikan koper-koper itu dan bergegas mencari troli untuk mengangkut koper itu.


"Kanjeng mami tunggu disini ya, saya cari troli," Ucap Topan.


"Iya," Sahut Berta.


Topan berjalan mencari troli. Sedangkan Bella seperti tersihir karena Topan. Ia terus memperhatikan langkah kaki Topan dan bentuk tubuh lelaki itu.


"Kamu memperhatikan Paijo terus sih?"


Pertanyaan Berta membuat Bella menjadi semakin salah tingkah.


"Apaan sih mami, enggak lah.." Bella mencoba untuk berbohong kepada Berta.


"Jangan berbohong dengan mami. Kamu kira, mami tidak memperhatikan kamu. Kenapa? Dia ganteng banget ya sekarang," Ucap Berta.


"Biasa saja, bagaimana pun dia tetap Paijo yang kemarin-kemarin," Ucap Bella.


"Alahhhh... Bellll... Bell... Mami pernah muda sayang... Mata anak muda memang begitu. Tidak bisa lihat yang sempurna sedikit pun," Ucap Berta seraya tertawa geli.


Bella memasang wajah kesal dan kembali menatap Topan yang sudah kembali dengan mendorong sebuah troli di depan nya.


"Kayak artis gak sih dia, kayak siapa ya... hmmm... kayak Lee Min Hoo bukan sih? Yang aktor Korea itu?" Tanya Berta.

__ADS_1


Bella bergeming, ia terus memperhatikan Topan yang beranjak mendekati mereka.


Topan menghentikan langkahnya tepat di depan Bella dan Berta. Lalu, ia menyusun koper Bella dan Berta di atas troli tersebut.


"Semoga perjalanan non Bella dan kanjeng mami, menjadi perjalanan yang menyenangkan, dan selamat sampai tujuan. Selamat berlibur," Ucap Topan dengan cara yang santun, sambil menyerahkan troli tersebut kepada Bella.


Bella menerima troli itu tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari sosok Topan.


"Terima kasih ya Jo..., Kamu juga hati-hati dijalan. Selama tidak ada kami dirumah, tolong jaga rumah ya," Ucap Berta.


"Ngih kanjeng mami," Sahut Topan.


"Yuk," Berta menarik lengan Bella yang masih terpaku menatap lelaki tampan di depan nya.


Dengan berat hati, Bella mengikuti Berta untuk masuk kedalam gedung terminal tersebut.


"Non, kanjeng mami! Hati-hati....!" Ucap Topan seraya melambaikan tangan nya kepada Bella dan Berta.


Berta membalas lambaian tangan Topan, sedangkan Bella masih menikmati wajah tampan Topan yang sungguh menyita perhatian nya.


Setelah Bella dan Berta sudah tidak terlihat lagi di pandangan Topan, lelaki itu langsung menghubungi team nya yang sedang bertugas memantau Pongki.


"Halo,"


"Ya pak Topan,"


"Bagaimana?" Tanya Topan.


"Belum ada hasil," Sahut Antok.


"Lalu?"


"Menurut pak Suprapto, bapak awasi rumah dan terus menggali informasi dari orang yang berada disana, termasuk target," Ucap Antok.


Topan merapatkan bibirnya dan menatap ke langit cerah pada siang ini.


Tugas nya sepertinya akan memakan waktu yang sedikit lama. Ia sudah tidak sabar untuk beristirahat dan kembali ke keluarganya. Topan sangat merindukan orangtuanya dan juga kedua adik nya.


"Baik," Ucap nya. Lalu, ia mengakhiri sambungan telepon itu.


Topan mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku celananya, lalu ia mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya. Topan mencoba menikmati beberapa menit untuk menikmati rokok tersebut, sebelum ia kembali ke rumah Pongki.


...


Bella beranjak masuk kedalam badan pesawat, dengan jantung yang berdebar kencang. Baru saja ia mendapatkan informasi dari Noel, bila Noel sudah mendapatkan dimana hotel tempat Frans menginap. Tidak lupa, Noel melampirkan sebuah foto dalam pesan nya.


Bella menatap foto tersebut, ia melihat Frans yang sedang berenang bersama dengan seorang wanita di sebuah hotel berbintang 5 di Bali. Mata Bella terasa panas, hingga memerah. Hatinya merasakan sakit yang tidak dapat ia lukis kan.


"Dasar penghianat!" Batin nya.


"Bella,"


Bella menoleh dan menatap Berta yang mempersilahkan dirinya untuk lebih dulu duduk di dekat jendela pesawat tersebut.

__ADS_1


"Ah, iya mi," Sahut Bella. Lalu, ia beranjak duduk di bagian dalam deretan bangku tersebut.


"Kamu kenapa?" Tanya Berta saat melihat mata Bella memerah, saat Bella membuka kaca mata hitam nya.


"Tidak apa-apa," Sahut Bella, sambil menghela nafas dalam-dalam dan mulai mengeset ponselnya ke mode pesawat.


"Ada apa dengan Frans?" Tanya Berta.


Bella menatap Berta dengan seksama. Lalu, ia menundukkan pandangan nya dari Berta.


"Apakah dia menghianati kamu?"


Bella mengigit sudut bibirnya dan kembali menatap Berta.


"Mam, mengapa pengorbanan kita tidak ada artinya bagi lelaki?" Tanya Bella dengan suara yang tercekat.


Berta mengerti dengan arah pertanyaan Bella.


"Dia menghianati kamu? Makanya kamu menyusul dia ke Bali?"


Bella tidak menjawab pertanyaan Berta. Ia hanya diam membisu dan merebahkan kepalanya di pundak Berta.


"Mari kita berikan dia pelajaran," Ucap Berta dengan nada suara yang terdengar dingin dan datar.


Bella mengangkat wajahnya dan menatap Berta.


"Mau mami apakan dia?" Tanya Bella.


"Kamu sudah ngapain sama dia?"


"Tidak ngapa-ngapain mami, sumpah. Hanya saja...."


"Apa?" Desak Berta.


"Uang ku sudah milyaran di tangan nya." Ucap Bella dengan suara yang tercekat.


"Hah!" Berta menatap Bella dengan tak percaya.


"Gila kamu!" Hardik Berta.


"Bella tahu, Bella salah mi... Bella bodoh dan buta akan cinta. Bella dukung dia, karena dia bilang mau membuka usaha dan bila berhasil, dia akan melamar Bella secepatnya," Ucap Bella dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Ya Allah Bella, terus tabungan mu tinggal berapa?" Tanya Berta dengan wajah yang panik.


"Tinggal lima ratus juta saja mami,"


"Allahu Akbar! Bella!"


"Maaf kan Bella mam..." Bella menangis dan memeluk Berta dengan penuh penyesalan.


Berta menghela nafas panjang dan mengusap rambut Bella yang merasa terpuruk.


"Jangan sampai Daddy mu tahu. Biar mami yang beri dia pelajaran. Kalau daddy mu tahu, dia bisa mati di tangan daddy mu," Ucap Berta.

__ADS_1


"Pelajaran apa Mi...?"


"Let's see later," Ucap Berta seraya memakai kaca mata hitam nya.


__ADS_2