Masteng

Masteng
150. Meninggalkan rumah dinas


__ADS_3

Topan baru saja sampai di rumah. Langkah kakinya begitu tegas terdengar dari luar. Setelah itu, ia pun memasuki rumahnya yang sedang ramai oleh orang dari jasa pindah rumah. Ya, Topan dan keluarganya akan pindah ke rumah peninggalan kakek Topan. Bagaimanapun Topan dan keluarga harus pindah, karena rumah yang mereka tempati adalah rumah dinas dari Amoroso.


Sebenarnya mereka di berikan waktu yang lumayan lama untuk pindah, hanya saja Topan mengingatkan Erna untuk tidak berlama-lama disana. Karena selain rumah itu milik Negara, tidak ada hak mereka lagi untuk terus tinggal. Karena Amoroso sudah lebih dari 3 bulan meninggal dunia.


"Sudah semuanya?" Tanya Topan kepada Guntur yang sedang membantu Erna dan Pinky mengepak barang-barang.


"Sudah kak," Sahut Guntur.


"Ok, tinggal memasuki barang-barang ya."


"Iya kak."


"Ibu mana?" Tanya Topan lagi.


"Masih dikamar." Sahut Guntur.


Topan pun langsung bergegas ke kamar Erna. Topan mengetuk pintu kamar tersebut dan langsung membuka kamar itu. Terlihat Erna sedang berdiri di depan cermin dengan memeluk erat baju dinas Amoroso.


"Bu," Panggil Topan.


Erna berbalik dan menatap Topan dengan seksama.


"Ya?"


"Semua sudah siap, apa kita bisa berangkat sekarang?" Tanya Topan.


Erna mengangguk dan menaruh baju dinas Amoroso kedalam kopernya yang masih terbuka.


"Aku bantu ya bu,"


"Tidak usah, ibu bisa kok," Erna mencegah Topan membantunya. Lalu ia mengancing kopernya setelah memasukan baju dinas Amoroso ke dalam koper hitam miliknya.


"Ibu rindu bapak?" Tanya Topan.


Erna tersenyum kecil mendengar pertanyaan Topan.


"Apa ibu baru menyadari bila ibu mencintai bapak?"


Erna menatap Topan dengan kerut di keningnya.


"Maaf kalau aku salah berbicara," Ucap Topan.


"Bukan begitu. Bapak mu orang yang baik. Dia lebih ke sosok sahabat bagi ibu. Mencintai atau tidak, rasa sayang pasti ada. Itulah mengapa kehilangan dia begitu berat bagi ibu. Puluhan tahun bersama, hanya dia satu-satunya sahabat bagi ibu." Terang Erna.


"Tapi, mengapa ibu tidak pernah mencintai bapak?"


Erna terdiam membisu.


"Aku ingin tahu alasan ibu."


Erna kembali menatap Topan dengan wajah yang terlihat lelah.


"Le, dikala kita mencintai seseorang yang satu frekuensi dengan kita. Itu pasti terasa indah sekali. Memori di otak kita terus bertahan walaupun usia memaksa untuk mengikis ingatan itu. Seperti kamu mencintai Bella, apa kamu akan melupakan dirinya kala ibu memaksakan kamu untuk menikahi Lestari?"


Deggggg...!


Topan terdiam mendengar jawaban Erna.


"Ya sudah, ayo.." Erna berjalan mendahului Topan untuk keluar dari kamar tersebut.


"Bu, tunggu,"


Erna berbalik badan dan menatap Topan yang masih berdiri mematung di kamar itu.


"Apa lagi le?"


"Bu, apakah mungkin ibu akan kembali dengan baba?"


Erna menghela nafas panjang dan menatap Topan dengan seksama.


"Ibu tidak tahu."

__ADS_1


"Apakah ibu tega melihat penantian panjang dari baba? Toh, ibu juga tahu bila perasaan ibu dan baba masih sama-sama saling mencintai."


"Ibu sudah terbiasa untuk menahan rasa. Karena cinta tidak selamanya memiliki."


"Tetapi bu, apa salahnya kembali. Toh, sebentar lagi baba akan pensiun. Pernikahan ibu dan baba tidak harus secara dinas. Aku yakin, ibu dan baba akan hidup bahagia."


Erna tersenyum dan menundukkan wajahnya.


"Kita lihat nanti saja ya le... ibu tidak mau terburu-buru. Sekarang ibu hanya menjalani hidup sebaik-baiknya. Bila memang takdir mengatakan ibu kembali kepada baba mu, ibu tidak akan menentang takdir Tuhan."


Topan mengangguk paham.


"Ya sudah ayo.."


"Satu lagi bu," Cegah Topan.


"Apa lagi?"


"Ibu akan datang ke persidangan nikah aku dan Bella kan? Karena itu syarat mutlak bu," Ucap Topan dengan wajah yang memelas.


"Kapan sidangnya?" Tanya Erna.


"Lusa bu."


"Ibu pasti datang nak. Ibu pasti lakukan yang terbaik. Tidak ada satupun orang yang bisa mencegah pernikahan kalian."


Topan tersenyum semringah, lalu ia menghampiri Erna dan memeluk Erna dengan erat.


"Terima kasih bu," Topan mengecup kedua pipi Erna.


"Kamu benar le, darimu ibu sadar menjadi orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anak nya. Namun, yang terbaik bagi orangtua, belum tentu itu yang terbaik untuk anak nya. Seperti kakek mu, dia memaksa ibu menikahi bapak mu. Sudah saatnya hal itu tidak ibu ulangi lagi."


Topan tersenyum haru dan kembali memeluk Erna dengan erat.


"Terima kasih banyak ibu,"


"Sama-sama anak ku. Sekarang ayo kita kerumah kakek mu."


"Iya bu.."


Kini, cerita tentang rumah dinas yang terlihat penuh cinta, namun sebenarnya menyimpan banyak misteri tentang hati tersebut pun di tinggalkan. Tanda dari para penghuni sudah siap untuk menghadapi kenyataan baru. Yaitu hidup tanpa Amoroso.


...


Berta termenung di beranda rumah orangtuanya. Saat itu Bella baru saja pulang dari mengajar para mahasiswa dan mahasiswi nya di kampus. Bella yang baru saja turun dari mobilnya, disambut hangat oleh Berta yang sempat terlihat menangis oleh Bella.


"Sudah pulang Bell?"


"Sudah mam, mami kenapa?"


"Tidak apa-apa. Mami hanya duduk menikmati sore hari." Berta memberikan alasan, seakan Bella tidak tahu bahwa dirinya baru saja menangis.


"Mami sudah makan?"


"Sudah, tadi dimasakin sama si mbak," Sahut Berta.


"Mami menangis?"


Berta terdiam, lalu ia menatap Bella dengan seksama dan di susul dengan senyum di bibirnya.


"Tidak, disini banyak debu. Angin tadi membawa debu masuk ke mata mami. Jangan khawatir tentang mami. Mami mu ini baik-baik saja,"


Bella mengangguk paham dan menghampiri Berta yang ia tahu sedang berbohong kepada dirinya.


"Bolehkah aku memeluk mami?" Tanya Bella.


"Of course sayang," Berta merentangkan kedua tangannya dan menyambut Bella yang memeluk dirinya dengan erat.


"Mam, tidak selamanya Tuhan memberikan kita kebahagiaan. Terkadang Tuhan memberi kita cobaan, karena dia rindu kepada kita. Dia ingin juga diperhatikan oleh umatnya. Aku bangga sekali sama mami, sekarang mami lebih dekat dengan Tuhan. Memang, semua tidak harus seperti apa mau kita. Tapi, kita harus percaya, bila Tuhan memilih jalan yang berbeda karena dia ingin ada cerita yang harus kita ambil hikmahnya dari apa yang terjadi. Bersedih sebentar, dan kembalilah bersyukur dan bahagia. Karena Tuhan menyukai orang-orang yang bersyukur,"


Berta menatap Bella yang terlihat jauh lebih dewasa saat ini di kaca matanya. Lalu, ia mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Meskipun berat, tidak ada salahnya kita menatap ke sisi positif dari apa yang telah terjadi." Bella tersenyum dan mengecup kedua pipi Berta.


"Ya, mami sangat beruntung memiliki Topan sebagai calon menantu mami. Karena dia, kamu jauh lebih baik. Pasti, dia akan lebih baik dari daddy mu dan hidupmu juga akan lebih bahagia dari pada mami."


Bella tersenyum dan mengangguk.


"Aamiin mi. By the way, lusa ada sidang perijinan menikah. Aku harus kesana dengan mami,"


"Oh ya? Seribet itukah perijinan nya?"


"Aku juga tidak menyangka segitu ribet nya mam," Sahut Bella, saat mereka sama-sama melangkah memasuki rumah peninggalan orangtua Berta.


"Terus, kalau sidang begitu, mami akan bertemu dengan calon mertua mu yang sombongnya melebihi bintang-bintang di langit itu?"


Bella menghentikan langkahnya dan menatap Berta sambil menahan tawa geli nya.


"Mami... jangan gitu ah.." Ucap Bella.


"Lah, kan memang iya dia itu sombong, egois dan lain-lain."


"Mam, semua orang bisa berubah loh.."


"Kalau memang sifat gimana?" Tanya Berta dengan wajah yang terlihat kesal.


"Semua orang punya kekurangan dan kelebihan mam. Kalau memang itu sifatnya ya sudah, siapa yang waras ya mengalah,"


Berta terdiam mendengar ucapan Bella.


"Mami waras kan?"


"Iya lah!" Seru Berta, seraya bersungut-sungut.


"Ya sudah, biarkan saja."


"Tapi, mami tidak tega bila anak mami memiliki mertua model seperti itu."


"Ta kalau begitu aku tidak usah menikah dengan Topan dong,"


"Eh... jangan... Harus menikah dong. Mau dapat menantu seperti Topan dimana lagi?"


"Makanya...." Bella tak sanggup menyimpan tawanya lagi. Ia terkekeh melihat ekspresi wajah Berta yang terlihat bingung antara sikap calon mertuanya dan calon suaminya yang sangat berbeda.


"Eh, tapi si Topan itu bukan anak si Jenderal itu kan ya.. Ih..... banget-banget nenek sombong itu loh. Dia menghianati si Jendral sama cowok ganteng yang ngaku bapak kandung si Topan. Siapa namanya itu kemarin,"


"Mam...." Bella terlihat malas menanggapi Berta yang sedang memancing nya untuk bergosip ria.


"Oh iya, Galang! Ganteng sih, makanya tergoda. Dasar perempuan sombong, tapi kok..."


"Mam.." Potong Bella.


"Kamu ini gimana sih, mami sedang ingin bergosip di larang."


"Iya.. Tapi dia calon mertuaku mam. Bagaimana pun dia akan menjadi ibuku."


Berta terdiam, ia mulai mengerutkan dagunya.


"Kamu sudah gak asik, sudah gak bisa di ajak bergosip!" Berta menghentakkan kakinya.


"Ya.. tapi jangan mama Erna dong."


"Gak asik!" Berta kembali menghentakkan kakinya, lalu ia berjalan menuju ke ruang keluarga dan duduk di sofa, lalu menyalakan televisi.


Bella menyusul dan beranjak duduk di samping Berta. Bella menatap wajah Berta yang terlihat kesal.


"Tapi... iya juga sih... harusnya jangan selingkuh," Ucap Bella.


"Nah.... gitu dong.. tanggepin kalau mami ngajak bergosip!"


Mereka berdua tertawa kencang hingga suara tawa mereka memenuhi ruang keluarga tersebut.


.

__ADS_1


Seorang ayah memang menjadi cinta pertama bagi anak perempuan. Tetapi ibu, ibu adalah teman terbaik bagi anak perempuan nya. -De'rini-


Siapa yang mempunyai anak perempuan? Komen ya... :)


__ADS_2