
"Terima kasih," Ucap Erna, lalu ia menutup telepon nya dan termenung di sofa tepat di samping meja telepon.
"Ada apa bu?" Tanya Amoroso yang baru saja keluar dari kamarnya.
Erna melirik Amoroso dengan mata yang memerah, menahan tangisan nya.
"Kamu menangis?" Tanya Amoroso lagi, sambil dirinya mendekati Erna.
"Tidak, aku tidak apa-apa pak,"
"Katakan, kamu kenapa?" Desak Amoroso.
Erna kembali terdiam. Ia perlahan ia menangis tersedu-sedu.
"Ada apa, katakan padaku. Agar aku mengerti bu!"
Erna menggelengkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu tadi habis berbincang dengan siapa? Apakah ada seseorang yang menyinggung kamu?"
Erna menatap Amoroso dengan seksama. Lalu, ia kembali menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan nya.
"Bu.."
Erna menghapus air matanya dan menghela nafas panjang. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Lalu, ia beranjak dari duduknya.
"Mau kemana bu?" Tanya Amoroso.
"Aku mau sholat Isya dulu."
Amoroso pun mengangguk dan mengikuti Erna dari belakang. Mulai dari mengambil wudhu di kamar mandi hingga Erna melaksanakan sholat Isya.
Setelah salam terakhir, Erna pun sempat berdoa di dalam tangisan nya, sebelum ia mencium punggung tangan Amoroso.
"Bu... ada apa?" Amoroso mengusap kedua pipi Erna yang mulai mengendur karena termakan usia.
"Aku malu pak,"
"Malu? Ada apa? Malu kenapa?"
"Ada gosip miring di belakang ku. Aku tidak tahu itu dari mana. Hanya saja, bu Bagus baru saja mengatakan nya kepadaku lewat telepon."
"Gosip apa?" Wajah Amoroso tampak serius dan penasaran.
"Tidak, bukan apa-apa." Erna bangkit dari sajadahnya dan melipat seluruh perangkat sholatnya.
"Bu, aku suami mu. Katakan sejujurnya, jangan kamu pikul sendiri."
"Apakah bila aku katakan kamu akan mengerti? Kamu akan terima?" Tanya Erna dengan ekspresi wajah yang tak kalah serius.
"Insya Allah," Sahut Amoroso.
Erna tersenyum getir, lalu ia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Lupakan saja,"
"Bu..."
"Aku bilang lupakan saja!" Bentak Erna.
Amoroso terkejut melihat reaksi Erna yang membentak dirinya. Erna sudah lama tidak membentak dirinya. Terakhir kali Erna membentak Amoroso saat dirinya bertengkar dengan Erna 30 tahun yang lalu. Saat dimana dirinya dan Erna bertengkar hebat, saat Amoroso mempertanyakan siapa ayah kandung Topan.
"Mengapa kamu membentak ku?"
Erna terdiam membisu. Perlahan, ia duduk di tepi ranjang, tepat disamping Amoroso.
"Apakah kamu masih mempertanyakan Topan itu anak kandung mu atau bukan?"
Amoroso terdiam, ia menatap erna dengan air muka yang tampak terpukul.
"Mengapa kamu mempertanyakan itu?" Tanya Amoroso.
"Apa kamu yang menyebar gosip itu lagi?"
"Kamu ngomong apa bu? Aku tidak paham..!"
"Kamu mau apa? Kamu mau kejujuran ku? Aku sudah jujur bila Topan itu anak kandungmu!"
Amoroso terdiam, ia terus menatap kedua mata Erna yang mulai dibasahi air mata.
"Kamu dengar bu, walaupun aku bertanya-tanya, tidak mungkin aku menyebarkan gosip dan aib keluarga ku sendiri. Apalagi yang menyangkut dirimu bu! Kamu itu istriku! Aib mu adalah aib ku! Deritamu adalah deritaku! Dirimu adalah diriku bu!"
Erna terdiam, ia menelan salivanya dan menghapus air matanya dengan perlahan.
"Makanya aku tanya, gosip apa bu?"
"Gosip bila Topan bukan anak kandung mu!" Dengan emosi Erna mengungkapkan kegelisahan nya.
"Astaghfirullah," Amoroso mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
"Aku pikir kamu..."
"Bukan aku. Aku sudah jelaskan kepadamu bu.." Potong Amoroso.
"Lantas?"
"Aku akan mencari tahu. Ini menyangkut harga diriku," Ucap Amoroso. Dengan gelisah ia beranjak dari duduknya dan berjalan memutari kamar tidur tersebut.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku akan mencari cara, mencari tahu sumber dari gosip itu. Bila ketahuan, aku akan pecat suaminya."
Erna terdiam, ia menatap Amoroso yang masih dengan gelisah mondar-mandir di kamar tersebut.
"Apakah pertanyaan nya masih sama?" Tanya Erna.
Amoroso menghentikan langkahnya dan menatap Erna dengan seksama.
__ADS_1
"Pertanyaan?" Tanya nya.
"Ya, apakah kamu masih mempertanyakan Topan, hingga kamu begitu berbeda sikap dengan Topan, dibandingkan dengan anak yang lain nya?"
Amoroso terpaku. Lalu, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Pak,"
Amoroso kembali menatap Erna dengan seksama. Lalu, ia beranjak duduk disamping Erna.
"Maaf bila aku mengatakan ini, tetapi... aku hanya ingin kejujuran mu Erna. Kita sudah tua, waktu kita tinggal sedikit saja di dunia ini. Aku mohon kejujuran kamu."
"Oh, jadi kamu masih mempertanyakan siapa ayah kandung Topan?" Tanya Erna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bukan begitu. Tetapi... ah sudahlah," Amoroso kembali beranjak dari duduknya. Tetapi, dengan cepat Erna menahan tangan Amoroso.
"Aku sudah bilang, dia adalah anak kandungmu."
Amoroso menatap Erna, mencoba mencari kejujuran di mata istrinya itu.
"Sebenarnya, ada yang ganjil bagiku."
"Apa?"
"Maaf bu, bukan aku meragukan kamu. Hanya saja, mengapa kaku lebih memilih tinggal di rumah ayah mu, di bandingkan rumah dinas kita? Alasan mu sama sekali tidak masuk akal. Hal itu yang membuat aku selalu bertanya-tanya. Apakah kamu sengaja tinggal dirumah ayah mu hanya untuk bertemu setiap hari dengan Galang? Aku mohon, jujurlah kali ini saja."
Erna membisu dalam waktu yang cukup lama.
"Apalagi, saat aku pulang dan datang kerumah ayahmu, aku melihat Topan bermain dengan Galang, dan Topan memanggil Galang dengan sebutan Baba. Hati ini hancur bu..."
Air mata Erna kembali mengalir deras, hingga membuat pipinya teramat sangat basah.
"Aku bisa saja melakukan test DNA. Hanya saja, aku tidak mampu menerima kenyataan. Bila dia adalah anak kandung ku, aku sudah sangat berdosa kepadanya. Mencurigainya, membencinya, atau bahkan bersikap dingin kepadanya."
"Namun, bila ternyata dia bukan anak kandungku, aku harus apa bu? Membenci kamu? menceraikan kamu? Sedangkan aku sangat mencintai kamu. Aku tidak bisa hidup tanpamu bu. Tetapi, aku juga tidak akan mampu menerima kenyataan bu. Hidupku berakhir rasanya bila itu semua terjadi."
Erna mengepalkan tangan di dadanya. Terasa perih baginya perkataan yang di ucapkan oleh Amoroso.
"Jadi, aku lebih memilih untuk menguburnya dalam-dalam. Biarlah aku membesarkan Topan sebagai lelaki. Sebagai anak ku, walaupun hatiku terus bertanya siapa dia."
"Bu, mungkin esok, aku sudah tiada. Mungkin juga kamu duluan yang mendahului aku. Aku mohon, di usia senja ini, jujurlah padaku. Puluhan tahun aku berusaha berdamai, mungkin inilah saatnya, aku siap untuk menerima apapun kenyataanya." Amoroso berlutut dihadapan Erna dengan wajah yang tertunduk dalam.
"Bila sejujur-jujurnya dia adalah anak kandungku, aku bersedia untuk meminta maaf kepada Topan. Namun bila dia bukan anak kandung ku, biarlah semua berjalan seperti biasanya. Aku akan tetap mencari siapa yang menyebarkan gosip itu dan memecat suaminya. Aku berjanji, tidak akan menyalahkan Topan. Ataupun menyalahkan kamu. Sejatinya, akulah orang yang paling bersalah selama ini. Karena aku begitu sangat pengecut."
"Bu, jujurlah... katakan apa yang ada di hatimu. Maafkan aku bila aku salah, dan aku akan memaafkan kamu, bila memang kamu khilaf."
Erna menatap Amoroso lekat-lekat. Lalu, membisikkan sesuatu ke telinga Amoroso. Saat itu juga, Amoroso terduduk diatas lantai. Ia terpaku, air matanya mulai mengalir deras di pipi tua nya.
"Apakah itu kejujuran mu?"
"Seperti yang kamu bilang, usia ku sudah dekat dengan kematian. Aku mengatakan kejujuran. Itulah kejujuran nya. Demi Allah, itulah kejujuran nya. Sekarang terserah kamu. Aku lelah..." Erna beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan kamar tersebut.
"Jadi, alasan mu tinggal dirumah ayah mu..."
__ADS_1
"Memang alasan ku lucu, takut dirumah dinas karena merasa bahaya. Kamu tahu, saat itu banyak ular yang masuk ke dalam rumah. Karena dibelakang rumah dinas kita masih ada semak belukar. Dan kamu tahu, aku phobia ular. Disamping itu, aku merasa nyaman tinggal dengan orangtuaku. Bilamana aku kerap bertemu dengan Galang, itu adalah suatu yang tidak bisa aku hindari. Aku minta maaf," Erna menutup pembicaraan itu. Lalu, ia bergegas meninggalkan Amoroso sendiri.