
seekor burung gagak melintas di atas lokasi tempat dimana Pongki akan di eksekusi mati. Suasana begitu tenang, hanya terdengar suara angin yang bertiup seolah sedang menyanyikan sebuah lagu kematian yang begitu memilukan. Akhirnya, tibalah waktu nya. Jaksa eksekutor memerintahkan komandan regu bersama anggotanya untuk membawa terpidana ke posisi penembakan. Komandan regu dan dua orang anggotanya pun berjalan menghampiri Pongki yang saat ini di bagian dadanya sudah di berikan tanda hitam sebagai tanda dimana letak jantung nya berada. Yang merupakan target dari penembakan dalam hukuman yang akan ia jalani.
Pongki berjalan dengan kedua tangan nya yang terborgol dan di pegang erat oleh dua orang personil eksekutor, menuju tiang dimana dirinya akan di ikat. Pongki seakan tidak lagi memikirkan dirinya akan mati. Matanya terus mencoba mencari sosok Topan di sana. Hingga akhirnya tibalah dirinya di depan tiang. Borgol yang berada di tangan nya dilepaskan dan dengan segera kedua tangan nya di ikat di tiang tersebut.
Lalu, seorang personil datang membawa selembar kain yang berwarna hitam.
"Matanya mau di tutup?" Tanya orang tersebut.
Pongki menatap mata orang tersebut yang mana tersembunyi di balik kacamata hitam orang itu.
"Tidak," Sahut Pongki.
"Anda yakin?" Tanya orang itu lagi.
"Saya yakin." Tegas Pongki.
Karena itu adalah permintaan dari terdakwa, maka orang itu harus menuruti apa mau Pongki.
__ADS_1
Orang itu kembali ke regunya, dimana para regu tembak akan memilih senjata yang akan mereka gunakan untuk menembak target. Di depan regu tembak yang beranggotakan 12 orang tersebut dan 5 anggota diantaranya berasal dari Jakarta, terdapat sebuah meja dengan alas kain berwarna putih. Di atas meja itu terdapat 12 senjata. Dimana 3 dari 12 senjata tersebut terisi peluru tajam yang mampu membunuh target dengan seketika. Sedangkan 9 senjata lagi berisi peluru hampa. Tidak ada yang tahu senjata mana yang terisi peluru tajam, yang akan menyebabkan kematian target itu sendiri.
Sang komandan regu mulai memerintahkan seluruh anggotanya mengambil masing-masing satu senjata. Sedangkan Pongki yang terikat di tiang eksekusi sedang di tuntun untuk membaca dia kalimat syahadat dan di tenangkan oleh rohaniwan yang mendampingi dirinya sejak perjalan menuju ke lokasi eksekusi. 11 di antara anggota personil sudah mengambil satu persatu senjata yang tergeletak di atas meja, kini tersisa satu personil yang masih menatap senjata api laras panjang satu-satunya yang tersisa di atas meja. Hingga dirinya di tegur oleh komandan regu tersebut.
"Kamu! Ambil senjata nya!" Tegur sang komandan.
Suara komandan itu terdengar lantang, hingga menyita perhatian Pongki. Pongki melihat lelaki yang masih berdiri di depan meja tersebut. Saat itu juga Pongki tahu bila lelaki itu adalah Topan. Bagaimana dirinya bisa mengenali Topan? Dari keraguan lelaki itu sudah jelas itu adalah Topan. Menantu mana yang siap untuk mengeksekusi mati mertuanya sendiri?
Pongki terus menatap lelaki berseragam lengkap tersebut. Dari gerak geriknya dan tangan yang bergetar saat hendak meraih senjata satu-satunya yang tersisa, terlihat jelas dirinya merasa berat dengan tugas yang sedang ia emban. Melihat hal itu, Pongki mulai merasa tenang. Karena ia yakin seratus persen, bila lelaki itu adalah Topan. Topan tidak pernah ingkar janji, Topan melaksanakan permintaan terakhir nya dengan lapang dada. Ia pun merasa memiliki teman atau orang yang ia cintai di sana. Walaupun dengan cara yang benar-benar di luar nalar orang kebanyakan. Bagaimana Pongki bisa begitu tega mengajukan permintaan itu kepada menantunya sendiri?
Jaksa Eksekutor melakukan pemeriksaan terakhir sebelum acara eksekusi mati itu di laksanakan. Baik persenjataan dan target itu sendiri. Saat Jaksa eksekutor memeriksa Pongki, lelaki itu meminta Jaksa eksekutor mengeluarkan sesuatu yang terselip di pinggangnya. Jaksa eksekutor pun kembali menggeledah Pongki, dan saat itu juga ia menemukan secarik kertas yang di gulung dan di selipkan di bagian pinggang pakaian dalam nya.
"Itu adalah surat, untuk salah satu personil anda. Saya mohon sampaikan surat itu padanya. Dia akan menghampiri anda dan meminta surat itu kepada anda setelah saya mati," Ucap Pongki dengan lantang.
Mendengar hal itu, seluruh anggota regu eksekutor pun saling berpandangan. Namun ada satu yang tak bereaksi, dia terus menatap Pongki yang juga sedang menatap dirinya.
"Baik, sudah bisa di mulai?" Tanya Jaksa eksekutor itu seraya mengantongi surat tersebut di saku celananya.
__ADS_1
Pongki mengangguk dengan pasti. Saat itu juga sang jaksa pun beranjak dari hadapannya dan berdiri di posisi semestinya dimana dirinya hanya bertugas untuk memberikan aba-aba kepada ketua regu eksekutor.
Setelah membaca doa menurut keyakinan nya, sang Jaksa memberikan isyarat dimana seluruh anggota regu tembak harus mengangkat moncong senjata laras panjang nya menghadap ke langit. Lalu mereka bersiap untuk menerima aba-aba berikutnya. Sang rohaniwan pun beranjak meninggalkan Pongki yang terikat di tiang tersebut. Tanda penembakan akan segera dimulai.
"Siap!" Ucap Jaksa eksekutor.
Dengan serentak moncong senjata pun mengarah kepada Pongki yang terikat di tiang dengan raut wajah yang tak berdaya. Matanya terus menatap ke arah anggota regu yang ia yakini sebagai Topan, yang berdiri 5 meter di depan nya.
"Tembak!" Perintah Jaksa eksekutor itu.
Suara letusan dari 12 senjata laras panjang tersebut pun memecah keheningan di bukit Nirbaya. Burung-burung yang bersembunyi di rimbun nya pepohonan pun terkejut dengan letusan senjata api tersebut. Hingga kawanan burung tersebut berterbangan meninggalkan sarang nya yang berada di atas ribuan pepohonan.
Darah mulai mengalir dari tubuh Pongki yang mulai terkulai, terutama di bagian dadanya. Sang Jaksa pun memerintahkan para anggota regu tembak menurunkan senjata yang mereka pegang. Lalu team medis berlarian menghampiri tubuh Pongki yang terlihat sudah tidak bergerak lagi. Semua orang di sana menunggu isyarat dari team medis. Ya... isyarat bila terpidana mati itu sudah tidak lagi bernyawa. Sedangkan sang Jaksa sudah bersiap dengan senjatanya untuk di arahkan ke terpidana, bila saja terpidana itu masih bernyawa.
Hingga akhirnya salah satu dari team medis memberikan isyarat bila terpidana sudah tidak lagi bernyawa. Saat itu juga sang Jaksa kembali mengantongi senjatanya dan memberikan isyarat kepada semua yang berada di sana, bila pelaksanaan eksekusi mati tersebut berakhir.
Seluruh regu tembak pun membubarkan diri. Mereka akan langsung di bawa ke sebuah tempat untuk menenangkan diri. Sedangkan team medis mengurus jenazah Pongki, melepaskan nya dari tiang tersebut dan membawanya untuk di mandikan, lalu di letakan di dalam peti mati dan diserahkan kepada pihak keluarga yang tengah menunggu di lapas.
__ADS_1
Namun, ada seorang dari anggota regu yang datang menghampiri sang Jaksa. Ia menadahkan tangan nya yang gemetar kepada Jaksa tersebut. Sang Jaksa pun paham dengan apa maksud dari sang anggota regu itu. Dia sedang meminta sepucuk surat yang diberikan Pongki kepada dirinya, untuk di sampaikan kepada salah satu anggota eksekutor.
Sang Jaksa pun mengeluarkan surat tersebut dari kantongnya dan menyerahkan nya kepada anggota regu tembak tersebut. Tanpa kata, sang anggota regu tembak itu beranjak dari hadapan Jaksa itu dan berjalan mengikuti anggota regu yang lain nya, setelah ia meletakkan senjata laras panjang yang baru saja ia gunakan untuk mengeksekusi mati Pongki.