Masteng

Masteng
22. Beri aku waktu


__ADS_3

Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong!


Seperti orang kesetanan, Bella terus menekan bell apartemen milik Frans.


Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong!


Berapa kali pun, Bella menekan tombol tersebut, tidak kunjung ada yang membuka pintu apartemen tersebut. Bella terlihat marah dan mencoba berkali-kali menghubungi kekasihnya itu. Hal yang sama ia terima, ponsel Frans tidak kunjung aktif.


Bella mendengus kesal, ia pun mengetuk-ngetuk pintu apartemen tersebut, hingga menimbulkan keributan dan mengganggu tetangga yang tinggal di sekitar apartemen Frans.


"Woiii mbak, berisik tau!" Ucap seorang penghuni yang melongok dari pintu apartemen nya.


"Ma-maaf mas," Sahut Bella.


Bella berhenti mengetuk pintu apartemen Frans. Lalu, ia memutuskan untuk kembali ke halaman parkir, dimana Topan berdiri dengan sebatang rokok, menunggu dirinya.


Topan menatap Bella yang baru saja muncul dari lobby apartemen tersebut dengan wajah yang risau dan kesal sekaligus. Dengan langkah yang gontai, Bella berjalan mendekati Topan.


"Yuk pulang," Ucap Bella.


Topan hanya mengangguk dan mematikan rokok nya dengan tumit sepatunya.


Topan membukakan pintu mobil untuk Bella. Lalu, gadis itu beranjak masuk dan duduk di kursi penumpang dengan gelisah. Setelah itu, Topan menyusul masuk dan duduk di balik kemudi nya.


Topan menyalakan mesin mobilnya tanpa berkata-kata. Ia tahu, suasana hati Bella sedang tidak baik. Serta Topan sedang memikirkan bagaimana cepat sampai ke rumah, dalam kondisi jalan yang sangat macet, untuk menepati janjinya kepada Berta, yang meminta dirinya untuk mengantarkan ke Mall.


..


Berta sudah bersiap untuk pergi ke Mall bersama dengan Bella dan Topan. Ia sudah memakai dress santai berwana putih, serta riasan wajah yang sederhana. Lalu, ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya dan setelah itu, ia menyambar tas tangan nya yang sudah ia persiapkan di atas meja riasnya. Berta melangkah keluar dari kamarnya. Lalu, ia berjalan ke arah pintu keluar rumah tersebut.


Di ruang keluarga, terlihat Pongki sedang duduk diam di temani oleh segelas kopi yang sudah dingin. Pongki melirik Berta yang tampak acuh kepada dirinya.


"Mau kemana?" Tanya Pongki, sambil beranjak dari duduknya.


Berta diam saja, ia terus melangkah kearah pintu keluar.


"Berta.."Panggilnya.


Berta bergeming saat mendengar Pongki memanggil dirinya.


Pongki melangkah mendekati Berta dan menatap istrinya dengan seksama.


"Kamu cantik sekali, kamu mau kemana?" Tanya nya lagi.


Berta menatap Pongki dan tersenyum sinis.


"Bukan urusan mu," Ucap Berta, lalu ia kembali melangkah ke arah pintu keluar.

__ADS_1


"Berta, kamu tidak boleh keluar." Ucap Pongki.


"Kenapa? Apa urusan mu?" Tanya Berta dengan kerut di keningnya.


"Karena kamu istri ku dan aku tidak mengizinkan kamu pergi."


"Aku mau ke Mall..! Tidak di izinkan?" Tanya Berta.


"Oh ke Mall, aku antar ya.."


"Gak!"


"Ya sudah, tidak boleh keluar," Ucap Pongki.


"Egois!" Bentak Berta.


"Bukan egois, aku takut bila kamu..."


"Apa? Bila aku apa? Berselingkuh seperti kamu?" Cecar Berta.


Pongki terdiam membisu.


"Pongki, ingat! Selama ini aku tidak pernah berselingkuh. Jangan samakan aku dengan dirimu. Aku pergi bersama dengan Bella dan Paijo!" Ucap Berta, lalu ia melangkah menuju ke halaman rumah tersebut dan memanggil Paijo dengan suara yang lantang, tanpa dapat di cegah oleh Pongki.


Kesalahan Pongki membuat dirinya tidak bisa salah berkata dan asal bertindak terhadap istrinya sendiri. Yang membuat ia terus merasa bersalah dengan kebodohan nya sendiri. Namun, meskipun begitu, Pongki menyadari dan menerima segala perlakuan Berta terhadap dirinya. Karena, tidak mungkin luka itu langsung sembuh di hati Berta. Ia hanya bisa berharap, lambat laun, sikap Berta akan kembali seperti semula kepada dirinya.


"Maaf nyonya, Paijo dan non Bella belum kembali," Ucap bodyguard itu.


Berta menghela nafas panjang dan terlihat' kesal kepada Paijo dan Bella.


"Ya sudah, sana kembali ke pos," Ucap Berta.


Lalu, Berta kembali ke dalam rumah dan melangkah menuju ke kamar nya.


Melihat Berta kembali, Pongki pun menyusul ke kamar mereka.


"Tidak jadi pergi?" Tanya Pongki.


Berta bergeming, ia hanya diam duduk diatas ranjang, tanpa menatap Pongki sedikit pun.


"Paijo dan Bella belum pulang?" Tanya Pongki lagi.


Berta tetap bergeming. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dan menganggap Pongki tidak ada di depan nya.


Pongki berjongkok di tepi ranjang dan meraih tangan Berta. Dengan cepat, Berta menepis tangan Pongki yang berniat menggenggam tangan nya.


Pongki pun terdiam, ia menghela nafas panjang. Ia terus menatap istrinya yang masih marah kepada dirinya.

__ADS_1


"Berta... aku sangat mencintai kamu..."


"Diam... kalau tidak ada bukti, tidak usah berbicara," Ucap Berta.


"Dengan apa aku membuktikan nya? Aku berbicara apa adanya kepadamu. Aku tahu aku salah..."


"Diam!" Bentak Berta yang kini matanya mulai memerah menahan amarah.


Pongki terduduk di atas lantai, ia menyenderkan punggungnya di kaki ranjang. Pongki mengusap wajahnya dengan gusar dan mulai menangis tersedu-sedu.


"Aku tahu aku salah Berta. Andai kamu tahu mengapa aku sampai di desa Anna. Aku sedang menghindari kecurigaan polisi. Makanya, tiga tahun yang lalu, kita pindah kesini. Karena aku tidak mau, kamu tahu aku sedang menghadapi kasus hukum. Kaku dan Bella aku ungsikan kesini. Maka itu aku membeli rumah ini dan tidak mengizinkan siapa pun masuk kerumah ini. Itulah mengapa aku memakai dua gerbang di rumah ini," Terang Pongki.


Berta mengerutkan keningnya, ia terkejut bila Pongki pernah di curigai polisi.


"Kecurigaan polisi? Kenapa?" Tanya Berta yang tidak pernah tahu menahu bisnis ilegal Pongki.


"Apakah kamu tidak pernah menyadari, mengapa kita terlalu cepat kaya?"


Degggg...! Berta terdiam membisu.


"Untuk menikahi kamu, aku berbisnis narkoba Berta. Demi memenuhi syarat dari orangtua mu yang menuntut ku, untuk kaya agar pantas bersanding dengan mu. Semua aku lakukan, hanya untuk mendapatkan kamu, bidadari ku..."


Berta terperangah tak percaya.


"Semua aku lakukan untuk dapat "Pantas" bersanding dengan dirimu. Meyakinkan orangtuamu, kalau aku tidak akan membawamu ke kemiskinan Berta." Sambung Pongki.


"Jadi... bisnis yang lain nya?" Tanya Berta.


"Bisnis itu memang ada. Tetapi, modal semua dari barang haram itu Berta. Aku pun lelah, aku ingin berhenti dan menjalani bisnis yang ada saja. Tapi aku begitu sukar keluar dari bisnis itu Berta!"


Berta semakin terpuruk mendengar itu semua.


"Tiga tahun yang lalu, aku selalu menjadi incaran penegak hukum. Beruntung aku selalu bisa lolos. Aku mengatakan aku sedang di luar negeri, agar mereka tidak kerumah dan mengatakan semuanya kepadamu. Maka, sebelum aku pergi, aku mengungsikan kalian disini. Itulah mengapa, aku melarang kalian membawa satupun barang-barang yang ada di rumah yang lama. Lalu, aku tidak tahu mengapa aku memilih Desa tersebut, hingga aku harus bertemu dengan Anna."


"Aku tahu, aku bodoh, aku mau saja menikahi dia. Tetapi, kalau aku boleh jujur sejujurnya, aku tidak ada hati sedikitpun dengan Anna. Tidak sedikitpun, walaupun dia muda dan cantik. Aku tidak mencintai dia. Bukan juga hanya sekedar pelampiasan nafsu, aku justru bertahan dengan nya karena aku iba dengan nya. Dia anak yatim piatu. Dia hanya ada aku Berta.... Dia hanya mengenal aku yang menjadi penyelamat nya. Dia begitu polos dan baik. Tetapi tetap, aku hanya mencintai kamu seorang. Itulah mengapa, aku rela melepaskan dia tanpa berat hati, dan mempertahankan kamu," Terang Pongki.


Berta terdiam membisu, lidahnya terasa kelu. Hanya air mata yang mengalir di pipinya yang sudah mulai menua.


"Maafkan aku... aku tidak akan melepaskan kamu, apa pun alasan nya. Aku akan meninggalkan bisnis haram itu. Aku berjanji, akan selalu disamping mu selamanya."


"Mamiiii.... Mamiii..."


Terdengar suara dan langkah kaki Bella mendekat.


"Ya.." Sahut Berta seraya menghapus air matanya. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan bergegas menemui Bella yang berada di balik pintu kamarnya.


"Berta..." Panggil Pongki.

__ADS_1


"Beri aku waktu," Sahut Berta, seraya membuka pintu kamar tersebut dan pergi meninggalkan Pongki sendiri.


__ADS_2