Masteng

Masteng
117. Album usang


__ADS_3

Topan menghentikan laju mobilnya tepat di sebuah rumah bernuansa 70's. Rumah itu terlihat tidak terawat, karena para penghuninya sudah tidak tinggal disana lagi. Rumah itu adalah rumah peninggalan kakek Topan, yaitu ayah dari Erna. Sedangkan kedua orangtua Erna, yaitu kakek dan nenek Topan sudah lama tiada. Yang menempati rumah tersebut hanyalah seorang penjaga yang dipercaya oleh Erna untuk merawat rumah tersebut, selama ia ikut tinggal di rumah dinas Amoroso.


Topan membuka pagar rumah yang terbuat dari besi dengan cat berwarna putih sebenarnya; hanya saja, seiring berjalan nya waktu, cat itu terkelupas dan menyisakan cat dasar berwarna biru langit. Sementara di sisi cat uang yang belum terkelupas, menyisakan cat putih yang sudah berubah warna menjadi agak kecoklatan karena karat yang memakan tubuh besi pagar itu sendiri.


Topan melangkah masuk ke halaman rumah yang tampak baru saja di sapu. Tumpukan dedaunan kering, teronggok di tepi pagar bagian dalam, tepat di bawah pohon Mangga yang hampir mati.


Topan terus berjalan ke arah paviliun rumah tua tersebut. Terlihat sebagian plafon atap bagian luar sudah mulai terkikis jaman. Plafon tersebut terjatuh dan menyisakan setengah yang masih menempel di bawah atap.


"Siapa itu?" Tanya seorang pria tua yang sedang membawa cangkul dipundak nya.


Topan hampir saja melompat karena terkejut. Ia menatap bapak tua tersebut yang bernama Sugianto.


"Pak, saya Topan."


Sugianto, sang penjaga rumah tersebut mengerutkan keningnya. Lalu, ia menurunkan kaca mata nya hingga ke cuping hidung nya.


"Topan? Anak non Erna?" Tanya Sugianto yang sudah mengabdi kepada keluarga Erna selama puluhan tahun sebagai tukang kebun di rumah itu. Setelah kedua orangtua Erna tiada, Sugianto di tunjuk Erna untuk tetap tinggal dan di beri gaji setiap bulan nya, untuk menjaga dan merawat rumah tersebut.


"Iya pak," Sahut Topan.


"Wah... hehehehe.." Lelaki tua itu menghampiri Topan dan tertawa, hingga memperlihatkan gigi depan nya yang tinggal beberapa buah saja.


"Tumben kesini den Topan? Apa kabarnya den? Ibu bapak juga apa kabarnya?" Tanya Sugianto.


"Alhamdulillah baik pak. Iya saya kebetulan lewat saja. Jadi saya sempatkan untuk mampir kesini dan melihat bapak," Ucap Topan.


"Wah, saya merasa tersanjung." Sugianto terlihat semringah.


"Ini saya bawakan buah-buahan untuk bapak. Oh iya, mak Qori mana?" Tanya Topan.


Qori adalah istri dari Sugianto. Mereka hanya tinggal berdua saja di rumah tersebut. Sedangkan anak-anak mereka sudah bekerja semua dan menikah.


"Ada di dalam. Mak....! Sini... ada den Topan!" Panggil Sugianto.


Tak lama kemudian, terlihat wanita tua dengan memakai kaos dan sarung sebagai bawahan nya. Wanita tua itu menggulung rambutnya dan menatap Topan dengan tatapan yang kurang tegas.


Qori sudah lama menderita rabun jauh. Semakin lama, semakin parah saja. Maka ia begitu sulit untuk melihat dengan baik.


"Mak, apa kabar?" Topan menghampiri Qori dan mengecup punggung tangan Qori.


"Den Topan.. sudah besar ya... mak baik.. Alhamdulillah," Sahut Qori sembari tersenyum semringah.


"Masuk sini, biar mak buatkan kopi,"


"Tidak usah repot-repot mak, Topan kesini hanya ingin mampir sebentar. Ada yang mau Topan ambil juga di dalam," Ucap Topan.


"Ambil apa den?" Tanya Sugianto yang merasa bingung setelah mendengar Topan akan mengambil sesuatu di rumah peninggalan orangtua Erna itu.

__ADS_1


"Ada pak, saya juga disuruh oleh ibu. Boleh minta kuncinya?"


Sugianto mengangguk paham dan beranjak ke dalam paviliun yang telah ia tempati sejak puluhan tahun yang lalu; dan kembali lagi dengan membawa beberapa kunci yang terikat di sebuah pita berwarna merah yang terlihat kusam.


"Ini den kuncinya," Sugianto menyerahkan kunci tersebut kepada Topan.


"Terima kasih pak, saya masuk dulu ya,"


"Iya den. Tetapi, saya minta maaf, saya belum sempat membersihkan rumah. Karena saya baru sembuh den, dari sakit kemarin." Terang Sugianto dengan ekspresi wajah yang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa pak. Saya masuk dulu ya," Ucap Topan.


"Silahkan den."


Topan melangkah ke arah pintu depan rumah tersebut. Lalu, ia mencari kunci yang sesuai dengan stiker yang di tempel di sekitar gagang pintu tersebut. Nomor satu adalah nomor untuk kunci pintu depan rumah tersebut.


Klik!


Topan berhasil membuka pintu depan rumah tersebut. Lalu, ia melangkah masuk dan memperhatikan sekeliling rumah yang terasa sedikit pengap, karena jendelanya tidak pernah di buka sama sekali.


Topan melangkah lebih jauh lagi, hingga ia memasuki ruang keluarga. Masih terlihat kursi goyang peninggalan kakeknya di sudut ruang keluarga. Topan ingat betul, ia kerap duduk dipangkuan kakeknya saat kakeknya sedang menikmati waktu di atas kursi goyang tersebut.


Topan menatap sebuah bufet tua yang terbuat dari kayu jati. Bufet tersebut masih terlihat kokoh. Namun, di selimuti debu tipis yang menutupi setiap bagian nya. Topan melangkah mendekati bufet tersebut dan membuka satu persatu laci yang berada disana. Namun, Topan tidak menemukan satupun foto, ataupun album foto disana.


"Uhuk!" Topan terbatuk karena saat ia membuka laci tersebut, debu disekitar laci berterbangan hingga terhirup olehnya. Topan pun berinisiatif memakai masker yang selaku berada di dalam saku jaket kulitnya, dan berusaha mencari lagi apa yang sedang ia cari.


Pintu itu pun terbuka. Topan melangkah masuk kedalam kamar tersebut. Lalu, matanya tertuju kepada lemari tua yang berada di sudut ruangan tersebut. Lemari jati dengan ukiran yang begitu indah itu, Topan hampiri. Lalu, ia membuka pintu lemari tersebut dan mendapatkan beberapa berkas dan juga pakaian peninggalan kakek nenek nya. Topan sempat membongkar dan mengamati berkas-berkas tersebut. Namun, ia tidak menemukan satupun foto yang ia cari disana.


Topan pun memutuskan untuk mencari ke ruang sebelah dari lemari tersebut. Disana, barulah Topan mendapatkan tumpukan album foto usang yang sengaja disimpan disana. Topan membuka satu persatu dari album tersebut. Terlihat gambar kakek nya yang masih gagah, mungkin masih seusia dengan dirinya. Topan tersenyum dan merasa bangga saat melihat foto masa muda kakeknya.


Di album pertama, Topan tidak mendapatkan foto yang ia cari. Lalu, ia beralih ke album kedua. Di album kedua ini, terlihat kedua orangtuanya sedang bersanding di pelaminan. Erna tampak anggun dengan busana tradisional Jawa tengah. Pun dengan Amoroso yang tersenyum bahagia dalam foto tersebut.


Topan memperhatikan satu persatu orang yang berada di gambar tersebut. Hingga pada halaman terakhir dari album itu, Topan mendapatkan foto lelaki yang mirip sekali dengan foto Galang yang dikirimkan oleh Suprapto.


"Apa dia orangnya? Kira-kira bila orang yang ada di foto ini, tuanya ya... seperti Galang saat ini," Gumam Topan.


Di foto itu, terlihat Galang berdiri tepat disamping Erna. Wajahnya terlihat datar dan sorot matanya terlihat menyimpan kepedihan.


"Mungkin ini orangnya, aku ambil saja." Topan mengeluarkan foto tersebut dan menaruhnya di atas ranjang yang berdebu. Lalu, ia kembali mencari foto galang di dalam tumpukan-tumpukan album tersebut.


Hingga ia menemukan sebuah album bersampul merah hati. Sampul album tersebut dilapisi oleh kain sejenis bludru. Topan mengibaskan debu yang menempel di atas sampul album tersebut. Lalu, ia mulai membuka lembar pertama dari album itu.


Di lembar pertama, terlihat foto Erna masih remaja. Erna tersenyum lepas dan terlihat sangat cantik dengan dress midi yang terlihat sangat pas di tubuhnya. Sedangkan disamping Erna, terlihat lelaki yang sama dengan yang berfoto bersama dengan Erna saat wanita itu menikah. Bedanya, lelaki itu ikut tertawa lepas dan menempatkan tangan nya di pundak Erna.


"Galang! Ya, ini pasti dia!" Seru Topan. Topan mengeluarkan foto tersebut dari plastik yang membungkus foto itu di dalam album. Lalu, ia membalikkan foto itu dan menatap terlihat tulisan tangan seseorang.


Aku sangat mencintaimu, senyum mu adalah kebahagiaan ku.

__ADS_1


Bunyi tulisan dari balik foto itu.


Topan meletakkan foto itu kembali kedalam album dan mulai membuka ke halaman kedua.


Dihalaman kedua, terlihat sebuah foto, dimana Galang memeluk tubuh Erna. Erna dan Galang saling berpelukan di sebuah pantai. Tangan Erna memeluk erat pinggang Galang. Sedangkan Galang, menjatuhkan dahinya di dahi Erna. Mereka tampak sangat serasi dan bahagia. Topan pun merasa penasaran. Lalu ia mengeluarkan foto tersebut dan membalikkan nya. Benar saja, Topan kembali mendapatkan tulisan tangan disana.


Walaupun dunia tidak berpihak kepada kita. Namun percayalah, cintaku tetap abadi untuk kamu.


Ada perasaan sesak di dada Topan. Ia seperti masuk kedalam kisah cinta antara Erna dan Galang.


Topan kembali melihat ke halaman selanjutnya. Kali ini, ia melihat Erna menjatuhkan kepalanya di pundak Galang yang sedang duduk sambil memegang rokok di tangan kanan nya. Erna tersenyum lebar, sedangkan Galang terlihat tidak siap untuk di foto. Ekspresi lelaki itu terlihat tegang sekali. Topan kembali melihat tulisan di balik foto tersebut.


Aku bukan menyerah, hanya saja.. aku tahu kesulitan mu. Aku mencintaimu dengan seikhlas-ikhlasnya. Maka, aku harus ikhlas melepaskan kamu.


Topan terdiam, ia mulai mengerti situasi yang dihadapi Galang dan Erna pada masa itu.


Topan kembali melanjutkan rasa penasaran nya, ia membuka halaman selanjutnya; dan kini ia mendapatkan sebuah Foto Galang yang sedang memakai pakaian dinasnya, lengkap dengan senjata yang tergantung dipundak kokohnya. Galang berdiri dengan tegap dan ekspresi wajah yang tidak bisa Topan pungkiri, bila lelaki di foto tersebut sangat mirip dengan dirinya.


Topan membalikan foto tersebut dan kembali menemukan tulisan tangan yang belakangan ia tahu itu adalah tulisan tangan Galang. Tulisan tangan itu berbentuk tulisan latin yang sangat berbeda dengan tulisan tangan Erna, yang Topan ketahui.


Walaupun aku disingkirkan, walaupun aku dicampakkan, entah berapa jauh jaraknya darimu. Aku tetap titipkan hatiku untuk mu.


Walaupun kamu tidak bisa aku miliki. Tetapi, jangan paksa aku untuk berhenti mencintai kamu.


Erna, aku sangat mencintaimu, lebih dari yang kamu ketahui.


Topan terdiam. Lalu, ia melihat tulisan tangan lagi di sampul album tersebut.


Erna, aku sangat merindukanmu dan juga si kecil Topan. Aku tahu kamu sudah bahagia saat ini. Aku disini di pelosok Negeri ini, sedang sendiri memikirkan kamu dan Topan. Sampaikan salam rinduku untuk Topan. Bagaimana pun, entah mengapa, aku yakin dia adalah anak kandungku. Dia persis sekali seperti aku saat masih balita. Walaupun kamu mengatakan tidak, tetapi darah lebih kental daripada air. Hatiku berkata, dia adalah anak kandungku.


Erna, aku sengaja mengirim album ini untuk mu. Album yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Kenapa aku mengirimkan nya kepadamu? Itu semua karena aku akan dipindahkan lagi ke suatu daerah yang mungkin saja bisa merenggut nyawaku. Aku tidak mau album ini hilang sia-sia. Aku ingin kamu menyimpan nya dengan baik. Entah aku masih hidup atau sudah mati nanti.


Erna, sudah 6 tahun berlalu. Tetapi, rasa cintaku padamu tidak kunjung memudar. Berdosa kah aku? Aku adalah lelaki yang telah berjanji atas cintaku kepadamu. Aku masih menunggu kamu sampai detik ini.


Bila aku selamat dari tugas, aku akan menemukan mu. Aku berjanji. Jangan lupa bawa Topan bersama kita. Aku akan mengabari kamu setiap ada kesempatan.


Jaga baik-baik dirimu, jaga baik-baik si kecil Topan. Dia adalah anak ku, anak ku dari wanita yang sangat aku cintai. Dia bukan anak dari suami mu. Mengapa kamu pungkiri itu? Apakah kamu sudah melupakan aku?


Nunukan, Kalimantan Timur.


Topan meneteskan air matanya. Ia baru paham kisah cinta antara Erna dan Galang. Kisah cinta yang terhalang restu orangtua. Kisah cinta yang begitu menguras air mata. Namun tidak pernah bisa bersatu.


....


FYI.


Tertulis Nunukan Kalimantan timur, karena cerita usang.

__ADS_1


Sejak tahun 2012, kabupaten Nunukan merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Utara, seiring dengan pemekaran provinsi baru tersebut dari Provinsi Kalimantan Timur.


__ADS_2