
Denting peralatan makan terdengar menggema di restoran hotel. Beberapa tamu hotel terlihat berbincang dengan seru bersama dengan pasangan atau keluarga mereka, sedangkan di meja Pongki dan keluarganya terlihat suasana canggung yang tidak dapat dilukiskan. Pongki canggung dengan Berta, Sedangkan Bella canggung dengan Topan. Semua diam tanpa kata, hanya suara sendok dan garpu saja yang terdengar di meja mereka.
Bella memberanikan diri untuk menatap Topan yang sedang melahap menu sarapan nya. Wajah lelaki itu terlihat begitu tampan dan tenang. Membuat Bella merasakan sesuatu yang ganjil di hatinya.
"Paijo, kamu mau nambah sarapan nya?" Tanya Berta.
"Hmmm, tidak kok kanjeng mami. Sudah cukup," Ucap Topan, di akhiri dengan senyuman yang sangat manis. Jantung Bella berdegup kencang saat melihat senyuman Topan yang sangat menarik. Hingga ia ingin melihatnya sekali lagi. Tetapi, Topan kembali menyantap makanan nya dan terus mengabaikan dirinya. Ya, sejak tadi, Topan tidak sekalipun kontak mata dengan Bella. Justru, Bella lah yang tidak tahan untuk terus menatap lelaki itu.
"Bella, kamu nanti malam tidur di kamar daddy ya," Ucap Pongki.
Berta membulatkan matanya dan menatap Pongki dengan tak percaya.
"Tergantung mami saja," Sahut Bella.
"Jangan, mami mau tidur dengan kamu saja Bell," Ucap Berta dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Tuh, mami gak mau," Celetuk Bella.
Pongki menghela nafas panjang dan mulai berbisik dengan Bella yang duduk tepat disampingnya.
"Nanti daddy transfer uang, kamu mau berapa?"
Bella membulatkan matanya dan menatap Pongki dengan tatapan mata yang berbinar.
"Beneran?"
"Iya," Sahut Pongki.
"Kalau daddy bohong, awas saja!"
"Enggak, asal kamu mau tukeran kamar sama daddy. Terus, kamu jangan ganggu daddy sama mami ya. Kamu pergi saja sama Paijo. Nanti daddy transfer." Bisik Pongki lagi.
Berta mengerutkan keningnya, saat melihat ayah dan anak itu sedang asik berbisik-bisik.
"Buktikan sekarang, transfer coba," Bisik Bella.
"Ok," Pongki meraih ponselnya dan membuka aplikasi bank miliknya. Lalu, ia mentransfer sejumlah uang ke rekening Bella.
Tringggggg!
Notifikasi dari bank pun muncul di ponsel Bella. Gadis itu meraih ponselnya dan membaca notifikasi tersebut. Perlahan, ia tersenyum dan menatap Pongki dengan tatapan yang manja.
"Baiklah," Bisik nya seraya tersenyum puas.
__ADS_1
Berta semakin penasaran, ia menarik lengan Bella dan mencoba meraih ponsel anak gadisnya itu.
"Ada apaan sih?"
"Apa sih mami," Bella buru-buru menyimpan ponselnya.
"Oh iya, Bella ada janji sama teman Bella. Bella duluan ya," Bella beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan meja tersebut.
"Eh, ajak Paijo," Perintah Pongki.
Paijo yang diam-diam juga merasa canggung karena memikirkan kejadian tadi malam pun, langsung tersedak.
"Uhuk! Uhuk!"
"Jo.. kamu kenapa?" Tanya Berta, sambil menepuk punggung Topan.
Topan hanya menggelengkan kepalanya dan meraih gelas nya dari atas meja.
"Minum, Jo... Makanya pelan-pelan kalau makan." Ucap Berta.
Topan langsung meminum minuman nya, sesaat setelah ia berhenti batuk.
Sedangkan Bella, terlihat diam mematung setelah mendengar Pongki menyuruh dirinya membawa serta Topan dengan nya.
Topan mendahem dan menaruh gelasnya kembali ke atas meja. Lalu, ia menatap Bella yang terlihat salah tingkah saat bertemu pandang dengan nya.
"Kamu sudah makan nya?" Tanya Pongki.
Topan mengangguk dan sesekali mendahem, untuk melegakan tenggorokan nya yang terasa perih, karena tersedak.
"Ya sudah, temani Bella. Kasih tahu saya kalau dia macam-macam."
"Kenapa harus dia ikut sih?" Bella mengerutkan dagunya dan menatap Pongki dengan tatapan yang terlihat kesal.
"Ya, dia harus ikut kamu. Masa dia harus sama daddy dan mami mu?"
Bella terdiam, ia kembali melirik Topan yang sedang memasang wajah yang terlihat polos.
"Ya sudah ayo!" Ucap Bella.
Saat itu juga, Topan beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada Pongki dan Berta. Lalu, lelaki itu berjalan mengikuti Bella dari belakang.
Terlihat Bella menghentak-hentakan kakinya di atas lantai, sebagai bentuk protes darinya. Tetapi apa daya, Bella sudah terlanjur menerima sogokan dari Pongki. Mau tidak mau, ia harus pergi berdua saja dengan Topan. Karena, janjian dengan teman nya, hanya sebuah alasan saja, agar ia bisa pergi sesuai perintah Pongki.
__ADS_1
"Taksi!" Seru Bella, saat ia berada di depan hotel tersebut.
Sebuah taksi yang sedang terparkir di depan hotel tersebut pun bergerak menghampiri dirinya. Saat taksi itu berhenti tepat di depan nya, Bella pun membuka pintu taksi itu dan beranjak masuk. Saat Topan hendak menyusul nya, Bella langsung menutup pintu taksi tersebut.
"Enak saja, mau duduk berdua sama gue. Gak akan pernah!" Gumam nya.
Mau tidak mau, Topan duduk di depan. Tepat disamping supir taksi itu.
"Elu kemana kek, jangan ikutin gue! Jijik banget sih!" Ucap Bella, saat Topan baru saja duduk di dalam taksi itu.
Topan menoleh kebelakang dan menatap Bella dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh Bella. Tatapan Topan begitu tenang, dalam dan kharismatik. Tepatnya, jantung Bella berdetak tak normal saat melihat tatapan Topan yang begitu mempesona.
"Saya kan tidak tahu Bali, non. Lagi pula, saya diperintahkan oleh pak boss kan?" Ucap nya dengan gaya yang super cool.
Bella terperangah, kepalanya terasa dihinggapi banyak kupu-kupu berwarna warni.
"Jadi, mau kemana?" Pertanyaan Topan membuat Bella tersadar dalam imajinasi nya.
"Hmmm, shopping," Jawab Bella dengan canggung.
"Iya, shopping nya dimana non?" Tanya Topan lagi.
"Di.... hmmm... di... dimana ya?" Bella tidak dapat berpikir saat ini. Pikiran nya buyar begitu saja saat menatap Topan yang sangat berbeda dari Topan yang dulu ia kenal.
"Non mau cari apa?" Tanya supir taksi yang dari tadi menunggu perintah dari penumpang nya itu.
"Hmmmm, apa ya.. Argh! Pokoknya antar kan saya ke pantai yang ada tempat shopping nya." Perintah Bella.
"Tanah Lot?" Tanya supir taksi itu lagi.
"Terserah lah," Bella terlihat tidak peduli. Ia benar-benar merasa tidak tahu harus bagaimana akan bersikap dengan Topan, setelah kejadian memalukan semalam.
"Ya sudah, Tanah Lot saja pak," Ucap Topan.
Entah mengapa, tidak hanya penampilan dan wajah saja yang kini menyita perhatian Bella. Bahkan, suara Topan pun, kini mampu membuat hatinya bergetar. Saat itu juga, Bella menepuk dahinya berkali-kali dan terus menggumam tidak jelas.
"Kenapa dia lain banget sih sekarang. Lebih cocok jadi gandengan dari pada jadi supir gue. Sumpah!" Batin Bella, sambil melirik Topan yang sedang menikmati pemandangan di luar jendela mobil itu.
"Dasar cewek, kemaren mengajak nikah, maksa-maksa. Sekarang jutek nya minta ampun. Pake ngomong jijik, lagi....." Batin Topan.
"Arghhh.. Bella...!" Ingatan tentang mimpi itu kembali terlintas di benak Topan. Ia mengigit bibirnya dan menoleh kebelakang. Kembali, mereka bertemu pandang. Saat itu juga, Bella mengalihkan pandangannya dan bersikap acuh kepada Topan. Sedangkan Topan menatap Bella dan wajahnya yang mendadak memerah.
"Kalau jadi istri ku, tidak akan aku biarkan kamu menghina durasi ku!" Batin Topan. Diam-diam ia masih merasa tersakiti dengan ucapan Bella di dalam mimpi.
__ADS_1
Topan menghela nafas panjang dan kembali menatap ke jalanan, yang lalulintas nya selalu padat.