Masteng

Masteng
61. Indahnya jatuh cinta


__ADS_3

"Anak-anak kemana ya sayang?" Tanya Berta, saat wanita paruhbaya itu baru saja mengetuk pintu kamar Bella dan Topan.


Pongki mengerutkan keningnya dan mengangkat kedua bahunya.


"Kayaknya dari kemarin mereka tidak pulang, takutnya terjadi apa-apa." Bella mulai terlihat gelisah dan mencoba menghubungi Bella. Tetapi, nomor anak semata wayangnya itu tidak dapat dihubungi. Lalu, Berta berusaha untuk menghubungi Topan, dan hasilnya sama saja. Tidak satupun dari mereka yang dapat dihubungi.


"Duh, apa terjadi sesuatu ya?" Gumam Berta.


"Nanti aku hubungi seseorang untuk mencari mereka," Ucap Pongki.


"Iya, aku khawatir sekali. Bella juga sih, sudah dikatakan jangan naik sepeda motor, berbahaya kan... Sekarang malah tidak bisa dihubungi." Wajah Berta terlihat sangat panik.


"Sudah tenang, biar aku urus," Pongki memeluk Berta dan bergegas menghubungi seseorang untuk meminta bantuannya mencari Bella dan Topan.


"Takut nya Bella dan Topan..."


"Hust....! Aku tahu betul, anak itu tidak akan melakukan apapun kepada anak kita," Ucap Pongki yang masih menunggu panggilan telepon nya di angkat oleh orang yang ia hubungi.


"Halo?" Terdengar panggilan dari ujung sana.


"Halo, saya butuh bantuannya. Anak saya dan supir saya kemarin ke Kintamani. Mereka belum kembali sampai saat ini, dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Bisa minta bantuannya?" Ucap Pongki kepada orang tersebut.


"Bisa pak, cukup kirimkan foto nya saja. Biar kami cari,"


"Siap, saya kirim sekarang," Ucap Pongki. Lalu, ia mengakhiri sambungan telepon itu dan mengirimkan foto Bella kepada orang itu.


"Eh, sayang.... Tapi aku tidak punya foto Paijo,"


"Aku ada," Ucap Berta. Dengan tergesa-gesa, ia meraih ponselnya dan mengirimkan foto Topan ke nomor Pongki. Setelah mendapatkan foto Topan, Pongki pun segera mengirimkan foto tersebut kepada orang yang ia perintahkan untuk mencari Bella dan Topan.


Tringggggg..!


Tak lama kemudian, terdengar bunyi pesan masuk ke ponsel Pongki.


"Siap, laksanakan."


....


Bella nyaris saja tertidur sambil memeluk Topan. Suara ketukan di pintu kamarnya membuat dirinya kembali tersadar. Matanya langsung tertuju kepada Topan yang terbungkus selimut dan tertidur dengan lelap. Lalu, ia menoleh kearah pintu.


Tok! Tok! Tok!


"Ya sebentar," Sahut Bella.


Topan terbangun mendengar suara Bella dan menatap gadis itu dengan seksama.


"Tunggu sebentar," Ucap Bella. Lalu, gadis itu beranjak dari atas ranjang dan membuka pintu kamar nya.


"Ini pesanan nya bu," Ucap petugas penginapan sederhana itu.


"Terimakasih ya pak,"


"Ini kelebihan uang nya," Ucap lelaki paruh baya itu, sambil menyerahkan sisa uang yang diberikan Bella kepadanya, untuk membeli semua pesanan nya.


"Hmmm, tidak usah dikembalikan. Simpan saja," Ucap Bella sambil tersenyum.


Lelaki paruh baya itu pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada Bella. Lalu, ia meninggalkan kamar Bella.


Bella menutup pintu kamarnya dan bergegas membongkar bungkusan pesanannya.


"Nasi bungkus, ada. Obat, ada. Pakaian dalam...." Bella membulatkan matanya saat menatap pakaian dalam pria yang ia pegang. Lalu, ia menggelengkan kepalanya dan meletakkan pakaian dalam itu di atas meja televisi.


"Pakaian dalam ku...." Bella memperhatikan pakaian dalam yang dibeli untuk nya. Terlihat murah, tetapi cukup lumayan. Ia tersenyum sendiri dan menggelengkan kepalanya.


"Kalau tidak terpaksa, aku malas sekali memakainya." Gumam nya.


Lalu, Bella membuka bungkusan keempat. Ia mengeluarkan satu setel pakaian pria, yang terdiri dari celana pendek berwarna hitam dan atasan kaos bertuliskan 'Bali' berwarna putih.


Setelah itu, ia membuka bungkusan kelima, saat itu juga ia tertegun.

__ADS_1


"What...?" Bella memperhatikan daster berbahan katun yang sedang ia pegang.


"Daster?" Gumam nya dengan ekspresi wajah yang tak percaya.


"Kenapa harus daster coba?" Bella terlihat uring-uringan.


"Kenapa non?" Tanya Topan yang sejak tadi memperhatikan Bella.


Bella menoleh dan menatap Topan dengan seksama.


"Ah, enggak," Ucap nya dengan wajah yang terlihat panik.


"Kamu pakai baju ini ya.." Bella memberikan pakaian untuk Topan, beserta dengan pakaian dalamnya.


Setelah itu ia pun beranjak ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya.


Selang beberapa menit kemudian, dengan malu-malu, Bella keluar dari kamar mandi. Wajahnya di tekuk dan tidak berani menatap Topan sama sekali.


"Masya Allah..." Ucap Topan.


Bella menatap Topan dengan wajah yang bingung.


"Kenapa?"


"Saya merasa jadi suami hari ini non. Lihat non Bella dasteran."


Bella mengulum senyumnya dan kembali menundukkan wajahnya.


"Cantik sekali non," Topan terus memuji dan tidak sama sekali melepaskan pandangannya dari Bella.


"Apaan sih, ayo makan. Nanti langsung minum obat. Masih panas kan badan nya?" Bella menghampiri Topan dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Topan.


"Tuh kan, panas.." Ucap Bella dengan wajah yang tampak khawatir.


Saat Bella hendak menurunkan tangan nya dari dahi Topan. Dengan cepat, Topan memegang tangan Bella dan menatap gadis itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Bella.


"Kenapa?" Tanya Bella.


Bella terdiam, pipinya mulai merona merah.


"Sudah, makan dulu.."


"Suapin," Rengek Topan.


"Hah?" Bella mengerutkan keningnya.


"Ya, saya gimana mau makan non? Wong saya di bungkus gini."


Bella tersenyum dan mencoba membantu Topan untuk melepaskan selimut itu dan duduk. Topan terus menatap Bella, yang membuat Bella menjadi salah tingkah.


"Apa sih..." Bella membalas tatapan Topan yang terlihat bahagia.


"Gak, gak apa... non Bella cantik sekali pagi ini,"


"Alah, gombal mu Joooo, Joooo.." Bella tersenyum dan beranjak dari hadapan Topan, layaknya seekor merpati yang lari saat akan di pegang oleh orang yang hendak menangkap nya.


"Nih, makan ya.." Bella membukakan bungkusan nasi tersebut dan meletakkan nya di pangkuan Topan.


"Gak disuapin nih?"


"Gak lah... Manja banget!" Bella pura-pura terlihat kesal, padahal hatinya sedang berbunga-bunga, jantungnya pun terus berdetak tak normal.


Topan tersenyum, dan mulai menyantap makanan nya. Sedangkan Bella, beranjak duduk di depan Topan dan juga mulai menyantap makanan nya.


"Masih hujan ya?" Tanya Topan.


Bella mengangguk dan menatap kedua mata Topan yang terlihat kuyu.


"Duh, gimana mau pulang?" Gumam Topan.

__ADS_1


"Tidak apa, besok juga tidak apa. Yang penting, kamu sembuh dulu," Bella mencoba menenangkan Topan.


"Non,"


"Ya?"


"Boleh bertanya?"


Bella kembali menatap Topan dengan seksama.


"Boleh.... Mau bertanya apa?"


"Jangan marah ya..."


Bella mencoba mengangguk, walaupun ia merasa ragu.


"Kenapa pagi ini sikap non berubah sama saya? Dan... kenapa tidak terdengar lagi kata 'elu' dan 'gue'?" Tanya Topan.


Bella semakin salah tingkah dengan pertanyaan Topan. Lalu, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Maaf non, tidak di jawab juga tidak apa-apa. Maaf, bila pertanyaan saya cukup mengganggu."


"Ah... tidak... Hmmm... aku... hmmm..." Bella meremas dasternya.


"Kenapa non?"


"Ti-tidak... Aku hanya ingin bersikap baik denganmu yang sangat baik sikapnya kepadaku," Ucap Bella.


Topan tersenyum semringah.


"Terus?" Tanya Topan lagi.


"Hah?" Bella kembali menatap Topan dengan seksama.


"Apa non mencintai saya?"


Bella terdiam, bibirnya gemetar. Tatapan nya mulai ia coba alihkan daei wajah Topan.


"Hmmm, lanjutkan makan nya ya... nanti dingin." Bella mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Bella.." Panggil Topan.


Merasa dirinya dipanggil tanpa sebutan 'non', Bella pun menatap Topan dengan kerut di keningnya.


"Apa kamu mencintai saya juga?" Tanya Topan lagi.


Pipi Bella merona merah, ia mengigit bibirnya dan kembali menundukkan wajahnya.


"Bella, saya hanya ingin bilang. Saya sagat mencintai kamu. Bukan karena kamu anak nya pak Pongki. Anak orang kaya, pendidikan mu, bukan juga karena kamu cantik. Tetapi, hati saya yang mengatakan bila saya mencintai kamu."


Bella kembali menatap Topan. Lalu, ia tersenyum manis.


"Aku harus apa?" Tanya Bella.


"Ya terserah, saya hanya ingin mengungkapkan isi hati saya," Ucap Topan sambil kembali tersenyum semringah.


"Kenapa kamu sangat menarik? Sehingga semalaman aku tidak bisa tidur, karena memikirkan kamu,"


Topan terpana saat mendengar ucapan Bella.


"Maksudnya? Kamu belum tidur?"


"Ya tidur, tadi aku baru saja tertidur. Sebelum kamu membangunkan aku."


"Maaf," Topan tampak menyesal karena telah membangunkan Bella.


"Tidak apa-apa, karena kamu memang membutuhkan bantuan ku." Ucap Bella sambil kembali tersenyum.


"Jadi?" Topan menatap Bella dengan penuh arti, dan senyum semringah nya.

__ADS_1


"Ya, kamu menarik. Mulai saat ini, kamu mengisi pikiran ku," Ucap Bella.


Perlahan, mereka berdua tersenyum. Lalu, kembali melanjutkan sarapan pagi mereka dengan wajah yang semringah. Sikap yang salah tingkah, dan perasaan cinta dan mengagumi yang menggebu-gebu.


__ADS_2