
Cklekkk!
Terlihat seorang petugas memasuki ruangan dimana Pongki dan keluarganya sedang asik berbincang dan melepaskan kerinduan mereka.
"Waktunya sudah habis. Sekarang saatnya bapak kembali ke ruang BAP. Masih ada yang perlu di lengkapi dari kasus bapak," Ucap petugas tersebut.
Air muka Berta pun mulai berubah. Wajah kecewa tidak bisa ia sembunyikan. Walaupun hampir dua jam dirinya diberikan waktu oleh Topan untuk bertemu dengan kekasih hatinya, namun semua terasa belum cukup baginya.
"Baik," Sahut Pongki dengan ekspresi wajah yang pasrah.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" Tanya Berta dengan wajah yang khawatir.
"Tidak apa-apa. Ini lah saat ku menebus segala kesalahan aku pada negara ini. Aku hanya minta kepadamu, doakan aku, agar semuanya berjalan dengan baik."
Air mata mulai mengambang di pelupuk mata Berta.
"Tetapi..."
"Sudah Berta, kita diberikan waktu sebanyak ini untuk melepaskan rindu, itu tandanya mereka sudah memiliki sisi kemanusiaan yang sangat baik. Harusnya, kita tidak membuat masalah. Agar mereka terus memberikan kesempatan ini kepada kita," Ucap Pongki.
Berta terdiam. Sedangkan Bella mulai mencoba menenangkan Berta, dengan cara mengusap punggung Berta dengan lembut.
"Mam, sudah ya. Besok-besok kan bisa lagi," Ucap Bella.
Dengan raut wajah yang sedih, Berta mengangguk pasrah.
"Aku kembali dulu, kalian jaga diri baik-baik. Maafkan aku yang telah menyusahkan kalian," Ucap Pongki, dengan wajah yang terlihat sangat sedih dan tak rela dengan perpisahan itu.
"Kamu juga," Ucap Berta.
Pongki mengecup kening Berta dan memeluk Berta dengan erat. Setelah itu, ia pun memeluk Bella dengan erat dan mencium pipi anak semata wayangnya itu.
"Bella, daddy minta maaf kalau nanti kamu wisuda, daddy tidak bisa datang,"
Bella yang akan menerima gelas S2 profesi nya pun, mengangguk dan menahan tangisan nya.
"Iya dad, tidak apa-apa," Sahutnya dengan ujung suara yang tercekat.
"Dan kalian, aku harap.. mau memaafkan Paijo atau Topan. Dia tidak bersalah. Yang salah adalah saya. Kalau saya tidak seperti ini, dia tidak akan menangkap saya. Sekali lagi, saya berpesan kepada kalian. Bahwa, izinkan dia mendekati kalian. Saya lah yang memintanya untuk menjaga kalian berdua. Tidak ada satupun yang bisa saya percaya, kecuali dia. Jadi, apapun itu. Terima lah dia, dia tidak ada maksud apa-apa kecuali melakukan tugasnya. Dia orang baik, dan saya cukup mengenalnya walaupun baru sebentar saja saya dekat dengan nya. Kalian harus bisa membedakan antara tugas dan pribadi orang lain. Tidak ada hubungannya ketulusan antar manusia dan pekerjaan yang ia miliki. Ingat itu..."
Berta dan Bella terdiam mendengar ucapan Pongki.
"Berjanjilah, jangan pernah membenci dia. Saya pun tidak membencinya. Semua ada hukum tabur dan tuai. Saya, menabur benih kehancuran, maka saya akan menerima kehancuran. Mulai sekarang, ikhlaskan saya menjalani ini semua, dan terimalah Paijo atau Topan sebagai pengganti saya, selama saya tidak ada." Sambung Pongki lagi.
__ADS_1
Bella dan Berta pun mengangguk paham.
Pongki tersenyum dan ia pun mulai pasrah di bawa oleh petugas ke ruang BAP.
"Dad..!" Panggil Bella. Lalu, Bella berlari mengejar Pongki yang menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Bella.
"Ya?"
Bella berhenti di hadapan Pongki dan menatap Pongki dengan seksama.
"Dad, bila aku mencintai Topan, apakah Daddy merestuinya?" Tanya Bella.
Pongki terdiam beberapa saat, lalu perlahan senyum pun muncul di sudut bibirnya.
"Jadi benar, kamu mencintai dia? Apa kalian memiliki hubungan?" Tanya Pongki.
Bella tersenyum canggung dan menundukkan wajahnya.
"Sayang, dari pada Frans, daddy lebih mengikhlaskan kamu dengan Topan."
Bella menatap Pongki dengan seksama.
"Percayalah, dia seorang lelaki yabg bertanggung jawab. Tidak banyak lelaki yang mampu konsisten antara tugas dan hatinya. Bila kamu mencintai dia, dan dia pun merasakan hal yang sama. Daddy akan merestui kalian berdua. Berjuanglah, daddy tidak akan melarang-larang kalian. Karena daddy tahu, cinta itu tidak salah. Jadi, untuk apa dilarang? Kalian sudah sama-sama dewasa untuk berpikir, mana yang lebih baik atau yang patut untuk tidak diperjuangkan. Jalani lah nak, daddy merestui kalian,"
"I love you dad... I love you more than you know. Thank you for everything. You are the best daddy ever..!"
Pongki membalas pelukan Bella dan kembali mengecup pipi Bella.
"Bella, andaikan kamu tahu, kamu dan mami mu adalah harta terindah yang pernah daddy miliki. Tentu saja, daddy akan menitipkan harta itu ke tangan orang yang tepat. Daddy sudah tua dan banyak memakan asam dan garam. Daddy bisa menilai, lelaki mana yang pantas untuk mu,"
Bella melepaskan pelukannya dari Pongki dan mengusap air matanya.
"Terima kasih dad.."
"Tidak perlu berterima kasih. Daddy yang minta maaf, daddy telah salah melangkah, hingga menyengsarakan kalian berdua."
"Tidak dad, aku tahu mengapa daddy melakukan ini. Sekarang, jangan disesali. Masing-masing dari kita cukup menjalani. Kami tidak membenci daddy. Justru kami semakin mengerti, betapa dalam cinta daddy sama kami."
Pongki meneteskan air matanya, saat mendengar ucapan Bella. Lalu, ia kembali memeluk putrinya itu dengan erat.
"Baik-baik putriku." Bisik nya. Lalu, Pongki kembali melangkah meninggalkan Bella dan Berta.
Berta menangis, sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Pukulan yang sangat berat baginya. Andaikan dulu kedua orangtuanya tidak menuntut apa pun kepada Pongki. Mungkin lelaki yang ia cintai itu tidak akan melakukan semuanya. Walaupun ia tahu, semua yang terjadi juga adalah kesalahan Pongki. Pongki tetap melanjutkan bisnis haram nya walaupun kekayaan sudah mereka capai. Andaikan Berta mengetahui lebih cepat, tentang bisnis haram Pongki. Maka, saat itu juga ia akan meminta suaminya untuk berhenti melakukan hal itu. Tetapi, semua tidak dapat disesali. Karena apa yang terjadi, sudah menjadi pilihan Pongki sendiri. Hanya saja, sebagai manusia patut merasa kecewa.
__ADS_1
Berta dan Bella pun melangkah keluar dari ruangan itu. Di lorong terlihat Topan sudah menunggu mereka berdua, dengan wajah yang merasa bersalah. Bella dan Berta menghampiri Topan dan menghentikan langkah mereka di depan lelaki itu.
"Kamu.."
Topan tertunduk saat Berta berdiri dihadapan nya dan berbicara kepada dirinya.
"Saya memaafkan kamu. Saya menyayangi kamu, dan saya menerima kamu dalam hidup saya," Ucap Berta.
Topan langsung menatap Berta dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.
"Bu.."
"Jangan panggil saya ibu. Panggil saya mami. Kamu juga anak ku. Saya pahan, mengapa suami saya menitipkan kami kepadamu. Kamu adalah lelaki yang baik," Ucap Berta lagi.
Topan hampir saja meneteskan air matanya. Saat itu juga, Berta memeluk Topan dengan erat.
"Nak, apa pun yang terjadi antara aku dan Pongki. Aku pun akan mengatakan ini. Aku menitipkan Bella. Dia tidak memiliki siapa-siapa selain kami berdua. Kini, saya sudah merasa pincang, karena satu kaki saya berada di tahanan. Bila suatu saat saya pun tiada di samping Bella. Tolong, tolong lah cintai dia sepenuh hatimu."
Berta melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Topan dalam-dalam.
"Aku percaya kamu," Ucap Berta seraya tersenyum dengan tulus.
"Saya berjanji bu.. eh, mami," Topan tersenyum dan menundukkan pandangan nya.
"Terima kasih." Ucap Berta.
Bella yang mendengar dan melihat apa yang maminya lakukan dan ucapkan pun tersenyum di sela tangisan nya. Lalu, ia melangkah mendekati dua orang yang sangat ia cintai itu.
"Ayo kita pulang mi."
"Ayo," Sahut Berta sambil tersenyum.
"Saya antar kan ya," Pinta Topan.
"Tidak usah, saat ini kamu bekerja. Selesaikan pekerjaan kamu dahulu," Ucap Berta.
Topan tersenyum dan mengangguk paham.
"Sampai jumpa,"
"Sampai jumpa Bella," Sahut Topan.
Lalu, Bella dan Berta melangkah meninggalkan kantor tersebut. Sedangkan Topan, hanya bisa melihat mereka meninggalkan kantor itu. Bagaimanapun, dirinya harus tetap profesional saat di kantor dan saat dirinya bekerja. Di kantor, tidak ada yang namanya keluarga ataupun kenalan. Semua sama, tidak ada melibatkan hati dan perasaan secara pribadi.
__ADS_1