
"Selamat pagi,"
Semua mata tertuju kepada seorang gadis cantik dengan senyuman manis, yang sedang berdiri di ambang pintu kantor Topan. Di tangan gadis cantik itu, terdapat susunan rantang yang terbuat dari stenlis.
Di ruangan itu, ada Topan, Suprapto, Antok dan beberapa rekan Topan yang lain nya. Mereka langsung berbisik-bisik, membicarakan gadis tersebut. Sedangkan Topan terlihat terkejut dengan kedatangan gadis tersebut. Antok yang mengagumi paras gadis itu pun beranjak dari duduknya dan menghampiri gadis itu.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Antok, sembari merapikan rambutnya di depan gadis itu.
"Hmmm, saya mau bertemu dengan mas Topan," Sahut gadis itu. Saat itu juga Antok mulai kehilangan semangat nya. Dengan wajah malas, ia melirik Topan yang terlihat acuh dengan kehadiran gadis itu.
"Oh... Topan... itu dia." Antok menunjuk Topan tang duduk memunggunginya.
"Pan!" Panggil Antok.
Seperti tuli, Topan bergeming dan terlihat sibuk dengan beberapa foto target yang ada di tangan nya.
"Pan woi!" Panggil Antok lagi.
Topan menoleh dan menatap Antok dengan malas.
"Siapa namanya mbak?" Tanya Antok dengan nada suara yang lembut.
"Lestari," Sahut Lestari sambil tersenyum manis kepada Antok.
"Alamak... namanya indah sekali. Sebentar ya mbak, saya panggil Topan. Dia memang rada tuli," Ucap Antok sambil tersenyum dan melangkah menghampiri Topan.
"Woi!" Antok menepuk bahu Topan.
"Apa?"
"Itu, gadis cantik mencari mu,"
"Mas Topan..." Panggil Lestari dengan suara yang terdengar sangat merdu.
"Mas? Dia memanggilku mas?" Gumam Topan.
"Aduhhh... suaranya buat bergetar hati ini mbak.." Celetuk Antok.
Tanpa persetujuan, Lestari melangkah mendekati Topan. Mau tidak mau, Topan menatap Lestari yang terlihat sangat anggun hari ini.
"Ini ada makanan untuk mas Topan.. Saya sendiri yang memasak nya loh," Ucap Lestari dengan ekspresi wajah yang manja.
Topan menghela nafas panjang dan menatap susunan rantang yang disodorkan oleh Lestari.
"Alhamdulillah, makan enak kita bro.." Celetuk Antok.
"Kau mau? Ambil saja," Ucap Topan.
Antok dan semua yang berada di ruangan itu pun terdiam. Termasuk Lestari yang merasa di abaikan kebaikan nya.
"Tapi, ini buat mas Topan.."
"Aku sudah sarapan," Ucap Topan sambil membereskan foto-foto yang berserakan di atas meja nya.
"Buat siang nanti ya mas,"
"Aku mau keluar," Topan beranjak dari duduknya dan bergegas ke lemari arsip yang berada di sudut ruangan itu.
Lestari menghela nafas panjang dan meletakkan rantang tersebut di atas meja Topan.
"Ya sudah mas, saya berangkat ke rumah sakit dahulu," Ucap Lestari.
"Mbak terima kasih,"
Lestari menghentikan langkahnya dan menatap Antok dan tersenyum kepada Antok.
Setelah Lestari pergi, Antok pun menghampiri Topan yang hendak kembali ke mejanya.
"Pan, siapa tadi?" Tanya Antok.
"Bukan siapa-siapa," Sahut Topan.
"Cantik Pan. Pacar mu? Eh, bukan nya pacar mu itu Bella?"
Topan menatap Antok dengan seksama. Lalu, ia kembali ke mejanya.
"Pan, kalau benar bukan siapa-siapa mu, boleh aku mendekati dia?"
__ADS_1
"Boleh," Sahut Topan.
"Siapa tadi namanya?"
"Lestari," Sahut Topan lagi.
"Alamak... manis sekali, sama seperti wajah nya.."
"Dekati saja dia, mana tahu kalian cocok,"
"Benar kau ya Pan... Nanti aku dekati dia, kamu malah cemburu."
Topan kembali menatap Antok.
"Cemburu? Hahahaha?" Topan tertawa geli. Yang membuat Antok terdiam dan mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau ketawa?"
"Ngapain aku cemburu, sedangkan aku tidak ada perasaan sama dia?" Tanya Topan.
Antok tersenyum malu-malu, lalu ia pun berbisik kepada Topan,
"Tahu tidak kau nomor telepon nya?"
Topan menggelengkan kepalanya.
"Bah! Gimana aku mau mendekati dia?"
"Kau tanya saja kepada pak Agus."
"Agus mana?"
"Bapak Agus, bawahan nya bapak ku. Kalau kau memang serius kepadanya."
"Owalah.. anak pak Agus? Mengapa kau abaikan? Padahal dia cocok sama mu Pan,"
"Tidak cocok dalam hal lain nya," Ucap Topan sambil tersenyum.
"Dia kerja dimana?" Tanya Antok penasaran.
"Mau kemana kau Topan!"
"Beli rokok,"
"Nitip satu bungkus ya... nanti uang nya aku ganti."
"Alah... mana ada kau ganti uang kalau nitip apa-apa." Celetuk Suprapto.
"Kayak gitu sekali penilaian abang sama aku," Keluh Antok.
"Memang iya kok, kerja mu numpang hidup sama rekan mu. Kemana memangnya uang ku selama ini?" Tanya Suprapto.
"Ada loh bang, memang kapan aku sering pakai uang teman-teman?" Tanya Antok dengan wajah polosnya.
"Ini!" Suprapto memberikan secarik kertas kepada Antok.
Bon hutang Antok.
Nitip rokok sama Topan, 10 kali.
Nitip nasi bungkus sama Jajang, 6 kali.
Nitip minuman sama Suprapto, 10 kali.
Nitip rokok sama Ujang, 5 kali.
Nitip ayam krispi sama Remon, 2 kali.
Nitip obat mencret sama Jovan, 3 kali.
Nitip obat sakit kepala sama Andre, 5 kali.
Nitip Rokok sama Lemos, 7 kali..
dst.
Setelah membaca daftar hutang nya, Antok terlihat malu-malu menatap rekan nya satu persatu. Sedangkan seluruh rekan nya yang berada disana terlihat menatap Antok dengan tatapan yang kesal.
__ADS_1
"Woi... aku ganti nanti ya.."
"Gak usah nanti-nanti, mana dompet mu? Sini," Suprapto menadahkan tangan nya.
Antok menelan salivanya, lalu ia menatap satu persatu rekan nya yang pernah ia minta untuk membelikan semua yang tertera di bon hutang nya pun beranjak dari duduknya dan bergegas menghampiri dirinya.
"Mana?" Desak Suprapto.
Dengan berat hati, Antok mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan dompet itu kepada Suprapto.
Suprapto langsung membuka dompet yang baru saja ia terima dari Antok.
"Isinya mana hah?"
"Gak ada bang, kan abang minta dompet nya aja," Ucap Antok sambil tertawa geli dan berlari meninggalkan ruangan itu.
"Sini kau Antok!" Suprapto dan rekan lain nya pun mengejar Antok yang berusaha menyelamatkan dirinya.
.
.
.
.
"Kamu dimana?"
Topan tersenyum mendengar pertanyaan Bella dari seberang sana. Ia baru saja keluar dari sebuah minimarket saat Bella menghubungi dirinya.
"Di minimarket, membeli rokok. Kenapa sayang ku, cinta ku, bidadari ku, Ratu ku,"
"Aihhhh... aku melayang," Terdengar tawa Bella yabg begitu renyah.
"Hahahahaha, tumben menelepon duluan. Baru saja aku akan menelepon kamu," Ucap Topan.
"Stttt.. aku rindu."
Topan mengulum senyumnya saat mendengar kata rindu dari Bella.
"Sama dong,"
"Punya waktu tidak malam ini?" Tanya Bella.
"Insya Allah punya. Mau keluar kemana?"
"Hmmmm,"
"Sebentar," Potong Topan.
"Kenapa?"
"Bukan kah wanita tidak suka di tanya mau makan apa atau mau kemana. Biar aku saja yang memilih tempatnya. Pokoknya aku pastikan Bidadari ku ini sangat menyukai tempat tersebut."
"Hmmm ok..." Di seberang sana Bella tersenyum tersipu malu.
"Ok, pukul enam sore, aku akan datang kerumah mu. Dan besok, saat kamu pindah ke rumah Opa mu, aku akan mengantar kamu dan mami. Bagaimana?"
"Siap pakpol!" Seru Bella.
"Ok, baik-baik ya sayang,"
"Iya sayang,"
"Muachhh!"
"Ih.. tumben..!" Seru Bella.
"Ya sudah, di biasakan. Muachhh, biar lain kali tidak di tumben-tumben kan," Seloroh Topan.
"Hahaha... can't wait to see you.."
"Me too,"
Topan tersenyum sendiri, saat percakapan nya dengan Bella berakhir.
"Cinta pertama, dan pertama kalinya aku terniat untuk menikah." Gumam nya. Lalu, ia menyalakan sepeda motornya dan kembali ke kantornya.
__ADS_1