Masteng

Masteng
86. Ikhlas


__ADS_3

"Bella!" Topan berlari kearah Bella, saat ia baru saja turun dari mobilnya.


"Topan!" Bella memeluk Topan dan menangis di pelukan Topan.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Topan dengan raut wajah yang sangat khawatir dengan kekasihnya itu.


Bella hanya mengangguk dengan perlahan.


Setelah memastikan Bella tidak apa-apa, Topan pun beranjak masuk kedalam rumah milik keluarga Bella tersebut. Di dalam, ia bertemu dengan lima orang petugas yang sedang berbincang dengan wajah yang serius kepada Berta.


"Saya mohon, jangan hari ini. Anak saya akan wisuda. Saya mohon," Terlihat Berta menetes air mata kepiluan hati yang sedang ia rasakan.


"Selamat pagi!"


Semua orang yang sedang di ruangan itu menoleh dan menatap Topan dengan seksama. Kecuali Berta, wanita itu langsung bergegas menghampiri Topan dan memeluk Topan dengan erat.


"Mami tidak apa-apa?" Tanya Topan dengan raut wajah yang tampak sangat khawatir.


"Tidak apa-apa nak, hanya saja, mami khawatir bila Bella terlambat menghadiri wisudanya."


Topan melirik arlojinya. Jarum arlojinya sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Sedangkan acara akan dimulai setengah jam lagi.


"Maaf bapak-bapak, ini bukan waktu yang tepat. Ibu Berta dan Bella akan menghadiri acara wisuda Bella. Jadi, datanglah dilain hari." Pinta Topan.


"Maaf, anda siapa?" Tanya salah satu petugas dari badan penyitaan aset.


"Saya Topan Alexander." Topan mengeluarkan tanda pengenal nya dan memberikan nya kepada petugas tersebut.


Petugas itu pun meraih tanda pengenal Topan dan menatap tanda pengenal itu dengan seksama. Setelah itu, ia mengembalikan kartu tanda pengenal Topan, dan tersenyum tipis.


"Maaf pak Topan, tetapi kami hanya melaksanakan tugas kami." Tegas petugas itu.


"Saya mohon, punya kemanusiaan lah sedikit," Ucap Topan dengan raut wajah yang mulai terpancing emosi.


"Ini tidak ada hubungannya dengan kemanusiaan. Kami hanya melaksanakan tugas saja. Kita sama-sama orang yang profesional bukan?" Tanya Petugas tersebut.


Topan terdiam mendengar ucapan petugas itu. Lalu, ia melirik Berta yang sedang menangis tersedu-sedu di samping Bella. Topan kembali melirik arlojinya. Kini, jarum arloji itu menunjukan pukul 09.40 menit. Yang artinya, acara wisuda akan dimulai dalam waktu 20 menit, mulai dari sekarang.

__ADS_1


Topan menghela nafas panjang. Lalu, ia mendekati Bella dan memegang kedua pundak kekasih nya itu.


"Pergilah bersama dengan mami. Biar aku yang berjaga disini."


Bella yang sudah tampak cantik dengan make-up yang elegan, harus rela riasannya sedikit rusak karena menangis.


"Tapi..."


"Pergilah, ini hari wisuda mu. Maaf, aku tidak bisa mendampingi kamu. Dua puluh menit lagi, acara akan dimulai..Kamu akan terlambat sekitar lima belas menit. Aku harap, nama kamu belum di panggil."


Air mata Bella semakin deras membasahi pipinya. Dengan sentuhan tangan yang lembut, Topan mengusap air mata kekasihnya itu.


"Jangan menangis. Ada aku untuk mu. Walaupun aku tidak bisa menghadiri wisuda mu. Setidaknya mami bisa melihat kamu wisuda. Aku akan berjaga disini. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," Topan terus mencoba meyakinkan Bella.


Bella mengangguk dan memeluk Topan dengan erat.


"Berangkatlah, hati-hati dijalan," Bisik Topan. Lalu, ia mengecup lembut kening Bella.


Bella melepaskan pelukannya dan mencoba tegar dengan apa yang sedang ia hadapi. Hari ini, mau tidak mau, dirinya wisuda hanya disaksikan oleh Berta saja. Sedangkan Pongki sudah pasti tidak mungkin, dan Topan, lelaki itu terpaksa mengingkari janjinya.


"Aku pergi dulu," Ucap Bella. Bella langsung beranjak dari hadapan Topan dan para petugas penyitaan, dengan menggandeng tangan Berta.


"Aset termasuk mobil. Jadi, mobil tidak bisa dibawa dahulu. Kami perlu laporan...."


"F**king b*llsh*tttt!" Topan terlihat sangat marah dengan apa yang dikatakan oleh petugas tersebut.


"Maaf bapak Topan. Tetapi..."


"Dia tidak akan membawa kabur mobil itu! Dia hanya menghadiri wisuda nya dan kembali lagi kesini!" Ucap Topan dengan mata yang memerah, karena menahan emosinya.


"Kami minta maaf..."


Topan meraih kunci mobil Bella dari tangan kekasihnya itu, lalu ia menyerahkan kunci mobil itu kepada petugas yang bersangkutan. Lalu, ia memberikan kunci mobilnya kepada Bella.


"Pakai mobil ku, hati-hatilah. Ingat aku menunggu kamu disini."


Bella kembali menangis, ia benar-benar merasa hancur, tepat dihari wisudanya.

__ADS_1


"I-i-iya," Sahut Bella. Lalu, dengan tergesa-gesa, ia pun beranjak pergi ke kampusnya.


Topan menghela nafas panjang, dan menatap kesal kepada para petugas yang kembali sibuk bekerja. Dengan putus asa, Topan duduk di sofa ruang tamu itu dan mencoba menghubungi Antok.


"Halo," Terdengar suara Antok dari ujung sana.


"Dimana kamu Tok?"


"Kantor, kenapa?"


"Bisa minta tolong?"


.


.


.


.


.


..


Dengan susah payah, Bella berlari menuju aula kampus nya bersama dengan Berta. Tak sengaja, matanya tertuju ke sebuah buket bunga dan boneka beruang yang memakai toga yang tergeletak di atas tanah. Tadinya ia mencoba untuk acuh saja, karena dia sedang terburu-buru. Tetapi, ia kembali ke belakang, setelah melewati buket bunga dan boneka tersebut.


"Sebentar mam,"


Berta menghentikan langkahnya dan menatap Bella yang memungut buket bunga dan boneka itu. Dengan wajah yang terlihat sedih, ia membersihkan bunga dan boneka tersebut dari kotoran tanah.


"Hari ini, tidak ada yang memberikan aku bunga atau apa pun. Aku tidak tahu ini milik siapa. Tetapi, setidaknya bunga dan boneka ini dapat menghibur ku," Batin Bella.


Berta yang melihat Bella yang membersihkan dan membawa bunga dan boneka tersebut bersamanya pun, merasa terpukul. Ia benar-benar merasa terpuruk sekali. Bella tidak pernah memungut sesuatu dari tanah. Sejak ia kecil hingga sedewasa ini. Tetapi, mau dibilang apa? Saat ini kondisi keluarga mereka benar-benar di titik terendah. Saking sedihnya, Berta kembali menangis sambil berjalan mengiringi Bella yang tampak begitu bahagia mendapatkan bunga dan boneka itu.


Kini, Bella dan Berta berada di depan pintu aula. Mereka pun dibiarkan masuk dan mengikuti seluruh rangkaian acara. Bella langsung bergegas duduk di kursi yang memang diperuntukkan untuk dirinya. Sedangkan Berta, wanita itu duduk di kursi para orang tua. Tentu saja, ada bangku kosong disebelah nya. Karena 2 bangku itu memang diperuntukkan untuk kedua orangtua Bella. Sayangnya, hanya Berta lah yang dapat menghadiri acara wisuda Bella.


Beberapa tatapan sinis pun di lemparkan kepada Bella dan Berta. Terutama dari para teman seangkatan Bella dan juga para orangtua. Merak cukup mengerti kasus yang membelit keluarga itu. Mau tidak mau, Bella dan Berta mendapatkan sangsi sosial dari semua orang di ruangan tersebut.

__ADS_1


Rasa ingin marah, tentu saja ada di hati Bella dan Berta. Yang tadinya semua orang ramah kepada mereka, dan menghormati mereka, karena terkenal kaya dan terpandang. Kini, seakan semua pandangan mengecilkan mereka. Tetapi, apa yang bisa Bella dan Berta lakukan ? Menerima, hanya itu jawaban nya. Semua yang terjadi, sudah menjadi konsekuensinya. Ikhlas, hanya itu yang mampu menahan perihnya hati mereka, agar mereka tetap bisa tegar menghadapi ini semua.


__ADS_2