
"Pertemuan keluarga hari ini pukul sebelas siang loh le..." Ucap Erna saat Topan sedang sarapan di pagi hari ini, bersama dengan keluarganya.
"Keluarga siapa?" Tanya Topan, tanpa menatap Erna.
"Topan, mana sopan santun mu?" Amoroso terlihat marah saat melihat sikap Topan yang seperti acuh tak acuh dengan ucapan Erna.
"Saya bertanya, keluarga siapa? Keluarga besar kita atau siapa?" Tanya Topan dengan wajah yang terlihat serius.
"Mas, sudah," Erna mencoba menenangkan Amoroso yang hampir saja meluapkan perasaan kesal nya kepada Topan.
"Le, tentu saja keluarga kita dan keluarga bapak Agus,"
"Bapak Agus bukan keluarga kita. Jadi aku tidak punya kewajiban untuk hadir.' Tegas Topan.
"Kamu ini!" Amoroso hampir saja melemparkan sendok yang sedang ia pegang ke arah Topan. Beruntung, Erna langsung mencegahnya.
"Pak..."
"Anak ini kenapa bisa kurang ajar sekarang ya!"
"Saya sudah dewasa pak, bukan anak kecil lagi,"
"Kamu...!" Amoroso memegang dadanya yang mulai terasa nyeri.
"Pak...! Ya Allah!" Erna langsung memeluk Amoroso, di susul oleh Pinky dan Guntur.
"Kak!" Pinky terlihat kesal kepada Topan. Sebagai calon dokter spesialis jantung, ia paham betul kondisi kesehatan Amoroso.
Topan terdiam, ia terlihat merasa bersalah.
"Ibu tidak mau tahu ya Topan, kamu harus hadir pukul sebelas nanti di restoran yang kemarin!"
Topan bergeming, ia meletakkan sendok nya dan beranjak dari duduknya.
"Mau kemana kak?" Tanya Guntur.
__ADS_1
"Ke kantor."
"Bukannya hari ini kakak tidak bertugas?" Tanya Guntur lagi.
"Siapa bilang?" Topan menyambar tas nya dan beranjak dari ruang makan tersebut.
"Arghhhhhh...!" Keluh Amoroso.
"Pak, tarik nafas panjang dan hembuskan perlahan ya pak," Ucap Pinky yang tampak khawatir.
..
Topan melemparkan tas nya kedalam mobil miliknya. Lalu, ia beranjak masuk kedalam mobil itu dan mulai menyalakan mesin mobil tersebut. Kondisi hatinya hari ini tidak baik, karena dari semalam, Erna selalu memintanya untuk menghadiri pertemuan dua keluarga. Keluarga nya dan keluarga Lestari.
"Apa bagusnya Lestari itu? Andai mereka tahu, perempuan itu tidak memiliki sopan santun sedikitpun!" Topan memukul kemudinya dan mulai menjalankan mobil itu.
Setelah beberapa kilometer Topan melajukan mobilnya, akhirnya ia memarkirkan mobilnya di sebuah toko bunga. Ya, Topan hendak membelikan buket bunga yang indah untuk Bella. Karena, hari ini Bella akan di wisuda di aula kampusnya. Topan sudah berjanji kepada kekasihnya itu, bila dirinya pasti akan datang di hari ini. Untuk menyaksikan keberhasilan Bella dalam meraih gelar S2 nya.
Pilihan Topan jatuh kepada bunga yang indah. Yang memang diperuntukkan untuk seseorang yang akan diwisuda. Bunga yang dijual lengkap dengan boneka beruang yang memakai toga. Topan tersenyum menatap beruang itu, lalu ia meraih bunga dan boneka itu dan menyerahkan nya kepada pegawai toko bunga tersebut.
"Saya mau ini,"
Setelah bunga ia dapatkan. Topan pun bergegas meninggalkan toko tersebut dan melajukan mobilnya ke arah kampus Bella.
Dengan kecepatan sedang, Topan melajukan mobil itu, sambil membayangkan betapa cantiknya Bella saat memakai toga dan menerima gelar S2 nya. Topan melirik kamera digital yang sengaja ia bawa untuk mengabadikan setiap momen untuk kenang-kenangan dirinya dan Bella.
"Mulai sekarang, aku akan menyimpan dan mengoleksi semua momen dirimu Bella," Gumam nya. Lalu, ia mempercepat laju mobilnya dengan hati yang berbunga-bunga.
Satu jam kemudian, mobil Topan memasuki halaman parkir kampus Bella. Disana terlihat banyak orang yang baru saja datang dan berjalan menuju ke aula kampus. Terlihat para calon wisudawan dan wisudawati, beserta keluarga mereka sedangkan berbincang dengan wajah yang semringah. Semua orang terlihat sangat rapi dan memakai baju terbaik mereka. Begitupun dengan Topan, lelaki itu memakai kemeja dan jas terbaik nya. Di tambah dengan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan nya. Sepatu kulit yang mengkilap serta tataan rambut yang begitu rapi. Topan keluar dari mobilnya yang baru saja ia parkir kan, dan melangkah menuju ke aula. Matanya terus menyisir setiap orang yang sedang lalu lalang di depan nya. Berharap, ia dapat menemukan Bella disana.
Sebenarnya bisa saja Topan mengubungi Bella atau Berta. Hanya saja, ia berniat akan memberikan kejutan kepada Bella. Walaupun Bella sudah tahu, Topan akan datang ke acara wisuda nya, untuk menggantikan Pongki disana.
Dreettt...! Dreeettt...!
Tiba-tiba saja ponsel Topan berbunyi. Topan menyelipkan boneka beruang yang sedang ia pegang, di antara siku dan badan nya. Lalu, tangan kanan nya pun meraih ponsel miliknya dari dalam saku celana.
__ADS_1
Topan tersenyum keningnya, saat ia melihat nama Bella tertera di layar ponselnya, dan dengan wajah yang semringah, Topan menerima panggilan telepon tersebut.
"Halo sayang," Sapa Topan.
"Kamu dimana?" Tanya Bella dengan suara yang serak dan terdengar juga isak tangis di belakang sana.
"Kamu kenapa?" Air muka Topan langsung berubah khawatir.
"Kamu dimana?" Tanya Bella lagi.
"A-aku.. aku ada di kampus mu. Bukankah hari ini kamu wisuda?" Tanya Topan.
"Iya, tapi ini ada orang yang datang, katanya mau melakukan penaksiran dan sitaan atas aset yang dimiliki oleh daddy," Ucap Bella disela isak tangis nya.
Saat itu juga boneka dan bunga yang ada di tangan Topan, terjatuh di atas tanah di halaman kampus Bella.
"Tunggu aku disana!" Ucap Topan.
Lelaki itu pun berlari ke mobilnya dan langsung memasuki mobil tersebut. Tanpa berpikir panjang, Topan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.
"Sialan! Mengapa harus hari ini!" Sesal Topan.
Sepanjang perjalanan, Topan terlihat panik. Rasa panik itu belum pernah ia rasakan sebelumnya. Baru kali ini ia merasa begitu khawatir dengan seseorang. Bukan, bukan seseorang saja, tetapi Bella dan Berta. Janjinya sebagai seorang lelaki begitu ia pegang teguh. Ia tidak peduli dengan apa yang ia hadapi. Walaupun memang bukan wewenang nya untuk mencegah, hanya saja, Topan merasa kesal, mengapa harus hari ini badan penyitaan aset datang kerumah Pongki.
Dreeettt..! Dreeeettt!
Ponsel Topan kembali menyala. Dengan wajah panik, ia meraih ponsel itu dari saku celananya dan menatap sekilas ke layar ponsel itu.
'Ibu'
"Arghhhh!" Pekik Topan. Lalu ia melemparkan ponselnya ke bangku belakang mobilnya.
"Aku tidak peduli sama pertemuan keluarga! Aku tidak mau ada wanita lain yang mencoba masuk kedalam hidupku. Cukup lah...! Kenapa harus begitu memaksakan kehendak!" Topan terus menyesali sikap ibu dan bapaknya yang terus menghubungi dirinya.
"Aku akan memperjuangkan kamu, walaupun aku harus kehilangan keluarga ku," Tekad Topan.
__ADS_1
Mobil itu terus melaju, di atas kecepatan rata-rata. Seiring dengan debar jantung Topan yang tak beraturan. Ia seperti hilang kendali atas emosi yang sedang ia rasakan saat ini.
Topan, lelaki yang sedang memperjuangkan cinta pertama dan yang sedang ia tekad kan untuk menjadi cinta terakhir nya. Hanya Bella.. dan Bella yang ada di hatinya.