
"Aku lagi di kantor Baba," Ucap Topan saat berbincang dengan Bella di halaman kantor Galang, sambil menikmati sebatang rokok yang baru saja ia bakar.
"Baba? Siapa dia?" Tanya Bella.
"Hmmm, dia... dia bapak kandungku,"
Selama ini, Topan sudah pernah mengatakan kepada Bella, bila dirinya memiliki ayah kandung bernama Galang. Awalnya Bella sempat tidak mengerti mengapa Topan memiliki ayah selain Amoroso. Setelah Topan menjelaskan keadaan yang sebenarnya, Bella pun mulai paham. Topan adalah anak dari hasil perselingkuhan Erna dengan lelaki lain. Meskipun begitu, Bella tidak merasa malu bersanding dengan Topan. Karena bagaimanapun, dirinya mencintai Topan beserta segalanya tentang Topan. Yang terpenting bagi Bella adalah, kejujuran lelaki yang ia cintai itu.
"Bagaimana kabar bapak?" Tanya Bella lagi.
"Baik, suasana haru menyelimuti pertemuan antara aku, ibu dan baba."
"Alhamdulillah," Ucap Bella.
"Kamu lagi dimana calon istri ku?"
"Lagi di kampus mas, sebentar lagi aku akan mebghadiri sebuah seminar tentang kenakalan remaja."
"Oh begitu, sukses ya sayang. Ingat, jaga kesehatan. Lusa kita bertemu. Kamu mau oleh-oleh apa?" Tanya Topan.
"Terima kasih mas. Aku tidak mau oleh-oleh, aku mau nya kamu...." Ucap Bella dengan nada suara yang terdengar menggemaskan di telinga Topan.
"Hmmmm..."
"Kok cuma hmmmmm," Protes Bella.
"Hahahaha, jangan begitu dong nada suaranya. Nanti aku jadi kepengen cepat pulang. Pulang sekarang nih..."
"Hahahaha... gak lah, baik-baik disana ya mas."
"Iya sayang. Oh iya, aku akan melamar kamu secara resmi."
Bella terdiam di ujung sana.
"Dan akan segera menikahi kamu. Aku ingin, cinta pertama ku ini menjadi cinta terakhir juga untuk aku. Aku cinta kamu sayang... sabar ya.. untuk segala proses menuju halal nya kita," Ucap Topan.
"Iya mas..." Sahut Bella.
"Ya sudah, aku akan kembali ke ruangan baba."
"Iya sayang, kabarin ya, kalau sudah di hotel."
"Iya... assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam.." Sahut Bella.
..
Di ruangan Galang, Erna duduk terdiam tanpa berani menatap Galang, saat Topan meninggalkan dirinya dan Galang berdua saja di ruangan itu.
"Setelah ini, ayo kita ke rumahku," Ucap Galang saat ia berusaha memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
Erna mengangkat wajahnya dan menatap Galang dengan sorot mata yang penuh kerinduan.
Mereka saling bertatapan. Tanpa kata, mereka berdua pun langsung berpelukan erat. Rasa rindu yang tak terbendung menuntun mereka untuk saling berpelukan, sebagai bentuk ungkapan rasa rindu yang tidak dapat mereka ungkapkan.
Erna menangis di bahu Galang, pun dengan Galang yang memeluk erat dangan lelehan air mata di pipinya.
"Aku sangat merindukan kamu. Sangat, teramat sangat. Hampir tiga puluh dua tahun, Erna... Rasanya dadaku ingin meledak saat melihat kamu untuk yang pertama kalinya.
"Aku pun sangat merindukan kamu mas.."
"Mengapa kamu tidak menemui aku Erna?"
"Aku minta maaf, kamu pasti tahu keadaan ku, mas. Aku sudah memiliki anak dari Amoroso. Itu tidak mungkin aku lakukan."
Galang melepaskan pelukannya dan menatap Erna dengan seksama.
"Ya, aku paham."
"Aku minta maaf.." Ucap Erna lagi.
"Ya... bukan kamu yang salah. Akulah yang salah." Galang mengusap air matanya. Lalu, ia duduk di samping Erna dan menggenggam erat tangan wanita yang selalu ia cintai itu.
"Mengapa kamu mengajak aku kerumah kamu mas, bagaimana istri kamu?" Tanya Erna.
Galang tersenyum getir, lalu ia mengusap air mata Erna yang masih membasahi kedua pipi Erna.
"Tiga puluh dua tahun. Tujuh tahun setelah aku dari perbatasan, aku kembali ke Jakarta. Aku sering lewat di depan rumah mu. Tapi..." Galang tersenyum getir.
"Tapi apa?" Tanya Erna penasaran.
__ADS_1
"Tapi saat aku melihat kamu bersama dengan Amoroso bermain dengan anak perempuan kalian di halaman rumah kalian, aku merasa kamu sudah bahagia. Tetapi, aku tetap tidak bisa mencintai orang lain selain dirimu. Aku pengecut, maka aku putuskan untuk memberikan kamu surat lewat seorang anak yang datang kerumah kamu. Pasti kamu masih ingat,"
Erna mengangguk, tanda ia mengingat semua kejadian dimana ada anak kecil yang mengetuk pintu rumahnya dan memberikan dirinya secarik kertas dari Galang.
"Kamu juga pasti ingat isi dari surat itu. Aku meminta kita bertemu di hotel dimana kita biasa bertemu dulu. Tetapi, kamu tidak pernah datang."
Galang tersenyum getir, lalu ia kembali menatap Erna.
"Setahun kemudian, aku ditugaskan ke Makassar. Aku menghabiskan waktu disana hingga tahun dua ribu. Tak jarang banyak surat yang tidak terkirim kepadamu. Semua masih aku simpan." Galang tertawa kecil saat menceritakan kisahnya selama berpisah dengan Erna.
"Setelah tahun dua ribu, aku dipindahkan ke Surabaya. Disana aku menghabiskan waktu selama lima tahun. Hingga aku mendapatkan kabar bila ibuku sakit kanker. Maka aku pulang di tahun dua ribu lima, ke Sukabumi."
"Jadi ibu..."
"Ya, ibu sudah meninggal dua bulan setelah kepulangan aku ke Sukabumi. Disana, dia meminta aku untuk menikah dengan seorang gadis. Mengingat umurku yang sudah tidak lagi muda, ibu meminta aku untuk menikahi anak kerabatnya. Permintaan terakhir nya, ia hanya ingin melihat aku menikah."
"Lalu?" Erna terlihat semakin penasaran.
"Tahun dua ribu lima, aku menikahi seorang gadis yang lebih muda lima belas tahun dariku. Namanya Elis, dia gadis yang baik dan cantik. Hanya saja, aku tidak bisa mencintai dia."
Erna tertegun mendengar kalimat terakhir dari Galang.
"Kenapa?" Tanya Erna.
"Karena aku tidak bisa mengeluarkan kamu dari hati dan pikiran ku, Erna,"
Erna kembali terdiam.
"Lalu, bagaimana rumah tangga mu mas?"
"Dua bulan kemudian ibuku meninggal dunia. Elis menyusul ke Surabaya. Disana, kami hidup layaknya orang yang berumah tangga. Namun, ada hal yang tidak dia sukai dariku."
"Apa?" Tanya Erna.
"Dia tahu, bila aku masih memikirkan kamu."
Dada Erna terasa sesak, ia tidak menyangka bila Galang begitu menepati janjinya untuk tidak jatuh cinta lagi, selain kepada dirinya.
"Akhirnya, Elis meminta cerai, dan aku menceraikan dia. Setelah itu, aku hidup sendiri." Galang tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kau tahu Erna, cinta yang kamu tancapkan di hatiku begitu dahsyat. Hati dan pikiran ku rasanya terpenjara oleh kenangan kita. Terlebih, aku begitu yakin bila Topan adalah anak ku. Cukuplah aku memiliki cinta untuk mu dan Topan. Aku hanya tidak ingin mendustai hati, dengan pura-pura mencintai seorang selain dirimu. Aku tidak suka hidup dalam kepura-puraan. Kasihan bila ada seseorang yang berkorban untuk ku, namun aku tidak dapat membalas cintanya. Biarlah aku sendiri, menikmati kesendirian, bekerja dan merindukan kenangan kita dan Topan."
"Mas... aku minta maaf,"
"Bukan kamu yang salah. Keadaan lah yang salah. Kamu harus menjalani hari sebagai milik orang lain. Sedangkan aku harus menjalani hari dengan memegang janjiku sebagai lelaki. Tapi, aku bersyukur.. saat ini kalian datang dan Topan tahu semua yang terjadi diantara kita. Ya, dia anak ku. dia benar-benar mirip dengan ku. Maaf, bila aku tidak pernah menafkahi dia. Tetapi, apa pun yang aku punya saat ini, semua adalah untuk kamu dan Topan."
Erna menundukkan wajahnya. Ia kembali menangis penuh luka.
"Andaikan dulu kita direstui," Ucap Erna.
"Jangan sesali itu. Yang penting saat ini, kamu tahu, aku tidak pernah ingkar janji, walau sedikitpun. Erna, setelah ini apakah kamu mau menikah denganku? Menghabiskan masa tua dengan ku?"
Erna mengangkat wajahnya dan menatap Galang dengan seksama.
"Kita tebus semua waktu yang terbuang, mimpi-mimpi kita dan segala yang tidak pernah terwujud." Galang berusaha meyakinkan Erna.
"Ta-tapi.."
"Tapi apa Erna?"
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan di pintu ruangan tersebut.
"Ya, masuk," Galang mempersilahkan seseorang di balik pintu untuk masuk keruangan nya. Sedangkan Galang dan Erna menggeser duduk mereka, agar terlihat ada jarak diantara mereka yang sedang duduk berdampingan.
Topan beranjak masuk ke ruangan itu, lalu ia menatap Erna dan Galang yang terlihat sedang menghapus air mata mereka.
"Apakah aku mengganggu?" Tanya Topan.
"Tidak," Sahut Galang.
"Hmmm, apa ada kisah lama bersemi kembali disini?" Tanya Topan lagi.
Galang dan Erna menatap Topan dengan tatapan tak percaya.
"Hahahaha, aku bercanda. Aku hanya ingin menyampaikan kepada baba dan ibu. Aku ingin melamar kekasihku, Bella. Bagaimana bila baba datang untuk melamar Bella?" Tanya Topan.
"Topan.." Erna terlihat tidak setuju dengan ide Topan yang akan melamar Bella.
"Bu, Bella tidak seperti yang ibu pikirkan. Gadis itu luar biasa. Sekarang begini deh, aku hanya mencintai Bella. Apa ibu ingin melihat aku mencintai Bella seumur hidup ku? Sama seperti baba?"
__ADS_1
Erna terdiam, lalu ia tertunduk malu.
"Apa kamu tidak setuju dengan kekasih Topan. Memang kekasih Topan kenapa?" Tanya Galang kepada Erna.
"Hmmm, dia... dia.. dia anak dari Pongki Susilo, si bandar narkoba itu."
Galang tersentak mendengar apa yang dikatakan Erna.
"Hah!" Galang menatap Topan dengan sorot mata yang tak percaya.
"Bagaimana bisa?"
"Bisa saja, aku yang menangkap bapak nya, sekalian aku menangkap anak nya. Habis, anak nya cantik, baik, berpendidikan dan sabar. Sangat cocok untuk menjadi ibu dari anak-anakku." Terang Topan.
Galang terdiam, perlahan senyum mengembang disudut bibirnya.
"Kamu benar-benar anak baba!" Ucap nya.
"Heh!" Erna terkejut saat Galang mendukung Topan.
"Tapi..."
"Sssttt... dia anak ku Erna. Kamu pasti tahu sifat yang aku turunkan kepadanya. Setia, sampai mati. Betul kan Topan?" Tanya Galang.
"Cocok!" Sahut Topan.
Erna menghela nafas panjang dan menatap kedua lelaki yang bisa dikatakan seperti anak kembar, namun berbeda usia itu.
"Bu, aku mohon, restui aku dengan Bella ya bu. Aku berani menjamin, bila dia bersih dari segala bisnis ayah nya. Aku melihat Bella dari sudut pandang yang lain. Dia adalah seorang psikolog, dia cantik dan pintar. Dia juga lembut dan sabar. Bu, aku tidak mau wanita lai selain Bella. Aku mohon, restui aku dengan nya bu." Pinta Topan.
"Ibu tidak mau kan bila aku tidak akan menikah. Ibu tidak mau kan, ada kejadian Erna dan Galang lagi?" Tanya Topan.
"Kamu ini apa-apaan sih," Pipi Erna bersemu merah. Ia merasa malu bila kisah cintanya dengan Galang di singgung oleh Topan.
"Ayo dong bu, ya baba..." Topan merengek layaknya seorang bocah yang memaksa meminta permen kepada ibu dan ayahnya.
Erna menatap Galang, Galang pun mengangguk menyetujui. Kini tinggal dirinya yang merasa bimbang untuk memutuskan akan merestui atau tidak.
"Bu..." Topan kembali memaksa.
Erna menghela nafas berat dan mengusap pipi Topan yang kini berlutut di depannya.
"Bu... Topan gak sabar pengen nikah. Bu... lamar Bella bu.. Bu... Topan mohon... Kalau dia tidak yang terbaik, Topan tidak akan memperjuangkan dia. Topan meminta dia di setiap sujud Topan. Jawaban dari NYA hanya Bella bu. Semakin Topan meminta kepada Allah, semakin Allah memberikan jawaban, bila Bella adalah orangnya."
"Bu, anak seorang bandar tidak selamanya buruk. Bella di besarkan dengan kasih sayang dan pendidikan yang layak. Sopan santun yang begitu terjaga. Diri yang selalu di jaga dengan baik dan terhormat. Dia adalah gadis yang sempurna. Topan mau dia," Ucap Topan dengan sorot mata yang memohon.
"Hmmmm,"
"Bu..."
"Kalau ibumu tidak merestui, biar baba yang lamar."
Erna terbelalak dan menatap Galang dengan tatapan yang sebal.
Galang hanya tersenyum membalas tatapan Erna yang sebal kepada dirinya.
"Bu..."
"Iya... iya.. bawel! Sana nikah!" Ucap Erna dengan tidak ikhlas.
"Ikhlas dong bu," Ucap Topan lagi.
"Iya... kita lamar dia. Nikah dan hiduplah dengan baik. Tidak ada lagi cerita Galang dan Erna. Semua menyakitkan. Ibu tidak mau kamu dan Bella merasakan nya. Menikahlah anak ku. Ibu merestui."
"Yes!" Seru Topan, seraya memeluk kedua orangtuanya.
"Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah!" Setelah memeluk Erna dan Galang, Topan berdiri dan melompat kegirangan.
Lalu, ia mencoba menelepon Bella.
"Halo?" Sapa Bella, sesaat setelah ia menerima panggilan dari Topan.
"Kita nikah! Sudah ada restu. kita menikah Bella...! Aku akan menikahi kamu.. akan aku buktikan durasi ku!"
"HAH..!!!!"
Topan terdiam, Bella terdiam, pun dengan Erna dan Galang.
"Durasi?" Tanya Erna dan Galang.
"Upsssss! Masih dendam saja aku dengan durasi!" Topan mulai merasa bodoh dan memukul keningnya sendiri.
__ADS_1