Masteng

Masteng
102. Siapa biangnya?


__ADS_3

"Dasar laki-laki munafik!" Lestari melemparkan tas nya ke atas sofa ruang tamunya. Lalu, ia beranjak duduk dan melepaskan penat nya di atas sofa tersebut. Lalu, ia membuka jam tangan nya dan sepatunya.


"Ada apa?" Tanya Mela, yang bingung melihat anak gadis nya pulang dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Itu loh, si Topan!"


Mela menghela nafas panjang dan duduk di samping Lestari.


"Ibu sudah bilang, kamu tidak jadi di jodohkan dengan dia. Dia itu anak haram!"


Lestari menatap Mela dengan tatapan tidak suka.


"Mau dia anak haram kek, dia anak gendoruwo kek, aku tidak peduli!"


"Lestari, sadar nak... ibu tidak suka kamu seperti itu."


"Tapi aku menyukai dia! Dengan gampangnya dia menolak ku. Aku kurang apa! Aku cantik, aku berpendidikan dan aku seorang Dokter. Karir ku bagus, aku anak dari keluarga baik-baik! Munafik sekali dia! Semua hanya gara-gara perempuan gak jelas itu!"


Mela menghela nafas panjang. Ia tidak habis pikir bila putrinya itu terlanjur mencintai Topan dan terlalu banyak berharap dari perjodohan yang gagal itu.


"Tapi Lestari..."


"Sudahlah, aku capek. Tolong ibu buatkan aku teh hangat ya. Aku mau mandi dulu!"


Mela terdiam, ada rasa penyesalan dihatinya, karena mendidik Lestari yang selalu dimanja sejak kecil.


"Ibu kok diam saja? Cepat sana!" Lestari mendelik dan menyambar tas nya. Lalu, ia beranjak ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Setelah Lestari pergi ke kamarnya, Mela pun termenung di sofa ruang tamu itu.


"Apa perjodohan ini tetap dilanjutkan? Melihat Lestari yang begitu mencintai Topan, aku menjadi tidak tega kepadanya." Gumam nya.


"Ibu...! Handuk ku mana?" Terdengar teriakan Lestari dari kamarnya.


"I-i-iya, ibu lupa mengganti handuk mu.." Mela beranjak dari ruang tamu dan bergegas mengambilkan handuk baru dari dalam lemari khusus handuk di Loudry room.


.


.

__ADS_1


.


.


Tepat pukul tujuh malam, Bagus dan istrinya sudah berada di rumah Amoroso. Wajah mereka berdua terlihat tegang sekali. Bagaimana tidak, mereka dipanggil menghadap seorang Jenderal dan istrinya, hanya karena ucapan yang saling menyampaikan.


Tangan Farida terlihat gemetar, ia terus menggenggam tangan Bagus dengan erat. Sedangkan Bagus, lelaki itu tampak sangat kesal dengan istrinya. Bagus capek-capek membangun karir, sedangkan kini ia akan terancam karir nya karena istri yang tidak bisa menjaga kode etik dalam berbicara. Seorang istri abdi dan putra Negara, harus nya mampu menjaga kehormatan suaminya. Baik itu dalam lingkup keluarga besar yang menaungi suaminya ataupun di lingkungan masyarakat. Itu sudah menjadi syarat mutlak dan sudah disanggupi saat seorang gadis akan menikahi seorang abdi dan putra Negara.


Farida terus menundukkan wajahnya, saat mereka duduk di ruang tamu keluarga Amoroso. Setelah seorang asisten memberikan mereka dua gelas teh hangat, muncul lah Amoroso dan Erna.


Erna tersenyum kepada Bagus dan Farida. Sedangkan Bagus, langsung memberikan hormatnya kepada Amoroso.


"Silahkan duduk kembali," Pinta Amoroso.


Atmosfir di ruangan itu terasa begitu tegang. Bagaimana tidak, menghadapi seorang Jenderal, karena kasus yang sangat tidak pantas, yaitu gosip mur*han.


"Maaf kalau saya merepotkan kalian. Saya mengundang kalian kesini, untuk mempertanyakan tentang gosip yang beredar."


"Siap pak! Tidak apa-apa," Ucap Bagus.


"Santai saja, ini diluar pekerjaan kita. Kita dapat berbincang secara kekeluargaan."


Bagus terlihat malu, dengan kebaikan Amoroso.


"Jadi begini, kemarin saya mendengar dari istri saya sendiri. Bila bu Bagus menyampaikan tentang gosip yang beredar. Tidak perlu saya pertegas gosip apa itu. Bu bagus pasti sudah paham."


Farida mengangguk ragu.


"Kalau saya boleh tahu, bu Bagus dapat gosip itu dari mana? Dan apa motivasinya menyampaikan hal itu kepada istri saya?" Tanya Amoroso dengan sikap yang tegas.


"Ng...." Farida melirik suaminya, lalu ia menatap Erna dan Amoroso dengan tatapan yang tampak merasa sangat menyesal.


"Katakan saja, saya justru berterima kasih atas berita yang ibu sampaikan kepada saya. Yang ingin saya sampaikan disini, kami hanya ingin tahu, siapa dalang utama yang menghembuskan gosip miring ini bu," Ucap Erna dengan bijaksana.


Farida menundukkan wajahnya dan memainkan jari jemarinya.


"Bu, tidak apa-apa." Bagus mencoba meyakinkan Farida.


Farida menatap Bagus yang mencoba mendukungnya secara moril.

__ADS_1


"Sebelumnya saya minta maaf kepada bapak dan ibu. Kalau daya menyampaikan gosip tersebut. Tetapi, bukan maksud saya untuk berkata sembarangan. Saya hanya ingin ibu Erna tahu dan segera mengambil tindakan atas gosip yang beredar." Ucap Farida saat membuka percakapan nya.


"Saya setuju itu," Ucap Amoroso.


Farida melirik Amoroso dan kembali menundukkan wajahnya.


"Saya mendengar gosip ini dari Ibu Sitohang. Beliau mempertanyakan hal ini, apakah saya sudah mendengarnya atau belum. Saya pun terkejut, saat mendengar gosip tersebut. Saya sempat bertanya kepada ibu Sitohang, dirinya mendapatkan gosip ini dari siapa. Tetapi, ibu Sitohang tidak mengatakannya kepada saya. Walaupun saya penasaran, saya mencoba menahan diri. Jadi, saya langsung menghubungi ibu Amoroso untuk menyampaikan bila gosip tidak sedap sedang beredar dibelakang ibu dan bapak Amoroso."


Erna menghela nafas panjang. Lalu, ia mengangguk paham.


"Jadi, ibu tahu dari ibu Sitohang?"


"Iya bapak," Sahut Farida.


"Terus, gosip apa lagi yang beredar?" Tanya Amoroso, masih dengan ekspresi wajah yang terlihat datar.


"Tidak ada pak, hanya itu."


"Baik lah.. sampai mana gosip ini beredar?" Tanya Amoroso lagi.


"Setahu saya, dikalangan ibu-ibu sudah pasti pak. Tetapi, dikalangan bapak-bapak saya tidak tahu. Terkadang ada yang membicarakan nya pada suaminya dan ada juga yang tidak," Jelas Farida.


"Baiklah ibu bagus, informasi ini sangat membantu saya dalam mengusut hingga ke akarnya. Mari kita makan malam," Ajak Amoroso.


Farida yang merasa bersalah pun, merasa tidak enak dengan apa yang telah ia lakukan, dan kebaikan keluarga Amoroso.


"Pak, saya bersalah. Saya mohon maaf. Saya mohon, jangan pecat suami saya." Farida mulai menangis.


"Tidak bu, ibu sudah berjasa dalam hal ini. Ibu sudah berani menyampaikan nya kepada istri saya, saya anggap itu sebagai bentuk perlindungan ibu kepada keluarga kami. Yang bersalah bukan ibu dan bapak bagus. Kalian justru telah membantu kami membongkar kebusukan ini. Kami yang berterima kasih kepada bapak dan ibu," Ucap Amoroso dengan bijaksana.


Farida menghapus air matanya dan menyalami Amoroso dan Erna.


"Saya minta maaf," Ucapnya sambil menangis.


"Sudah, sudah, kita makan malam dulu. Biar lebih santai." Ucap Erna, seraya tersenyum kepada Farida.


"Terima kasih bu, pak,"


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka di ruang makan keluarga Amoroso.

__ADS_1


Amoroso dan Bagus mulai mengatur strategi untuk mencari dalang yang menghembuskan gosip tersebut.


Langkah awal yang akan mereka ambil adalah, memanggil bapak Sitohang dengan istrinya. Lalu, bagaimana perkembangan nya, mereka akan mengusutnya sampai tuntas.


__ADS_2