Masteng

Masteng
115. Galang?


__ADS_3

"Kemana yang lain nya pak?" Tanya Suprapto saat ia baru saja sampai di kantornya.


"Di panggil ke Kapolda." Sahut rekan kerja Suprapto.


"Jadi, kita tidak jadi meeting?" Tanya Suprapto lagi.


Hari ini, tepat satu minggu Suprapto bertugas di provinsi Riau sebagai Perwira pertama dengan pangkat paling awal.


"Jadi, kita tinggal menunggu mereka kembali dari Polda." Ucap Rekan seprofesi Suprapto yang memiliki pangkat sama dengan dirinya tersebut.


"Oh iya, saya lupa, siapa nama Kapolda kita?" Tanya Suprapto.


"Oh.. Brigjen Galang Artana."


Suprapto terdiam, ia seperti tidak asing mendengar nama tersebut.


"Siapa?" Tanya nya lagi.


"Brigjen Galang Artana."


Seketika Suprapto mengingat pertanyaan Topan tentang nama "Galang". Tetapi, apakah Galang yang Topan tanyakan adalah Galang Artana? Ada banyak orang bernama Galang. Hanya saja, Topan bertanya tentang Galang yang berada di instansi tersebut.


Suprapto pun mulai beranjak ke luar ruangan itu, dan berjalan ke kantin yang terdapat di samping bangunan kantor tersebut.


"Bu, kopi 1," Ucap Suprapto.


"Iya pak," Sahut ibu yang berjualan di kantin.


Suprapto duduk di kursi panjang, lalu ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba mencari tahu tentang Galang. Setelah ia mengetik jabatan dan nama lengkap Galang, maka muncul lah beberapa foto yang menunjukkan bila lelaki dalam foto tersebut adalah Galang Artana.


Suprapto mengamati foto lelaki bernama Galang tersebut. Meskipun usianya sudah cukup tua, tetapi wajahnya terlihat sangat awet muda. Masih terlihat jelas ketampanan yang dimiliki lelaki itu.


"Kayak pernah lihat," Gumam Suprapto.


Suprapto termenung beberapa saat, lalu ia tersenyum kepada ibu kantin yang memberikan kopi hitam kepada dirinya.


"Baru ya pak?" Tanya ibu kantin.


"Iya bu,"


"Kok baru mampir kesini?" Tanya ibu itu lagi.


"Iya," Sahut Suprapto. Lalu, ia kembali menatap foto Galang Artana. Seorang Brigjen yang bertugas di Polda wilayah tersebut.


"Apa maksud si Topan mencari lelaki bernama Galang ini? Apakah ini yang dia maksud? Tapi, wajah nya kenapa familiar sekali?"


"Ah iya! Lelaki ini mirip Topan!" Seru Suprapto. Saking kerasnya ia berseru, sehingga ibu kantin dan beberapa orang yang sedang duduk disana memperhatikan dirinya.


"Apa jangan-jangan gosip itu benar?" Batin Suprapto.


"Apa harus aku kirimkan foto pak Galang kepada Topan ya...? Tapi... apa pantas?" Gumam Suprapto.


Suprapto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu, ia termenung di depan kopinya yang masih mengeluarkan uap panas.


.


.


.


.


.


"Patroli.. patroliii..." Ucap Antok, saat Topan termenung di kantornya. Seminggu sudah proses test DNA berjalan. Yang berarti tinggal seminggu lagi hasilnya akan keluar. Semakin hariz hati Topan semakin tidak karu-karuan. Ia mulai terlihat gelisah dan kerap termenung.


"Kau ini, ada apa?" Tanya Antok yang beranjak duduk di samping Topan.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa," Sahut Topan.


"Gimana bapakmu? Sudah sembuh?" Tanya Antok lagi.


"Alhamdulillah, tetapi masih dirawat inap." Sahut Topan.


"Maaf ya Pan, aku belum sempat menjenguk bapak mu."


"Tidak apa-apa," Sahut Topan seraya tersenyum kepada Antok.


"Eh Pan, gimana si Lestari itu?" Tanya Antok.


"Mana ku tahu, aku tidak mengurusinya." Celetuk Topan.


"Kasihan ya, bapak Agus dipecat. Tapi, aku tidak menyalahkan bapak mu, hanya saja, gara-gara istrinya itu..."


"Sudahlah," Potong Topan. Topan merasa malas harus membahas Agus dan keluarganya, terlebih tentang Amoroso. Bila ia tanggapi, gosip itu akan kembali terucap, dan ia merasa tidak nyaman dengan itu semua.


"Maaf ya Pan," Ucap Antok.


"Tidak apa-apa." Topan berusaha tersenyum kepada Antok.


"Aku mau patroli dulu," Ucap Topan seraya menepuk pundak Antok.


Antok mengangguk dan tersenyum kepada sahabatnya itu. Baru saja Topan beranjak dari duduknya, ponsel Topan pun berdering.


Dreeeettt...! Dreeettt...!"


Topan menghentikan langkahnya dan membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh Suprapto.


Apa kabar kau Pan?


Bunyi pesan yang dikirimkan oleh Suprapto.


Topan tersenyum dan kembali duduk di samping Antok.


"Iyah, gak jadi kau patroli?" Tanya Antok.


"Apa katanya?" Antok tampak bersemangat saat mendengar nama Suprapto.


"Bertanya kabar," Sahut Topan.


"Sama kau dia mau bertanya kabar, sama aku dia gak mau bertanya. Memang pilih kasih bang Suprapto!"


Topan hanya tersenyum menanggapi ucapan Antok. Lalu, ia membalas pesan dari Suprapto.


Alhamdulillah baik bang, abang apa kabar? Gimana disana?


Topan mengirim pesan tersebut dan kembali beranjak dari duduknya.


"Aku jalan dulu, kasihan yang lain nya menunggu ku di parkiran," Ucap Topan.


"Iya Pan, hati-hati," Ucap Antok.


Topan tersenyum dan memakai rompinya. Lalu, ia berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Dreeettt.. Dreeeettt..!


Ponsel Topan kembali berdering, tetapi ia mengabaikan pesan balasan dari Suprapto, karena dirinya akan segera melaksanakan tugasnya untuk patroli pagi di wilayah tersebut.


.


Berta termenung di depan Pongki. Ia baru saja mendengar kabar dari bibir Pongki sendiri, bila sidang akan dipercepat, menjadi minggu depan. Banyaknya tuntutan agar dirinya segera di adili, membuat petugas terkait harus segera merealisasikan sidang secepatnya.


"Minggu depan?" Tanya Berta tak percaya.


Pongki mengangguk dan menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Bukankah lebih cepat lebih baik?" Tanya Pongki.


"Memang. Tapi.... apakah kamu tahu tuntutan Jaksa?"


Pongki tercenung, ia menggigit bibir bawahnya dan melemparkan pandangannya ke arah pintu keluar ruangan jenguk tersebut.


"Pongki, apakah kamu tahu tuntutan Jaksa?" Tanya Berta lagi.


Pongki menatap Berta dan tersenyum tipis.


"Aku tahu," Sahutnya.


"Lantas?" Tanya Berta dengan wajah yang panik.


"Mau tidak mau, harus aku hadapi."


"Tetapi, Bella belum menikah!"


Pongki menatap Berta, ia paham bila Berta mengetahui seberapa berat hukuman yang akan ia hadapi.


"Lalu, aku harus apa? Memaksa Topan untuk menikahi Bella secepatnya?" Tanya Pongki.


Berta terdiam membisu. Pernikahan tidak akan sesederhana itu bagi Topan yang seorang putra Negara. Pasti ada proses dan prosedur yang harus di lalui oleh Topan dan Bella bila mereka menikah. Tidak seperti orang pada umumnya yang bisa langsung mengurus di Kantor Urusan Agama. Bagi calon istri putra Negara, harus ada berkas yang di persiapkan, serangkaian test tentang mengetahui sifat calon istri putra Negara dan sidang nikah yang merupakan syarat yang harus di penuhi oleh kedua mempelai.


"Tapi Topan berjanji, ia akan menikahi Bella dan berjuang untuk itu," Ucap Berta.


"Ya.. tapi tidak semudah itu Berta."


Berta kembali terdiam.


"Lalu, apakah kamu siap untuk menghadapi hukuman apa yang akan dijatuhkan untuk mu?" Tanya Berta.


"Aku siap, team pengacara ku sedang membela ku, dan akan melakukan yang terbaik untuk ku."


"Tetapi, kamu masih punya simpanan untuk membayar mereka?" Tanya Berta dengan setengah berbisik.


"Mereka sudah ku bayar setiap bulan sebelum adanya kasus ini, dan mereka terikat kontrak dengan ku. Mereka harus siap membelaku bila aku terkena kasus apa pun itu. Dan aku..." Pongki mendekatkan wajahnya ke wajah Berta.


"Apa?" Tanya Berta penasaran.


"Aku masih memiliki uang simpanan di brankas rumah. Bisakah kamu mengambilnya?"


Berta terkejut mendengar ucapan Pongki.


"Uang? Brankas mana? Rumah lama? Itu sudah disita.." Ucap Berta.


"Kamu bisa masuk, dengan alasan mau mengambil foto keluarga yang tertinggal. Aku memiliki brankas yang tidak diketahui oleh siapa pun. Dengan uang itu, kita masih bisa membayar pengacara setiap bulan nya, dan kontrak itu tidak akan berakhir, kalau kita masih membayar mereka." Bisik Pongki.


Berta mengerutkan keningnya,


"Dimana?" Tanya Berta.


"Di lantai ruang kerja ku, tepat dibawah meja kerja. Disitu ada uang cash yang selalu aku simpan. Kodenya, tanggal, bulan dan tahun pernikahan kita. Ambil itu, dengan membawa koper atau tas. Langsung kosongkan, uang itu berguna untuk kamu dan Bella juga."


Berta menatap Pongki, lalu ia melirik petugas yang sedang mengamati mereka.


"Baiklah," Ucap Berta seraya tersenyum kepada Pongki.


Pongki membalas senyuman Berta dan mengecup pipi istrinya itu.


"Tapi, bagaimana kalau ketahuan?" Tanya Berta.


"Aku yakin kamu cerdas, jangan sampai ketahuan. Apa lagi ketahuan Topan. Dia adalah orang yang jujur." Pongki tertawa saat mengingat sosok Topan.


Berta mengangguk paham. Bagaimanapun, dirinya sangat membutuhkan uang saat ini.


"Paham?" Tanya Pongki.

__ADS_1


"Yeah," Sahut Berta.


Lalu, mereka sama-sama tersenyum penuh arti.


__ADS_2