Masteng

Masteng
132. Ayo temui orangtuaku...


__ADS_3

Disebuah cafe, Topan dan Bella sedang duduk berdua saja, menikmati waktu mereka. Topan memang tidak bisa seperti lelaki pada umumnya. Waktu Topan yang tidak pasti membuat dirinya dan Bella lebih banyak berkomunikasi lewat sambungan telepon atau bertukar pesan saja. Namun, khusus kali ini, Topan sengaja menyempatkan dirinya untuk bertemu dengan Bella yang tadi pagi baru saja menghadiri persidangan Pongki. Topan ingin Bella tahu, bila dirinya tidak akan pernah lupa akan janjinya pada Pongki, yaitu menjaga Bella dan Berta.


Kali ini Topan ingin mendengarkan segala keluh kesah Bella, yang merasa ikut penasaran akan hasil akhir dari sidang Pongki. Walaupun ini adalah sidang perdana, namun sudah pasti pihak keluarga ingin secepatnya masalah ini selesai dan mengetahui hasil akhir dari persidangan kasus tersebut.


"Bagaimana kabar daddy mu?" Tanya Topan.


"Baik," Bella tersenyum dan menatap Topan dengan sorot mata yang teduh.


"Maaf ya, aku tidak bisa ikut mendampingi kamu,"


"Tidak apa-apa mas,"


Topan tersenyum saat mendengar Bella menyebut dirinya dengan panggilan 'mas' secara langsung.


"Kok tersenyum? Aneh ya kalau panggil 'mas?" Tanya Bella.


"Enggak kok, aku hanya senang saja,"


Bella mengulum senyumnya dan menundukkan wajahnya.


"Sayang, bagaimana di persidangan?" Tanya Topan.


"Lancar dan tidak berbelit-belit. Aku juga melihat psikologis daddy cukup baik. Jadi, aku tidak begitu khawatir karenanya."


Topan mengangguk paham dan mengusap pipi Bella dengan lembut.


"Maafkan aku bila semua ini terjadi di hidup mu," Ucap Topan.


"Tidak, bukan kamu yang salah. Berhentilah merasa bersalah. Aku paham apa yang kamu rasakan. Aku sangat paham.."


Topan mengangguk dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tampak sangat gelisah dan terlihat sedikit lelah.


"Ada apa?" Tanya Bella.


"Tidak ada apa-apa," Topan tersenyum dan kembali mengusap pipi Bella.


"Tidak, sepertinya mas juga sedang memiliki beban pikiran,"


Topan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya capek. Sekarang tugas ku semakin banyak," Topan mencoba meyakinkan Bella.


"Baiklah kalau gak mau ngasih tahu aku," Bella mengerutkan dagunya.


"Bukan begitu sayang ku..., serius, aku hanya lelah," Topan kembali mencoba meyakinkan Bella.


"Iya... aku paham," Sahut Bella.


Topan enggan bercerita tentang beban pikiran nya saat ini. Sebagai seorang lelaki, sudah semestinya ia tidak menambah beban pikiran pasangan nya, karena masalah pelik yang sedang ia hadapi.


"Hmmm, kamu mau cerita apa? Katanya banyak yang mau diceritakan,"


"Ya.. paling masalah daddy dan pekerjaan baru ku," Ucap Bella.


"Oh iya, bagaimana di kampus?"


"Semua baik-baik saja. Aku bisa mengatasi segala pandangan dan pertanyaan miring dari orang-orang yang berada disana. Hanya saja, aku merasa khawatir dengan daddy, mas..."


"Khawatir?"


"Ya, aku takut bila dirinya di hukum mati, atau seumur hidup. Apakah ada kesempatan untuk daddy di ringankan?" Tanya Bella.

__ADS_1


Topan terdiam, ia yang paham masalah hukum pun tak sanggup untuk menjanjikan apa pun kepada Bella.


"Semua tergantung dengan hakim," Akhirnya Topan cukup mengatakan bila dirinya tidak berhak untuk mengatur lamanya hukuman seseorang.


"Aku paham mas," Bella menundukkan wajahnya.


"Hei.. jangan bersedih gitu dong," Topan mengangkat dagu Bella dengan jari telunjuknya.


"Aku hanya sedih melihat mami, mami benar-benar kesepian," Ucap Bella.


"Aku paham," Sahut Topan.


"Lalu?" Bella menatap Topan dengan seksama.


"Kita hanya bisa berdoa saja. Apapun keputusan nya, aku harap itu seringan-ringannya. Karena pak Pongki juga cukup koperatif."


"Aamiin," Bella mengangguk setuju.


"Bell," Panggil Topan.


"Ya?" Bella menatap Topan dengan seksama.


"Ayo temui orangtuaku."


Bella membulatkan matanya dan menatap Topan dengan tak percaya.


"Aku ingin mereka tahu, bila aku serius denganmu."


"Tapi mas,"


"Kenapa?" Tanya Topan.


Topan menghela nafas panjang, lalu ia meraih kedua tangan Bella dan menggenggam nya dengan erat.


"Sayang, yang mau menikah itu aku, bukan kedua orangtuaku. Yang mau menjalani hidup itu aku, bukan mereka. Setuju tidak setuju, pilihan ku itu kamu. Aku adalah lelaki, aku calon imam. Imam lah yang menentukan mau dibawa kemana dan mau bagaimana. Jadi, jangan terlalu khawatir dengan restu." Terang Topan.


"Tapi... apakah.."


"Ssssttt..." Topan menempelkan jari telunjuk nya di bibir Bella.


"Yang penting mereka mengenal kamu dulu."


Bella terdiam, lalu ia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah."


"Malam minggu ini kamu aku ajak kerumah ku. Kalau besok atau lusa, sudah pati tidak bisa. Selain aku bertugas, bapak masih di rumah sakit juga."


Bella mengangguk paham dan tersenyum kepada Topan.


"Terima kasih mas,"


"Untuk?" Tanya Topan dengan ekspresi wajah yang polos.


"Untuk memperjuangkan aku," Ucap Bella.


Topan tersenyum dan mengecup punggung tangan Bella.


"Aku sudah bilang, i love you more than you know."


Bella tersenyum malu saat Topan mengatakan kata-kata yang membuat dirinya melayang.

__ADS_1


"I love you too, more and more and more," Ucap Bella.


.


.


.


.


Srekkkk..!


Erna memasuki ruangan Amoroso dengan membawa banyak buah-buahan dan makanan ringan, seperti roti dan cemilan lain nya. Serta, beberapa botol air mineral yang baru saja ia beli dari kantin rumah sakit tersebut.


Erna melirik Amoroso yang menatap jendela dengan tatapan yang kosong. Lalu, ia meletakkan plastik yang berisi belanjaan nya di atas meja.


"Mikirin apa pak?" Tanya Erna.


Amoroso bergeming, di tangan kanan nya terlihat sebuah pulpen yang terselip di jari jemarinya. Sedangkan di tangan sebelah kiri nya, terlihat secarik kertas yang tertuliskan tulisan tangan Amoroso.


"Habis menulis apa pak?" Tanya Erna lagi. Erna terus bertanya sambil mengeluarkan satu persatu belanjaan nya. Tetapi, Amoroso masih terus bergeming. Mata sayu nya terus menatap ke arah jendela.


"Pak," Panggil Erna.


Amoroso masih bergeming.


"Pak...!" Erna mulai merasa ada yang aneh dengan Amoroso. Ia pun bergegas menghampiri Amoroso dan memegang kedua pipi Amoroso.


"Pak!" Panggilnya lagi seraya mengguncang tubuh Amoroso.


"Pak!" Erna mencoba menempelkan jari telunjuknya di area lubang hidung Amoroso.


"Pakkkkkkk!" Pekik Erna, saat ia tidak melihat adanya tanda kehidupan dari Amoroso.


"Pakkkkk! bangun pak!" Erna seperti menggila, ia sangat histeris hingga ia mengguncangkan tubuh Amoroso dengan kasar.


Para ajudan yang berjaga di depan ruangan Amoroso, masuk kedalam ruangan tersebut, karena mendengar teriakan dari Erna.


"Panggil dokter!" Teriak Erna.


Salah satu ajudan menekan tombol emergency call, yang terletak di atas kepala ranjang Amoroso.


"Pakkkkkkk...!" Panggil Erna, ia masih berusaha menyadarkan suaminya itu.


Matanya tertuju kepada secarik kertas yang berada di dekapan Amoroso. Lalu, ia meraih kertas tersebut dan mengantonginya.


"Pak! Bangun pak!"


Terdengar langkah team medis mulai memasuki ruangan tersebut. Lalu, mereka mulai meminta siapa saja yang berada di sekita ranjang Amoroso untuk menyingkir. Mereka langsung mengecek nadi Amoroso. Wajah panik tidak bisa di hindari. Mereka berusaha untuk memberikan pertolongan sesuai prosedur. Namun, tampaknya lelaki itu sudah tidur di dalam damainya sejak beberapa menit yang lalu. Jiwanya sudah tidak lagi berada di dalam raganya.


"Maaf bu, bapak sudah berpulang. Kami turut berdukacita," Ucap dokter yang tengah menangani Amoroso. Di susul dengan beberapa team medis lain nya. Mereka turut mengucapkan duka yang mendalam atas kepergian Amoroso.


Beberapa hari ini, Amoroso memang sudah cukup membaik. Bahkan, ia sudah siap untuk pulang kerumah, karena kondisinya yang stabil. Entah mengapa, dan tanpa sepengetahuan siapa pun, ia tiba-tiba pergi dan membuat siapa saja merasa tidak percaya atas kepergiannya.


"Bapak..." Gumam Erna yang seluruh tubuhnya gemetar saat menghampiri jasad Amoroso.


Amoroso, lelaki itu pergi tanpa sempat berpamitan kepada anak dan istrinya.


..


Umur, kehidupan, kematian, jodoh, rezeki dan lain sebagainya adalah misteri. Kita hanya bertugas untuk menjalani peran, hingga saat waktu nya datang. Entah sempat untuk berpamitan, atau hilang begitu saja. - De'rini -

__ADS_1


__ADS_2