
Di pagi yang cerah ini, terdengar harmoni nada yang mengiringi jenazah Amoroso saat akan di bawa mendekati liang kubur, sesaat setelah berakhirnya upacara penghormatan terakhir untuk almarhum Amoroso. Wajah-wajah muram mengiringi di belakang para anggota POLRI yang membawa jenazah sang Jenderal. Hingga sampailah peti jenazah itu di depan liang lahat yang di persiapkan untuk peristirahatan terakhir Amoroso.
Peti jenazah yang tertutup bendera kebangsaan negeri ini, pun di turunkan. Lalu, upacara pemakaman pun akan segera di mulai. Terdengar tembakan peluru kosong sesaat jenazah Amoroso di keluarkan dari dalam peti, dan di taruh kedalam liang lahat. Isak tangis semakin terdengar memilukan, saat Topan mengumandangkan adzan dari dalam liang lahat, sebelum liang tersebut di tutup oleh tanah.
Ya, Topan sendirilah yang ingin turun tangan secara langsung saat pemakaman Amoroso. Menunjukkan rasa hormat dan pengabdian dirinya sebagai seorang anak dari lelaki yang ia panggil dengan sebutan 'Bapak' Itu.
Di antara kerumunan di pemakaman tersebut, terlihat Bella dan Berta juga ikut serta hadir untuk melepaskan kepergian Amoroso. Berta dan Bella hadir karena merasa ikut berduka atas kehilangan yang Topan rasakan. Bagaimana pun, Topan sudah menjadi bagian dari mereka. Hanya saja, tatapan orang-orang disana, membuat Bella dan Berta agak sedikit risih. Seakan, tatapan mereka seperti menghakimi, atau bahkan seperti terheran-heran, apa hubungan nya anak dan istri seorang bandar narkoba menghadiri pemakaman orang penting seperti Amoroso.
Acara pemakaman pun selesai. Topan masih terus setia merangkul ibunya yang masih merasakan duka yang mendalam. Topan yang terlihat memakai seragam lengkap nya serta memakai kaca mata hitam tersebut pun melihat Bella yang terlihat kurang nyaman di antara banyak nya para tamu yang mebghadiri pemakaman tersebut.
"Jaga ibu sebentar," Bisik Topan kepada Guntur.
"Ya kak," Sahut Guntur.
Topan pun beranjak dari sisi Erna, dan berjalan menghampiri Berta dan Bella. Terlihat pandangan mata terus mengawasi gerak-gerik Topan dan Bella. Termasuk Erna yang terus melihat body language dari putra pertamanya itu kepada Bella.
Tanpa ragu, Topan menggandeng tangan Bella di depan semua mata. Tidak sedikit orang yang terbelalak tak percaya karenanya.
"Mereka pacaran? Topan Sama anak Pongki?" Terdengar bisik-bisik dari beberapa ibu-ibu yang mengikuti berita tentang Pongki.
"Kamu jangan begitu mas," Bella melepaskan tangan Topan. Ia merasa tidak enak bila akhirnya Topan dan keluarga akan mendapatkan imbas dari kasus yang tengah di hadapi oleh keluarganya.
"Kenapa rupanya?" Tanya Topan yang masih berusaha untuk kembali menggandeng tangan Bella.
"Aku tidak enak," Bisik Bella.
"Masa bodo," Topan tetap memegang tangan Bella di depan banyak mata.
"Kak, dipanggil ibu. Ibu minta diantarkan pulang," Ucap Pinky yang baru saja menghampiri Topan.
Bella pun merasa tahu diri, ia tersenyum kepada Pinky yang terlihat acuh kepada dirinya. Lalu, ia menatap Topan dengan seksama.
"Pergilah," Ucap Bella.
"Kamu tidak apa pulang sendiri?"
"Tidak apa-apa," Bella berusaha untuk meyakinkan Topan.
"Kak, mobil kakak mana yang hitam?" Pinky sengaja bertanya seperti itu di depan Bella. Bella dan Berta terlihat canggung, karena memang mobil yang disebut oleh Pinky sedang mereka pakai untuk sehari-hari.
"Mobilnya sudah kakak jual kepada calon kakak ipar mu. Sudah, jangan banyak tanya, ayo." Topan menggandeng Pinky dan memaksa gadis itu untuk pergi bersama dengan nya.
Topan menoleh kebelakang dan mengatakan "Hati-hati di jalan" hanya dengan menggerakkan bibirnya, namun dapat dipahami oleh Bella.
Bella hanya tersenyum menanggapi sikap Topan kepada dirinya.
"Sepertinya kita harus membeli mobil baru," Bisik Berta. Jiwa sosialitanya menggebu-gebu saat Pinky menyinggung tentang mobil yang mereka pinjam.
__ADS_1
"Mam, kita harus tiarap sementara waktu, dari pada di curigai dari mana uang nya," Bisik Bella.
Berta menghela nafas panjang dan wajahnya terlihat tidak terima dengan penghinaan yang di lakukan Pinky kepada dirinya dan Bella.
"Ayo mam, kita pulang," Ucap Bella, seraya menggandeng Berta menuju ke parkiran taman makam pahlawan tersebut.
"Anak kurang ajar!" Maki Berta, saat ia baru saja masuk kedalam mobil Topan yang mereka pakai.
"Sabar ya mam, maksudnya juga bukan begitu." Bella mencoba untuk menenangkan Berta.
"Dia itu bukan anak kecil loh, jelas-jelas dia sedang menyindir kita. Hhhhhh...!"
Bella tersenyum dan meraih tangan Berta.
"Mam, ingat... posisi kita sekarang ada dimana. Kita harus menyesuaikan dimana kita berada. Kita harus menyesuaikan segalanya. Hidup kita juga tidak seperti dulu. Perbanyak sabar, lambat laun juga akan menghilang pandangan miring orang pada kita. Yakin lah mam, kita pasti bisa bangkit dan kembali jaya seperti dulu."
"Tapi kan kita banyak uang! Gemeeeeeeesss mami!" Keluh Berta lagi.
"Mam, ingat, dia itu adik nya Topan."
"Alah...! Gak mirip sifatnya sama Topan. Topan berbeda sama adik-adiknya. Apa lagi ibunya. Terlihat sekali sombong dan tatapan merendahkan nya itu loh.. Ughhh..! Rasa ingin mami congkel keluar bola matanya!" Ucap Berta dengan emosi yang membara.
"Istighfar mam, aku dan Topan akan menikah. Bagaimanapun, ibunya Topan itu adalah calon mertua ku, dan juga calon besan mami." Bella terus menerus menenangkan Berta yang kesal kepada keluarga Topan.
"Topan memang calon menantu ku, tapi dia bukan calon besan ku!" Ucap Berta.
"Dih, bisa begitu ya?" Bella tertawa geli.
"Mami...." Bella menatap berta dengan mata yang teduh.
"Topan bisa ganti emak saja gak sih?" Tanya Berta, masih dengan wajah nya yang terlihat kesal.
"Hahahahaha...! Ada-ada saja mami!"
"Hahahaha, lagian mami sebel. Sudah yuk, pulang." Ajak Berta.
Bella tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ayooo...kanjeng mami.." Celetuk Bella.
Berta tertawa mendengar Bella memanggil dirinya dengan sebutan kanjeng mami. Panggilan yang biasa Topan sebutkan kepada dirinya, saat Topan masih menjadi Paijo.
"Hmmm, dasar... kamu sidah terkena Paijo sindrom!"
"Hahahahahaha...!" Mereka berdua pun tertawa saat meninggalkan area pemakaman tersebut.
...
__ADS_1
Di pungkiri atau tidak, hati Bella juga merasa perih saat melihat sikap dan menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari adik dan keluarga Topan. Tetapi, mau dikata apa? Dirinya bukan lagi seorang Bella Anastasya Susilo yang dulu. Kini ia hanya sebagai Bella, anak dari narapidana bernama Pongki Susilo.
"Ikhlaskan hati ini ya Allah," Batin Bella saat ia sedang melajukan mobil tersebut menuju ke kediaman nya.
.
.
.
.
.
"Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan le?" Tanya Erna saat dalam perjalanan menuju ke kediamannya.
Topan yang sedang menyetir, melirik Erna yang duduk di sampingnya.
"Maksud ibu?" Tanya Topan.
"Itu, gadis itu.. ngapain dia hadir di pemakaman bapakmu?"
Topan terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Erna.
"Semua orang pasti bertanya-tanya tentang kamu dan anak narapidana itu,"
"Bu..!" Potong Topan.
"Lah, ibu bicara apa adanya le...! Kamu tahu kan, harusnya dia dan ibunya tidak hadir disana. Buat malu saja!"
Topan menghentikan laju mobilnya di sisi kiri jalan. Lalu, ia menatap Erna dengan sorot mata yang terlihat emosi.
"Jangan sekali-kali ibu mengatakan hal itu lagi kepadaku. Aku dan Bella saling mencintai, kami sudah bertunangan dan berencana akan segera menikah."
"Bertunangan? Bertunangan apa le? Kok ibu tidak tahu? Mengapa kamu melangkahi ibu dan bapak mu? Mengenalkan dia saja kepada kami, tidak pernah!"
"Bu, jangan pernah ada yang senasib dengan galang lagi di dunia ini," Ucap Topan.
Erna terbelalak saat mendengar ucapan Topan. Lalu, ia terdiam seribu bahasa.
"Dan kalian, jangan pernah menyinggung orang lain. Sebagai contoh, bila saya melakukan kejahatan, namun kalian yang di hakimi, apa kalian akan senang?" Tanya Topan kepada dua adiknya yang duduk di kursi penumpang belakang.
Pinky dan Guntur pun ikut terdiam membisu.
"Kalian orang terpelajar dan dari keluarga terhormat. Hormati itu dengan menjaga mulut kalian baik-baik. Jangan sampai orang menyumpah serapah kalian hanya gara-gara mulut kalian yang tidak terkendali. Ilmu kalian tidak ada gunanya bila tanpa akhlaq yang baik. Paham?" Tanya Topan seraya melihat kedua adiknya lewat kaca spion mobil bagian tengah.
"Iya kak," Sahut Pinky dan Guntur.
__ADS_1
Lalu hening.
Topan pun kembali melajukan mobilnya. Selama perjalanan, tidak ada satu orangpun yang berani membuka mulutnya. Terlebih saat melihat Topan yang tidak dalam kondisi suasana hati yang nyaman.