Masteng

Masteng
82. Pertemuan


__ADS_3

"Halo ibu, apa kabar?" Tanya Lestari saat ia baru saja berada di ruangan Berta.


Berta menyambut Lestari dengan wajah yang semringah. Air wajahnya pun terlihat berbeda, karena ia jauh merasa sehat.


"Saya lebih baik dok," Sahut Berta.


"Syukurlah," Ucap Lestari, sambil melirik Topan yang berdiri di samping Bella, tepat disamping ranjang Berta.


"Ibu sudah bisa pulang ya,"


"Iya dok," Sahut Berta dengan bersemangat.


"Ok kalau begitu, mbak Bella silahkan urus administrasi nya terlebih dahulu ya mbak. Biar kami akan mengurus ibunya," Pinta Lestari.


"Iya dok, terima kasih," Sahut Bella.


Saat Bella melangkahkan kakinya keluar ruangan itu, Lestari pun melihat Topan yang ikut berjalan mengiringi Bella.


"Hmmm, pak Polisi,"


Langkah Topan terhenti saat Lestari menahan dirinya. Sedangkan Bella pun menoleh dan melihat Lestari yang sedang menahan Topan.


"Ya?" Tanya Topan.


Bella mencoba untuk tidak peduli. Ia pun kembali melangkah menuju ke ruang administrasi.


"Saya ingin mengatakan, kalau bisa ibu Berta jangan banyak pikiran dahulu. Harus baik-baik dijaga moodnya dan pikirannya."


"Oh, baik," Ucap Topan.


"Oh iya, bisa bicara sebentar." Pinta Lestari.


Topan terdiam dan menatap Lestari dengan tatapan bingung.


"Bu, saya tinggal dulu ya," Ucap Lestari.


"Iya dok, terima kasih ya." Sahut Berta.


"Sama-sama bu," Lestari tersenyum dan beranjak meninggalkan ruangan itu. Di susul oleh Topan yang berjalan tepat di belakang Lestari.


"Ada apa?" Tanya Topan, saat ia baru saja keluar dan menutup pintu ruangan Berta.


Lestari menatap Topan dengan wajah semringah. Lalu, ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.


"Hmmmm... aku tidak menyangka bila ternyata orangtua kita memiliki hubungan yang baik. Aku benar-benar minta maaf atas sikapku yang kurang baik kepada kamu," Ucap Lestari.


"Bahas itu lagi?" Tanya Topan.


"Hmmm, bukan hanya itu sih," Lestari terlihat salah tingkah.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Topan dengan ekspresi yang datar.


"Keluargaku mengundang keluargamu untuk makan malam akhir pekan ini. Kamu datang kan?" Tanya Lestari.


"Makan malam? Aku tidak diberitahu."


"Oh, belum diberitahu..." Lestari terlihat salah tingkah dengan jawaban Topan.


"Ada yang lain?" Tanya Topan, masih dengan ekspresi wajah yang dingin dan datar.


"Hmmm, aku mau minta nomor ponsel kamu.. mana tahu kita bisa menjadi teman baik."


"Hanya itu?" Tanya Topan lagi.


"Ya." Lestari mengangguk dan tersenyum semringah.


"Maaf, saya tidak mau berteman baik dengan wanita. Karena saya memiliki kekasih." Topan tersenyum tipis dan kembali masuk ke ruangan Berta.


Lestari terdiam, hatinya terasa ditusuk sembilu saat mendengar kata-kata Topan barusan. Wajah nya mulai terlihat gelisah. Entah mengapa ia mulai merasa terobsesi dengan Topan yang sangat dingin kepada dirinya. Sikap Topan yang seperti itu justru membuat dirinya semakin penasaran.


"Lelaki ini..." Gumam nya dengan wajah yang memerah karena amarah.


..


Seorang polisi membuka gembok sel milik Pongki. Lelaki paruh baya yang sedang meringkuk dan tenggelam dalam penyesalan nya itu pun menoleh dan beranjak duduk di atas tilam tipis milik nya. Ia menatap polisi tersebut dengan tatapan yang nanar.


"Pak Pongki, ada yang ingin bertemu." Ucap Polisi tersebut.


"Anak dan istri bapak,"


Seketika air wajah Pongki berubah. Ia terlihat begitu bersemangat, hingga air mata bahagianya pun menetes di pipinya.


"Dimana mereka?"


"Ayo ikut saya," Perintah polisi tersebut.


Dengan penuh semangat, Pongki beranjak dari tilam nya dan berjalan mendahului polisi yang hendak menutup kembali sel tahanan yang ditempati oleh Pongki. Setelah itu, Pongki berjalan mengikuti langkah polisi itu ke arah sebuah ruangan khusus yang akan mempertemukan dirinya dengan buah hatinya.


Sedangkan di ruangan khusus, terlihat kecemasan di wajah Berta dan Bella. Saking cemasnya, Berta terlihat memelintir ujung blus nya dengan jari jemarinya. Matanya terus memandang kearah pintu ruangan tersebut.


"Sebentar ya bu, bapak sedang dibawa kesini oleh rekan saya." Topan mencoba menenangkan Berta. Berta menatap Topan dan mengangguk ragu. Sedangkan Bella, gadis itu mencoba menguatkan Berta dengan menggenggam tangan Berta dengan erat.


"Kok daddy mu lama ya Bel," Ucap Berta.


"Sabar ya mam, Topan tadi kan sudah bilang, kalau daddy sedang menuju kesini," Ucap Bella.


Berta kembali mengangguk dan menatap pintu masuk ruangan itu dengan tatapan yang terlihat begitu cemas.


Bella menatap Topan yang berdiri di samping Berta. Entah mengapa, dengan Topan menepati janjinya seperti ini, membuat Bella mulai tidak melihat kesalahan Topan yang sebelumnya. Bahkan, mulai muncul rasa kagum yang melebihi sebelumnya.

__ADS_1


Topan yang menyadari bila dirinya terus menerus di tatap oleh Bella pun, membalas tatapan Bella. Lalu, tersungging senyuman di bibir Topan, yang membuat Bella menjadi merasa malu karena tertangkap sedang menatap Topan, dengan tatapan yang mengagumi lelaki itu.


"Apa?" Tanya Topan tanpa suara. Hanya bibirnya saja yang bergerak, dan itu dapat dipahami oleh Bella.


Bella tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Love you," Lagi-lagi Topan mengherankan bibirnya tanpa bersuara.


Pipi Bella kembali merona, saking malunya, ia pun membuang tatapannya ke arah pintu ruangan tersebut.


Cklekkk..!


Muncul seorang polisi yang memakai seragam lengkap dan di susul oleh Pongki yang saat ini sudah memakai pakaian tahanan, berwarna orange.


"Pongki!" Jerit Berta. Wanita paruh baya itu berlari mendekati Pongki, hingga ia menabrak tubuh kekasih hatinya itu dan memeluknya dengan erat.


Tangisan pilu pun mulai terdengar, mewarnai pertemuan kedua insan tersebut.


"Dad.." Bella beranjak dari duduknya dan menyusul kedua orangtuanya yang masih berpelukan, untuk melepaskan rasa rindu yang begitu dalam.


"Bella," Ucap Pongki. Kini, ia memeluk dua wanita yang sangat penting du dalam hidupnya.


Tak lama kemudian, Pongki menatap Topan yang berdiri mematung di samping meja yang berada di tengah-tengah ruangan itu. Matanya menyiratkan perasaan syukur dan terima kasih kepada Topan yang sudah memberikan dirinya kesempatan untuk bertemu dengan Bella dan Berta di ruangan khusus itu.


"Gimana kabar mu? Kamu kok kurus? Aku rindu dengan mu... aku tidak bisa tidur Pongki. Maafkan aku yang tidak bisa menemani kamu. Apa kamu sudah makan?"


Pongki tersenyum mendengar Berta yang memberondong dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat ia rindukan.


"Aku harus jawab yang mana dulu?" Tanya Pongki sambil tertawa renyah, walaupun sebenarnya air mata yang membingkai di pelupuk matanya tidak dapat berdusta, bila dirinya merasakan kesedihan yang mendalam atas kerinduan nya kepada Berta.


"Kok kamu masih bisa tertawa sih? Aku sedih Pongki..!" Berta memukul lengan suaminya, diiringi ekspresi wajah yang cemberut.


"Sini, aku sangat merindukanmu." Ucap Pongki sambil memeluk berta sekali lagi.


Bella tersenyum, walaupun dirinya merasa pemandangan di depan nya itu membuat hatinya pilu.


"Topan, terima kasih," Ucap Pongki, saat ia baru saja melepaskan pelukannya dari Berta. Lalu, ia menggandeng tangan Berta menuju ke meja di ruangan tersebut.


Topan hanya mengangguk dan membalas senyuman Pongki. Lalu, ia keluar dari ruangan itu, untuk memberikan kesempatan untuk keluarga kecil itu melepaskan kerinduan mereka.


Dreeettt..! Dreeeettt..!


Topan meraih ponselnya dan menatap layar ponsel miliknya dengan tatapan yang malas.


"Ibu"


Sebenarnya, Topan sudah diberitahukan oleh Erna, bila akhir pekan ini, ada pertemuan dua keluarga. Yaitu keluarganya dan keluarga bapak Agus. Pertemuan itu bertujuan untuk silaturahmi. Meskipun begitu, Topan tahu maksud dan tujuan Erna. Yaitu, Erna ingin Topan dan Lestari menjadi dekat dan saling mengenal lebih baik lagi. Tetapi, jangankan ingin mengenal lebih baik, Topan tidak berniat untuk berakrab-akrab dengan Lestari. Sikap Lestari di halaman parkir kemarin, cukup membuat Topan paham, seorang wanita, cantik saja tidak cukup, tanpa di iringi dengan attitude yang baik.


Topan mematikan ponselnya. Lalu, ia melirik ke jendela kaca dan memperhatikan Bella yang tersenyum bahagia bersama kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Kamu, sampai kapanpun, kamu akan aku perjuangkan." Ucapnya sambil terus menatap senyuman manis Bella.


__ADS_2