
Berta tercengang saat melihat tumpukan uang yang memenuhi dua koper yang ada di hadapannya. Terutama, beberapa surat aset yang ada disana.
"Mengapa daddy mu tidak pernah mengatakan hal ini kepada mami?" Ucap Berta.
Bella mengangkat bahunya, pikiran nya masih tertuju kepada Topan yang telah membantu dirinya. Apakah benar lelaki itu tahu tentang apa yang Bella bawa di dalam koper. Bella merasa takut bila Topan akan melaporkan dirinya. Tetapi, di satu sisi, ia merasa yakin Topan tidak akan melakukannya. Bagaimanapun, bila Topan melakukan itu, namanya pun akan terseret dalam kasus ini.
"Apa yang kita lakukan dengan ini semua mam?" Tanya Bella.
Berta terdiam, bahkan untuk uang sebanyak itu pun ia tidak memiliki ide apa pun untuk itu semua.
"Yang jelas, kita harus membayar pengacara dan hakim," Ucap Berta.
"Mam, itu melanggar hukum!" Bella terlihat tidak setuju dengan ide Berta.
"Terus bagaimana?"
"Aku tidak tahu.." Gumam Bella.
"Ya sudah, kita simpan saja ini. Bagaimana pun, kita harus menyelamatkan daddy mu dulu."
Bella mengangguk setuju. Lalu, ia beranjak ke kamarnya.
"Aku capek, aku mau istirahat dulu ya mam," Ucap Bella.
Berta mengangguk dan membiarkan Bella meninggalkan dirinya bersama tumpukan uang tersebut.
Malam itu, Bella tidak bisa tidur. Pikiran nya selalu tertuju kepada Topan yang memergoki dirinya memasuki rumah orangtuanya yang telah di sita.
"Arghhh..! Mengapa aku seperti ini. Aku takut sekali," Gumam nya.
.
.
.
Topan melangkah mendekati Amoroso yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Pagi itu, Amoroso masih tertidur dengan nyenyak. Disana, terlihat Guntur sedang duduk sambil memejamkan kedua matanya.
"Tur," Panggil Topan.
Guntur tersentak dan menatap Topan dengan pandangan nya yang nanar.
"Kak,"
"Pulanglah, biar aku yang menggantikan sementara waktu. Aku sudah izin dengan komandan, bila aku akan menjenguk bapak," Ucap Topan.
"Oh begitu, baiklah kak," Guntur beranjak dari duduknya dan bergegas meraih tas nya yang terletak di atas meja.
"Oh iya, nanti dirumah, jangan ganggu ibu. Ibu baru saja tidur,"
Guntur terdiam beberapa saat, sebelum ia mengangguk paham.
"Ya kak," Sahutnya.
Guntur pun berpamitan kepada Topan. Lalu, ia pun beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
Topan menatap Amoroso dengan seksama. Lalu, ia melihat Amoroso mulai menggerakkan anggota tubuhnya dan membuka kedua matanya.
__ADS_1
"Kamu," Ucap Amoroso, sesaat setelah ia membuka kedua matanya.
"Bagaimana kabar bapak pagi ini?" Tanya Topan.
"Hmmm, lebih baik. Mengapa kamu tidak ke kantor?" Tanya Amoroso.
"Aku ingin disini. Aku sudah izin dengan komandan ku."
"Apa tidak jadi masalah?" Tanya Amoroso.
"Tidak, bapak tenang saja." Topan menarik kursi dan duduk di kursi tersebut, tepat di sebelah ranjang Amoroso.
Amoroso terus menatap Topan dengan sorot mata yang begitu berbeda dari sebelumnya.
"Apa ada yang ingin kamu katakan?" Tanya Amoroso.
Topan tersenyum dan membalas tatapan Amoroso.
"Tidak,"
"Ada, hanya saja kamu tidak ingin mengatakan nya."
Topan tertawa kecil dan menundukkan wajahnya.
"Pak, bila memang aku bukan anak bapak, apa yang akan bapak lakukan?"
Amoroso tersentak dan membuang pandangannya.
"Pak," Panggil Topan.
Amoroso kembali menatap Topan dengan sorot mata yang kecewa.
Topan mengangguk paham, lalu ia terus menatap Amoroso yang terlihat salah tingkah.
"Bapak mengenal dia?"
"Siapa?" Tanya Amoroso.
"Galang,"
Amoroso terkejut saat Topan bertanya tentang Galang.
"Ya, bapak mengenal dia."
"Dimana dia sekarang?" Tanya Topan lagi.
"Bapak tidak tahu."
"Apa ini orangnya?" Tanya Topan, seraya menunjukkan foto yang pernah dikirimkan oleh Suprapto kepada dirinya.
Amoroso menatap foto tersebut dengan seksama. Lalu, ia menghela nafas panjang.
"Ya, sepertinya."
"Iya atau tidak?" Tanya Topan.
Amoroso mengerutkan keningnya dan menatap Topan dengan seksama.
__ADS_1
"Iya, itu dia." Sahut Amoroso.
"Apa bila aku memang bukan anak bapak, apa yang akan bapak lakukan kepada ibu?"
Amoroso kembali terdiam membisu.
"Aku tahu ini adalah hal yang tidak termaafkan. Aku hanya ingin tahu, apa yang akan bapak lakukan kepada ibu?"
"Tidak ada, aku mencintaimu ibumu. Sampai mati pun, aku akan terus mendampingi dirinya." Topan terlihat lega, ia menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya.
"Pak, apa bapak tahu, aku sangat bangga memiliki bapak? Walaupun bapak bersikap seperti itu kepadaku."
Amoroso terhenyak saat mendengar ungkapan hati Topan.
"Kau? Bangga kepadaku? Kau sedang bercanda?" Tanya Amoroso.
"Tidak, bapak adalah orang yang mencintai tanpa syarat. Aku salut kepada bapak. Bapak telah membesarkan aku, aku sangat berterima kasih akan hal itu."
"Apakah test DNA nya sudah keluar?" Tanya Amoroso.
Topan menggelengkan kepalanya, lalu ia tersenyum kepada Amoroso.
"Bukankah apa pun hasilnya aku tetap anak bapak?" Tanya Topan.
"I-i-iya, kau akan selalu menjadi anak ku," Sahut Amoroso.
"Aku menyayangi bapak," Ucap Topan.
Amoroso menatap Topan dengan genangan air mata di pelupuk matanya.
"Kau,"
"Pak, aku sangat menyayangi bapak. Mari kita mulai dari awal," Ucap Topan.
Amoroso menitikkan air matanya. Lalu, ia beranjak duduk diatas ranjang itu.
"Anak muda, bolehkah aku memelukmu?" Ucap nya.
Topan tersenyum, lalu ia beranjak dari duduknya dan memeluk Amoroso degan erat.
"Maafkan aku," Bisik Amoroso.
....
Di suatu tempat, di pulau Sumatera. Seorang lelaki duduk termenung di balik meja kerjanya. Ia memandangi sebuah foto yang sedang ia pegang di tangan nya. Tak sekalipun lelaki itu mengalihkan pandangannya dari foto yang ia pegang.
Di foto itu, terlihat seorang wanita tersenyum menatap kamera. Di gendongan wanita itu, terlihat bayi laki-laki berusia sembilan bulan, yang juga tersenyum menatap kamera. Bayi laki-laki yang begitu menggemaskan itu terlihat sangat ceria.
Lelaki itu mengusap foto tersebut dan tersenyum tipis. Lalu, ia mengecup foto itu dan kembali menyimpan nya di dalam laci meja kerjanya.
"Tiga puluh satu tahun lebih sudah kita tidak berjumpa." Gumam nya.
Ya, lelaki itu adalah galang. Lelaki yang terus menyimpan perasaan cintanya untuk seorang wanita yang begitu hebat menancapkan cinta di hatinya.
Apakah ia pernah menikah? Tentu saja pernah, namun pernikahan nya dengan wanita yang sempat menjadi istrinya itu tidak bertahan lama. Ia juga tidak memiliki anak dari wanita yang sempat ia nikahi.
Bagaimana pernikahan itu akan berjalan dengan baik? Bila pikiran nya selalu tertuju kepada Erna. Bila dirinya selalu membandingkan wanita yang sedang bersama dengan nya dengan Erna.
__ADS_1
Erna adalah Erna, siapapun tidak akan bisa menjadi Erna, bila patokan Galang adalah Erna. Satu hal yang Galang lakukan adalah, ia hanya ingin Erna dan menunggu Erna sampai wanita itu mau menghubungi dirinya lagi.
"Kamu, apakah kamu tahu, aku masih menunggu kamu?" Bisik nya lirih.