
"Jo, sini... ini bagus buat kamu. Badan mu kan tinggi, tegap, terus kulit kamu putih." Ucap Berta, sambil memanggil Topan yang sedang berdiri mematung di sudut toko pakaian di sebuah mall. Topan sedang mengutuk dirinya sendiri yang harus menyamar sebagai Paijo yang harus mengantar keluarga target nya kesana kemari.
"Yah, apa daya, menyamar sebagai supir sih. Kenapa kemarin aku tidak menyamar sebagai tukang kebun atau bodyguard ya?" Batin nya.
Tetapi, menyamar sebagai Paijo sudah tepat. Karena untuk menjadi bodyguard di rumah Pongki tidak lah mudah. Pongki terbiasa mengambil bodyguard dari agen yang sudah ia percaya sebelumnya.
"I-i-iya kanjeng mami," Ucap Topan sambil beranjak mendekati Berta yang asik memilih pakaian untuk Topan.
"Nih, bagus kan?" Tanya Berta seraya memantaskan pakaian tersebut di tubuh atletis Topan.
"Hehehe... saya jadi gak enak kanjeng mami," Ucap Paijo.
"Hussss! Apa sih... saya lagi stress ini loh. Kamu harus nurut apa saja yang saya mau. Dari pada saya memukuli si Pongki di rumah, lebih baik saya belanja!"
Topan tersenyum geli, lalu ia mengangguk dengan ragu.
"Gitu dong... Oh iya, ukuran celana mu berapa? Sepatu juga?" Tanya Berta.
"Ukuran celana saya tiga puluh tiga kanjeng mami, sepatu empat puluh tiga," Ucap Topan .
"Ok, saya kasih tahu sama mbak nya," Ucap Berta, seraya menghampiri pegawai perlengkapan Pria tersebut.
"Mbak, tolong carikan outfit untuk anak saya ya
Dari atas sampai bawah, pokok nya. berapa pasang pun saya belikan," Ucap Berta.
Topan mengangkat kedua alisnya.
"Duh kanjeng mami... saya merepotkan."
"Ssssttt.. nurut saja," Ucap Berta.
Pegawai toko tersebut menatap Topan dari atas sampai ke bawah. Lalu, ia mengerutkan keningnya.
"Beneran ini anak nya ibu ini? Ganteng sih, tapi kok kampungan. Baju nya baju supir... potongan rambutnya.. ish...." Batin pegawai tersebut.
"Tunggu apa lagi?" Tanya Berta.
"Ng.. nggak kok bu. Baik, mas nya ikut saya ya..." Pinta pegawai tersebut.
Topan mengangguk dan mengikuti pegawai tersebut. Sedangkan Berta tersenyum dan menunggu Topan sambil duduk di sofa yang disediakan di tengah ruangan toko itu.
Cukup lama, Berta menunggu Topan yang memilih pakaian yang pantas untuk dirinya. Hingga akhirnya, Topan keluar dari ruang ganti dan berjalan menghampiri Berta.
"Kanjeng mami," Sapa nya kepada Berta yang sedang asik dengan ponselnya.
Berta mengangkat wajahnya dan menatap lelaki yang berdiri di depan nya. Berta mengerutkan keningnya, ia hampir tidak mengenali Topan yang memakai pakaian ala anak muda masa kini. Sedangkan poni Topan, di ikat kebelakang. Sehingga wajah nya yang tampan, terlihat dengan jelas.
"Pa-Paijo?"
Topan tersenyum kikuk, bagaimana pun, ia tetap harus menjadi Paijo yang di kenal oleh Berta dan keluarganya.
"Saya kanjeng mami," Sahut nya.
"Ya Allah! Kamu ganteng banget ternyata ya!" Seru Berta.
"Bagaimana bu? Yang ini outfit nya ok?" Tanya pegawai toko tersebut.
__ADS_1
"Ok banget!" Seru Berta.
"Baik, yang ini ambil ya bu?"
"Iya!"
"Baik, kami bungkus. Sekarang, kita coba yang lain nya ya bu,"
"Ok!" Berta begitu bersemangat. Ia terus tersenyum bahagia saat melihat perubahan Topan yang begitu drastis. Bagaimana tidak, ia sudah lama merindukan anak pertama nya. Kini, ia merasa anak nya kembali dalam wujud seorang Paijo.
Tak lama kemudian, Topan kembali berdiri di depan Berta. Lagi-lagi, Berta terkejut melihat betapa tampan nya Paijo, kala memakai pakaian yang tepat untuk lelaki itu.
Topan mencoba pakaian hingga 20 kali, dan sebanyak itulah yang dibelikan oleh Berta. Hingga membuat Topan merasa tidak enak dan menolak untuk dibelikan oleh berta.
"Kanjeng mami, nanti potong gaji saja ya," Pinta Topan.
"Sudah.. kamu jangan bawel, nurut!" Ucap Berta saat menggesek kartu debit nya di sebuah mesin pembayaran.
Topan mengulum senyumnya. Ia merasa haru dengan perlakuan Berta kepada dirinya.
"Ini belanjaannya mas," Ucap Petugas kasir, seraya memberikan 10 bungkus paper bag kepada Topan.
"Terima kasih mbak," Ucap Topan dengan gaya Paijo nya yang terkesan canggung.
"Sama-sama," Sahut petugas kasir tersebut.
"Kanjeng mami, terima kasih," Ucap Topan dengan sorot mata yang terlihat menahan perasaan haru dan tangis.
"Sama-sama Jo, sekarang kita ke barbershop yuk,"
"Apa? Babersop? Makan sop?" Tanya Topan dengan wajah polosnya.
"Jangan dong kanjeng mami, saya sudah keren begini." Topan mencoba menolak. Karena ia sangat membutuhkan poni nya untuk menutupi telinga kirinya dari alat komunikasi dengan team nya.
"Jangan protes, ayo!" Ucap Berta seraya menarik lengan Topan menuju ke barbershop yang berada di mall itu.
"Ta-ta-tapi kanjeng mami,"
"Sudah, ayo!"
Mau tidak mau, Topan menurut kepada Berta. Mereka pun memasuki barbershop yang berada di mall itu dan Berta meminta seorang capster memotong rambut Topan seperti apa mau nya. Topan hanya bisa pasrah dan duduk di sebuah kursi dan menghadap ke arah cermin.
"Memang enak lu di kerjain sama emak-emak," Ledek seorang team Topan yang selalu waspada mengikuti Topan kemana saja.
"Shitttttt!" Maki Topan dengan suara yang pelan.
Terdengar tawa puas dari ujung sana, hingga membuat Topan merasa kesal dan mencopot alat komunikasi itu dan menyimpan nya di saku celana nya.
35 menit kemudian, rambut Topan sudah berbeda. Capster memotong rambut Topan dengan begitu rapi. Hingga membuat Topan tampak seperti artis Korea yang begitu tampan. Lagi-lagi Berta terperangah menatap Topan.
"Ya Allah, selama ini kamu itu berlian di dalam lumpur Jo. Di cuci sedikit langsung terlihat kilau nya," Puji Berta seraya terus tersenyum semringah sambil mengusap-usap lengan Topan dengan penuh kasih sayang.
"Te-tetapi, saya gak percaya diri kanjeng mami,"
"Loh, loh, loh, kok gitu."
"Yang kemaren kan gaya saya metal, keren dan mempesona. Sekarang kayak orang kantoran."
__ADS_1
"Ish.. kemarin kamu kayak ubur-ubur! Kamu saja yang terlalu percaya diri seperti itu!"
Topan menahan tawanya. Ia sadar, penampilan nya sebagai Paijo sangat memuakkan, dan kini, ia seperti melihat dirinya yang asli.
"Sini foto dulu," Ucap Berta.
"Untuk apa ya kanjeng mami?"
"Mau saya kirim ke Bella, dia harus lihat kamu seperti ini."
"Ta-ta-tapi, nanti kan ketemu sama non Bella. Saya malu kanjeng mami...."
Ckrekkkk...!
Berta sudah terlanjur mengambil foto Topan dan mengirimkan nya kepada Bella.
...
Bella mengigit bibirnya, ia terlihat sangat gelisah, menunggu kabar dari Noel, tentang Frans.
Dreettt...!
Bella buru-buru meraih ponselnya yang terletak di atas ranjang, dan langsung membuka pesan yang baru saja ia terima. Ekspresi kecewa pun terlihat jelas di wajahnya.
"Gue kira Noel, rupanya mami," Keluh nya seraya mengerutkan dagunya.
Dengan malas, ia membuka pesan dari Berta.
Terlampir sebuah poto disana.
"Foto siapa sih?" Gumam Bella. Ia pun mendownload foto tersebut dan melihat foto tersebut dengan kening yang berkerut.
"Apaan sih mami, pasti dia foto anak teman nya dan mau menjodohkan aku dengan lelaki ini." Gumam nya lagi.
Apaan sih mi!
Balas Bella.
Tak lama kemudian, Berta membalas pesan Bella.
Ganteng gak si Paijo?
Bella yang baru meneguk air minumnya pun tersedak saat membaca balasan pesan dari Bella.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Bella terbatuk-batuk, dan menaruh ponselnya di atas ranjang. Ia menepuk-nepuk dadanya dan meletakkan gelas di tangan nya ke atas meja.
"Paijo?" Gumam nya dengan ekspresi wajah yang tak percaya.
Bella meraih ponselnya kembali dan mengamati wajah Topan di dalam foto yang dikirimkan oleh Berta.
"Masa sih ini Paijo? Gue gak salah lihat?" Gumam nya seraya memperbesar foto tersebut di layar ponselnya.
"Iya! Dia Paijo!" Bella melempar ponselnya di atas ranjang.
Jantung nya berdegup kencang, ia tidak menyangka bila Paijo yang ia kenal terlihat sangat tampan di foto tersebut.
"Mami bawa dia ke barbershop, atau ke klinik Operasi plastik sih?" Batin nya.
__ADS_1
Bella kembali meraih ponselnya dan menatap wajah Paijo dengan seksama.
"Eh buset! Lu ganteng juga ya Masteng!" Ucap Bella dengan wajah yang masih tak percaya.