
Topan berjalan menghampiri Bella yang tengah menunggu dirinya di kafe. Di atas meja, tepat di depan Bella, terdapat dua gelas kopi yang masih panas, yang baru saja dihidangkan oleh pelayan kafe tersebut. Bella tersenyum saat melihat Topan yang sedang berjalan menghampiri dirinya.
"Kok lama?"
Terlihat tetesan air dari rambut Topan, karena dirinya baru saja membasuh wajahnya dan membasahi sebagian rambutnya agar terlihat lebih segar dan tenang.
"Iya, maaf," Sahut Topan.
Bella menatap Topan dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan.
"Kamu kenapa?"
Topan tersenyum dan mengusap sisa air diwajahnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya masih kurang enak badan," Ucap Topan.
"Yah... kenapa tidak ngomong dari tadi... Kalau tahu begitu, mendingan kita kembali saja ke hotel tadi,"
"Tidak, tidak apa-apa. Tetapi, setelah ini kita kembali saja ke hotel,"
"Ah... iya.." Terlihat ekspresi kecewa di wajah Bella. Sebenarnya, malam ini ia sangat ingin menghabiskan waktu bersama dengan Topan. Sebelum esok mereka akan kembali ke kehidupan yang normal, seperti sebelumnya. Berbeda dengan di Bali, mereka bisa bebas berduaan. Tanpa adanya perasaan canggung dengan tatapan para karyawan lain nya di rumah Bella atau tatapan bingung dari orang-orang di luar sana. Karena, bila Topan bertugas menjadi supir, lelaki itu harus memakai seragam supir pada umum nya.
Topan meraih gelas kopinya dan terburu-buru. Lalu, ia kembali meletakkan gelas itu ke atas meja.
Bella mengerutkan keningnya dan menatap Topan dengan seksama.
"Bukan nya masih panas?" Tanya Bella dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Sudah tidak," Sahut Topan.
Dengan ragu, Bella meraih gelas kopi miliknya dan mulai menyeruput kopi itu.
"Huffff..." Rasa panas membakar lidah dan bibir Bella dan hampir saja kopi itu tumpah dari gelas yang sedang ia pegang.
"Masih panas tau..." Ucap Bella dengan ekspresi yang manja.
Topan terlihat merasa bersalah, lalu ia mengambilkan tisu yang terdapat di atas meja, lalu ia mengusap tisu itu ke bibir Bella.
"Maaf, tapi bagiku tidak panas. Ah... bukan, sudah tidak panas maksudnya."
Bella menahan tangan Topan yang tampak gemetar saat lelaki itu mengusap bibirnya dengan selembar tisu.
"Katakan padaku, ada apa?" Tanya Bella.
Topan terdiam, lalu ia menundukkan pandangan nya.
"Jo..."
"Hmmm, kita kembali ke hotel saja ya. Sudah pukul sepuluh malam. Aku rasa, aku butuh istirahat," Ucap Topan yang langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kasir kafe itu.
__ADS_1
Bella semakin bingung melihat sikap Topan malam ini. Ia merasa Topan seperti berubah kepada dirinya.
Tidak berapa lama kemudian, setelah Topan membayar tagihan pesanan Bella, Topan pun kembali ke meja itu untuk mengajak Bella meninggalkan kafe tersebut.
"Ayo.." Topan mengulurkan tangannya ke hadapan Bella yang masih duduk di kursi kafe itu.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Bella dengan wajah yang khawatir.
"Bella, aku sudah katakan, bila aku sedang tidak enak badan. Hanya itu," Ucap Topan.
Bella menghela nafas panjang dan menyambut tangan Topan yang masih menunggu untuk di sambut olehnya.
"Ya sudah lah," Bella mengerutkan dagunya dan berjalan bersama dengan Topan sambil menggandeng tangan kekasihnya itu.
"Kamu sedih ya, kalau besok kamu bakalan menjadi supir lagi?" Tanya Bella saat mereka berdua berjalan untuk mencari sebuah taksi untuk mereka tumpangi dan membawa mereka kembali ke hotel.
Topan hanya tersenyum kecil, lalu ia melirik Bella yang tampan sangat cantik pada malam ini.
"Aku tidak akan malu jalan dengan kamu, walaupun kamu memakai seragam supir. Aku akan menggandeng tangan kamu. Atau begini saja..." Bella menghentikan langkahnya dan menatap Topan dengan tatapan yang begitu lembut.
"Apa?" Tanya Topan.
"Dirumah, kamu memakai seragam supir. Kalau sudah di luar, ganti saja seragamnya."
Topan tertawa mendengar ide dari Bella. Tetapi, jauh di lubuk hatinya, ia merasa sangat sedih mendengar ucapan Bella.
"Oh iya, minggu depan aku akan wisuda. Kamu harus hadir dan berfoto dengan ku," Sambung Bella.
"Iiihhh... aku bilang, kamu harus datang dan berfoto denganku. Eh, tapi kamu pasti datang ya.. kan kamu yang mengantarkan aku. Tetapi, kamu pakai baju resmi ya... seperti kemeja gitu," Bella tersenyum semringah.
Topan menatap kedua bola mata Bella yang indah. Sinar lampu jalan, membuat ada kilatan yang indah yang terpantul di mata Bella yang berwarna cokelat tua.
"Insya Allah," Sahut Topan.
"Ih, kok Insya Allah sih. Berarti ada kemungkinan kamu tidak ada?" Bella kembali mengerutkan dagunya.
"Ya, semua tidak ada yang pasti. Bisa jadi besok aku harus pulang kampung. Bisa jadi juga aku disuruh mengantarkan siapa gitu. Dan bisa jadi juga...."
"Sssttt... pokoknya harus datang ya... sayang..."
Topan terpaku saat Bella menyebut dirinya dengan panggilan sayang. Hatinya semakin hancur, pikirannya semakin kacau.
"Ah itu taksi," Ucap Topan, yang berniat mengalihkan pembicaraan dan kebetulan juga ada taksi yang sedang berjalan ke arah mereka.
Bella menghela nafas panjang dan menatap Topan dengan ekspresi wajah yang tampak kecewa.
"Ayo masuk," Ucap Topan saat ia baru saja membukakan pintu belakang taksi yang baru saja berhenti di depan mereka.
Bella hanya mengangguk, lalu ia menurut saja dengan ucapan Topan dan memasuki taksi tersebut. Setelah itu, Topan pun menyusul Bella ke dalam taksi tersebut.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, kedua insan itu seperti larut dengan pikiran nya masing-masing. Topan yang sedang larut dalam pikirannya antara tugas dan hati. Sedangkan Bella, gadis itu larut dalam pikiran yang kalut. Ia merasa Topan sedih bila harus kembali ke Jakarta. Tetapi di satu sisi yang lain nya, Bella merasa Topan berubah sikap dengan dirinya. Bukan Topan tidak lagi mencintai dirinya. Hanya saja, sepertinya Topan akan meninggalkan dirinya. Entah darimana perasaan dan pikiran itu datang. Tetapi sepertinya, Bella mempunyai firasat itu dengan kuat.
"Apakah sesuatu akan terjadi?" Tanya Bella, setelah 5 menit mereka berada di dalam taksi tersebut.
Topan menatap Bella dengan tatapan yang tidak bisa Bella artikan.
"Apakah kamu tidak akan bekerja di rumah ku lagi?" Tanya Bella lagi.
Topan terdiam, ia hanya bisa meraih tangan Bella dan menggenggam nya dengan erat.
"I love you more than you know," Ucap Topan. Lalu, ia mengecup punggung tangan Bella.
Entah mengapa, hati Bella merasa bersedih saat Topan mengatakan kata-kata yang harusnya membuat dirinya tersipu malu. Lalu, ia merebahkan kepalanya di dada Topan. Topan pun melingkarkan tangannya di tubuh Bella. Lalu, ia mengecup puncak kepala Bella dengan lembut.
"Jo..."
"Ya..."
"Kamu benar, tidak ada yang tahu apa yang terjadi kedepannya. Tetapi, tahukah kamu..."
"Apa?"
"Kamu orang pertama yang membuat aku jatuh cinta bukan karena memandang fisik mu."
"Terus?" Tanya Topan penasaran.
Bella yang masih di dalam pelukan Topan pun mendongak dan menatap Topan dengan seksama. Topan membalas tatapan Bella dengan mata yang mulai memerah.
"Aku rasa, aku mulai jatuh cinta karena sikap kamu memperlakukan aku. Jauh sebelum kamu mengubah gaya mu. Karena kecerdasan kamu, karena lucu nya kamu... Ah.... Jo..."
Bella beranjak dari pelukan Topan dan menatap Topan dengan senyum diwajahnya.
"Kamu baik, kamu sopan dan kamu... kamu pemilik hatiku saat ini, dan aku harap... Kita bisa bersatu selamanya. Aku tidak peduli siapa kamu, pendidikan kamu dan apa pun yang terjadi...."
"Ssstttt...!" Topan menempelkan jari telunjuknya di bibir Bella yang berwarna Cherry segar.
"Aku tahu, dan apa pun yang terjadi. Aku berjanji akan selalu ada untuk mu. Walaupun...."
"Apa?" Tanya Bella sambil menatap Topan dengan lekat.
"Walaupun aku tidak bisa disamping mu. Aku akan selalu ada dalam bentuk apa saja. Termasuk doa, angin, hujan, panas, mendung..."
Bella tertawa geli,
"Kamu itu apa? Avatar?" Bella mencubit pipi Topan dengan pelan.
"Aku... aku adalah apa saja yang berada di sekitar kamu." Ucap Topan sambil tersenyum.
Bella mengulum senyumnya dan mengecup bibir Topan dengan lembut. Topan terpaku saat bibir Bella menyentuh bibir nya dengan lembut.
__ADS_1
"Dan kamu, adalah pemilik hatiku," Bisik Bella.