Masteng

Masteng
120. Maafkan Ibu


__ADS_3

Bella dan Berta baru saja sampai dirumah mereka. Seperti seorang yang baru sukses merampok sebuah bank, berta membawa dua buah koper secara bersamaan kedalam rumahnya, setelah koper-koper itu di turunkan oleh Bella.


Sementara Berta membawa masuk koper-koper itu, Bella lebih memilih bertahan di luar rumah. Setelah mengunci mobil milik Topan, ia pun duduk di teras rumahnya. Sambil terus memandangi pesan yang ia terima dari Topan. Pesan itu sedikit mengganggu bagi Bella, karena ia merasa takut bila Topan mengetahui apa yang ia bawa dari rumah itu, dan mengapa Topan lebih memilih tutup mulut dan mata atas aksi yang ia perbuat. Bukankah itu telah melanggar sumpah dari apa yang Topan emban?


Flashback


Topan menatap mobil yang di kendarai Berta memilih jalan yang bukan menuju ke jalur keluar menuju ke jalan raya. Karena bila Berta benar-benar ingin pulang, ia akan memilih belok ke kiri, bukan ke kanan. Tentu saja itu membuat Topan merasa curiga, telah terjadi sesuatu di dalam rumah tersebut.


Walaupun Topan sempat pergi bersama dengan mobilnya, tetapi hati kecilnya meminta dirinya untuk kembali ke rumah tersebut. Topan pun akhirnya mengikuti kata hatinya dan kembali ke rumah bekas kediaman Pongki dan keluarganya.


Setelah kembali mengamati rumah itu, akhirnya Topan memilih untuk masuk kedalam rumah itu. Entah mengapa, ia merasa Bella sedang berada disana dan melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Merasa khawatir, Topan segera berinisiatif untuk mencari tahu.


Pagar itu terkunci oleh gembok, tentu saja Topan tidak bisa masuk, dan ia sudah berpikir bila Bella telah memanjat pagar setinggi itu.


"Sungguh nekat," Gumam nya.


Bella yang nekat seperti itu, membuat Topan merasa yakin, bila Bella sedang mengambil sesuatu yang penting di dalam rumah tersebut. Beruntung, Topan adalah petugas yang terlatih, dengan gampang, ia membuka gembok tersebut dengan cara yang ia dapatkan dari pelajaran melarikan diri, yang di ajarkan oleh pelatih yang terbukti kualitasnya.


Topan melangkah masuk kedalam gerbang pertama. Tidak lupa, ia kembali menutup gerbang tersebut seakan-akan gerbang itu masih terkunci. Topan berjalan menuju ke gerbang kedua, yang terlihat sedikit terbuka di pintu kecil khusus pejalan kaki. Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Amatir sekali," Gumam nya.


Dengan langkah pelan, Topan memasuki halaman rumah. Ia berjalan menuju ke pintu depan. Tetapi, pintu tersebut masih terkunci dengan sempurna, tanpa ada tanda-tanda perusakan disana.


Topan pun langsung menuju ke pintu belakang, disana ia menemukan sebuah tangga yang tersender di dinding, tepat di sebelah pagar balkon yang hanya setinggi satu meter setengah.

__ADS_1


"Boleh juga," Gumam nya.


Topan melepas sepatunya dan memanjat tangga tersebut, dan kini ia sudah berada di area balkon tersebut. Perlahan, Topan berjalan mengamati lantai atas tersebut. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Bella disana. Tiba-tiba saja terdengar seperti meja tergeser di lantai bawah. Karena rumah tersebut sepi tanpa listrik, tentu saja sedikit saja bunyi akan terdengar dengan jelas.


Perlahan, topan berjalan menuju ke lantai bawah. Ia mengikuti sumber suara tersebut, terutama pekikan Bella yang terdengar begitu bersemangat saat melihat banyaknya uang di depan matanya.


Topan menghentikan langkahnya di depan ruangan kerja Pongki. Kamar tersebut tertutup rapat. Bila saja ia membuka pintu tersebut, sudah dipastikan dirinya akan ketahuan oleh Bella. Bila ketahuan, akan terjadi momen yang sangat canggung. Maka, Topan memilih menunggu Bella di depan gerbang kedua saja.


Topan pun beranjak kembali ke gerbang kedua dan menunggu cukup lama disana. Ia sempat menghabiskan 4 batang rokok untuk membunuh rasa bosan nya.


Tak lama kemudian, ia melihat Bella muncul dengan dua koper di tangan nya. Tanpa Bella menyadari kehadiran dirinya di antara pepohonan yang berada di halaman tersebut.


Melihat Bella merasa bingung, Topan yabg awalnya tidak ingin memergoki Bella, akhirnya ia memutuskan untuk membantu kekasihnya itu. Tidak ingin berpikir buruk, Topan mencoba mengangkat koper tersebut untuk mengira-ngira apa yang berada di dalam koper itu. Topan pun tersenyum mendengar alasan Bella yang tidak masuk akal. Seprai dan baju, Bella bisa memintanya kepada dirinya bila memang membutuhkan kedua nya. Atau, Bella bisa membeli yang baru, karena Bella tidak benar-benar jatuh miskin saat ini.


Dengan mengangkat koper itu saja, Topan sudah tahu apa yang berada di dalam koper itu. Namun, ia mencoba untuk tidak mau tahu. Karena baginya dengan begitu, ia tidak akan membuat Bella memohon kepada dirinya. Sudah cukup ia memberikan Bella air mata selama Pongki tertangkap. Untuk kali ini, ia mencoba menutup matanya, karena ia paham, tidak semua yang Pongki dapatkan itu dari hasil uang haram. Lelaki itu cerdas, ia pasti akan mempersiapkan yang terbaik untuk anak dan istrinya. Maka, Topan membiarkan Bella dan Berta lolos begitu saja, tanpa menghakimi mereka atau mencari tahu apa isi dari koper itu. Selain mencintai Bella, ia pun sudah berjanji kepada Pongki, bila dirinya akan selalu menjaga Bella dan Berta.


Walaupun salah, Topan berusaha untuk tidak memikirkan nya. Andaikan bila ada yang mengetahui, sudah pasti Topan harus mempertaruhkan pangkatnya saat ini.


Topan baru saja sampai di rumahnya. Ia membuka pintu rumah tersebut dan melangkah masuk kedalam rumah dinas Amoroso yang di tempati oleh keluarganya tersebut.


Suasana di rumah itu terlihat sepi. Bahkan, lampu-lampu sudah dipadamkan untuk menghemat energi listrik. Topan berjalan ke arah kamar Erna, ia pun terdiam saat mendengar isak tangis yang berasal dari kamar tersebut. Topan mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka, dan ia melihat Erna disana.


Erna, wanita itu duduk di tepi ranjang dengan sebuah kaleng biskuit tua di pangkuan nya. Kaleng biskuit itu terbuka dan terlihat tumpukan surat di dalamnya.


"Bu," Sapa Topan.

__ADS_1


Erna terperanjat dan buru-buru menutup kaleng biskuit tersebut.


"Itu apa?" Tanya Topan yang berjalan mendekati dirinya.


"Bukan apa-apa," Sahut Erna, seraya menghapus air matanya dan menyembunyikan kaleng biskuit itu di balik punggungnya.


"Boleh saya lihat?" Tanya Topan.


"Jangan!" Cegah Erna sambil mengangkat tangan nya, untuk mencegah Topan mendekati dirinya.


Tiba-tiba saja, mata Erna tertuju ke album tua, bersampul kain beludru berwarna merah. Ia tertegun dan mengerutkan keningnya.


"Dari mana kamu dapatkan itu!" Bentak Erna.


Topan terpaku, ia menatap album yang berada di genggaman tangan nya.


"Bu.. aku.."


"Jangan pernah cari tahu sendiri!" Bentak Erna lagi.


Topan yang melihat Erna yang akan bersiap-siap untuk merebut album itu pun mencoba menghindari Erna. Lalu, ia memeluk ibunya itu dengan erat.


"Aku mohon, katakan lah yang sebenarnya. Ceritakan lah kepada ku bu. Aku ini anak siapa? Aku sudah dewasa, aku tidak akan menghakimi ibu. Tidak sekalipun. Semua orang pernah berbuat salah, dan aku pastikan aku tidak akan membenci wanita yang telah melahirkan aku ke dunia ini, seberapa besar pun kesalahan yang telah ibu lakukan."


Erna terdiam, lalu perlahan tangisan nya pun pecah di pelukan Topan.

__ADS_1


"Maafkan ibu... maafkan ibu...!" Sesal Erna.


__ADS_2