
Tiga hari sudah Topan berada di Riau, dan hari ini, ia terpaksa harus kembali ke Jakarta, untuk melaksanakan tugasnya sebagai pelayan masyarakat. Terlihat Galang dan Topan, mengeluarkan koper-koper milik Erna dan Topan dari bagasi mobil milik Galang. Setelah itu, mereka berjalan ke pintu keberangkatan di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II.
"Topan!" Panggil Suprapto yang sedang berlari menghampiri Topan.
"Bang!" Topan tersenyum semringah saat melihat Suprapto menyempatkan diri untuk melepas kepergian nya ke Jakarta.
"Ughh! ku kira aku sudah terlambat!" Suprapto berhenti di depan Topan seraya terengah-engah mengatur nafasnya setelah ia berlari dari parkiran.
"Terima kasih bang, sudah menyempatkan diri," Ucap Topan seraya menyalami Suprapto.
"Sama-sama Pan. Namanya kau adik ku," Ucap Suprapto seraya memeluk Topan dengan erat.
Tiba-tiba saja, mata Suprapto melihat Galang dan Erna yang sedang berbincang tak jauh dari mereka.
"Upsss..!"
"Kenapa bang?" Tanya Topan, seraya melepaskan pelukan nya dari tubuh Suprapto.
"Ada bapak Kapolda!"
Topan tersenyum dan menundukkan wajahnya.
"Mau aku kenalkan bang?"
Suprapto menatap Topan dengan seksama.
"Jadi?"
"Ya, dia bapak kandungku." Potong Topan.
Suprapto menghela nafas panjang dan mengangguk paham. Dia enggan untuk bertanya lebih banyak lagi. Pengakuan Topan sudah sangat cukup dan tidak ada urusan nya untuk mengorek tentang masa lalu Topan, kecuali Topan memang sengaja berbicara atau meminta pendapatnya. Hanya saja, di dalam hati Suprapto sempat berkata, "Ternyata gosip selama ini, benar adanya". Ya, Topan adalah anak hasil dari perselingkuhan antara Erna dan Galang.
"Ya sudah, kau baik-baik disana ya. Ini ada sambal dan lauk dari kakak mu. Kau terima ini." Suprapto menyerahkan wadah plastik yang terbungkus rapi oleh paper bag.
Topan menatap pemberian Suprapto dan menatap Suprapto dengan tatapan haru.
"Terima kasih bang, salam buat kakak," Ucap Topan seraya menerima pemberian Suprapto.
"Sama-sama pan. Kemarin waktu kau kerumah ku, kita tidak sempat berbincang banyak. Lain waktu, datanglah. Biar kita bisa bercerita banyak hal." Pinta Suprapto.
"Pasti bang, aku akan selalu mengunjungi Riau. Karena ada bapak ku disini." Topan tidak lagi sungkan mengakui Galang adalah bapak kandungnya.
Suprapto hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu, ia dan Topan melangkah mendekati Erna dan Galang yang sedang berbincang.
"Pak, bu," Sapa Suprapto.
"Suprapto... ibu kembali ke Jakarta ya," Ucap Erna.
"Iya bu, hati-hati." Sahut Suprapto seraya mengecup punggung tangan Erna.
"Pak," Suprapto memberikan hormat kepada Galang. Walaupun tidak saling mengenal, dalam kesatuan, Galang tetaplah atasan nya.
Galang membalas hormat dari Suprapto. Lalu, ia menatap Suprapto dengan seksama.
"Kamu dinas dimana?" Tanya Galang.
"Saya di Polres pak,"
"Oh," Galang tersenyum dan mengangguk paham.
"Teman Topan? Berapa lama kenal Topan?" Tanya nya lagi.
"Sudah lama sekali Pak, iya.. kami dulu dinas bersama dan satu team," Terang Suprapto.
"Senang berkenalan denganmu. Siapa saja teman anak saya, itu juga akan menjadi anak saya. Rajin-rajinlah datang kerumah saya. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk mu,"
"Terima kasih pak," Ucap Suprapto dengan wajah yang terlihat antusias.
__ADS_1
"Ya sudah, masuklah.." Ucap Galang kepada Topan dan Erna.
Galang dan Erna mengangguk. Lalu, Topan memeluk Galang dengan erat.
"Aku pergi dulu ba. Baba sehat-sehat disini ya. Jangan lupa janji baba untuk melamarkan gadis impian ku."
Galang tersenyum dan membalas pelukan hangat dari putra semata wayangnya itu.
"Baba berjanji nak. Kamu juga baik-baik disana. Jaga ibumu dan adik-adik mu. Baba akan datang dalam waktu dekat ini. Mungkin beberapa hari kedepan."
"Siap pak Kapolda!" Ucap Topan seraya memberikan hormat nya kepada bapak kandungnya itu.
Galang tersenyum dan membalas hormat dari Topan. Lalu, ia menatap Erna yang berdiri di hadapan nya. Tatapan yang tidak pernah berubah setelah hampir 32 tahun lamanya. Tatapan itu tetap teduh dan penuh cinta kepada wanita yang sangat ia cintai itu.
"Kamu baik-baik disana ya. Aku harap, silaturahmi kita tetap terjaga."
"Iya mas," Sahut Erna.
"Dan jangan lupa, aku selalu mencintaimu. Menunggumu dan berharap kepadamu." Tutup Galang.
Topan dan Suprapto terlihat canggung saat Galang mengatakan kalimat tersebut di depan mereka. Pun dengan Erna yang merasa malu karena Galang mengatakan hal itu di depan Topan dan Suprapto.
"Kamu ini," Pipi Erna bersemu merah.
"Aku tidak peduli. Aku mencintaimu hingga detik ini. Esok, lusa dan selamanya."
"Haizzzzz..!" Topan menepuk dahinya. Sedangkan Suprapto memutar bola matanya dan lalu menatap Topan sambil menahan tawanya.
"Bahaya sekali kalau orangtua masih cinta-cintaan. Kita yang masih muda kalah telak, kalau begini. Aku saja dengan istriku tidak seperti ini," Bisik Suprapto.
"Saya mendengar nya," Ucap Galang, tanpa menoleh sedikitpun kepada Suprapto, namun jari telunjuknya menunjuk Suprapto dengan tepat.
"Ma-maaf pak," Suprapto menjadi salah tingkah karena kekonyolan dirinya sendiri.
"Ya sudah, aku berangkat dulu," Ucap Erna, seraya meraih kopernya.
"Biar aku saja bu," Ucap Topan, lalu Topan meraih dua koper tersebut.
"Yuk bang, ada yang mau berpelukan, namun segan dengan anaknya. Kita minggir dulu," Ajak Topan.
"Ah.. iya lah... cabut kita," Suprapto tertawa dan mengikuti Topan yang menjauh dari Galang dan Erna.
"Anak-anak ini ada-ada saja," Keluh Erna yang terlihat salah tingkah.
"Memang iya kok, aku ingin memeluk mu,"
"Jangan gila deh mas, ini ramai loh... Siapa yang tidak kenal mas disini.."
"Tidak semua orang kenal aku, dan andaikan ada yang kenal pun, aku tidak peduli."
"Mas..." Pipi Erna semakin memerah karena ucapan Galang yang tidak pernah berubah dari dulu. Galang selalu romantis, sedang Amoroso adalah tipikal orang yang sangat kaku. Itulah mengapa, kenangan bersama galang begitu indah di memori Erna.
"Bolehkah aku memelukmu. Aku sudah dapat izin dari anak kita," Ucap Galang.
Erna menoleh ke kiri dan ke kanan. Lalu, ia menundukkan wajahnya.
"Erna, bolehkah?"
Erna mengangkat wajahnya dan tersenyum kepada Galang.
Galang membalas senyuman Erna. Lalu, ia merengkuh tubuh Erna ke dalam pelukannya.
Seakan waktu berputar ke tahun 1986. Dimana pertama kali Galang dan Erna mendeklarasikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Di sebuah taman, di pinggir Kota Jakarta, disanalah Galang pertama kali memeluk tubuh Erna. Saat itu, Erna masih memakai seragam putih abu-abu.
Galang menatap Erna, dalam pandangan nya saat ini, Erna masih seperti saat masih miliknya. Pun dengan Erna, ia menatap Galang, seakan galang masih seperti dulu, dimana masih terlihat muda dan gagah sekali.
"Mas.." Erna melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah dari Galang.
__ADS_1
Semua seakan kembali ke masa kini, dimana mereka sudah sama-sama berusia senja.
"Erna, mungkinkah masih ada kesempatan itu?" Tanya Galang.
Erna menatap Galang dengan tatapan yang sendu. Lalu, ia menggelengkan kepalanya,
"Aku tidak tahu. Beri aku waktu ya mas. Aku baru saja kehilangan suami ku. Bila kita berjodoh, selalu ada jalan kearah sana. Tetapi, apakah kamu tidak malu berjalan dengan ku yang sudah keriput ini?" Tanya Erna.
Galang tersenyum dan terus menatap Erna dengan tatapan penuh kasih.
"Kamu pasti ingat janji terakhir ku. Aku mencintaimu, aku akan menunggumu setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan selamanya. Tidak peduli bagaimanapun keadaan kamu. Mau itu kamu sudah tidak bisa apa-apa, menua dan atau bahkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku akan tetap menerima kamu apa adanya. Aku mencintaimu dengan hati, aku pun akan memandang mu di hati mu. Buka masalah fisik. Ini cinta, Erna... Cinta yang sebenar-benarnya cinta."
Erna meneteskan air mata saat mendengar ucapan Galang yang tetap sama seperti puluhan tahun yang lalu.
"Mengapa mas begini, mengapa? Hanya karena aku..."
"Aku tidak tahu, aku hanya menuruti apa kata hatiku. Aku cinta kamu, aku cinta mati kepadamu. Aku sudah berjanji, dan aku akan selalu menepatinya. Aku tidak peduli siapapun, aku tetap mencintaimu. Selama ini aku diam, karena aku memahami kondisi mu yang sudah memilih bersama dengan Amoroso. Aku harus hargai itu. Tetapi janjiku, tetap aku pegang dan kamu bisa lihat sekarang. Aku mencintaimu bukan main-main."
Erna mengigit bibirnya, air mata terus mengalir di pipinya.
"Sampai jumpa di Jakarta mas,"
"Sampai jumpa bidadari ku. Semoga kamu selamat sampai tujuan. Tunggu aku di Jakarta."
Erna tersenyum dan mengangguk. Lalu, ia menyodorkan tangan nya untuk dapat di jabat oleh Galang. Galang menyambut tangan Erna dan mengusapnya dengan lembut.
"Baik-baik disana. Ingat, aku mencintaimu lebih dari apa pun. Selamat jalan.."
Erna tersenyum dan mengusap air matanya. Lalu, ia melepaskan tangan nya dan melangkah meninggalkan Galang.
..
Terlihat di samping pintu masuk gate keberangkatan, Topan dan Suprapto terus menatap Galang dan Erna. Mereka berdua menghela nafas panjang dan lalu saling menatap.
"Satukan lah mereka Pan," Ucap Suprapto.
"Kalau aku mau-mau saja bang, hanya saja... semua keputusan ibu. Ibu masih kehilangan Bapak. Biarkan waktu yang menyatukan cinta mereka. Bagaimana akhirnya, hanya mereka berdua yang memilih seperti apa ending dari kisah cinta mereka," Ucap Topan.
"Hhhhhh... Kayak nonton sinetron aku loh.." Suprapto mengusap air matanya.
"Abang kok nangis?" Tanya Topan dengan ekspresi nya yang terheran-heran.
"Aku gak nangis, kelilipan ini. Banyak sekali debu disini Bah!" Suprapto mencari-cari alasan.
"Alahhh.." Topan tertawa geli melihat ekspresi wajah Suprapto.
"Heh, aku walaupun tegap begini, hati ku kayak hello Kitty tau! Gak bisa aku melihat adegan romantis begini. Apa lagi kisah cinta yang tak sampai.. Kayak sinetron yang biasa di tonton sama istri ku!"
"Hahahahahha.. parah!" Celetuk Topan.
"Heh anak muda! Kau belum tahu ya, setelah berumah tangga, berani kau merebut remote televisi saat istrimu menonton, tamat lah riwayat mu!"
"Segitunya?" Tanya Topan.
"Kau rasakan sendiri lah, sebentar lagi kau kan akan menikah. Berani kau sama istrimu? Ku angkat empat jempol!" Suprapto hampir saja melepas sepatunya untuk memamerkan jempol kakinya kepada Topan.
"Ah, gak percaya aku!"
"Makanya kau coba, kau tau senapan mesin kalau lagi menembak? Nah, omelan istri itu lebih cepat dari senapan mesin! Tahu kau efek dari bom atom? Nah, kalau istri marah, bukan hanya Hiroshima yang hangus, tapi harga dirimu pun hangus! Kau kira senjata itu berat? Lebih berat lagi berdebat sama istri. Apa lagi kalau istrimu itu sangat-sangat pintar. Habislah kau!"
Topan terdiam, ia menelan salivanya dan mulai membayangkan Bella yang imut dan lembut berubah menjadi istri yang seperti di bayangkan oleh Suprapto.
"Apa iya?" Gumam nya.
"Coba makanya coba woooiii!" Suprapto terlihat kesal dan kembali menatap Topan.
"Sudah, ibumu sudah ke arah sini. Masuk lah lagi. Hati-hati, semoga kau selamat mendarat di Jakarta, itu harapan ku. Biar kau merasakan juga berumah tangga dan di omelin istri. Ok, bye!" Suprapto terkekeh dan beranjak dari hadapan Topan. Lalu, ia berpamitan kepada Erna dan berjalan mendekati Galang.
__ADS_1
Topan hanya terdiam dan menuntun Erna untuk masuk ke dalam gedung Bandara tersebut.
"Kurang ajar! Dia menakut-nakuti ku!" Batin Topan.