
"Siap pak, hadir," Ucap Bagus, saat ia baru saja masuk ke ruangan Amoroso.
"Silahkan duduk," Amoroso mempersilahkan Pak Bagus untuk duduk tepat di hadapannya.
Bagus menarik kursi di depan Amoroso. Lalu, ia beranjak duduk di kursi tersebut.
"Begini Pak Bagus, saya menerima gosip miring tentang saya dan keluarga."
Bagus terhenyak, ia menatap Amoroso dengan tatapan tak mengerti.
"Maaf pak, gosip apa ya?" Tanya Bagus.
"Semalam, istri saya baru saja menerima telepon dari istrinya pak Bagus. Dan dia menangis,"
"Astaghfirullah pak, benarkah itu?" Tanya Bagus.
"Ya..."
"Saya mohon maaf pak, kalau boleh saya tahu, gosip apa ya pak? Biar saya bisa mendidik istri saya," Wajah Bagus mulai terlihat cemas.
"Mengenai gosip apanya, bisa bapak tanyakan langsung pada istri bapak. Hanya saja, saya ingin bertemu dengan istri bapak nanti malam pukul tujuh di rumah saya,"
Bagus termenung, ia benar-benar merasa takut sekali, bila istrinya menyebabkan masalah yang membuat karirnya terancam.
"Tapi pak, sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan istri saya."
"Tidak apa, saya tahu istri bapak hanya menyampaikan saja pada istri saya. Justru bagus sekali. Hanya saja, saya butuh kesaksian dari istri bapak, siapa awal mula penyebar gosip tersebut." Terang Amoroso.
Bagus menghela nafas panjang. Ia terlihat sedikit lega. Hanya saja, ia tetap menyesali sikap istrinya yang gegabah menyampaikan gosip kepada istri dari atasan nya sendiri.
"Baik pak, saya akan datang pukul tujuh malam,"
"Saya tunggu, silahkan kembali ke ruangan bapak," Ucap Amoroso.
"Terima kasih pak," Bagus pun beranjak dari duduknya dan memberikan hormat kepada Amoroso. Amoroso hanya mengangguk dan tersenyum tipis kepada Bagus.
Setelah Bagus keluar dari ruangannya, Amoroso kembali tenggelam dalam pikirannya. Ia kembali teringat akan pembicaraan nya dengan Erna tadi malam, tentang Topan. Ia ingat betul apa yang dikatakan oleh Erna, malam tadi.
"Jujur, Topan adalah anak mu, bila kamu yakin dia anak mu. Tapi, bisa jadi dia bukan anak mu, bila kamu memang merasa dia bukan anak mu. Mengapa kamu tidak mencari tahunya sendiri dengan mengecek test DNA? Tidak usah takut, aku pun pasrah. Itulah kejujuran dari ku."
Jawaban yang rancu dari Erna membuat Amoroso semakin bertanya-tanya. Tetapi, untuk menghindari gosip yang takutnya kian meluas, adalah tanggung jawab darinya sebagai seorang kepala rumah tangga dan seorang yang memiliki jabatan yang tinggi.
Amoroso menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan gusar.
__ADS_1
"Tuhan..." Keluhnya.
.
"Bella Anastasya Susilo,"
"Iya saya," Sahut Bella seraya tersenyum ramah kepada seorang wanita yang akan mewawancarai dirinya di sebuah ruangan , diperusahaan asing.
Wanita dengan rambut sebahu, memakai blazer berwarna ungu pekat dan rok hitam selutut itu menatap Bella dengan tatapan sinis.
"Kamu bukan nya anak dari Pongki Susilo?"
Bella terdiam, saat wanita itu bertanya tentang siapa dirinya.
"Maaf?" Bella mengernyitkan dahinya dan menatap wanita itu dengan seksama.
"Oh, jadi benar kamu anak nya Pongki Susilo yang baru-baru ini tertangkap, karena memiliki pabrik narkoba?"
Bella menelan salivanya dan tampak menahan emosi dan rasa malunya.
"Maaf bu, hubungan nya apa ya, dengan masalah keluarga saya. Bukankah saya kesini untuk wawancara kerja?" Tanya Bella.
"Sangat berpengaruh, karena bagaimana kamu bisa memahami para pekerja bila kamu sendiri tidak bisa menilai tentang orangtuamu sendiri."
Dada Bella terasa sesak, ia menghirup nafas dalam-dalam.
"Saya juga tidak tertarik untuk bergabung dengan perusahaan yang memiliki karyawan dengan pemikiran yang dangkal. Terima kasih," Ucap Bella, seraya merampas berkas lamaran kerjanya dari tangan wanita itu. Lalu, ia beranjak dari ruangan itu dengan mata yang basah.
Semua orang menatap Bella yang keluar dengan raut wajah yang terlihat tidak baik-baik saja. Seketika, ia menjadi pusat perhatian. Sedangkan orang yang mengenal dirinya pun mulai bergunjing tentang siapa Bella.
Bella berlari ke luar kantor tersebut dan mencoba memberhentikan sebuah taksi. Tetapi, tidak ada satupun taksi yang berhenti, karena sedang ada penumpang didalam nya. Dengan putus asa, Bella berjalan di trotoar tanpa tentu arah dan tujuan.
Sekeras apapun ia menyembunyikan rasa kecewanya pada dunia ini, ia tetaplah manusia yang lemah. Bella menangis tersedu-sedu, sementara orang-orang yang berpapasan dengan dirinya hanya mampu melihat gadis malang itu yang menangis sambil berjalan menyusuri trotoar yang berdebu.
"Topan," Gumam nya. Bella hampir saja meraih ponselnya dari dalam tas tangan nya, sebelum ia menyadari bila hari ini Topan juga sedang tidak dapat di ganggu. Topan sedang mengikuti upacara pengangkatan pangkat. Ya, pengangkatan pangkat. Terdengar sangat menyakitkan di hati Bella. Namun, mau bagaimana lagi? Itu adalah tugas yang di emban oleh Topan. Apakah dia layak protes? Itu sudah terlambat. Andai saja ia tahu dari awal, siapa Topan dan apa maksudnya masuk kedalam rumahnya.
Bella menghentikan langkahnya di sebuah halte bus. Masih dengan tersedu-sedu, Bella mengusap air matanya yang membasahi pipinya. Dengan seketika, wajah cantiknya kini terlihat kusam karena debu jalanan yang berterbangan tak kasat mata.
Bella tertunduk dalam. Ia mencari tisu yang biasa ia simpan di dalam tas tangan nya. Namun, tisu itu tak kunjung ia temui. Bella baru teringat, bila tisu tersebut sudah habis, beberapa hari yang lalu.
Bella termenung, masih dengan dada yang sesak, bagai terhimpit sebongkah batu raksasa. Saking pilunya, tangan Bella terlihat gemetar menahan perasaan yang bercampur aduk itu.
Terdampar di halte, ini adalah pengalaman pertama bagi Bella. Betapa dunia seperti roda yang berputar. Dulu ia bagaikan seorang princess, kini dirinya bukanlah siapa-siapa. Bahkan, kendaraan pun ia tidak punya.
__ADS_1
Siap tidak siap, hal ini harus ia terima dan ia biasakan di kehidupan nya yang baru. DIRINYA BUKAN SIAPA-SIAPA. Yang harus siap menerima caci maki, direndahkan atau tidak dianggap oleh siapa pun.
Drreettt..! Dreeeett!
Ponsel Bella berbunyi. Dengan segera, ia meraih ponselnya dan menatap nama yang tertera di layar ponselnya itu.
Mami.
Bella menghela nafas panjang, untuk menenangkan diri, sebelum ia menerima panggilan dari Berta. Lalu, ia hembuskan dengan perlahan dan menghapus air matanya yang kembali menetes.
"Halo mami," Sapa Bella.
"Halo sayang mami, bagaimana wawancara nya? Sudah?"
Bella terdiam beberapa detik, lalu ia mencoba tersenyum.
"Sudah mami,"
"Bagaimana? Kamu diterima?"
"Hmmmm, belum rezeki mam,"
Berta terdiam...
"Bagaimana mam? Apakah Topan sudah menghubungi mami? Kita jadi pindah hari ini kan?" Tanya Bella dengan ujung suara yang tercekat.
"Jadi, dia belum menghubungi. Mungkin dia masih sibuk." Sahut Berta dengan nada suara yang datar.
"Mam, semua akan baik-baik saja. Walaupun rezeki ku tidak disini. Aku bertekad akan membuka praktek sendiri. Atau mencari tempat yang lebih baik lagi," Ucap Bella.
"Iya, mami percaya."
"Ya sudah, aku akan pulang. Ini lagi menunggu taksi,"
"Iya, kamu hati-hati ya."
"Iya mami," Bella pun mengakhiri panggilan tersebut.
.
Berta termenung di ruang keluarga. Ia menatap tumpukan kardus dan beberapa koper berisi pakaian yang akan ia bawa kerumah warisan orang tuanya. Hanya itulah harta satu-satunya. Peninggalan orangtuanya tidak dapat disita, karena itu sudah ada jauh sebelum pernikahan nya dengan Pongki, dan juga itu adalah harta warisan yang jelas kepemilikan nya.
Berta paham, kedepannya, Bella akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Masalahnya, Pongki bukanlah orang sembarangan sebelumnya. Pongki cukup terkenal, begitupun dengan dirinya dan Bella. Mereka termasuk orang terkaya yang wajahnya kerap terpampang di media sosial.
__ADS_1
Tertangkap nya Pongki, adalah pukulan berat bagi Berta dan Bella. Sangsi sosial lah yang membuat mereka terpuruk. Walaupun mereka tidak ikut terjun di dunia Pongki. Tetapi, mereka tetap merasakan imbasnya. Dianggap bersekutu dan mendukung Pongki. Tanpa orang diluar sana paham. Andaikan Berta tahu sebelumnya tentang bisnis Pongki, mungkin Berta lah orang pertama yang menentang Pongki melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu.
"Ya Allah, tidak apa-apa bila harus aku dan suamiku yang mendapatkan hukuman ini. Tetapi, kalau aku boleh memohon, jangan Bella. Dia terlalu polos dan tidak tahu apa-apa ya Allah. Aku mohon ya.. Allah..." Gumam Berta sambil menangis pilu.