
"Kemana saja kalian?"
Bella dan Topan seakan terpojok dengan pertanyaan dari Pongki, saat mereka baru saja sampai di lobby hotel tempat mereka menginap di Kuta.
"Maaf pak boss, saya salah. Kami terjebak hujan yang sangat deras, lalu kami berteduh hingga malam. Tetapi, hujan tidak kunjung reda. Pakaian kami basah dan kedinginan. Hingga kami menginap di penginapan di Kintamani." Terang Topan.
"Lalu? Saya dengar dari orang-orang saya, kalian sekamar? Apa yang kamu lakukan dengan anak saya Jo!"
Topan terdiam, bagaimanapun dirinya salah telah sekamar dengan Bella, anak majikan nya. Walaupun tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Bella, tetap saja Topan merasa tidak pantas. Meskipun itu bukanlah kesalahan dari dirinya.
"Kami terpaksa pak boss. Penginapan hanya tinggal satu kamar saja. Sedangkan malam begitu dingin dan hujan. Kami basah kuyup dan terpaksa memilih penginapan itu." Terang Topan lagi.
Topan memang lelaki sejati. Walaupun Bella lah yang mengajak dirinya untuk berada di satu kamar, namun ia tidak mau melemparkan kesalahan itu kepada Bella. Satu yang ia pikirkan, ia tidak mau membuat Bella merasa malu.
"Dad, aku yang menolak untuk mencari penginapan lain. Aku yang salah, bukan Paijo," Ucap Bella.
Pongki terdiam, ia menatap Bella dengan seksama.
"Ada apa diantara kalian Bella?" Tanya Pongki lagi.
Bella terdiam, ia melirik Topan yang terlihat siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
"Kami tidak melakukan apa-apa. Paijo bukan lelaki yang serendah itu. Dia sangat menghargai aku." Tegas Bella.
Pongki menatap Bella dan Topan secara bergantian, lalu ia menghela nafas panjang dan mulai mengangguk paham.
"Baiklah, sekarang kalian kembali ke kamar kalian masing-masing. Kamu juga Bella, dapat dari mana kamu pakaian seperti itu?" Pongki menatap daster yang dipakai oleh Bella.
"Aku meminta tolong seseorang untuk membeli pakaian. Ternyata dia membelikan daster untuk ku. Sungguh menyebalkan," Keluh Bella, sambil berlalu dari hadapan Pongki.
Pongki membiarkan saja anak semata wayangnya itu berlalu dari hadapannya.
"Saya permisi pak boss, mau mandi dulu." Ucap Topan.
Pongki hanya mengangguk dan membiarkan Topan beranjak dari hadapannya. Topan berjalan di belakang Bella menuju ke lift yang berada di lobby hotel itu.
"Terima kasih," Ucap Pongki kepada orang suruhan nya yang telah bersedia membantu dirinya untuk mencari Bella dan Topan.
"Sama-sama pak,"
Pongki menyodorkan sebuah amplop berisi uang tunai kepada orang-orang suruhannya tersebut.
"Ambil lah, saya lebihkan untuk kalian. Yang terpenting bagi saya, anak dan supir saya selamat dan tidak terjadi apa-apa dengan mereka." Ucap Pongki.
Seorang dari dua pria itu meraih amplop yang diberikan oleh Pongki. Lalu, mereka tersenyum dan menjabat tangan Pongki dengan wajah yang semringah.
Dreeettt..!
__ADS_1
"Sebentar pak," Ucap seorang dari kedua pria itu. Lalu, ia beranjak dari hadapan Pongki, setelah Pongki mengangguk, tanda mengizinkan dirinya untuk menerima panggilan telepon.
"Halo," Sapa lelaki itu.
"Bli, lelaki yang tadi kamu cari itu siapa? Yang fotonya bli share di grup," Tanya suara dari ujung sana.
"Sudah ketemu kok bli. Dia adalah supir client saya," Ucap nya.
"Maaf bli, sepertinya saya pernah mengenal lelaki itu. Saat saya di Semarang dulu."
Lelaki itu terdiam, ia melirik Pongki dengan sudut matanya.
"Memangnya siapa laki-laki itu?" Tanya lelaki tersebut.
"Saya yakin betul bila dia adalah seorang polisi. Maaf, siapa client bli saat ini?"
"Polisi?"
"Iya bli. Waktu saya tinggal di Semarang dua tahun lalu. Dia sempat mendekatkan dirinya dengan kelompok kami. Tetapi saat polisi itu beraksi, kebetulan saya sedang pulang kampung, karena orangtua saya meninggal. Jadi, penggerebekan di gudang saat itu, saya tidak berada disana. Saya mendapatkan informasi dari rekan saya yang berhasil melarikan diri, lelaki itulah yang menyamar menjadi salah satu anggota kelompok kami selama hampir lima bulan. Sehingga, pabrik kami dapat di acak-acak oleh kepolisian." Terang suara di seberang sana.
"Oh begitu," Lelaki suruhan Pongki mengangguk paham.
"Siapa client bli saat ini? Apakah dia orang penting? Atau dia adalah pengusaha atau bandar......."
"Bapak Pongki." Tegas lelaki itu.
"Iya..." Sahut orang suruhan Pongki.
"Ho ho ho.... hahhahaha... Tamatlah riwayat nya..!" Orang yang berada di ujung sana pun tertawa terbahak-bahak.
"Sudah, saya mau pulang dulu," Ucap lelaki itu.
Lalu, pembicaraan mereka pun berakhir sampai disitu. Lelaki itu pun menatap Pongki dengan seksama.
"Apa aku dibisniskan saja informasi ini? Mana tahu, aku mendapatkan imbalan yang sesuai dengan informasi itu. Atau... aku biarkan saja ya?" Lelaki itu tampak berpikir dengan keras.
"Bro, sudah?" Tanya rekan lelaki itu sambil menghampiri nya.
Lelaki itu menarik lengan rekan nya,
"Look, kamu pulang duluan saja. Aku ada urusan."
"Urusan apa?" Tanya rekan lelaki itu.
"Ada urusan penting. Kamu bawa saja mobil saya. Nanti malam, saya akan kerumah mu, menjemput mobil saya dan membagi hasil uang ini."
"Oh, baik lah bli." Rekan lelaki itu meraih kunci mobil yang disodorkan oleh orang suruhan Pongki, yang bernama Andika.
__ADS_1
Lalu, rekan Andika pun beranjak meninggalkan lobby hotel tersebut.
"Boss..!" Panggil Andika, saat Pongki hendak beranjak menuju ke arah lift bersama dengan Berta.
Pongki menoleh dan menatap Andika yang mendekati dirinya.
"Ada apa lagi?" Tanya Pongki.
"Saya mau berbicara sebentar saja. Kalau bisa..." Andika melirik Berta.
Pongki mengerutkan keningnya, lalu ia melirik Berta dan meminta Berta untuk pergi terlebih dahulu ke kamar mereka. Berta pun menyanggupi. Lalu, ia pun beranjak dari hadapan Pongki dan Andika.
Setelah Berta pergi, Pongki kembali menatap Andika dengan wajah yang tampak serius.
"Mari kita ke restoran," Pinta Pongki.
Andika pun mengangguk, lalu ia berjalan beriringan dengan Pongki yang terlebih dahulu berjalan menuju ke restoran hotel itu.
Mereka berdua pun duduk di pojok restoran. Dimana terdapat ruangan untuk merokok disana. Andika dan Pongki memesan dua gelas kopi untuk mereka berdua. Lalu, mereka pun mulai membuka percakapan yang terlihat sangat rahasia itu.
"Ada apa?" Tanya Pongki, sambil menyalakan rokoknya.
"Maaf, saya mau menjual informasi penting kepada pak boss," Ucap Andika berterus terang.
Pongki menghisap rokok nya dan menghembuskan asapnya ke udara. Lalu, ia menatap Andika dengan tatapan yang menerka maksud dari ucapan Andika.
"Sepenting apa informasi mu? Sehingga kau layak untuk menjualnya kepada ku." Tanya Pongki.
Andika tersenyum licik, lalu ia ikut membakar rokok yang baru saja ia ambil dari bungkus rokok milik nya.
"Sangat penting. Ini menyangkut masa depan pak boss."
Pongki terdiam, ia mencoba mencerna ucapan Andika. Satu sisi ia mencoba untuk tidak peduli. Satu sisi lagi, Pongki bukan lah orang yang acuh dengan rasa ingin tahu.
"Informasi apa?"
"Saya butuh satu buah mobil terbaru, untuk informasi ini." Tegas Andika.
Pongki tersenyum, lalu ia beranjak dari duduknya dan mematikan rokok nya. Ia pun mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu rupiah dan menaruhnya diatas meja, untuk membayar dua gelas kopi yang bahkan belum diantarkan ke meja nya. Kemudian, ia pun mulai beranjak meninggalkan Andika. Tanda ia menolak mengetahui informasi yang di jual oleh Andika.
"Saya yakin, pak boss akan menyesal saat di sel tahanan nanti!"
Langkah kaki Pongki tertahan, saat mendengarkan ucapan Andika. Lalu, ia menoleh dan menatap Andika dengan tatapan yang bertanya-tanya.
Pongki kembali ke meja itu, dan kembali duduk di hadapan Andika.
"Mobil jenis apa yang kamu mau?" Tanya nya.
__ADS_1